Sunday, April 28, 2013

Ampuni Aku, Tuhan..


Ampuni aku yang tak dapat menguasai hati. Ampuni aku dari cinta yang Kau beri namun tak dapat ku jaga dengan hati-hati. Ampuni aku dari rindu yang kian hari kian menggebu ingin bertemu dengannya yang tak lagi mengharapkanku. Ampuni aku atas semua waktu yang terbuang sia-sia karena memikirkannya. Lindungi aku dari perasaan ini jika ia tak baik untukku, untuk agamaku.. Lindungi aku dari kesia-siaan rasa yang tak pantas ku pelihara lebih lama... Tunjukkan padaku yang baik, dan jauhkan aku dari keburukannya. Kuatkan hati ini Ya Allah Ya Rabb... kuatkan aku untuk beranjak dari keburukan masa laluku. Kuatkan aku untuk memeluk masa depanku. Kuatkan kaki ku untuk selalu berjalan dijalan-Mu, dan jangan palingkan aku setelah Kau beri petunjuk.

Ya Ghaffar.... ampuni aku..ampuni aku..ampuni hamba-Mu ini..
Tenangkanlah hati ini, dan lindungilah ia dari rasa yang tak mampu dipikulnya sendiri..
Aminn..Ya Allah.. amiiiinnnnnnn Ya Rabbal’alamin..

Friday, April 26, 2013

kematian


---Innalillahi wainnailaihiroji’un---

Jika yang paling dekat dengan makhluk adalah kematian, maka hidup ini tak lebih dari sekedar jeda untuk bersiap dengan kedatangannya yang tiba-tiba.

Entah berapa tahun jatah kita hidup bergelut dengan kefanaan dunia ini. Mungkinkah dalam hitungan tahun kita harus kembali pulang pada-Nya? Ataukah ini merupakan hari-hari terakhir kita bergelimang dengan kebahagiaan maya yang dunia tawarkan? Bisa jadi dalam beberapa jam kedepan, atau bahkan bermenit setelah kita baca tulisan ini, malaikat maut telah bersiap dengan tugasnya menjemput kita. Entah dimana, dengan cara apa. Semua telah tercatat dalam pesan rahasia yang diperintahkan padanya. Kita manusia, bagian dari makhluk ciptaan-Nya yang hanya bisa berpasrah, dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya hingga waktu kita benar-benar tiba, pada saatnya.

Sudahkah kita meminta maaf hari ini? Pada orang yang tak sengaja kita lukai halus perasaannya. Pada banyaknya air mata yang luruh karna sikap kita. Pada orang-orang yang telah kita kecewakan hatinya. Pada siapapun yang berhak menerima permohonan maaf kita yang paling tulus...

Sudahkah kita memenuhi janji yang sempat terlupa, atau yang memang sengaja kita lupakan? Mungkin bukan kita yang akan menemui mati terlebih dahulu, bisa jadi mereka.. lalu apa lagi yang kita tunggu? Jika kematian telah membentangkan lengannya diantara kita, tak satupun janji yang tertebus dapat menghidupkan kita kembali..

Dan yang paling penting dari itu semua, sudahkah cukup persiapan bekal kita untuk pulang ke pelukan-Nya? Benarkah hati kita telah ikhlas untuk kembali kepada rumah keabadian dan pergi meninggalkan segala yang kita pinjam di dunia?

Alangkah baiknya aku bertanya pada diriku sendiri terlebih dahulu, tentang kesanggupanku kalau-kalau malaikat maut telah berada tak jauh dariku..

Kematian. Tak ada yang lebih perih daripada ditinggalkan oleh orang-orang terkasih dalam hidup kita. Namun kita manusia tak berdaya melawan itu semua. Tuhan meminta kita kembali dengan berbagai cara.. entah saat kita tertidur, tiba-tiba mata kita tak terbuka keesokan harinya. Entah pada saat tertawa, tiba-tiba nyawa kita tercerabut melalui ubun-ubun kita. Ataukah kita cukup beruntung dijemput pulang saat hati dan raga kita sedang bernar-benar siap dengan kedatangan penjemput kita? Wallahua’lam bisshawab..

