Wednesday, February 5, 2014

Ar-Rahmaan

Aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang namanya serupa dengan salah satu surat dalam Al-Qur’an, yaitu Ar-Rahmaan. Dia, sosok kakak yang sangat penyayang, persis seperti makna dibalik namanya itu. Mungkin benar yang orang-orang katakan, kalau nama adalah do’a bagi pemiliknya. Maka tak salah jika Ayah dan Ibu memilih nama itu untuk kakakku tersayang.
Usiaku dan usianya terpaut cukup jauh, lima belas tahun kalau tak salah kuhitung. Namun begitu, aku sangat dekat dengan kakak laki-lakiku yang bernama Rahman itu. Dan aku begitu menyayanginya dengan segenap hati.
Kamu tau? Kakak laki-lakiku yang bernama Rahman itu sangat gagah orangnya. Tubuhnya tinggi  kekar, hasil dari banyak berolahraga dan seringnya menyabit rumput untuk pakan ternak-ternak kami. Alisnya hitam lebat dengan sorot mata yang tajam. Bibirnya sedikit tebal, dan hidungnya mancung. Walaupun kulitnya legam, dia terlihat lumayan tampan.
Aku ingat saat usiaku sembilan belas tahun, disuatu siang yang terik tiba-tiba saja aku jatuh  pingsan. Dan kakak laki-lakiku yang bernama Rahman itu dengan sigap menggendongku dibahunya dengan sebelah tangan. Dimataku, dia seorang laki-laki yang kuat, terlebih lagi dia adalah seorang yang begitu perhatian. Dia, begitu persis seperti mendiang ayah kami. Gagah, berani, dan keras kepala. Karena itulah setiap kali melihatnya, kerinduanku pada mendiang ayah dapat sedikit terobati.
Tapi taukah kamu? Kalau kakak laki-lakiku yang gagah dan kuat itu ternyata bisa tumbang oleh penyakit yang diam-diam menyerangnya dengan curang. Penyakit  itu bersembunyi sejak usianya menginjak angka belasan,  merusak sebelah ginjalnya saat kakakku lengah. Dan tak lama kemudian penyakit itu  melumpuhkan sebelah ginjalnya lagi. Aku bahkan tak dapat membayangkan bagaimana keras usaha kakakku saat melawan penyakitnya itu, betapa sakit yang Ia rasa saat itu. Namun begitu, Ia tetap terlihat kuat dimataku.
Aku ingat saat tubuh kekarnya terbaring lemah di ranjang rumahsakit. Ada banyak selang yang menancap di tubuhnya itu. Ada yang dimasukkan dari hidung, dari mulut, dan ada juga selang yang dimasukkan kedalam tubuhnya  dengan cara melubangi dadanya. Melihat itu saja aku tak sanggup. Aku tau kakaku sangat kuat, tapi dengan keadaan seperti itu, apa lagi yang dapat dia lakukan?
Saat aku menulis catatan ini, aku berharap kakak laki-lakiku yang bernama Rahman itu duduk bersamaku. Aku ingin menulis semua yang dia ucapkan. Aku ingin mendengar suaranya lagi. Dan lebih dari itu semua, aku ingin melihat sosoknya lagi..dengan senyum itu, dan semua kelakar yang kerap ia lontarkan untuk membuatku tertawa.
Lalu ku dengarkan lantunan Surat Ar-Rahmaan dari pemutar musikku. Ku dengarkan berulang-ulang sembari menumbuhkan semua ingatan yang tertinggal dimasa yang sudah-sudah. Ingatan-ingatan tentangnya yang membuat jemariku bergetar saat menulis catatan ini, entah karena rindu.. atau karena suara lantunan ayat-ayat-Nya ini terdengar begitu syahdu.
Kakak laki-lakiku yang bernama Rahman itu sekarang sudah pergi. Kau tau? Pada akhirnya Ia menang melawan penyakit itu. Ia kalahkan semuanya dengan seluruh kekuatan yang tersisa pada nafas terakhirnya. Kau tau kenapa aku bisa berkata demikian? Itu karena aku melihatnya tersenyum saat itu, saat dokter yang merawatnya berkata kalau nyawa kakakku sudah tak tertolong lagi.
Ditelingaku, kata-kata dokter itu lebih terdengar sebagai ucapan selamat karena pada akhirnya kakakku yang tampan berhasil lepas dari peluk penyakitnya itu. Dan piala atas kemenangannya itu harus Ia ambil sendiri ditangan Tuhan. Kata orang-orang yang datang melayat sih pialanya ada di syurga, karena tiket untuk menuju kesana telah digenggam oleh kakakku sejak lama, yaitu kesabaran yang luar biasa saat berjuang melawan sakitnya itu.
 Ia pun pergi dengan tenang. Ia tersenyum damai dengan bibirnya yang dengan cepat berubah pucat, dan tangannya bersedekap meniru gerakan shalat. Ia terlihat begitu bahagia untuk menyambut piala yang pada akhirnya Ia menangkan. Dan kakakku yang bernama Rahmaan itu, kini telah benar-benar pulang.


