Friday, November 22, 2013

Malaikat Itu bernama 'Ibu'

Dia yang dalam tiap do'aku namanya selalu kusebut,
mencintainya adalah perjuangan paling menyenangkan yang tak boleh tak kulakukan disepanjang hidupku.
Ia tak pernah bilang padaku seberapa besar tepatnya Ia mencintaiku, karena katanya.. Cinta itu bukan suatu yang dapat diukur dengan sejumlah bilangan angka. Lalu bagaimana dengan aksara? Tanyaku. Ia jawab dengan selengkung senyum dibibir keriputnya, sembari menatapku dalam. Dan tatapan itu, adalah satu jawaban dari sejuta tanya yang berhamburan dalam benakku, bahwa tanpa angka-angka, tanpa harus menyusun aksara.. Cintanya utuh, penuh, seluruhnya untukku.

Dia yang sedihnya membuatku berduka berlama-lama., melihatnya menangis adalah sebuah petaka maha besar dalam hidupku, apalagi jika tangis itu disebabkan olehku. Aku rela menghukum diri demi melihat ia tersenyum lagi, lalu memaafkanku. Namun entah karena memang dia seorang malaikat, atau hatinya memang baik, atau karena ia begitu mencintaiku..maaf itu selalu dia beri jauh sebelum aku memintanya. Maka malu lah aku tiap kali berbuat salah padanya. Malu pada diri sendiri, dan malu pada seorang yang begitu pemaaf sepertinya..

Dia yang tak ingin ku buat khawatir karena berbagai himpitan hidup yang kian menjepitku, malah rajin mendo'akanku ditiap malam dalam tiap sujudnya. Pernah ku dengar dalam lirih do'anya, namaku disebutnya berulang-ulang.. Sembari berloncatan air matanya dan menahan isak yang mengguncang dadanya, ia rela bersujud lama..demi aku. .

dia yang rela terjaga semalaman menunggui demamku yang tak kunjung reda, sedangkan aku lelap disampingnya. Dia, yang kerap menahan lapar dahaganya demi memuaskan lambungku yang selalu merasa kurang. Namun adakah yang telah kulakukan padanya yang membuat hatinya tenang?

Dia yang tak boleh ku buat marah dengan kebodohanku, meskipun rupanya aku belum cukup pintar untuk tak mengecewakannya dengan sikapku. Namun ia tetap merangkul aku, aku dengan segala kekuranganku ini.

Begitu besarnyakah cintanya padaku, hingga apapun yang kulakukan untuknya masih selalu terasa tak sebanding dengan apa yang selalu dia lakukan untukku?
Ku pikir cintaku padanya begitu besarnya, namun yang kurasa adalah cinta yang bertubi-tubi selalu darinya untukku.
Ku pikir aku bisa membahagiakannya, namun yang ku dapat adalah kebahagiaan tiada tara karena terlahir menjadi bagian dari dirinya.
Ku pikir akulah satu-satunya yang bersedih, namun tanpa ku tahu.. rupanya ia yang paling menderita saat tak dijumpainya raut bahagia terpahat diwajahku.

Dia, yang rinduku padanya membuat jemariku senantiasa bergetar diatas kertas ini.. Membuat kata berlari-lari dan menghambur pada Tuhan mewujud permohonan demi permohonan, untuk segala kebaikan atasnya: wanita paling mulia dalam hidupku.. Ibu.

Wednesday, November 13, 2013

Gak Usah Dibaca...


Ku akhiri malamku dengan gelas susu yang telah tandas isinya, dan buku bacaan yang ku biarkan tengkurap di lantai serta beberapa kertas berisi catatan yang ku tulis setengah malas. Jarum jam yang sedari tadi berkejaran kini memaku diri di angka dua, dini hari.
Aku lelah.
Aku terlalu mengantuk untuk meletakkan kembali semua barang yang berserak ini ketempat aslinya.
Kemudian mataku memejam.
Ku biarkan kantuk memelukku perlahan. Lalu aku mati suri dan hidup kembali di dunia yang kusebut mimpi. Kaki tak menjejak bumi, sedang tangan tak menggapai awan. Aku berada diambang pertengahan diantara dua alam. Melayang, dan sesekali bergoyang diterpa angin dingin.
Suara-suara perlahan menjauh dari telingaku. Dan waktu, entah harus ku sebut pagi atau malam, aku tak tau. Dalam dunia mimpi waktu berhenti. Tak lagi berlari-lari seperti saat kakiku menjejak bumi. Aneh. Aku merasa sesak saat waktu berhenti berputar disini. Dadaku meronta minta diisi udara. Tapi rasanya, aku hanya tak terbiasa dengan waktu yang diam, yang membiarkanku mengambang diruang hampa. Maya.
Akh, sepertinya aku mulai ngelantur.
Pikiranku tak lagi teratur.
Kata-kataku ngawur.
Pandanganku kabur.
Blur.
Ini mimpi, dan semua yang kulihat disini adalah ilusi. Ini hanya dunia abu-abu yang dengan cepat akan berganti-ganti warna semau dan sesukanya. Begitu kuyakinkan diri sendiri.
Namun yang kulihat tampak begitu nyata. Aku melihat sosok diriku, yang walaupun jijik tapi tetap asik melahap daging anjing. Iya, aku makan anjing. Ku potong tubuh anjing itu menjadi beberapa bagian. Yang ku sisakan hanya bagian kepala sampai lehernya, dan buntut sampai ekornya. Dan yang ku makan hanya bagian tengahnya saja. Bagian-bagian yang tak ku makan itu kembali hidup, lalu memasukkan dirinya sendiri kedalam kantong plastik berwarna hitam. Kataku pada anjing itu ”aku sudah kenyang”.
Menjijikkan.
Belum tuntas mualku, mimpi ini berganti warna lagi. Bukan lagi anjing yang kulihat, tapi dia. Sosok pria -entah siapa namanya- yang rasa-rasanya begitu ku kenal sejak lama. Kami akrab satu-samalain, begitu dekatnya. Bicara apa saja. Sampai ku kira aku telah jatuh cinta padanya. Tapi sayang ini hanya mimpi dan dia adalah ilusi yang dicipta alam bawah sadarku sendiri. Ia hanyalah bagian kecil dari mimpi abu-abuku ini. Lalu tiba-tiba Ia mewujud gelembung sabun dan melayang-layang satu senti dekat dengan keningku. Perlahan kusentuhkan jari padanya dan plash, Ia pecah menjadi titik-titik air dan meninggalkan perciknya dipipiku. Kemudian warna mimpi ini berganti lagi.
Aku terlempar ketempat yang jauh. Ketempat yang membuat mataku melihat hijau disekelilingku. Aku berada di hamparan padang rumput, mungkin di puncak bukit. Aku sendirian menghirup udara dalam-dalam. Memenuhi rongga dada yang sedari tadi terasa sesak. Terasa segar.
Dan waktu, masih terhenti ditempat yang sama. Masih tak dapat ku bedakan entah itu pagi atau malam. Aku masih ada di dunia mimpi. Terjebak dalam ilusiku sendiri. Aku mati suri. Dan jiwaku berpetualang membebaskan diri.
Benar. Saat terbangun nanti hatiku tak akan merasa seringan ini. Untuk bernafaspun mungkin akan berat lagi. Jadi ku nikmati dulu saat-saat ini. Mengasingkan diri di dunia sepi ini.
Bangun kembali kedunia nyata berarti aku tlah siap membunuh ilusi. Ini hanya perkara memilih: bertahan mati dan hidup dalam mimpi, atau hidup kembali di dunia nyata sembari menunggu nyawa meregang dengan sendirinya.
Lalu aku memilih bangun. Membuka mata. Dan yang pertama kali kulihat adalah pagi. Waktu pun berjalan kembali, dan bahkan berlari. Tubuhku menyentuh bumi, pertanda gravitasi berlaku padaku lagi. Aku tak lagi mengambang. Dan untuk itu, aku agak senang.
Disebelah bantalku buku bacaan itu masih tengkurap. Dan catatan yang semula ingin ku buat pendek ini ternyata masih ku tulis hingga titik ini.
Sudah lama sejak terakhir kali aku menulis dibawah tekanan kantuk seperti saat ini. Mau bagaimana lagi, kerumunan kata dalam kepalaku tak mau sedikitpun mengalah pada mata. Aku sebenarnya lelah.
Tapi sudahlah... Ini hanya tulisan seorang pemabuk, mabuk kata. Tak usah kau perdulikan aku. Pergi tidur sana! alami mimpi yang sama seperti mimpiku semalam. Selamat malam, dan selamat mengapung di dunia terapung semalaman. Besok saat kau bangun kembali, jangan biarkan lupa menghapus jejak mimpimu seperti aku yang lupa pada mimpiku. Ceritakan padaku semua yang kau lihat pada mimpi itu. Jika kau jumpai perempuan asing disana, bisa jadi itu aku.

Monday, November 11, 2013

Rakus


Setelah satu, aku ingin dapat dua
lalu tiga , empat, lima
dan seterusnya

tak cukup mencintai, aku ingin dimiliki
bukan oleh dia, mereka, tapi kamu

Tak cukup dicintai, inginku juga punyaimu
tak hanya sekarang, mauku selamanya

mungkin aku begitu serakahnya,
tapi..
Mau bagaimana lagi,
aku cuma manusia
Yang tak pernah ada puasnya.

Angin Membawamu



Dan angin bisikkan namamu ditelingaku
Saat tak ada suara lain yang kudengar,
hanya namamu.
Dan kubiarkan sepi kian menjadi
Agar bingar namamu
satu-satunya yang dapat kudengar
ditelingaku

Sunday, November 10, 2013

Later better than Never..


Dengarkan dia saat kalimat yang keluar dari mulutnya hanya diam. Ulurkan tangan padanya saat Ia tak mampu lagi berjalan dengan kedua kakinya. Peluk tubuhnya saat Ia minta padamu sebuah ruang untuk sendirian. Dan hapus air matanya saat tak seorangpun mau meluangkan waktu mereka untuk melihatnya bersedih.
Karena tak ada yang dapat kamu percayai melainkan hanya waktu.
Suatu saat Ia tak akan ada lagi. Ia mungkin pergi dengan semua kesedihan yang Ia pendam dalam diamnya.
Suatu saat kamu dan dia akan terpisah oleh sekat yang takkan memungkinkan lagi untuk kalian saling bersentuhan, tak lagi saling mendengarkan, dan tak pula saling berucap kata-kata penghiburan.
Bisa jadi ini hari-hari terakhirnya.. atau hari-hari terakhirmu..
Bukankah dia, kamu, dan aku terlahir menjadi makhluk yang begitu rindu akan kematian namun terlalu takut untuk membayangkan kedatangannya?
Dia pun sama sepertimu, memiliki ketakutan yang sama. Sama-sama takut menjemput mati. Namun bukan hal itu yang sekarang Ia takutkan. Ia takut sendirian. Ia takut tak seorangpun akan mendengarkannya. Tak seorangpun mengulurkan tangan padanya. Ia benar-benar tengah takut. Takut mati dipeluk kesedihan tanpa seorangpun tau apa yang membuatnya begitu bersedih.
Kalau besok benar-benar hari terakhirnya, akankah kamu bersedia menjadi orang terakhir yang akan melakukan semua seperti inginnya? Dia butuh kamu......