Semoga kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu dapat memetik hikmah dibalik segala peristiwa yang terpampang nyata dihadapan kita. Dan kita cukup beruntung dengan keinginan untuk selalu memperbaiki persiapan kita dalam menimbun bekal yang layak untuk kita bawa dalam perjalanan pulang nanti. Insha Allah.

Thursday, April 25, 2013

Dear, Mira..

Untuk sahabatku Mira, kamu harus kuat... kamu harus bisa nglewatin ini semua. Smoga Allah memberi sebaik-baik tempat untuk suami kamu disana.. dan dosa-dosanya diampuni.
aku nggak punya cukup keberanian untuk sekedar membayangkan gimana perasaan kamu sekarang. Yang bisa aku lakuin cuma peluk kamu dari jauh lewat do'aku, semua yang terbaik untu kamu..

Mira yang sabar ya sayang... maafin aku nggak bisa ada disamping kamu disaat kayak gini. Walopun kehadiranku nggak akan berarti apa-apa, tapi setidaknya aku bisa ada di deket kamu itu aja udah cukup. kayak yang dulu sering kamu lakuin pas aku lagi terpuruk, kamu selalu ada buat aku...

Ya Allah.. aku mohon kuatkan dia, lapangkan hatinya, dan bantu dia biar bisa ikhlas dalam menjalani ujian-Mu. Amin.....

:(

Wednesday, April 17, 2013

Kita & Malam


Aku ingin mengajakmu duduk di hampar rerumputan, di penghujung malam
Saat bintang biru yang gemetaran hanya dapat menyimpan cemburunya diam-diam

Kita pun diam,
Membiarkan udara leluasa lalu-lalang disekat tubuh kita yang tak saling berdekatan
Dingin malam ini tak seharusnya membuat pipiku merona
Namun diammu itu, lebih riuh dari jutaan rangkai kata

Memesona getar jiwaku yang ku takut akan terdengar olehmu
Kusembunyikan teriak girangku dibalik diam,
Dan bintang yang cemburu menjatuhkan diri dikejauhan

Kita dan malam, duduk dibawah naungan ibu bulan
Dingin yang seharusnya membekukan
Terasa layaknya buaian penuh kehangatan

Kita dan malam, tak saling berdekatan
Tak saling bersentuhan,
Tak saling memperdengarkan, melainkan hanya duduk diantara dua diam

Hanya kita dan malam, kita dan diam, kita dan bintang
Kita dan keinginan, kita dan cinta yang didiamkan,
Kita dan kata yang tak terkatakan
Kita yang merupakan aku dan kamu yang takkan pernah menjadi kita, lagi.

