Monday, March 3, 2014

Terimakasih Untuk Dua Telinga ini


Terimakasih untuk dua telinga ini, Tuhan.

Tak ada seorangpun yang dapat berjalan tegak tanpa sekalipun merasakan jatuh dan mengenal darah. Seperti halnya aku, yang kau kenal sebagai seorang yang cukup bijaksana dengan kata-kata yang katamu cukup mujarab untuk menyembuhkan sedihmu, pun hanya manusia yang juga punya luka tersendiri yang kubiarkan sembunyi, diantara tawaku.

Hanya saja memang sengaja kubuat tawaku agar terdengar lebih nyaring sembari kutunggu luka ku mengering, dengan sendirinya..

Maafkan aku yang lebih memilih diam.
Aku, hanya memberi ruang untuk telingaku agar mampu mendengarmu dengan lebih seksama.

Ceritakanlah! aku akan mendengarkannya. Dan akan selalu siap untuk itu.

Lalu suatu ketika kau merasa telah ku curangi. Katamu.. persahabatan kita tak seimbang. Aku hanya mendengarkan, tanpa mau membagi laraku seperti yang selalu kau lakukan.
Kau benar.

Aku memang seperti itu. Aku securang itu.

Mendengar lukamu saja telah membuatku sadar bahwa rupanya, lukaku tak sesakit itu untuk kutangisi lebih lama.
Lalu apa lagi yang harus kuceritakan saat luka itu telah sembuh dengan sendirinya?

Sudahlah. Tak perlu kau pikirkan apa-apa lagi. Telingamu kini tak cuma dua. Telah ku katakan kalau aku bersedia untuk menjadi telingamu yang lain untuk kau perdengarkan semua keluhmu. Dan jika kau lelah bercerita padaku, mari kita sama-sama merebahkan diri pada kepasrahan. Bukankah Tuhan selalu mendengarkan tanpa kita minta?

Bukankah Tuhan selalu duduk bersama kita?

Bukankah Tuhan masih ada didalam hati kita?

Maka ceritakanlah sedihmu padaku, lalu pada-Nya. Dan kita, akan bisa tertawa bersama sesudahnya.

Untuk Kau Tau..


Untukmu yang telah merelakan sedikit waktu berhargamu untuk membacaku diam-diam, terimakasih..

Tak perlu mencariku lagi karena sesungguhnya aku tak pernah beranjak dari tempat semula. Aku, masih ada ditempat yang sama seperti kali pertama langkahmu pergi menjauhiku sebanyak ribuan hasta.

Dan jangan lagi kau kembali karena bukan untuk menyambutmu aku berdiri disini. Aku, hanya melihat punggungmu menjauh sembari meyakinkan diri bahwa memang seharusnya demikian yang terjadi.

Jika kau tetap memilih untuk kembali padaku, terimalah bahwa segala yang terjadi dulu takkan lagi dapat kita lahirkan kembali dalam bentuk cerita baru. Aku, begitupun kamu, adalah kita yang hanya ada saat itu saja.

Jangan pernah menarik ingatan lama tentangku yang telah kau benam dalam lupa. Karena aku, bukan lagi yang dulu. Pun aku, tak pernah sama sejak kepergianmu.

Seperti pagi ini saat aku duduk ditepi dermaga, memandangi  kapal kecil maupun besar yang lalu-lalang sejak petang... aku memikirkanmu, sungguh, kamu yang ada dikepalaku. Memikirkan bahwa hidup memang selalu soal pergantian, ada yang datang dan ada yang memang seharusnya dibiarkan pergi, menghilang.

Bahwa hidup memang tentang pergerakan demi pergerakan. Beranjak dari satu kesakitan menuju kebahagiaan yang lain. Melompat dari satu luka menuju tawa yang lain.

Bukankah hidup ini terdiri dari dua hal yang saling berkebalikan?

Agar masih tersisa ruang dihati kita yang percaya, bahwa hanya Dia, 
satu-satunya yang maha TUNGGAL.

Bukankah segala yang kita miliki akan pergi juga nantinya?

Agar kita senantiasa ingat, bahwa hanya Dia, 
satu-satunya yang akan tetap TINGGAL.

Dan bukankah luka dan tawa adalah rasa yang nyata?

Yang keduanya telah menjadi cukup bukti, bahwa Dia, satu-satunya Sang Pencipta segala.