Saturday, September 21, 2013

Main Ayunan, yuk!


Hidup itu kadang sesederhana bermain ayunan yang kedua talinya diikat pada dahan sebuah pohon. Kadang membawa kita melambung tinggi keatas, kadang kembali merendah kebawah. Kadang berayun dengan kencang, kadang pelan-pelan. Dan begitu seterusnya selama masih ada tenaga yang mendorong tubuh untuk tetap berayun-ayun.
Begitupun hidup. Sedih dan senang dapat kita rasakan bergantian, dengan porsi yang telah ditakar seadil-adilnya oleh Tuhan. Tidak ada orang yang seumur hidupnya bahagia terus, dan belum ada juga orang yang sejak lahir sampai matinya nelangsa terus. Pasti ada jeda. Setelah sedih yang panjang, pasti ada bahagia setelahnya. Pun demikian sebaliknya. Yah, ibarat spasi disela kata, kita kadang butuh kesedihan disela bahagia kita, karena dengan begitu hidup jadi lebih mudah kita baca.
Dalam hal ini, Tuhan lah satu-satunya yang memiliki andil dalam mengatur porsi masing-masing bahagia dan kesedihan itu sendiri. Kapan saatnya kita terpuruk, kapan saatnya kita berjaya, semua itu telah tercatat rapi dalam kitab rahasia-Nya. Dan kita tak memiliki secuil pun jatah untuk berhak tau segala yang akan terjadi pada diri kita dimasa yang akan datang.
Yang IA inginkan hanya melihat kita terus dan terus berayun, menikmati setiap pergerakan ayunan degan hati yang ringan, dan menjaga tubuh agar tetap seimbang dan tak terhempas dari ayunan yang kita naiki. Caranya? Dengan berpegang kuat pada dua tali disisi kiri-kanan kita: yaitu dengan berpegang erat dikedua tangan-Nya, dan percaya hanya pada-Nya bahwa IA satu-satunya yang takkan membuat kita terjatuh dari ayunan, kecuali jika kita lengah, merasa terlalu kuat untuk tak berpegang pada-Nya.
Jika dipikir-pikir kembali, sepertinya Tuhan memang sengaja menciptakan kita untuk bermain-main dikehidupan ini. Menikmati masa belajar tentang kehidupan itu sendiri. IA seperti orangtua yang diam diatas sana, mengawasi, menilai, dan memutuskan siapa yang berhak mendapat hadiah dan siapa pula yang berhak menerima hukuman jika kita bersalah. IA akan duduk diam diatas sana, menyaksikan waktu mendewasakan kita dengan sendirinya. Dan bila saatnya senja tiba, dan waktu kian menua, IA akan memanggil kita untuk pulang kembali kepangkuan-Nya, menikmati cerita tentang surga dan neraka. Dan bila beruntung kita diizinkan untuk menempati sebuah ruang dari satu diantara keduanya, untuk sementara ataupun kekal selamanya didalam sana,

Entahlah.

Thursday, September 19, 2013

Bermain Dengan Waktu


Aku masih disini, terjebak diantara jarum jam yang beku. Lama sekali saat terakhir kulihat ketiga jarum jam itu melaju dengan kecepatan peluru. Memutar waktu, menjadikan detik beranjak ke menit, menit ke hitungan jam, jam berlari menuju hari, dan tiba-tiba hari telah berganti tahun.
Dan segalanya terjadi begitu saja, serupa peluru yang meletus dari moncong pistol, waktuku pun melesat dengan terlalu tergesa. Jarum jam itu kembali ketempatnya semula, namun dengan hitungan yang tak lagi sama. Membuat segala yang terjadi ’dulu’ kini kusebut sebagai kenangan lama.

Ya, kini semua tak lagi sama. Waktu begitu kejam meninggalkanku tanpa aba-aba. Waktu selalu pergi tanpa pertanda.

Tiba-tiba aku teringat akan permainan Tuhan. Permainan roda kehidupan, begitu Ia namakan. Permainan ini adalah tentang ’melaju dan bertahan’, berbatas waktu, dan dengan hitungan tak ada kalah menang. Bagaimana mungkin ada permainan yang meniadakan kalah dan menang? Entahlah, pada bagian itu Tuhan diam saja saat kutanya. Dalam Firman-Nya ia katakan padaku, ’permainan telah dimulai, akan Ku putar rodamu, dan kau melajulah beriringan dengan waktu. Menang dan kalah tak akan Ku hitung, namun sejauh mana kau bertahan, itulah yang akan menjadi tolak ukur penilaianKu terhadapmu’.

Butuh waktu yang cukup lama untuk mengerti permainan ini. Namun seiring berjalannya waktu, satu hal yang ku sadari, bahwa aku tidak dalam posisi yang berkompetisi dengan Tuhan, melainkan sengaja Ia ciptakan aku untuk dicobakan: seberapa kuat aku bertahan, seberapa lama aku akan terus berdiri dengan keyakinan dalam hati bahwa Ia adalah satu-satunya dzat dengan segala ke-Maha-adilanNya.

Alkisah pada suatu masa, saat makna keadilanNya kian terdengar sumbang ditelinga, Tuhan mencoba pertahananku lewat kehilangan demi kehilangan. Ia tau betul apa dan siapa yang benar-benar ku jaga dengan segenap rasa. Kemudian Ia ambil mereka, aku berduka dan –Ia dalam firman-Nya-  lagi-lagi bersabda agar duka ku tak boleh terlalu lama. Saat itu yang dapat kulakukan hanya bertanya dan terus bertanya, ’Tuhan, bagaimanan bisa?’

Sementara Tuhan membiarkan tanyaku mengambang di udara tanpa jawab yang melegakan dada, waktu terus melengang dengan langkah panjang-panjang. Belum habis dukaku,  pun belum kering air mataku, namun aku tetap kukuh dalam pendirian, bahwa Ia tetap satu yang maha adil. (Sejenak tenang merasuki ku pelan-pelan).

Lalu kemudian Ia putar kembali roda mayaku.

Kali ini Ia coba lagi pertahananku dengan kehilangan lain, yang tak kalah pahit dan tak kalah duka dari sebelumnya. Saat itu aku hanya ingin waktu berkompromi denganku dengan melaju lebih cepat, agar luka yang menganga karena ketiadaan ia yang kucinta segera reda, bila perlu sembuh sempurna secepatnya. Namun waktu tak mau tau, pada saat-saat tertentu ia seakan sengaja melambat dari biasanya, sengaja membuatku putus asa, dan sekarat diantara dua waktu: hidup dan matiku.

Namun aku tetap yakin, ini juga merupakan bentuk keadilan-Nya. Dengan keyakinan yang erat terkepal dikedua telapak tanganku, diam-diam hatiku meragu. Entah bisikan darimana, aku mulai terhasut dengan sebuah keyakinan lain, bahwa ini bukan permainan, melainkan aku yang tengah dipermainkan. Ia minta aku cinta Dia, dengan percaya dan terus bertahan sembari Ia beri aku berbagai cobaan-demi-cobaan. Lalu diimana letak adil itu, Tuhan?

Tanyaku beku, menyublim menjadi udara yang kian menyesakkan dada. Sedang waktu terus melaju, sekali lagi memutar roda kehidupan yang tengah ku tunggangi entah sampai kapan dan dimana akhirnya...

Aku telah babak belur dihantam kenyataan. Waktuku habis dalam sebuah penantian akan kebahagiaan. Karena dalam hematku, permainan roda ini tentu takkan selamanya membuatku terus berada dibawah. Suatu saat nanti roda ini akan memutar lagi, dan membuatku berada diatas. Aku mengartikannya sebagai bentuk bahagia setelah sekian duka ku rasa. Ya, aku terus menanti waktu memutar lagi rodaku.

Namun Tuhan berkehendak lain. Jauh sebelum rodaku kembali membawaku berada diatas, pada suatu malam yang tenang aku menangis dalam tidur yang panjang. sebuah kesadaran yang membuat mataku basah, bahwa bukan bahagia yang sebenarnya ada diujung segala kepahitan ini, (sedang bentuk bahagia itu sendiri masih abstrak tak terjangkau imaji). Ini semua tentang perjalanan. Tentang berputar layaknya roda kehidupan yang sengaja Ia ciptakan untukku. Waktu yang tak berbatas Ia maksudkan agar aku tak terpaku pada finish sehingga mengabaikan proses menuju itu.

Ya, ini semua tentang bagaimana aku bertahan selama rodaku terus melaju. Sejak awal Ia minta aku tetap percaya pada-Nya, bahwa Ia satu-satunya yang memiliki adil sempurna ditangan-Nya. Bahwa segala kepedihan ini bukan terjadi dengan sia-sia. Ku sadari, bahagiaku mewujud waktu yang terus meninggalkanku. Ia membuatku kuat, membuatku belajar tentang banyak hal. Membuatku lihai menghapus air mata dengan berbagai cara.

Dan waktu pula yang membuatku sadar, bahwa Tuhan membesarkanku dengan cara istimewa. Layaknya kedua orangtua  yang membesarkanku dengan penuh cinta, begitupun Dia, hanya saja dalam bentuk cinta yang berbeda.
Tuhan membuatku tak lagi manja. Ia buat aku, -lewat waktu- belajar bagaimana caranya menepis segala ragu. Bahwa ternyata, percaya pada-Nya memang satu-satunya jalan yang harus ku tempuh untuk dapat bertahan. Bahwa cinta-Nya lah satu-satunya obat yang dapat menutup luka ku dengan penuh sempurna.
Sekalipun kenangan lama bersama mereka yang telah tiada hadir kembali, dadaku tak lagi sesak oleh rasa sedih yang kian terasa pedih, melainkan menjadi motivasi agar aku selalu dapat memperbaiki diri, agar suatu saat nanti Tuhan mengizinkanku berkumpul lagi dengan mereka disana, dekat dengan pangkuan-Nya.