Tuesday, April 16, 2013

Spasi Kehidupan


Tuhan pernah sengaja mempertemukan kita dalam ketidaksengajaan, untuk pada akhirnya menjadikan kita sebagai objek pembenaran kalimat ‘bahwa cinta tak harus memiliki’. Begitulah, takdir bicara dengan kalimatnya sendiri. Segala yang tak mampu ku lawan, menjadi kesakitan tersendiri yang perlahan membunuhku diam-diam.
Bagaimana bisa kutahan angin bertiup? Seperti halnya tak mungkin ku tunggu api tiba-tiba menyala dari setungku abu yang t’lah lama dibekukan udara. Seperti itulah ketidak-mungkinan dayaku melawan takdir yang terpahat atasku. Seperti itulah ketidak-berdayaanku menahanmu pergi dariku: karena Tuhan t’lah berkehendak demikian adanya.
Mungkin, ketidaksengajaan pertemuan kita sebelumnya merupakan awal pembelajaran yang memintaku agar menjadi lebih pintar dalam menjawab segala persoalan hidup ini. Bukankah hidup itu sendiri adalah misteri? Yang kadang memposisikan kita diatas, dibawah, didepan, dibelakang, dimanapun semau dan sesukanya? Seperti kita yang berkebetulan bertemu pada suatu waktu, untuk kemudian bersama-sama saling membalikkan badan tanpa berucap sepatah kata perpisahan.
Mungkin memang begitulah rencana-Nya sejak awal. Mungkin harus demikian sakit yang harus aku kau lalui demi sebuah pembelajaran hidup.
Namun tak sekalipun aku menyesalinya. Setidaknya, bertemu denganmu pernah menahan senyumku berkembang lebih lama selama beberapa waktu. Walaupun setelah kepergianmu, pipi ini tak pernah libur dari curahan air mata karena merindukanmu. Bagiku tak mengapa, sungguh tak mengapa. Bukankah kita harus adil dalam hidup kita sendiri? Adil membagi ruang untuk duka dan bahagia kita. Sebagaimana spasi disela kata, kita kadang butuh duka diantara bahagia. Karena dengannya, hidup akan menjadi lebih mudah untuk kita baca.  .  .  .

Friday, April 12, 2013

Diantara Dua Hujan


Januari baru saja meleleh bersama rintik gerimis yang masih muda, mengembun pada anak-anak rambutnya yang belum sempurna basah. Dengan langkah tergesa-gesa Ia susuri gang-gang sempit yang berlumpur, seolah ingin berpacu dengan senja yang t’lah sedari tadi pecah di ufuk barat. Sesekali Ia menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya. Dengan setengah berlari Ia berbelok di ujung gang dan kemudian menghilang ditelan dua tembok merah muda yang setengahnya telah penuh bercak noda lumpur berwarna kecoklatan.
Kirana. Begitulah kebanyakan orang menyebutnya. Tak banyak yang mengetahui tentang sosok Kirana yang selalu tertutup dari lingkungan sekitarnya itu. Pergi pagi-pagi sekali, dan pulang selalu diwaktu yang sama, diwaktu-waktu burung gereja berarak-arak kembali ke peraduannya. Selalu dengan kediamannya yang sama, dan kepala tertunduk yang selalu sama.
Diam-diam aku selalu memperhatikannya. Aku menunggu waktu-waktu saat Ia berlalu didepan rumahku dengan wajah tertunduknya. Dan kembali duduk di jendela menunggu lagi waktu-waktu ia kembali, detik-detik saat Ia berlalu didepan rumahku, dan selalu begitu. Aku belum merasa bosan dengan rasa penasaranku akan sosoknya. Seolah aku tak lebih dari seorang penguntit yang terkadang merasa dibodohi oleh pesona sekelebat bayangan Kirana, tapi kurasa tak mengapa.
"Kirana, karenamu hidupku hanya mengenal dua waktu, hanya pagi dan senja saat bayangmu melintas diambang kelopak mataku. Tak bosan ku pandangi kaca jendelaku di dua waktumu berlalu, sembari menyimpan harap kalau-kalau besok aku dapat melihatmu lagi, saat hari berganti, saat mendung mengambang diantara tiap-tiap sore kita."
 Aku suka saat rinai hujan menetes pada pipinya, melalui poni hingga akhirnya jatuh menjadi serpih ditanah. Aku suka melihat langkah kakinya yang selalu terburu-buru, seakan takut seseorang lain sepertiku menikmati lebih lama pesonanya. Aku ingin menyapanya, tapi aku malu.
Tak banyak yang mengetahui siapa Kirana sebenarnya. Baru 2 tahun berlalu sejak pertama kali Ia menginjakkan kaki disini. Aku ingat saat itu aku hanya memandangnya lama di jendela, memperhatikan apa saja yang Ia lakukan dengan rumah barunya. Kirana seorang diri. Dan selalu menyendiri sejak saat itu.
Bukan tanpa alasan aku mengaguminya. Aku bahkan hanya tau namanya. Entah siapa orangtuanya, dan darimana Ia berasal. Tapi apa peduliku? Aku menyukainya sejak pertama kali kulihat Ia tengah kerepotan dengan box-box kardus yang coba ia pindahkan satu persatu seorang diri.
Bahkan dengan mata terpejam dapat ku rasakan cantiknya, lembut membelai anganku. Dengan mulut yang sedari tadi bungkam kuungkapkan sejuta kekagumanku padanya, Kirana. Hingga tiba-tiba kudengar langkah kakinya menjauh dariku, membuyarkan lamunanku tentangnya. Namun aku t’lah kehilangan bayangnya, sesaat sebelum Ia sampai pada tikungan itu.
***

