Wednesday, October 31, 2012

Ini ceritaku, apa ceritamu?


Berawal dari kebencian saya terhadap sayur pare, saya jadi sensitive mendengar segala sesuatu tentang jenis sayuran tersebut. Entah apa dosa pare terhadap saya, kebencian saya terhadap sayur imut tersebut seolah sudah mendarah daging dalam diri saya sejak kecil.
Tidak ada alasan mengkhusus mengapa saya begitu menaruh sikap antipati terhadap pare. Mungkin hanya karena rasanya yang sangat pahit dan penampilannya yang kurang menarik minat saya. Lagipula tidak banyak makanan olahan yang dihasilkan dari sayur pare, tidak seperti kebanyakan sayur lain seperti bayam yang juga tidak begitu menarik minat saya, tapi kemudian menjadi cemilan favorit saya ketika penampakannya berubah menjadi keripik, yang lebih tenar dengan nama ’keripik bayam’.
Terlepas dari kebencian saya yang mendalam terhadap pare, ternyata diam-diam saya merasa penasaran terhadap sayur tersebut. Apalagi melihat kakak saya sendiri yang sangat menggemari sayur tersebut. Apakah rasa pare yang begitu pahit tersebut sangat wajar jika digambarkan dengan perilaku ’menyimpang’ kakak saya yang selalu menambah porsi makannya ketika ibu saya menyediakan sayur pare tumis sebagai menu utama. Sekali saya beranikan diri mencobanya sedikit, dan ternyata.... rasanya memang pahit. Saya langsung muntah pemirsa!
Beberapa waktu berlalu, saya pun jatuh sakit. Dokter memvonis sebuah penyakit yang berkaitan dengan rahim saya. Memang, sebagai seorang wanita yang memiliki rahim jelaslah vonis tersebut membuat saya agak stress dalam beberapa waktu. Semangat hidup saya menurun, dan saya jadi melupakan sedikit kisah kebencian saya terhadap si Pare.
Obat-obatan dari dokter menjadi cemilan saya sehari-hari sejak vonis tersebut ditimpakan pada saya. Beberapa kali melakukan pengobatan alternatif pun sudah saya coba, namun hasilnya tetap sama. Saya masih kehilangan sedikit semangat hidup saya.
Untuk sedikit memperjelas kisah nyata ini, vonis yang diberikan pada dokter kepada saya sebenarnya bukanlah penyakit yang begitu serius untuk membuat seorang seperti saya jatuh stress. Pada rahim saya dinyatakan positif terdapat kista mungil yang akan segera tumbuh menjadi tumor jika tidak segera diambil tindakan. Bukan tidak mungkin jika saya terlambat memeriksakan diri, bibit kista tersebut lama-kelamaan akan menjadi kanker yang dapat membuat kondisi saya semakin memburuk.
Akhirnya, setelah berbagai cara dilakukan oleh keluarga untuk menghibur duka-lara saya, suatu hari ibu saya berinisiatif untuk membuatkan ramuan yang konon katanya dapat meningkatkan kesehatan saya.
Tanpa bertanya tentang komposisi ramuan tersebut, saya minum saja dengan cuek seperti berbagai ramuan lain yang telah ’dicobakan’ pada saya. Namun ramuan yang satu ini ternyata terasa pahit luar biasa. Segelas ramuan tersebut saya habiskan dengan dua-tiga kali tegukan dan sedikit bujukan ibu saya yang sangat memaksa. Seminggu tiga kali saya mengkonsumsi ramuan tersebut, lama-lama akhirnya saya terbiasa dan mulai suka. Entah kenapa saya menjadi suka, padahal saya sangat membenci segala sesuatu yang terasa pahit.
Minggu ke dua tanpa sengaja saya melihat ibu saya sedang meracik ramuan yang biasa diberikan pada saya tersebut. Dan ternyata, ramuan pahit yang selama ini saya gemari tidak lain berasal dari air perasan pare yang hanya dicampur dengan satu sendok teh madu. Hanya pare dan madu.
Saat itu saya merasa dibohongi sekaligus merasa senang. Dan ada perasaan terharu yang seketika merasuk dalam ruang pikir saya, ternyata sebuah pare yang selama ini selalu saya jauhi ternyata bermanfaat banyak bagi kesehatan saya. Hal ini terbukti dari rasa sakit pada bagian perut saya yang sedikit demi sedikit berkurang dari hari-kehari.
Sejak saat itu, hati saya pun menjatuhkan pilihan pada jenis sayuran berasa pahit tersebut, beserta segala olahan yang dibuat darinya. Dan sejak saat itu pula, saya mengkonsumsi obat saya dengan cara yang lebih menyenangkan yang malah membuat saya ketagihan. Terimakasih pare, terimakasih ibu, terimakasih klinik tong fang.. #eeh :P