Tuhan, maafkan ragu-raguku..

Tuhan, maafkan semua fikiran jahatku tentangMu..

Dan Tuhan, maafkan rinduku pada mereka yang telah Kau rengkuh disana. Jangan jadikan ini sebagai bentuk dosa, karena rindu ini hanya wujud dari cinta yang Kau cipta diantara kami. Aku merasa sudah semestinya rindu ini ada, tepat setelah detik pertama mereka tak lagi ada dalam jangkau lihatku..

Hari ini, tepat setahun setelah Kau ambil dia, kakakku. Aku tau dia bahagia disana bersama-Mu, maka ku titipkan rindu ini untuknya.. pastikan Ia tau Tuhan, bahwa disini do’aku tak pernah luput atasnya.. ia selalu ada, menempati ruang teristimewa dihatiku, selamanya.

Dan Tuhan, terimakasih untuk lengan-Mu yang selalu terbuka, memaafkanku yang tak sempurna..

Sunday, September 15, 2013

White Sand Beach - Karangasem


Thanks GOD, it's Sunday! Lepas dari rutinitas yang kerap membuat saya bosan selama enam hari dalam seminggu membuat saya begitu bersemangat saat seorang sahabat mengajak saya pergi ke pantai. 

Dan tujuan kami kali ini adalah Pasir Putih, atau yang dikalangan bule dikenal dengan nama White Sand beach. 


Pasir putih terletak di Karangasem, tepatnya di desa Prasi, kurang lebih 2 jam dari Denpasar.
Posisi pantai yang agak 'tersembunyi', membuat pantai ini masih jarang dikenal oleh wisatawan asing. Namun justru hal inilah yang menjadi kelebihan pasir putih, pantainya tetap bersih, tenang, dan jauh dari hiruk pikuk keramaian seperti pantai-pantai terkenal lain di pulau Bali.

Seperti namanya, Pasir Putih memiliki pasir yang berwarna putih dan berkilauan saat diterpa sinar matahari. Diapit oleh dua bukit disisi kanan kirinya menyebabkan pantai ini agak sedikit terlihat seperti teluk, namun sama sekali tak mengurangi keindahannya. Pantai kecil ini hanya berjarak 3km dari ujung barat ke ujung timurnya, dan dibalik kedua bukit yang mengapitnya tersebut juga terdapat pantai, namun pasirnya berwarna hitam.


Saya dan teman saya, Cici, benar-benar menikmati waktu kami disana. Berangat dari rumah sekitar pukul 11 siang, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di pantai cantik ini. 2 jam rasanya belum cukup untuk memuaskan keinginan kami untuk berfoto, mengabadikan moment-moment mneyenangkan saat bermain bersama.
Cici sendiri adalah sahabat saya sejak kami sama-sama masih didalam kandungan ibu masing-masing hehehe. Kami tumbuh bersama, dan walaupun kami tak bersekolah disekolah yang sama, namun persahabatan kami masih terjalin sangat baik hingga saat ini.

My bestfriend & I :)


See you later, Pasir Putih!
Saya sangat benci ketika waktu mulai tak berkompromi dengan kesenangan kami. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, tak terasa 3 jam telah kami habiskan di pantai cantik ini hanya dengan mengobrol dan berfoto berkali-kali.

Semoga untuk kedepannya semua wisatawan yang berkunjung ke pantai pasir putih, baik lokal maupun wisatawan asing, bekerja sama untuk tetap menjaga keasrian pantai pasir putih, agar tetap cantik, bersih dan tidak terlalu padat pengunjung.

Wednesday, September 11, 2013

confusion


Titik cahaya itu tiba-tiba menjadi kecil, kian mengecil, namun memanjang serupa benang metalik yang terang dikegelapan. Benakku yang sejak semula abu-abu pun kian meragu untuk semakin jauh menyeret langkah, aku membatu. Hanya ada dua kemungkinan yang akan ku temui jika ku ikuti benang cahaya itu, namun aku terlalu takut untuk memilih satu diantaranya.

Sejenak kudapati tubuhku mengecil, lalu kembali normal seperti sedia kala. Sebentar kemudian tubuhku bergetar, pun jantungku gemetar. Lalu sedetik kemudian kutemukan tenang merambat pelan-pelan dari ujung kaki hingga ubun-ubunku.
Mataku panas, kebingungan ini membuat bulir-bulir air dimataku mendidih, lalu meleleh seperti lilin yang perlahan lumer dijilat api berwarna biru kemerahan. Dan aku masih terperangkap dalam gelap.

Didepan sana, diujung cahaya memanjang ini, ada Tuhan. Aku tahu itu. Tuhan sedang menungguku dengan tenang. Kegelapan ini membuatku ingin segera berlari mendekat kepada-Nya,  namun ketakutan mencengkram kedua kakiku erat-erat, langkahku menjadi berat. Aku takut bertemu Tuhan, dan Tuhan masih menunggu, dengan sabar.

Seharusnya kebingungan ini tak perlu ada sejak awal. Dimana-mana, orang seharusnya cukup percaya pada satu-satunya cahaya yang mereka lihat ditengah gelap yang kian merapat. Lalu aku semakin bingung, kenapa aku malah bingung? Tinggal berjalan ikuti cahaya itu, atau tetap terpaku disuatu lorong tak berkesudahan ini dan betah dicumbu gelap berkali-kali, lagi dan lagi. Sejenak aku mati, mati suri. Setengah ingin pergi, setengah aku yang lain ingin tetap ada disini.

Aku tak mengerti mengapa Tuhan ingin menemuiku secepat ini? Tadinya aku sedang tidur, setelah lelah melumat hari. Lalu kutemukan gelap merayap dari sudut mataku, dan tak lama kemudian telah mendekap seluruh tubuhku. Hingga tiba-tiba titik cahaya itu muncul, mengambang beberapa senti dari keningku. Seolah berkata ’ikuti aku!’ namun aku malah didera ketakutan yang sangat untuk beranjak barang beberapa inci.

Apakah aku akan mati? Atau Tuhan punya hal lain yang ingin ditawarkan padaku? Selain mati, selain kesakitan lain yang lebih sakit, selain kegelisahan, selain apapun melainkan ketenangan yang kuharap-harap kemunculannya sejak hiruk pikuk dunia kian terdengar sumbang ditelinga. .

Haruskah aku pergi?
Atau tinggal saja disini?

Haruskah aku berlari ke pelukan terang?
Atau membiarkan gelap mencumbuku lebih dalam?

Entahlah.


Tuesday, September 10, 2013

Dialog


Rasanya ingin melakukan banyak hal mumpung masih ada bnyak waktu.
Memangnya kapan waktu nggak ada buat kamu?
nanti, saat kesibukan merenggut waktuku.
kapan?
nanti, biar waktu yang menjawabnya.
Iya, tapi kapan?
Nanti itu sebuah bilangan waktu yang tak terbilang, bisa besok, bisa tahun depan, atau kapan-kapan. Nanti itu adalah kejutan. Haruskah kujawab kapan tanpa ku tahu pastinya kapan? Aku bukan Tuhan.

-ia diam untuk beberapa saat-

Kamu harus segera sibuk. Atau paling tidak menyibukkan diri lah..
Bukankah saat ini aku tengah sibuk?
Sibuk apa?
Sibuk menanti sebuah kesibukan.
alah. Kamu seperti orang yang tak punya harapan!
Aku punya. Harapan untuk menjadi orang yang diharapkan juga merupakan sebuah harapan bukan?
Iya, tapi perlu usaha supaya kamu benar-benar menjadi seperti yang kamu harapkan.
Tidakkah kamu bertanya, seperti apa wujud aku yang aku harapkan?
Tidak perlu. Paling-paling kamu hanya ingin menjadi orang sibuk dengan kesibukan yang terlalu dibuat-buat.
Hahhaha.. Kamu terlalu memandang rendah aku. Aku sudah dibawah, untuk apa kau rendahkan aku lagi?
Bukan untuk merendahkan, hanya saja....

-ia diam lagi, 1 menit, mungkin berfikir-

...Hanya saja kamu terlalu lembek pada harapanmu itu. Kamu harus tegas dan lugas dalam membingkai mimpi. Akan menjadi apa, akan berbuat apa, akan bagaimana nantinya, harusnya kau telah menyiapkan diri untuk itu semua, dari sekarang!

Jika mimpi itu adalah definisi 'menjadi manusia yg diharapkan' versimu, anggap saja saat ini aku sedang tidur dan menunggu mimpi itu datang. Tidur adalah satu dari sekian usaha kerasku untuk dapat meneruskan mimpi yang datang sepotong demi sepotong. Tidur pula lah yang menjadi satu dari sekian caraku untuk sejenak lupa pada secercah harapan yang kadang membuatku lelah untuk berjuang.

Kamu itu picik! Sungguh sangat picik! Percuma aku mendebatmu panjang lebar!

Hahahhaa..

-akupun tetawa, kehilangan kata-kata. Bagaimanapun juga yang ia katakan memang benar. Selalu benar.-

Tak lama kemudian aku bangkit berdiri. Diapun ikut berdiri. Kami berdua saling menatap lama setelah dialog yang cukup sengit. Aku menatap dia, dia balik menatapku. Aku tak tersenyum padanya, garis bibirnya pun datar, sama sepertiku. Kami berdua berjarak beberapa senti, saling menyentuhkan jari diantara sekat selembar cermin ini.

Sekian.

g i l a


Aku merasa cukup puas menjadi kenanganmu. Tersempil kecil disebuah ruang dihati yang kini penuh sesak oleh kebahagiaan baru. Setidaknya, waktu nantinya akan membuatmu ingat lagi padaku, mungkin disaat sepi, atau saat kau rindu aku namun mati-matikan kau tepis itu.

Aku rasa tak mengapa.

Sangat tak mengapa. Daripada benar-benar tiada karena terlupa, atau sengaja kau buat dirimu lupa.

Padaku.

Yang selalu megingatmu dalam susah senangku. Sekalipun aku tak pernah menjadi seseorang, melainkan hanya sesuatu untuk kau dapatkan –karena kebetulan saat itu kau adalah seorang yang menyukai tantangan-

Tantangan itu berupa aku. Sayangnya aku terlalu lugu untuk segera menjatuhkan hati pada wajah rupawan dan otak brilian yang adalah kamu. Aku hanya untuk kau dapatkan, untuk kau miliki. Dan sejak pertama kamu telah menjadi sesorang yang ku perjuangkan, dan ku sayangi dengan sepenuh hati.

Hati ini.

