Friday, November 30, 2012

Rindu adalah..

Rindu adalah jendela tempat tanganku menopang dagu, melamunkanmu

Rindu adalah segenggam rasa ngilu yang dijembatani jarak dan waktu

Rindu adalah jeda waktu yang membimbing hati untuk melangkah dari ragu ke ragu

Rindu adalah untaian nama yang kurapal dalam tiap helai do'a-do'aku

Rindu adalah kamu.



1 Desember 2012

Thursday, November 29, 2012

it's ok not to be okay


Merdeka suaraku dengan diam, jika deru hatiku yang menyeru tak mereka hiraukan.
Lega jiwaku dengan bungkam, jika raut muram wajahku tak membuat mereka paham.
Aku nyaman dengan diam, karena sebagian dari mereka tak berhak menjadikanku bahan obrolan belaka tanpa penghiburan yang menentramkan.
Tak pantas ku perlihatkan kebodohanku dengan berbagi suara yang hanya akan menjadi angin lalu dalam ingatan mereka...

Biar kesedihan ini memelukku, mungkin Ia cemburu dengan bahagia yang sekian lama menjadi teman sepermainanku. Sedih mengenalkanku pada sepi, namun tak kesepian. Sedih menjadikanku sendiri, namun tak selaluu sendirian.

Tapi toh, tak ada bahagia yang ada dalam rengkuh kata ’selamanya’. Begitupun dengan kemuraman yang sifatnya hanya sementara. Aku hanya butuh waktu untuk terbiasa, dan belajar membagi cerita dengannya jua.

Lama-lama aku pun akrab dengan sepi dan mulai terbiasa bersamanya. Aku lupa caranya tertawa, aku kehilangan gairah untuk merdeka. Duka yang bertubi-tubi mengunciku dalam ruang kemuraman. Aku lebih banyak diam. Aku pendam segalanya dalam diam. Ketika dunia memalingkan wajahnya dengan sejuta penolakan, mataku tak lagi basah karenanya. Aku mungkin telah terbiasa, benar-benar telah terbiasa dengannya.

Namun bagiku tak mengapa, aku harus adil membagi diri untuk bahagia dan sedihku. Keduanya adalah satu yang membentuk aku. Bagiku tak mengapa, sungguh tak mengapa.....

Senja berkabar duka


Hari itu senjaku tak sejingga biasanya. Genang air dalam kelopak mataku yang basah mengaburkan pendar-pendar cerahnya. Tepat saat Azan Maghrib mengumandang syahdu, angin datang membawa kabar itu lagi. Terbata-bata ia bisikkan ditelingaku bahwa kakak terkasihku telah berpulang ke pangkuan-Nya. Luruh segala tulang dalam tubuhku. Runtuh jua kesadaranku. Sesaat waktu seakan berhenti diwaktu itu, memberikan jeda untukku mencerna kabar duka yang baru saja kudengar.  Aku membatu, kelu, namun tak sampai hilang kesadaranku. Raung tangis ibu menyadarkanku bahwa saat itu bukanlah waktuku untuk turut menangis. Gemetar kedua lengan kurusku memeluknya, semakin kuat Ia meronta semakin tubuhku bergoncang hebat menahan sesak yang hendak meledak. Putramu,bu.. putra kesayanganmu telah pergi... putramu yang didera sakit sekian tahun telah tiada...” bisikku dalam hati tanpa mampu berkata-kata, kupeluk saja ibuku dengan sisa-sisa kekuatanku. .. Sampai magrib berlalu dengan lebih lama dari biasanya, dengan sendu penuh air mata. Dalam sujud di rakaat terakhirku tubuhku berguncang hebat, tepat saat otakku t’lah sadar sepenuhnya bahwa sekali lagi, takdir menamparku dengan kehilangan, lagi. Sesaat aku protes kepada Tuhan Sang Maha Pencipta... mengapa harus dia,Tuhan? Mengapa bukan aku saja yang Kau ambil................................................................................................

Lihat Aku


Aku adalah pantulan dari ketelanjanganmu.
Kamu, dari ujung rambut sampai jejari-kakimu.
Aku seutuhnya kamu dengan tatapan mata liarmu.
Marahi aku!!
Remukkan aku dengan caci! hinakan aku dengan maki!
Aku tetaplah bayangmu.
Ludahi aku! dustakan aku dengan egomu yang tengah dinistakan oleh waktu!
Jika yang dapat kau lakukan adalah mencari pembenaran sana-sini, akulah orang pertama yang harus kau adili..
Aku bayanganmu.
Aku pantulan seutuhnya dirimu.
Aku adalah sebagian kamu yang terlihat sama persis denganmu.
Maka lihat aku...
Dan lihat aku...
Lihat saja aku.. ..

Wednesday, November 7, 2012

thanks eve

Satu malam tentang beberapa tahun silam
Tentang cerita yang tak terduga tajam likunya
Tentang hati yang jatuh, luruh, kemudian kembali utuh
Segalanya dikemas dalam satu bingkis manis, yaitu waktu.

Thanks Eve.. :)