Begitulah saudara-saudara. Mungkin sedikit hikmah yang dapat kita petik dari tumbuhan merambat jenis pare tersebut adalah agar kita tidak terlampau jauh menilai segala sesuatu hanya dari penampakan luar dan perkenalan singkat saja. Ada kalanya sesuatu yang terlihat buruk diluar, ternyata mampu memberikan kebaikan yang berpengaruh luar biasa bagi diri kita yang selalu merasa lebih baik.
Kenali diri kita dulu, maka alam dan sekeliling kita akan mengenalkan diri mereka dengan cara yang baik kepada kita.
Yang sakit semoga cepat diberi kesembuhan, dan semoga budi-daya pare di Indonesia ini semakin berkembang pesat menginagt manfaatnya yang luar biasa bagi kesehatan. Aaaaamiiinnnnnnn J


Sedikit bocoran tentang khasiat Pare dan cara pengolahannya sebagai obat yang diambil dari berbagai sumber yang saya baca:

v     Diabetes atau kencing manis
Siapkan 200 gram buah pare yang telah dicuci dan diiris tipis-tipis.Rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas.Minum air rebusan tersebut tiap hari.
Cacingan Seduh 7 gram daun pare dengan air panas,dinginkan lalu saring air rebusannya.Tambahkan satu sendok the madu,minum sebelum sarapan.
v     Demam
Ambil 3 lembar daun pare segar,cuci bersih,dan lumatkan.tambahkan segelas air dan sedikit garam lalu seduh.Peras dan saring lalu minum 2 kali sehari sebanyak setengah gelas.
v     Bisul
Ambil segenggam daun pare,cuci lalu rebus bersama 3 gelas air hingga tersisa satu gelas.Dinginkan,minum hingga sembuh.
v     Disentri Amuba
Rebus 300 gram akar pare yang telah dicuci bersih dan dipotong-potong .Rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa satu gelas.lalu minum.Tambahkan sedikit gula bila perlu.
v     Wasir
Lumatkan akar pare yang telah dicuci bersih sampai halus.oleskan ramuan ini pada wasir.
v     Bronkhitis
Sediakan dua buah pare, lalu ambil sarinya.Tambahkan satu sendok makan madu.minum sekali sehari.lakukan selama tiga bulan.Ramuan ini juga baik untuk menyembuhkan anemia,radang perut,sakit pada hati,nyeri haid,reumatik dan melangsingkan tubuh.

Meskipun pare begizi tinggi dan  dapat mengobati berbagai macam penyakit, namun bagi wanita hamil,tidak dianjurkan mengkonsumsi pare. Pasalnya pare,mengandung senyawa yang dapat menggugurkan kandungan. Selain itu, batasi juga konsumsi pare pada anak-anak, karena pare dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Dikawatirkan kadar gula anak akan anjlok atau menurun,padahal gula berperan dalam penting dalam pertumbuhan anak. 


Semoga bermanfaat :)

Monday, October 29, 2012

Sebuah batu untukmu


Aku tak pernah baik, dan takkan pernah ‘terlihat’ baik dimatamu. Bukannya aku suka membantah ucapanmu, hanya kadang otak bebalku tak sejalan dengan argumenmu. Maka yang terjadi adalah penyangkalan ini itu dariku, dan jelas kau tak pernah suka akan hal itu.

Sering kau katakan kepalaku ini terbuat dari batu, bukan? Yah..memang benar aku begitu keras kepala dalam beberapa hal. Terutama dengan ketidak-legaaan hati yang selalu kau biarkan mengambang. Ada hal yang tak cukup diendapkan dengan kata ’nanti’, atau ’lihat saja’. 
Bukankah segalanya bisa berubah secepat kedipan mata kita? 
Lantas kenapa kau selalu begitu percaya diri dengan keyakinanmu yang masih sering goyah diombang-ambing beberapa masalah? Karenanya aku selalu membantah, dan terlihat berkepala batu.