Cukup luas untuk menerimamu kembali namun kau lebih memilih pergi. Bagimu, untuk apa bersama dengan sesuatu jika ada seseorang lain yang lebih layak untuk dicintai?

Cinta ini.

Adalah cinta yang cukup jahat untuk memeras air dari kedua kelopak mataku.

Mataku ini.

Telah terbiasa menatapmu lama, dan kini harus maklum dengan ketiadaan yang sakitnya selalu terasa sama.

Samasekali tak mengapa.

Cinta memang begini, terkadang gila. 

Friday, September 6, 2013

Aquatic


Mungkin karena aku adalah makhluk aquatic, yang setiap pergerakan air selalu turut membuatku larut, mencair.
Aku selalu menyukai hujan yang turun selepas subuh, hingga pagi pukul delapan. Jika mungkin orang lain merasa tidurnya menjadi lebih lelap karena hujan, aku lebih memilih untuk duduk di tepi jendela, memandang lurus kearah kaca yang buram, menembus keluar.. menari bersama hujan. Menikmati dingin yang menelusup kedalam tiap pori-pori, membiarkan keheningan memelukku diam-diam, dan membuka telinga hanya untuk gemericik air yang berjatuhan..

Karena aku begitu aquatic, yang bahkan suara sungai dapat membuatku betah duduk berlama-lama ditepinya. Seorang diri saja, khusuk mengakrabkan diri pada arus yang terus mengalir kesatu arah, selalu ketempat yang lebih rendah. Kepada arus sungai yang tak pernah bicara itu aku dapat bercerita tentang apa saja. Apa saja yang ada di kepala.

Ceritaku takkan membuat sungai menjadi keruh, karena setiap cerita yang meruah dari lubuk hatiku akan selalu terbawa bersama arusnya, terbawa sampai ke muara terakhirnya, berakhir di pantai untuk kemudian menguap bersama mendung. Esok pagi ku nantikan lagi ia turun berupa hujan. Itulah saat aku berkesempatan mendengar ceritaku sendiri dari sudut pandang oranglain. Terdengar lucu kadang, namun demikianlah adanya.

Aku begitu mencintai air, bahkan air laut yang asin itu. Pantai selalu menjadi tempat kedua setelah sungai yang ku tuju saat aku ingin sendirian. Sejenak ingin melarikan diri dari keramaian yang memekakkan telinga. Pantai membuatku damai. Yang sepi, yang terdengar hanya pasir yang berbisik, yang terlihat hanya daun kelapa yang bergoyang-goyang,... dan beberapa kepiting kecil yang berjalan kesamping.

Dan pagi ini, adalah pagi kesekian yang begitu aku sukai. Hujan turun sejak subuh mengetuk daun jendelaku. Aku terbangun dengan perasaan terceraduk, namun cukup tenang untuk mendengar ceritaku sendiri dari sang hujan.

Dan entah kenapa, cerita ini belum membuatku bosan. Cerita tentang sebuah kenangan yang erat melekat dalam ingatan. Tentang beberapa tempat, dan seseorang yang kerap kuajak pergi bersama kesana. Seperti hujan pagi ini yang kian menyuburkan rindu yang telah sekian lama ku kubur bersama keinginan untuk menepisnya, namun ia malah semakin tumbuh meninggi dari hari kehari. Menancapkan akarnya kuat-kuat di dasar hati, dan selalu berhasil mebuatku bungkam, diam untuk beberapa saat.

Mungkin karena aku adalah makhluk aquatic yang cinta pada air, tak ada bantahan sedikitpun dariku saat ia mengajakku larut bersamanya, dan mencair bersama segala cerita yang ia bawa...

Falling In Love At A Coffee Shop
-Landon Pigg-
I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too

I think that possibly, maybe I'm falling for you

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew
I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew

I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shining too

Because oh because
I've fallen quite hard over you

If I didn't know you, I'd rather not know
If I couldn't have you, I'd rather be alone

I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew
I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while, I never knew

All of the while, all of the while,
it was you


Thursday, September 5, 2013

home sweet home

Sore hari selalu menjadi waktu terfavorit saya setiap harinya. Sepulang dari beraktifitas diluar rumah seharian, saya selalu meluangkan waktu setengah jam sambil menanti datangnya maghrib sekedar duduk-duduk didepan rumah sembari mencecap cangkir yang sarat akan teh beraroma melati yang dicampur dengan gula dan sesendok madu. Kadang sesekali sambil mengobrol dengan tetangga yang baru pulang dari sawah dan kebetulan lewat didepan rumah saya. Membahas hal yang tak begitu penting, namun terasa hangat, sehangat teh yang sangat saya sukai ini.

Saya tinggal disebuah Kabupaten bernama Karangasem yang terletak di bagian timur pulau Bali. Diapit oleh pantai dan pegunungan membuat udara dirumah saya menjadi sangat dingin dipagi dan malam hari, namun panas terik disiang hari.

Tepat di depan rumah saya, terdapat sawah yang terangkai petak demi petak sampai di kaki gunung. Ohya, Gunung yang terlihat jelas dari depan rumah saya bernama gunung Agung. Mungkin karena ia menjadi satu-satunya Gunung tertinggi di bali maka ia dinamakan Gunung Agung (Agung dapat diartikan maha tinggi).

Di pagi hari, sekitar pukul 06.00 pagi, Gunung Agung akan terlihat sangat cantik namun gagah berdiri diantara hamparan sawah yang berbentuk terasering, seperti tumpukan kue tart yang disusun sedemikian rupa, dan Gunung Agung menjadi puncak tertinggi dari tumpukan keindahan tersebut, sangat apik.

Dan pada saat senja seperti ini, mega berwarna orange cerah mengambang diatas langit, mencipta siluet gunung agung yang berwarna hitam, tampak kokoh dari kejauhan, namun sekaligus menentramkan. Seperti mercusuar yang tegak berdiri, menjadi penunjuk arah jalan pulang. Begitulah, dimanapun saya berada, saya selalu merindukan saat-saat melihat gunung agung tertutup mega, berwarna orange sepenuhnya dan kemudian menjadi hitam beberapa saat setelahnya.

Seperti fase kehidupan, senja seperti ini selalu mengingatkan saya pada waktu yang akan selalu bergulir. Saya yang muda nantinya akan menjadi tua. Dan suatu saat nanti saya pasti akan mati meninggalkan segala warna kehidupan untuk beranjak pada kehidupan setelahnya yang belum saya ketahui seperti apa wujudnya, seperti apa warnanya. Mungkinkah hitam seperti malam? ataukah berwarna lebih cerah seperti jingga yang merekah? entahlah..

Senja selalu menjadi rumah yang paling nyaman untuk melepas penat. Kadang ia seperti ayah yang sudah terlihat tua, namun masih cukup kuat untuk membuat saya merasa aman dan nyaman berada di dekatnya.

Senja seperti inilah, yang membuat saya selalu ingin pulang kerumah. Duduk seorang diri menyaksikan sore yang ditelan kaki-kaki gunung agung, menikmati secangkir teh beraroma melati, dan menyesakkan paru-paru dengan udara segar pegunungan. Terasa damai, terasa sangat damai sekali.
Suatu saat nanti, bila takdir mengharuskan saya untuk jauh dari rumah ini, saya masih akan tetap pulang ketempat ini, ke kota kecil ini. Karena disinilah satu-satunya tempat terdekat untuk melihat dan bercakap dengan gunung Agung, lebih-lebih disaat senja seperti ini. Disinilah rumah saya, dan disinilah tempat saya kembai nanti.

