Saturday, November 29, 2014

Time Machine



Hujan sore ini membuatku lupa. Pada suara-suara lain selain bingar suaranya yang berkerumun ditelinga; pada ingatan-ingatan selain ingatan tentangnya yang memasung diri sekian lama; dan pada segala keinginan selain keinginan untuk bertemu dengannya sekali lagi, menyentuh wajahnya dan merasakan hangat genggamnya mengalir dari telapak tangan menuju sekujur raga.

Sepertinya memang benar adanya bahwa mesin waktu dapat ku buat sendiri. Lewat bulir demi bulir yang berjatuhan, hujan.. selembar foto tua nan usang, pun rindu yang menusuk tajam, Tuhan meminjamkan padaku selajur jalan untuk pulang sejenak ke masa silam..

Dan saat aku sampai diujung jalan itu, ku harap bayangnya ada diujung sana telah bersiap memeluk puteri kecilnya ini, 

ayah.

Thursday, November 27, 2014

wake up!



Sometimes I feel like I’m not ready. And that’s a bad thought to have. Because once you get that thought into your brain, it goes into your body and your whole body shuts down.



Ini tentang bagaimana cara aku menghipnotis diri sendiri. Memanipulasi ketakutan menjadi keberanian, atau sebaliknya..memberikan kesempatan pada sekecil apapun ketakutan untuk merusak puing-puing kepercayaan diri yang telah susah payah ku bangun setelah runtuh berkali-kali.

Ini tentang bagaimana aku meyakinkan diri sendiri. Dan inilah bagian tersulit dari sebuah proses pencapaian sebuah mimpi.

Bukankah mimpi selamanya akan menjadi mimpi saat aku tetap memilih berlindung pada selimut hangatku daripada beranjak pergi untuk mewujudkannya?

maka Tuhan, ku mohon kabulkan do’aku ini: …………………………………………………………. Aamiin  :) 


Saturday, November 15, 2014

Distance



Hujan deras sejak kemarin malam telah menggenangi pekarangan rumahku, pun kelopak mataku. Apakah juga dihatimu rinduku tercurah? Sedikit saja.. tidakkah ia membuat ingatanmu kembali basah? Tentang satu dua kali kita yang pernah berdua membelah senja dengan tangan yang saling menggenggam. Atau, kita yang pernah menyusuri pantai sembari  mendengar ombak yang bersorak atas kemesraan kita yang bergejolak? 


Jarak. Ia  terkadang begitu jahat pada dua hati yang ingin tetap dekat dan saling mengaitkan lengan dalam hangatnya dekap.
 

Serpih



Aku adalah pecahan dari Satu keakuanku
Serpih yang tercecer tak kunjung menyatu
Ku cari penggal bagianku yang lain, namun tak ku temu
Hingga satu persatu aku,
Kian remuk sebelum sempat ku lengkapi kejanggalan yang menggelisahkanku
aku jatuh. Tercecer dalam serpih terkecil
lalu aku debu
yang ditiup keadaan
angin membawaku hinggap di kornea mataku
lalu jatuh menjadi hujan di pipiku