Semua kelembutan-wanitaku seolah sirna dimatamu. Tidakkah kau berpikir bagaimana perasaanku ketika kau ucapkan itu dihadapanku?

Aku tak ingin menghakimi dirimu seperti ini. Hanya saja  sudah tak ada satupun bahasa kebaikanku yang bisa merubah persepsimu tentangku kini. Tak satupun. 
Puluhan kali aku berusaha meyakinkanmu, namun selalu penolakan yang ku dapat. Mereka bilang sebaiknya aku harus bersabar... namun nyatanya reaksiku selalu barbar.

Ketahuilah, sayang, keinginan terbesarku adalah membahagiakanmu. Namun nyatanya cinta tak selamanya membahagiakan.
Seperti potongan puzzle yang dipasangkan tidak pada tempatnya, tak akan pernah selaras gambar pada puzzle tersebut. Cintaku pun mungkin salah tempat. Aku memasangkan potongan cinta pada susunan yang tak tepat. Perbedaan demi perbedaan yang selalu kau besar-besarkan membuat segalanya menjadi semakin rumit.

Akh, kalau saja kau mau sedikit berlelah bersamaku dalam usaha untuk memperbaiki keadaan ini, mungkin tak akan begini jadinya.

Tapi yasudahlah. Aku dan kamu memang berbeda. Aku batu dan kau selalu menjadi air untuk dirimu sendiri. Aku hanyalah sepotong tulang rusuk entah milik siapa. Aku akan terus bengkok jika kau tak berusaha meluruskanku. Namun jika kau terlalu memaksaku untuk menjadi lurus sesuai dengan keinginanmu, aku akan patah dan tersakiti juga.

Tulisan ini takkan pernah kau baca... sampai kapanpun kau takkan pernah tau isi hatiku yang sebenarnya. Jika kebahagianmu yang selalu aku usahakan adalah dengan ketiadaanku dalam hidupmu, aku akan pergi walau sakitku bukan main hebatnya. Kalau saja kau tau bagaimana aku menyayangimu, ..namun kau takkan pernah tau.

Nanti, pada saat aku bahagia dengan hati yang lain, aku hanya akan mengenangmu sebagai sebuah pelajaran tentang bagaimana menjadi batu berharga untuk pasanganku nanti. ...................... 

Sunday, October 28, 2012

Syukurlah....


Pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang selalu bersyukur dalam setiap peristiwa yang dialaminya... Coba deh perhatikan cerita orang-orang disekitar kita:

“Eh, kemarin si Anu kecelakaan ya.. tangan sama kakinya patah, sukur gak sampe meninggal”
”Rumah Pak Anu habis kemalingan, sukur yang ilang cuma mobilnya, bukan anak gadisnya”
”Nilai UTS gue semester kemaren rata-rata C, semester ini juga..yah sukurlah daripada rata-rata D ”
”Si Anu diputusin pacarnya.. sukur aja belum sampai nikah, kasian kalo nikah dicerai statusnya jadi janda deh..”

Dan masih banyak cerita lainnya yang biasa kita dengar sehari-hari dari orang-orang disekeliling kita. Sadar atau tidak, kebiasaan berkata SUKUR itu sendiri sebenarnya sudah terpeta dalam mindset masing-masing orang, sebagai bentuk kehambaan hakiki seorang manusia yang selalu percaya akan adanya pertolongan Tuhan mereka dalam setiap peristiwa.

Minimal, ’celoteh iseng’ yang selalu menyertakan kata sukur itu tadi adalah bukti bahwa tak perduli seberapa kuatnya manusia, disaat-saat paling kritis dalam hidup mereka masih percaya akan adanya pertolongan Tuhan yang tidak menjadikan peristiwa yang tengah mereka alami terjadi lebih buruk dari yang menimpa mereka.

Dalam Islam, terlepas orang tersebut selalu menegakkan Shalat lima waktu atau tidak, diucapkan atau tidak, keyakinan kecil itu selalu ada dalam benak mereka. Bedanya adalah cara pengungkapan mereka yang hanya lewat ’celoteh’ yang kemudian berlalu begitu saja. Padahal, tanpa mereka dan kita sadari, peristiwa-peristiwa kecil ataupun yang hampir mengantar kita pada saat paling kritis adalah cara Tuhan ’berbicara’ pada kita tentang cara bersukur yang lebih pantas.