Kado Terindah


Dua puluh tiga tahun yang lalu, pada tahun 1990 di bulan Mei ayah dan ibu saya lagi-lagi mendapat kado terindah dari Tuhan. Adalah berupa bayi mungil nan lucu juga menggemaskan yang kebetulan merupakan saya sendiri yang kala itu lahir kedunia hehehe.. Saya terlahir dengan sambutan hangat dari kedua orang tua beserta enam kakak saya yang lainnya. Dengan lahirnya saya, maka secara resmi ayah dan ibu memiliki tujuh orang putra dan putri, dan saya adalah bungsu yang beruntung karena terlahir diantara keluarga hebat ini.
Inaz, begitulah mereka memanggil saya. Nama kecil yang mulai akrab ditelinga sejak pertama kali saya dapat mendengar dengan jelas. Sebuah nama yang diambil dari nama Ayah, yaitu Nazaruddin, sedangkan nama saya sendiri adalah Nazria. Untuk lengkapnya kalian bisa lihat KTP saya nanti..hahhaha
Menjadi bungsu bukan berarti saya tumbuh dengan berlimpah keistimewaan dari keluarga saya, tidak. Kami semua diperlakukan sama. Rata. Adil seadil-adilnya. Baik sulung, maupun kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan saya sendiri tumbuh dibawah didikan keras dari Ayah. Beruntung, sikap keras ayah diimbangi oleh kelemah-lembutan ibu yang menentramkan. Namun jangan salah, bila Ibu sedang sangat marah, Ibu bisa jauh lebih menyeramkan daripada ayah. Dan saya, adalah anak yang paling takut bila ibu sedang marah.
Pernah, suatu hari saya kecil yang penasaran dengan cara ayam bertelur, dengan isengnya memasukkan secara paksa sebuah telur kedalam lubang anus induk ayam yang sedang tidur hingga telur tersebut pecah dan cangkangnya (mungkin) melukai pantat ayam tersebut. Terang saja, induk ayam tak bersalah itu pun seketika murka dan mengejar saya kemanapun saya berlari. Ibu yang melihat tragedi itu bukannya membela saya dan memarahi ayam jahat tersebut, malah memarahi saya habis-habisan karena kurang kerjaan mengusik ketenangan induk ayam yang memang menjadi ganas pasca bertelur itu. Saya pun menangis. Dan induk ayam tersebut terlihat sangat dendam pada saya. Sejak saat itu hubungan saya dan ayam yang semula baik tiba-tiba menjadi renggang. Tiap saat kami bertemu, ayam tersebut seketika menjadi kalap kesetanan dan berlari mengejar-ngejar saya lagi. Dan saya pun menangis lagi.
Kalau saya pikir-pikir, saat itu ibu marah besar hanya karena Ia takut terjadi apa-apa pada saya. Bayangkan saja, tubuh saya yang montok kecil dan hanya mengenakan selembar celana dalam bergambar hello kitty harus berlarian kesana-kemari dikejar induk ayam yang begitu murka, yang dengan penuh nafsu berusaha mematuk bokong saya habis-habisan saat itu. Jelas saja ibu khawatir. Dan sejak saat itu, saya tidak pernah mau dekat-dekat lagi dengan ayam. Saya trauma... pada ayam, dan pada raut marah ibu.
Beda lagi dengan kedua abang saya. Di usia belasan, adalah hal yang wajar bagi sesama saudara kandung, terlebih sesama lelaki berdebat hingga berantem untuk hal-hal yang tidak penting. Ayah yang pendiam sangat jarang marah-marah. Biasanya, cukup dengan diamnya tersebut kami mengerti kalau ayah tidak suka dengan apa yang kami lakukan. Namun kali itu agaknya menjadi siang yang naas bagi kedua abang saya.
Hanya karena meributkan hal kecil, kedua abang saya tersebut berkelahi dengan sengit dihalaman rumah. Saling tonjok, saling tendang, cakar dan semua ilmu karate terpendam mereka keluarkan satu persatu. Saat itu ibu tidak berada dirumah, hanya ada saya dan seorang kakak perempuan saya yang saat itu berusia 12 tahun. Dan yang kami lakukan adalah menonton, sembari sesekali menyemangati salah-satu yang terkuat diantara mereka. Sampai akhirnya Ayah datang dan mengubah alur pertandingan sengit itu dengan cepat.
Tanpa banyak bicara, ayah turut menyaksikan perlkelahian tersebut. Saya dan kakak perempuan saya yang sedari tadi berteriak-teriak menyemangati pun mendadak diam. Beberapa menit berlalu, kedua abang saya yang bandel tersebut pun akhirnya menyadari kehadiran ayah. Dengan raut wajah yang mendadak pucat, seketika mereka berangkulan, akrab, dan terlihat awkward. Kata ayah, ’kenapa berhenti? Ayo teruskan! Atau mau diteruskan di lapangan?’ kedua abang saya pun jatuh dalam diam yang semakin dalam. Kepala mereka tertunduk, dan terlihat salah seorang dari mereka meneteskan air mata. Dan beberapa saat kemudian tangis mereka berdua pun pecah, ’maafin kami, Yah............’ kata mereka disela raung tangis yang kian menjadi-jadi karena kediaman ayah yang saat itu marah. Scene selanjutnya dari rangkaian kejadian itu adalah mereka berdua dibebankan tugas untuk membersihkan kandang sapi disamping rumah kami, selama seminggu penuh dan tanpa upah. Begitulah, setelah efek jera yang diberikan ayah pada kedua abang saya itu, mereka berdua tidah pernah ribut lagi, setidaknya tidak bila ada ayah atau ibu dirumah. Kalaupun harus berkelahi, mereka berdua lebih memilih untuk melakukannya diam-diam di kebun, dan kembali pulang dengan senyum merekah seolah tak pernah terjadi apa-apa. hahhaha
Namun dibalik sikap kerasnya itu, sebenarnya Ayah kami adalah sosok yang sangat menyayangi kami anak-anaknya. Tidak dengan materi yang berlimpah, melainkan dengan didikan keras yang sampai saat ini sangat kami syukuri. Ayah tidak pernah begitu saja mengabulkan permintaan kanak-kanak kami. Harus dengan melakukan sebuah usaha, entah itu dengan menimba air di sumur, menyapu halaman, atau memberi makan dua ekor sapi dan beberapa ekor kambing yang Ia pelihara barulah kami mendapatkan apa yang kami inginkan.
Ayah tak memberikan apapun dengan cuma-cuma, bukan karena Ia pelit, tidak. Melainkan karena Ayah ingin kami tumbuh dengan menghargai rezeki yang kami dapatkan. Ia ingin kami belajar berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang kami mau. Dan begitulah, hingga saat ini, didikan ayah tersebut sangat kuat melekat dalam keseharian kami. Bahwa tidak semua keinginan harus tercapai, kecuali jika kita benar-benar mengusahakannya. Sembari berusaha, do’a pun tak boleh terputus dari tiap hela nafas kami. Begitu kata ayah.
Soal ibadah pun demikian. Sejak kecil ayah dan ibu begitu keras dan tak ada tawar menawar untuk urusan ibadah. Begitu bedug terdengar dari mushalla yang berada di dekat rumah kami, kami semua sudah harus berangkat untuk shalat berjamaah di mushalla tersebut. Jika kebetulan pada waktu shalat salah satu dari kami berada diluar rumah, maka shalat boleh kami lakukan di mushalla kecil milik kami sendiri sesampainya kami dirumah. Dengan cara itu, ayah dan ibu mengajarkan kami tentang bagaimana mengahargai waktu, dan bagaimana cara mendisiplinkan diri sendiri. Dan sampai sekarang, tidak hanya dalam hal shalat, semoga saja dalam hal lain kami semua dapat menerapkan disiplin tersebut sesuai dengan apa yang orang tua kami ajarkan.
Tak henti-hentinya, tiap saat ada kesempatan untuk bicara, yang selalu mereka tekankan pada kami adalah hakikat hidup kami sebagai manusia yang sejatinya adalah makhluk Allah yang takkan dapat melakukan apapun tanpa izin-Nya. Dalam tiap hela nafas kami, kesadaran tentang adanya Allah SWT yang selalu mengawasi gerak-gerik kami membuat kami sangat takut untuk berbuat curang secara diam-diam. Saya ingat dulu ketika saya diam-diam makan permen padahal ibu melarang keras saya memakan manisan aneka rasa tersebut karena batuk, abang saya yang ketiga berkata 'Biarin ibu nggak tau, tapi Allah liat kalo kamu nggak nurut kata ibu. dosa loh! sini bagi permennya..' entahlah, itu merupakan situasi yang agak sulit untuk didefinisikan dalam kategori mengingatkan, atau sekedar bentuk intimidasi pada saya yang tak tahu apa-apa dan sangat takut dengan 'mata' tuhan yang selalu mengawasi tingkah laku saya saat itu, dan bahkan sampai detik ini. 
Sekarang saya bukanlah anak kecil lagi. Semua saudara saya yang lain pun sudah berumah tangga masing-masing, kecuali saya sendiri yang masih single hahhaha. 
Beruntung saya masih berkesempatan sepenuhnya untuk merawat kedua orang tua saya selagi saya masih mampu. Namun takdir berkata lain, Ayah saya yang pendiam namun sangat penyayang itu telah lebih dulu berpulang meninggalkan ibu, saya dan saudara-saudara lainnya. Duka yang mendalam itu masih kental terasa, walaupun detik ini, meninggalnya ayah telah berlalu empat tahun lamanya. Kemudian satu tahun lalu, pada tanggal 19 September abang ketiga saya pun berpulang kerumah-Nya karena penyakit gagal ginjal yang telah lama di deritanya. Duka kembali menyelimuti keluarga kami. Namun kenangan tentang mereka akan selalu hidup dalam hati kami masing-masing, terucap ataupun tidak, cinta kami kepada mereka masih sama besarnya.. bahkan lebih banyak dari hari-kehari. Dan semua yang Ayah ajarkan kepada kami dulu akan tetap kekal sampai kapanpun, sampai batas usia kami hidup di dunia. Dan akan terus menerus kami ajarkan pada anak-anak kami kelak. 
Tak terasa sudah dua puluh tiga tahun saya hidup. Kehidupan dewasa yang pasang surut kadang membuat saya begitu rindu untuk dapat kembali ke masa kanak-kanak. Masa yang penuh dengan hal-hal baru. Belajar memasak dengan kakak perempuan saya, sekaligus belajar memanjat pohon mangga dengan abang-abang saya. Namun, tiap saat saya melihat jauh kedalam mata ibu, seketika saya hunus kuat-kuat segala keinginan untuk kembali kemasa yang sudah-sudah. Mata ibu hanya terus bercerita sesuai alur waktu yang mengalir kedepan, bukan lagi menentang arus untuk ngotot kembali ke belakang.
Jika nanti pada saatnya tiba saya melahirkan putra dan putri dari rahim saya sendiri, saya tak akan segan bercerita tentang masa kecil saya yang terlahir sebagai bungsu dari rahim ibu terhebat, ayah terkuat, dan saudara-saudara super yang pernah saya miliki. Jika pada saat itu tiba, Tuhan, izinkan ibu saya tetap sehat untuk berada disisi kanan saya dan menyaksikan sendiri bagaimana saya menikah dan bermimpi mengikuti jejaknya untuk menjadi seorang ibu sepertinya. Semoga.
Terimakasih Tuhan, untuk sebuah keluarga sederhana ini. Mungkin lahirnya kami adalah kado terindah bagi kedua orang tua kami, namun jauh di lubuk hati kami, kami lah yang merasa mendapatkan kado terindah karena memiliki kedua orang tua seperti mereka. Terimakasih Ya Allah.. sehatkanlah mereka selalu, sayangilah mereka selalu melebihi kasih sayang yang tak habis-habis mereka curahkan untuk kami, anak-anak yang selalu mencintai mereka sepanjang masa. Aamiin.


*nb: sebenarnya saya ingin menyertakan beberapa foto, tapi sayang foto masa kecil kami tak banyak yang tersisa karena peristiwa kebakaran yang melalap habis rumah kami tahun 2000 lalu :(

Titik Dua Kurung Buka


Bahkan ketika bulan dimatamu melelehkan darah, aku tak jua terkesan dengan kesedihan barumu itu
Sedihmu itu tak lain adalah kesedihan lama yang bersembunyi, dan muncul kembali sewaktu-waktu, merenggut bahagiamu yang mulai jarang nampak olehku

Sedihmu telah tua
Sedihmu terlalu sering kulihat, hingga ia tak lagi asing
Ia seperti saudara kandung yang tiap saat ku jumpai di rumah
Hingga aku terbiasa melihatnya ada padamu, merenggut ceria diwajahmu itu

Aku mengenal kesedihan itu sebaik aku mengenalmu
Aku bahkan mulai akrab dengan kesedihan yang kerap ku usahakan ketiadaannya,
Seperti pintamu

Kali ini apa lagi yang membuatmu sedih, duhai puan?
Katakanlah, aku mendengarkanmu seperti hari yang sudah-sudah
Bicaralah, biarkan kesedihan itu bebas mengudara bersama tiap kata yang telah sedari tadi kau pendam itu
Aku disini untuk mendengar segala sampah hatimu yang nyaris membusuk itu
Barangkali dengan berbicara hatimu menjadi sedikit lebih lega,
Dan setidaknya, untuk kali ini dapat kulihat bahagia kembali  berkerlip dimatamu, dan bahkan bertahan lebih lama dari biasanya

Kau cantik, juga rupawan.. ..
Dunia tak akan menyakitimu selamanya
Dan kesedihan itu nantinya akan lelah memelukmu lebih lama
Ia terlalu tua untuk jiwa muda mu yang seharusnya bahagia
Sedihmu itu terlalu egois untuk pribadimu yang selalu berlapang dada

Kau cantik,
Bukankah kecantikanmu itu berhak diutarakan lewat sebuah senyuman?