“Fabiayyi aalaairobbikumaa tukaddzibaan..”


detak demi detak

Aku masih terpaku pada suara detak yang muncul dari benda kecil itu. Setiap detaknya adalah detak serupa yang muncul dari dalam rongga dadaku. Setiap detaknya adalah detik yang berkurang dari usiaku.
Tik..tok..tik..tok...
Pada detak pertama ada perasaan asing yang datang menghampiriku, dan pada detak yang sama itu pula aku merasa ada sesuatu yang bergerak menjauhiku.
Dan aku menikmati semua pergerakan datang dan pergi itu sembari mendengarkan suara detak dari benda kecil itu, pun detak dari rongga dadaku.
Tik..tok..tik..tok..
Waktu meninggalkanku, selangkah, dua langkah lalu beribu langkah jauh dariku.
Tik..tok..tik..tok..
Penyesalan datang memelukku.
Sebelum aku sadar akan segala yang telah kulakukan dimasa lalu, detak itu kembali terdengar memburu telingaku. Seolah Ia ingin berkata ‘maaf, aku tak dapat menunggumu..’
Tik..tok..tik..tok..
Detak itu terus bergerak, merangkak, kemudian berlari ketika dengan sekuat tenaga berusaha ku tahan Ia. Detakku dan detaknya tak lagi seirama. Aku berdetak perlahan, Ia semakin membuat langkah panjang-panjang, menjauh..meninggalkanku.
Tik..tok..tik..tok..
Aku mulai membenci suara itu.
Tik..tok..tik..tok..
Ia mulai membentak galak, membuatu tersentak.
Tik..tok..tik..tok..
Ia semakin jauh meninggalkanku. Detakku memburu, mempercepat langkahnya untuk mengejar detak yang berlari itu. Namun detak itu tak mau tau. Aku telah jauh tertinggal dibelakang. Dan sejenak kemudian Detak itu menghilang. Ia t’lah benar-benar hilang.
Benda kecil dengan suara berdetak itu kini diam. Detak yang kudengar kini hanyalah detak yang muncul dari dalam dadaku. Tik......tok.... terdengar  serak, semakin samar.
Detakku tak dapat berlari cepat. Kedua kakinya terikat oleh ingatan yang menjerat.
Detakku sekarat.
Dan waktu kembali, saat detakku tak terdengar lagi.

Saat aku t’lah benar-benar mati.

Kamarku Istanaku

Aku memang lebih suka seperti ini, memaku diri dalam penjara imajiner yang kuciptakan sendiri. Kubiarkan diam mengajakku bicara semaunya, hingga ia lelah, hingga tak kudengar lagi bingar suaranya ditelingaku.
Hanya di kamar ini kutemukan waktu istimewaku untuk bercakap dengan pikiranku sendiri. Apa yang ku mau, apa yang ku rasa, dan apa yang ingin ku katakan, yang sebisa mungkin tak ku ungkapkan saat berada diluar sana kini membuncah bak air bah, di kamar ini. Dan aku sangat menikmati saat-saat seperti ini...
Berbeda dengan mereka, aku memang  punya caraku sendiri untuk melegakan sesaknya hati. Dan disini, di kamar ini, aku memenjara diri dan membiarkan sedihku bebas berkelana, mengudara, untuk kemudian menjelma hujan dikedua pipiku. Biarlah.

Aluna Maharani

bagimu agamamu, bagiku agamaku

Aku lupa kapan pertama kalinya aku menyukaimu, yang aku tau...sampai detik ini rasa itu masih untukmu. Dan yang aku tau, sejak dulu kamulah yang membuatku betah berlama-lama merayu Tuhanku agar diberikan-Nya hatimu padaku.
Sering ku pinta bermacam-macam do’a pada Tuhan, namun aku heran...selalu namamu yang paling sering kusebutkan. Untukmu kuminta kebaikan, kebahagiaan dan kesehatan yang selalu. Sama seperti yang ku pinta untuk diriku sendiri. Dan ‘aamiin’ yang kusebut berulang-ulang dipenghujung harapku menjadi simpul yang kian mengukuhkan kesungguhan pintaku, yaitu kamu.
Aku tau, Tuhan sedang melukis kita diwaktu yang sama, namun pada dua kanvas yang berbeda. Aku dilukis-Nya dalam sujud, dan kau yang tengah larut menyeru nama Tuhanmu dengan berlutut.
Dan aku pun tau kalau do’a kita sama, walau Tuhan yang kita sebut berbeda namanya. Namun apakah karenanya kita tak boleh bersama? Jika diatas perbedaan itu kita masih mampu berdiri, lalu untuk apa kita harus berlari darinya?
Nyatanya kaki-kaki kita terlalu lemah untuk menopang keinginan kita ini. Kau tau sayang? Tuhanku sepertinya tak ingin jika kita menyatu dalam ikatan yang kita mau. Mungkin sama, Tuhan yang kau yakini itupun mungkin setuju, bahwa sekali lagi, kita harus menerima kenyataan ini. Aku dan kamu terlahir untuk saling mencinta, namun tak bertakdir untuk berakhir menjadi satu. Aku memilih cintaku pada Tuhanku, dan kau... pun tetap memeluk erat nama Tuhanmu dalam satu keyakinan yang padu.

Tapi kau tau, sayang? Saat inipun masih, masih kamu yang selalu menjadi harapku. Namun jika rupanya Tuhanku menjawab do’aku dengan nama lain selain kamu, aku tak akan memaksa-Nya lagi. Bagaimanapun juga kita hanyalah manusia yang bisanya hanya mencintai apa yang Ia beri, bukan memaksanya mencintai apa yang kita pilih sendiri. Ku harap kau pun menjawab-Nya dengan cara yang sama sepertiku. Mungkin itulah satu-satunya cara agar cinta kita tetap bertemu pada satu titik yang hanya Tuhan maha mengetahuinya.


"bagimu agamamu, dan bagiku agamaku"