Jangankan pada Tuhan, pada sesama manusia kita rela berusaha melakukan apapun yang terbaik untuk mengambil hati mereka, demi sedikit pertolongan yang kita minta. Kenapa kepada Tuhan yang Maha Pencipta kita bisa begitu kurang-ajarnya? Mari kita renungkan bersama... Bersukurlah dengan menyenangkan-Nya juga.

Thursday, October 25, 2012

saat hujan


Hujan dan sepi adalah harmony. Aku dan bayangmu menjadi melody. Bisik kerinduan ini adalah lagu, dan jarak menjelma ragu. Jarang bertemu menjadikan langit sendu, hujan dimataku tak kalah pilu. Aku merindukanmu, saat hujan..saat hujan...tiap saat ada hujan....




Karangasem, 25 10 2012

Tuesday, October 23, 2012

#kata hati 2

Wangi tanah saat turun hujan pertama, seperti bayangnya, yang menggoda...namun hanya sementara.

#kata hati

Hujan, terimakasih telah datang disaat yang tepat. Hanya kebetulan saja, hatiku tengah penuh bercak kerinduan yang mengakarat, lekat. Aku butuh kalian untuk sedikit meluruhkannya...

Bertemu Tuhan


Ku temukan Tuhan dalam sujudku. Sujud dipenghujung malam nan lengang.
Kiri kanan kudengar dengkur bersahutan dan air mataku meleleh.
Kiri kanan kulihat tak ada seorangpun melainkan sepasang malaikat yang mencatat segala gerak yang nampak pada tubuh gemetar dan hati yang bergetar.
Malam ini terlalu sunyi.. Malam ini teramat sepi.
Tapi Tuhan dengan penuh kasih sayang menemaniku dalam sujud, ruku’, takbir sampai salam.
Kemudian mengusap air mataku ketika do’a yang ku rapal mengucur deras dari bibir yang terkatup rapat, mata yang terpejam erat, hatiku yang berkarat.

.....
Dunia boleh memelukku dengan sejuta luka, selama Tuhan masih mengusap lembut hatiku dengan cinta-Nya, aku rasa aku akan baik saja.

Tuhanku, lindungi aku dari rasa yang tak mampu ku pikul sendiri..


Monday, October 8, 2012

Separuh Mati


Pagi tak pernah meninggalkanku sendiri.
Hanya saja hati masih bernafsu melumat tubuh sepi, separuh mati.

Harapanku bukanlah embun yang hanya mampir sesaat pada pucuk-pucuk daun, untuk kemudian lenyap menguap ketika matahari kian tinggi.
Tidak. Akulah pohon jati!
Yang takkan kering meski kemarau mampir terlalu sering.
Aku ilalang dan tak liar seperti binatang jalang.
Aku langit yang selalu tenang meski mendung selalu membayang.

Sedangkan kau?
Kau hanyalah bagian dari rencana Tuhan.. yang mungkin sewaktu-waktu akan dihapus dari skenario hidup singkatku.
Aku mencitaimu dengan separuh nafasku saja, karena aku masih merasa mampu bertahan dengan separuh nafas yang tersisa (kalau-kalau kau tak lagi ada)

Kau hanyalah malam yang datang ketika cakrawala tua tak lagi mampu menelan senja dengan kobar jingganya.
Aku mencintai malam, begitupun kecintaanku saat pagi lahir dari rahim ufuk keemasan. Aku membutuhkanmu sama halnya dengan kebutuhanku akan kebebasan. –Aku tengah bicara soal hati-
Aku merindukanmu sedalam kerinduanku pada diriku sendiri –aku bicara soal harga diri- Aku membutuhkanmu sama seperti aku membutuhkan udara untuk menyambung nyawa –kupikir aku takkan mampu hidup tanpamu-
aku mendoakanmu dengan setulus do’a –seperti aku akan mati esok hari saja-


Pagi tak pernah meninggalkanku sendiri.

tak seperti aku dihatimu,

yang separuh mati.

Itu Aku

seperti gerimis tipis-tipis
Pelan namun pasti membuat tanah kebasahan
itu rinduku padamu

seperti rintik yang ikhlas menghempas dalam kepasrahan
itu cintaku padamu

seperti detik yang tak pernah bosan berputar,
singkat namun terus berulang
itu doaku untukmu

seperti langit biru ketika pagi, jingga saat senja, dan kelam saat malam
yang selalu lebih dari cukup luas untukmu bersandar
itu aku.