Tersenyumlah pada kesedihan itu
Tersenyumlah pada air mata itu, dan selalu katakan kalau kau baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja!
Bukankah hidup akan terasa lebih mudah bila kau, aku, kita.. bahagia?

Wednesday, September 4, 2013

Mata Itu...


Aku selalu lupa caranya bersedih, saat kulihat kedua mata itu.. kedua mata yang memancarkan keteduhan dan kelapangan hati yang sangat itu. Kesedihan terasa seperti selintas angin yang hanya sekedar lewat, meremangkan tengkuk beberapa saat dan kemudian pergi berlalu begitu saja, tiap saat kulihat mata itu.

Kedua mata itu, mata yang selalu jernih.. Mata yang membuatku leluasa menelusup kedalamnya, membaca sejuta rahasia yang tak pernah sekalipun terungkap dalam rangkai kata demi kata.

Mata itu, mata yang bercerita tentang kepedihan yang sudah-sudah, kepedihan yang kerap membasahi keduanya ditiap malam saat kantuk tak lagi ia rasa..

Mata itu, mata yang selalu menatapku dengan penuh kasih, penuh rasa sayang.. Mata yang membuatku merasa aman dan nyaman, meskipun hidup kadang terlihat begitu gelap dan menakutkan untuk kulalui seorang diri.

Mata itu selalu siap meneduhkan hatiku, mata yang seolah berkata.. 'anakku yang hebat, tak ada alasan untuk menjadi tak kuat.. Tetaplah bersemangat. Ibu ada disini, melihatmu dari belakang dan selalu menyertakan do'a ditiap jengkal langkahmu, saat kau dekat dipangkuan ibu.. Maupun saat kau berada jauh dari jarak pandang ibu. Ibu selalu ada untukmu nak..'

Dan pemilik kedua mata ajaib itupun tak pernah ingkar janji. Ia benar-benar selalu ada untukku.. diwaktu sehat dan sakitku, diwaktu bahagia dan sedihku, disaat ramai pun saat sendiriku..

Pemilik mata yang teduh itu selalu menyertakan do'a-do'anya untuk separuh nafas yang kadang terasa berat untuk ku hela. Ia benar-benar selalu ada, bahkan disaat ego kekanakanku dengan sengaja melukai halus perasaannya, Ia selalu ada dengan kedua lengan yang terbuka, memaafkanku..

Ia selalu ada.
Dimanapun aku berdiri, Ia selalu ada. Terasa nyata mendekapku dengan segenap cinta yang Ia punya. Ia adalah ibuku.. :)

Wednesday, August 21, 2013

Jika Tiba Masaku


Bagaimana jika waktu tiba-tiba berhenti diujung malam? Saat gelap tak lagi memberi kesempatan pada pagi untuk menyinari duniaku..
Bagaimana bila nafas yang ku punya tinggal sepenggal, dan tak ada lagi kesempatan kedua untuk memepergunakan sisa nafas terakhirku untuk berucap segala kata cinta untuk mereka yang benar-benar ku cintai?
Bagaimana jika kematian benar-benar menari dikedua pelupuk mataku? Yang datang seperti kantuk dimalam hari, dan tidurku sebenarnya adalah matiku yang tak akan membuatku terbangun lagi keesokan harinya?
Mungkinkah kematian akan menjadi ujung benang yang membentang pada hari-hari tersakit ini?
Tuhan... aku tak sedang berusaha mempertanyakan apa yang tercatat dalam buku rahasia-Mu, hanya saja...... hanya saja aku tiba-tiba merasa takut akan datangnya batas waktuku. Berupa kematian, yang meliukkan tubuhnya dan membeliakkan matanya diujung ranjang tempatku berbaring saat ini.
Aku takut mati meninggalkan segala urusan yang belum tuntas ku kerjakan..
Aku takut mati dalam keadaan kotor karena mendurhakai-Mu,
Aku takut pada kematian yang kerap mengintip disela jendela saat aku lelap tertidur, setelah lelah menangis selama beberapa waktu menahan sakit yang begitu sering tiba-tiba datang mencengkramku erat, sedang jiwaku belum cukup kuat, sedang persiapanku belum cukup padat.
Rasa sakit ini, seperti akan merenggut kedua bola mataku, dan membuatku tak lagi mampu menatap warna pagi.. warna pelangi, bentuk wajah ibuku, keponakan-keponakanku yang lucu.......
Rasa sakit pada kepala ini, seperti akan membutakanku. Seolah Tuhan sedang berusaha menutup mataku dari rupa lain dosa-dosa yang mungkin kulakukan lagi, suatu saat nanti.
Ampuni aku Tuhan, ampuni ketidakberdayaanku ini.. ampuni semua keluhanku, ampuni semua ketakutanku. Izinkan aku mandi sebelum pergi, mensucikan hati, dan membekali diri untuk sebuah perjalanan panjang menuju-Mu....jika nanti tiba waktuku..

Bali, 22 Agustus 2013

Monday, August 5, 2013

Cerita Pada Sepotong Senja


serpih senja yang tercecer itu berkisah tentang dia yang selalu menjadi matahariku.....

Tak banyak yang dapat ku katakan ketika ayah memalingkan wajahnya dan kemudian pergi menjauh dari tempatku berdiri. Ku pandangi punggungnya dengan teliti. Ada lipatan kecil pada kerah kemeja lusuh yang ia kenakan. Dan pada ujung celananya, ada noda lumpur yang enggan dibersihkan walau telah di cuci berkali-kali. Begitulah ayah, selalu kurang hati-hati memeriksa pakaiannya saat hendak beranjak pergi. Biasanya dengan sigap ku rapikan kemejanya, kemudian ku cium tangannya sebelum benar-benar melepasnya pergi.
Ayah adalah seorang yang tak banyak bicara. Sore hari sepulang dari bekerja, ayah tak segera menghampiriku. Pertama-tama ia letakkan semua perkakas yang selalu dibawanya bekerja dengan rapi, kemudian segera Ia membasuh kedua kaki dan tangannya dibawah kucuran air yang mengalir dari kendi yang sengaja ia letakkan persis disisi pagar rumah kami. Setelah itu, barulah ia mau ku salami.
Ayahku yang pendiam sangat jarang memarahi tingkahku yang kerap membuat seisi rumah gaduh. Paling-paling ia hanya berpura-pura melotot kearahku, dan segera meraih tanganku untuk menjauhkanku dari omelan ibu. Diajaknya aku duduk di bale bengong disebelah kanan rumah, menikmati pisang goreng dan suara jangkrik yang sayup mulai terdengar mengantuk dikejauhan. Tanpa kata, tanpa cerita, rasanya malam bersamanya selalu ramai oleh celoteh diam kami berdua.

* * *

Sore telah pecah sedari tadi. Cakrawala pun telah pudar rona jingganya. Seperti halnya sore-sore sebelumnya, kali ini pun aku telah seiap menunggu ayah pulang dari tempatnya bekerja. Selang beberapa saat ayah yang ku nanti tak jua datang. Lama aku berdiri menantinya diambang pagar, sambil sesekali melongokkan kepalaku kalau-kalau siluet yang ku nantikan muncul dikejauhan. Namun nihil. Hingga rombongan burung gereja terakhir pulang kerumah mereka, ayah tak jua kembali.
Gelisahku membuncah. Ada rasa khawatir yang seketika menyergapku erat. Terasa dingin dan membuat tengkuk ku meremang, gamang. Berkali-kali ibu mengajakku masuk kedalam rumah, karena udara tak lagi ramah menyentuh kulitku yang sensitif. Sejak lahir aku memang tak pernah akur dengan udara malam, itulah mengapa ibu begitu rewel membatasi waktu bermainku dengan teman-teman, terutama saat hari menjelang malam. Namun kali ini aku bertahan, sampai ia yang ku nantikan benar-benar datang.
Benar saja, dari kejauhan kulihat bayang seseorang mendekat kearah rumahku. Ada letup girang dalam hati yang kusimpan diam-diam. Setengah berteriak, kupanggil ibu dan mengabarkan seseorang telah datang.

”Bu Aminah.. Bu Aminah!” teriak orang tersebut. Dalam keremangan cahaya dapat ku kenali wajah orang tersebut yang ternyata pak Made, rekan kerja ayahku di pabrik kaca.

Pak Made berlari tergopoh-gopoh menghapiri kami berdua. Tubuhnya yang gempal dan lehernya yang seperti melesak jauh diantara kedua bahunya itu terlihat kerepotan menyangkil dua ransel dekil berwarna abu-abu kecoklatan. Satu ransel disebelah kanan tentu miliknya sendiri, dan satunya lagi.. akh, itu ransel ayahku!
Dengan sabar dan dada yang dipenuhi tanda tanya ibu menunggu pak Made menuntaskan nafasnya yang ngos-ngosan setelah berlari sepanjang jalan dari pabrik hingga rumah kami. Namun rasa penasaranku terlontar begitu saja tanpa mampu ku tahan lebih lama.

”Ayah mana Pak Made?”

Pak Made tak langsung menjawab. Ditatapnya ibu dan aku lekat-lekat secara bergantian, dan setelah menarik nafas panjang barulah ia mau membuka mulutnya.

”Anu Bu, Pak Ahmad mengalami kecelakaan di pabrik. Beberapa lembar kaca yang telah siap dikirim jatuh dari truk dan menimpanya. Sekarang Pak Ahmad sedang dirawat di ICU, belum sadarkan diri.”

Keremangan senja tak menghalangi mataku untuk melihat betapa cepatnya perubahan air muka ibu yang seketika pias, pucat pasi. Tak ada yang membuat kedua lututku lemas, selain kalimat terakhir yang dilontarkan pak Made dengan terbata-bata barusan. Ayah belum sadarkan diri katanya? Tuhan, ku mohon.....
Tanpa berpikir lama, apalagi mengganti pakaian dengan yang lebih layak kami bertiga pun segera meluncur ke Rumah Sakit tempat ayah dirawat. Pada separuh perjalanan baru ku sadari kalau ibu tak memakai alas kaki, mungkin ia lupa, atau sengaja mengabaikan itu untuk segera melihat ayah yang katanya tengah terbaring tak sadarkan diri.

* * *

Rumah Sakit tempat ayahku dirawat tak begitu jauh dari rumah. Dengan berjalan kaki dan sesekali berlari selama kurang lebih 45 menit kami telah sampai disana. Ditempat tinggal kami, memiliki kendaraan seperti sepeda ontel  sudah merupakan kemewahan tersendiri, yang sayangnya belum dapat dinikmati oleh keluargaku. Bagi ayah, kelebihan uang yang kami simpan lebih digunakan untuk keperluan yang lebih penting daripada membeli fasilitas yang dapat memudahkan pekerjaannya, untuk biaya pendidikanku misalnya. Kerap kali saat malam menjelang tidur kudengar ayah bercakap dengan ibu, tentang besarnya keinginan ayah untuk melihatku sukses ketika aku besar nanti. Dengan bersemangat Ia merangkai sketsa bayangannya sendiri, membayangkan putri satu-satunya ini berdiri dengan gagah dan membuat mereka bangga dengan segala prestasi yang ku raih. Akh, ayahku yang pendiam selalu menjadi banyak bicara saat membahas masa depanku yang masih buram di pelupuk mata.
Kulihat Rumah Sakit ini tak sebesar Rumah Sakit yang kerap kulihat di sinetron saat aku menumpang nonton TV dirumah pak Kepala Desa. Di beberapa sudut, kulihat banyak flavon putih yang mulai berubah warna menjadi hitam kehijau-hijauan. Sarang laba-laba pun banyak terlihat bergelayut disana-sini. Di bangku, di kusen pintu, di dinding, bahkan diranjang tempat ayahku berbaring.
Ini pertama kalinya aku datang ke Rumah Sakit. Biasanya, saat wabah batuk pilek menyerangku, ayah langsung membawaku ke puskesmas tak jauh dari bangunan tua yang dua tahun ini menjadi sekolah tempatku mengenyam pendidikan sekolah dasar. Adapun putri sulung pak RT yang merupakan satu-satunya sarjana dikampung kami menjadi guru yang paling sabar membimbingku meraba huruf demi huruf untuk ku baca. Tanpa mengenal Rumah Sakit, puskesmas memang menjadi satu-satunya tempat berobat yang paling ramah dengan kantong ayahku yang kerap bolong di akhir bulan.
Begitulah. Dengan terbata-bata, kubaca papan putih diujung ranjang tempat ayahku berbaring. Tertera disana nama ayahku yang baru ku ketahui kalau usianya telah menginjak 56 tahun. Tepat dibawah nama dokter yang merawatnya, terdapat tulisan ’Tanpa Askes’ yang tak ku mengerti apa maksudnya.

Ayah yang selalu tampak sehat terlihat begitu lemah terbaring diatas ranjang itu. Nafasnya putus-putus. Pada perban yang membebat kepala hingga wajahnya terlihat bercak darah segar. Dan juga pada lengan dan kakinya, hampir seluruh tubuh ayah tak luput dari bebatan perban. Ibu menangis, pak Made terdiam, dan aku hanya dapat mengerjapkan kedua mata untuk membunuh kekosongan waktu, dengan tangis yang tercekat didalam kerongkongan.

* * *

2 minggu kemudian ayah diperbolehkan pulang. Selain beberapa lilitan perban yang masih betah menempel di pelipis dan bahunya, seluruh tubuh ayah telah dinyatakan pulih dari sakitnya. Sebelum pergi dokter telah mewanti-wanti ayah agar selalu berhati-hati dalam bekerja dan memilah-milih makanan yang dapat masuk kedala tubuhnya. Seandainya saja dokter itu tahu betapa tak banyak pilihan yang dapat kami pertimbangkan untuk dimakan dan disisihkan. Tapi itu bukanlah hal terpenting untuk diketahui banyak orang, cukup amin-I saja semua perkataan dokter itu agar kami bisa segera pulang. Dan sambil menunggu ibu menyelesaikan proses administrasi, aku duduk di bangku lusuh penuh kelabang disudut rumah sakit dekat dengan pintu keluar, dengan ayah duduk disebelahku, masih dengan diam yang sama seperti biasanya.
Tak lama berselang ibu keluar dari ruang administrasi. Binar ceria yang sempat hinggap sekejap dimatanya perlahan meredup. Selembar kertas ditangannya bergetar. Raut kecewa, sedih dan marah yang sukar dijabarkan dengan kata tergambar jelas diwajah cantiknya yang terlihat begitu lelah. Tanpa perlu bertanya, ayah seperti telah mafhum musabab muramnya wajah ibu yang tiba-tiba itu.
10 juta. Angka yang tertulis pada selembar kuitansi penyebab muramnya ibu. Tak dapat kubayangkan berapa banyak uang tersebut. Pastilah jumlah yang sangat sangat banyak hingga membuat kedua orangtuaku yang miskin ini kalang-kabut. Namun dengan tatapannya yang teduh, ayah berhasil menentramkan kegelisahan hati ibu. Dan setelah dua jam dirumitkan dengan proses administrasi Rumah Sakit yang berbelit-belit, kami pun akhirnya pulang. Dengan separuh perasaan senang, dan separuhnya lagi gamang, menyandang status baru sebagai pemilik hutang sebesar 10 juta pada Rumah Sakit yang baru dua minggu ku kenal itu.

* * *

Pada suatu pagi di bulan Agustus beberapa bulan setelah kejadian itu, pagiku yang tenang dikejutkan oleh suara nyaring di halaman rumah, terdengar seperti sesuatu yang pecah. Disusul dengan teriakan panik ibu dan suara larinya yang tergopoh-gopoh menuju halaman rumah. Dengan mata setengah mengantuk, kulihat ayah tergeletak basah kuyup di tanah, dan beberapa serpih pecahan kendi berserak disisi kanan-kirinya.
Ibu yang panik segera membopong ayah kedalam rumah. Kulihat ayah meringis menahan sakit. Tangan kirinya erat menggenggam lengan kanannya yang lunglai seakan tak bertulang. Ayahku lumpuh. Stroke yang lama ia abaikan sepertinya datang terlalu pagi kali ini. Setelah jemarinya yang mati rasa karena kecelakaan ditempatnya bekerja beberapa bulan lalu, sepertinya kali ini ayah harus ikhlas merelakan tangan kanannya menjadi lumpuh akibat serangan stroke yang begitu tiba-tiba ini.

Terhitung sudah 6 bulan ayah berhenti bekerja. Ibu yang biasanya selalu berada dirumah sepanjang hari kini mulai jarang kulihat, kecuali saat aku baru bangun tidur dipagi hari dan saat hendak kembali tidur di malam hari. Lumpuhnya tubuh sebelah kanan ayah mau tak mau mengharuskan ibu bekerja demi memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Belum lagi beban hutang 10 juta pada Rumah sakit yang kian hari kian terasa berat di pundak kedua orang tuaku ini. Apalagi dengan ditambahnya kelumpuhan tangan ayah, tampaknya kali ini Ibu benar-benar harus mengencangkan ikat kepalanya untuk menghidupi kami.
Pagi hari ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumah juragan sayur yang memiliki lahan paling banyak di desa kami. Namanya Pak Prayoga. Segala pekerjaan rumah tangga ia lakukan. Mulai dari memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah hingga mengurus 4 ekor sapi yang dipeliharanya. Beruntunglah ibu memiliki juragan yang begitu baik. Pada beberapa kesempatan, juragan yang merupakan orang Jawa asli tersebut memperbolehkan ibu membawa beberapa jenis sayuran sisa yang tak terjual dihari sebelumnya. Dan pada kesempatan lain, ibu diperbolehkan membawa makanan yang telah dimasak untuk segera kami santap dengan sangat nikmat.
 Dan sore hari, sekitar pukul 3 saat semua pekerjaan telah rampung ibu segera berkeliling menjajakan aneka kue-kue basah milik tetangga, tak hanya di kampung kami, ibu juga berjalan berkeliling di kampung-kampung sebelah yang berjarak berkilometer dari rumah kami.
Dengan penghasilan sebesar 400 ribu termasuk hasil menjajakan kue tersebut ibu berusaha memenuhi kebutuhan kami bertiga. Aku, ibu dan ayah. 100 ribu untuk segala keperluan kami yang terpaksa di-pas-kan dengan menekan kebutuhan disana-sini, dan 300 ribu sisanya masuk kedalam catatan hutang 10 juta kami di rumah sakit. Begitulah kami melalui hari-hari selama kurang lebih 2 tahun ini. 2 tahun penuh perjuangan bagi ibuku, dan 2 tahun penuh penyesalan bagi ayahku. Menyesal tak mampu berbuat banyak bagi keluarga ini tentunya.

* * *

Entah bagaimana, segala kerumitan hidup kami tak kunjung memudarkan senyum diwajah kedua orang tuaku yang perlahan mulai beranjak menuju tua ini. Banyaknya keriput disana-sini bahkan tak menjadikan mereka terlihat renta, malah membuatku tenang dan merasa aman menjalani hari-hari. Mereka selalu percaya bahwa dibalik segala kesusahan ini, Tuhan telah menyiapkan segala kebaikan untuk kami didepan sana. Entah bukan untuk kami nikmati saat ini, namun suatu saat nanti janji-Nya selalu pasti ditepati. Begitulah keyakinan yang selalu diamin-i kedua orangtuaku dalam tiap sujud-sujud mereka ditengah malam.
Usiaku kini telah menginjak 16 tahun. Satu tahun lagi, jika tuhan mengizinkan aku akan segera lulus dari bangku SMA. Sudah sejak lama, sejak aku mengerti betapa sulitnya hidup kami, ku kubur dalam-dalam mimpiku untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Cukuplah lulus SMA dan mencari kerja yang mapan, dan membiarkan kedua orangtuaku beristirahat menikmati hasil kerjaku nanti. Dan menikah? Aku belum dan tak pernah membayangkan kapan aku akan siap meninggalkan kedua orangtuaku dan hidup dengan sebuah keluarga baruku nantinya. Yang ada dalam kepalaku adalah bagaimana caranya untuk mempertahankan peringkat 1 ini sampai aku lulus nanti, agar beasiswa dari sekolah tak beralih ketangan oranglain.

* * *

Sejak kecil aku tahu kalau ayah pintar menggambar. Selalu saat ku minta ia menggambar awan, ia lantas menggambarnya dengan apik. Tak hanya awan, Ia bahkan menambahkan gunung dan pepohonan, juga persawahan dengan bonus matahari terbit disudut gambarnya. Di akhir gambarnya, ia selalu membubuhkan inisial namaku. Kelak jika ayah menjadi pelukis terkenal, maka ia akan terkenal dengan namaku, begitu yang ia katakan setiap saat menyelesaikan gambarnya. Beberapa sketsa ayah bahkan masih betah menempel menjadi penghias dinding kamarku yang terbuat dari triplek tipis yang sudah ditambal disana-sini karena bolong dimakan rayap.
Suatu hari pak Made mampir kerumah kami. Sejak pabrik kaca tempat Ia dan ayahku bekerja bangkrut, Ia pindah keluar kota, mengadu peruntungannya di tanah jawa. Melihat penampilannya sekarang, sepertinya Ia telah menjadi orang kaya. Yang tak berubah darinya hanya tubuh gempal dengan raut wajah yang selalu terlihat kasihan, dan kebaikan hatinya yang selalu membuat ayah tak segan membantunya kapanpun Pak Made meminta pertolongannya.
Setelah mengobrol panjang lebar tentang susah-senangnya selama berjuang di tanah rantau, tatapan pak Made tiba-tiba tertumbuk pada satu-satunya lukisan Ayah yang tergantung di salah-satu pilar bale bengong kami. Sebuah lukisan yang dibuat ayah saat usiaku 7 tahun. Dengan tangan kiri yang berkali-kali gagal mencipta rupa dari buah imajinasinya, akhirnya pada suatu pagi dengan bangga ayah memamerkan lukisan itu didepanku dan ibu. Kami berdua sangat terharu. Lama setelah tangan kanannya lumpuh, baru kali itu kulihat ayah begitu senang dan bahkan tertawa-tawa puas melihat karya perdana tangan kirinya itu. Ayahku memang terlahir dengan penuh bakat.
Tanpa basa-basi pak Made lantas menawarkan diri untuk meminjam lukisan tersebut untuk dibawanya ke Jogjakarta. Pak Made sendiri terlahir ditengah keluarga seniman. Ayahnya adalah seorang pemahat patung dan berbagai ukiran, sedangkan ibunya adalah seorang penari Bali yang kini telah memiliki sanggar seni dengan 12 orang murid bimbingannya. Akan tetapi, bakat seni tersebut tak lantas mengalir dalam tubuh pak Made, Ia lebih sukses menekuni bidangnya sebagai pemasar hasil kerajinan ayah dan kerabatnya di gallery yang Ia dirikan di Jogjakarta.
Pak Made pun kemudian membawa lukisan ayah. Itupun dengan berulang kali meyakinkan ayah kalau lukisan tersebut akan baik-baik saja ditangannya. Akhirnya, dengan berat hati ayah terpaksa mempercayakan karya apiknya tersebut ditangan sahabatnya untuk dicoba peruntungannya. Barangkali ada seseorang yang mau meliriknya dengan harga ratusan ribu..
Entahlah, aku selalu betah memandangi lukisan tersebut berlama-lama. Lukisan tersebut terkesan sepi. Hanya ada warna jingga, matahari yang terbenam dan siluet seorang anak kecil yang semakin mengecil ditelan bayang senja. Namun kulihat seolah ada kata-kata yang bicara dalam tiap goresan kuas ayah. Seperti kata-kata penyemangat bahwa harapan takkan pernah pupus dihapus malam, sekalipun senja menjadi batas yang jelas diantara peralihan gelap dan terang, namun matahari akan selalu ada ditempat yang sama setiap hari. Entah itu dalam rupa sinarnya yang muda, terik saat siang, jingga tatkala senja maupun tak nampak saat malam, matahari akan selalu menyinari gelapnya kehidupan kami sesuai kodratnya, sebagai bentuk kuasa Tuhan yang selalu mengingatkan kami bahwa Tuhan selalu ada untuk kami, kapanpun kami butuhkan. Mungkin itulah yang membuatku sangat menyukai lukisan ayah tersebut.
Hingga beberapa bulan berselang sejak kunjungan Pak Made yang tiba-tiba itu, kami mendapat kabar bahwa lukisan ayah telah dibeli oleh seorang kolektor lukisan yang berasal dari Jerman, seharga 85 juta. Sejumlah angka fantastis yang tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak ayahku. Untuk kedua kalinya kulihat ayahku menangis. Kata ibu, ini ketiga kalinya ayah menangis, yang pertama adalah saat aku lahir 16 tahun yang lalu. Dan yang kedua adalah saat dengan sedihnya Ia harus membiarkan istri yang begitu dicintainya itu membanting tulang demi menyambung kehidupan kami bertiga. Aku terharu, kami semua terharu. Seketika ayah tersungkur, mencium bumi agar bisiknya lebih cepat sampai pada Tuhan, walaupun Tuhan pastinya turut senang jauh sebelum ayah benar-benar menumpahkan syukurnya dalam sujud yang dalam.
Sejak saat itu ayah kembali mendapat semangat hidupnya. Hari-harinya lebih banyak tersenyum. Dan sesekali kulihat ayah termenung berlama-lama didepan kanvas kosong, mungkin sedang menunggu rupa yang tepat untuk menggambarkan betapa liar imaji yang menggelegak dalam ruang sadarnya. Perlahan namun pasti ia mulai melukis, dengan tangan kirinya.
Aktifitas barunya itu membuat ia menjadi jauh lebih pendiam. Dari kejauhan, kulihat ia akrab bercengkrama dengan kanvas berbagai ukuran lewat kuasnya, menoreh warna demi warna. Seolah buramnya hari-hari kami kembali cerah oleh se-lengkung pelangi yang tergambar jelas pada gurat-gurat wajah ayah. Aku memandangnya dengan haru, dengan diam yang kusimpan dalam hati. Dalam kediaman hatiku yang terdalam, berjuta syukur tanpa henti ku lafadzkan.. agar Tuhan taum betapa aku sangat berterimakasih karena telah membuat ayahku merasa berguna lagi, karena telah mengembalikan ayahku yang pendiam seperti sedia kala.

* * *

5 tahun kemudian ayah masih melukis, bukan lagi di bale bengong kami, melainkan di salahsatu ruang di gallery miliknya sendiri. Sebuah gallery yang namanya diambil dari namaku, Edda Titia Ellery yang berarti satu-satunya cahaya yang berkilau dimalam puitis.
Ya, dengan modal 85 juta itu pak Made mendorong semangat ayah untuk terus melukis lagi. Dan benar saja,  Vilhem Paxton, seorang kolektor Jerman yang terlanjur suka pada lukisan ayah itu selalu menanyakan perkembangan lukisan ayah tiap saat Ia berkunjung ke Indonesia. Belakangan, tak hanya datang ke gallery milik pak Made di Jogjakarta, Ia juga kerap mampir ke gallery kami di daerah Ubud. Sejak saat itulah, beberapa kolektor lain mulai berdatangan dan langsung jatuh cinta pada lukisan-lukisan ayah. Aku mulai tak asing dengan nama Kattrina Lyubov dari Rusia, Nadezhda Mischa dari Belanda, Raoul Simon dari Perancis, dan masih banyak nama lain yang kerap masuk dalam daftar tunggu yang selalu menanti lukisan-lukisan terbaru ayah.
Beberapa kali ayah kerap diundang untuk menghadiri pameran di beberapa negara yang sangat kental darah seni pada tiap penduduknya. Beberapa minggu ayah menginap di Roma, kemudian beberapa minggu depannya ayah sudah harus berada di Perancis. Begitulah, ayah memiliki kesibukan baru yang perlahan namun pasti mulai memperbaiki perekonomian keluarga kami. Dan ibu telah lama berhenti menjadi pembantu dirumah keluarga pak Prayoga, kesibukan barunya adalah menemani ayah kemanapun Ia pergi. Kembali menjadi istri yang seharusnya selalu berada disisi suaminya kemanapun sumainya pergi, sesuai dengan kodratnya, dan bukan bekerja memeras keringat demi menyumpal lambung-lambung kami yang lapar.
Sedangkan aku, aku kini sedang dalam proses merampungkan program Pascasarjana ku di Amsterdam School of the Arts, dan beberapa bulan lagi aku akan resmi menyandang gelar Master of Museology. Sebuah gelar yang semoga saja dapat memenuhi harapan-harapan ayah yang tergantung pada percakapannya dengan ibu bertahun yang lalu. Sebuah mimpi yang kupikir terlalu berkilau untuk dapat kutatap dengan kedua bola mataku yang kerap basah ini.
Namun siapa sangka, tangan Tuhan melukis hidupku dengan begitu apiknya. Segalanya terwujud bak magic yang berkilat dari ujung tongkat ibu peri, yang dengan sekali ayun semua simpul kerumitan hidup kami seketika terurai menjadi temali panjang yang kian mendekatkan kami pada cinta Tuhan. Rasanya kening ini selalu ingin tersungkur mencium bumi, sebagai tanda syukur tak terperi atas rasa bahagia kami, terimakasih Tuhan.

* * *

Pada musim hujan di bulan Desember aku kembali ke tanah air. Setelah transit di bandara Soekarno Hatta, Garuda kembali membawaku terbang ke tanah Bali. Tiba di Bandara Ngurah Rai aku langsung naik ke salah satu taxi dan segera meluncur ke kampung halamanku, di Ubud. Sengaja tak ku kabarkan berita kepulanganku ini pada Ayah dan Ibu, mereka hanya tau aku akan pulang bulan depan. Tapi siapa yang bisa menahan rindu lebih lama, jika Desember dapat menjadi moment yang terasa lebih syahdu untuk berbagi keharuan dengan ayah ibu.
Dari kejauhan, kulihat gubuk tua tempatku dilahirkan. Bangunan yang sama, namun berubah material penopangnya. Bukan lagi rumah triplek yang kerap bergoyang saat angin bertiup kencang, bukan pula atap jerami yang selalu bocor saat hujan menghantam. Bangunan dikejauhan itu kini berdiri kokoh, terbuat dari kayu jati dan beberapa bagian terbuat dari kayu mahoni. Ukiran disana-sini, nuansa coklat kayu yang hangat, beberapa kendi disudut-sudut halaman, juga damar-damar yang menempel dikedua sisi bagian depan rumahku, menambah kesan romantis pada bangunan tua ini.
Segalanya berubah, kecuali bale bengong itu. Disanalah kedua orang tuaku yang tak lagi muda duduk berhadapan. Raut terkejut diwajah mereka tak dapat disembunyikan lagi, dengan penuh rasa haru akupun menghambur kedalam pelukan mereka berdua. Senja mulai lelah, jingganya yang cerah kini hanya menyisakan keremangan berwana keemasan yang menyala kemerlap dikejauhan. Dan kami bertiga, berpelukan, menyatu menjadi satu siluet kecil yang seolah tenggelam dalam rengkuh kebahagiaan.


Jogjakarta, 3 Agustus 2013
23.10 WIB

*** TAMAT ***