”Ma, mana anakku?” jerit gadis itu setengah tertahan pada seorang wanita paruh baya yang terlihat sembab matanya.
“Sudahlah nak… kau berhak untuk menjalani hari-harimu tanpanya. Kau masih punya hidup untuk kau jalani, tapi tidak dengan kehadiran bayi itu!” sahut wanita itu tak kalah sengit.
Keheningan yang terdengar janggal kian mempertegas nafas yang tertahan ditenggorokan kedua wanita beda usia tersebut. Hujan diluar seperti mengerti suasana hati keduanya, namun tak semuram wajah kedua Ibu anak itu.
“Tapi dia darah dagingku Ma… dia cucu mama. Kenapa aku nggak boleh memilikinya? Kalau mama malu dengan keadaanku, aku bisa pergi kesuatu tempat yang tidak seorangpun mengenalku. Tapi kenapa Ma..kenapa?” gadis malang itu masih meratap dikaki meja dengan kedua kakinya yang masih lemas. Bercak noda darah masih terlihat dibagian bawah dasternya yang bermotif bunga-bunga.
Baru beberapa jam lalu ia terlihat sangat ceria dikamarnya, mengelus-elus perutnya yang belum terlihat buncit. Kehidupan baru dalam perutnya seakan mengerti isyarat sentuhan tangan Ibunya, Ia merespon dengan mual yang menyerang gadis itu tiba-tiba. Berulang kali ia mondar-mandir dikamar mandi, namun cerianya tak berkurang dalam wajah pucat yang kelelahan itu. Ia mencintai janin mungil yang sedang tumbuh didalam rahimnya yang masih teramat muda.
***
Hujan lebat malam itu menelan jeritannya. Dua lelaki bertubuh kurus tengah sibuk menelanjangi tubuhnya yang lemah dalam pekat malam disebuah ruangan sempit. Dalam ruangan tersebut hanya terdapat selembar kasur tipis yang tergeletak dilantai, selebihnya hanya sebuah meja kecil. Dua-tiga botol beer yang telah tandas isinya teronggok begitu saja turut menjadi saksi saat kedua lelaki bejat itu secara bergantian membenamkan kemaluan mereka  pada liang suci gadis tak berdosa itu.
Sakit tak terperi. Perih dihati dan sekujur tubuhnya. Satu jam dirasa cukup oleh kedua pemuda mabuk itu untuk memuaskan nafsu bejat mereka. Lalu meninggalkannya seorang diri yang berjuang untuk mempercayai apa yang baru saja menimpanya. Air matanya telah kering, kerongkongannya terasa gering. Habis sudah suaranya, bahkan tak tersisa untuk sekedar terisak dalam jerit tertahan.
Dengan langkah sempoyongan Ia bangkit. Keinginannya untuk pergi dari ruangan terkutuk itu begitu kuatnya memaksa kakinya yang lemah untuk melangkah, menjauh. Masih jelas terngiang dalam benaknya bagaimana desah kedua pemuda tadi mengotori rahimnya dengan sesuatu yang tak diinginkannya. Pangkal pahanya masih terasa perih sehabis dicabik-cabik oleh nafsu binatang kedua pemuda itu. Hatinya remuk redam. Jeritnya masih tertahan. Yang dapat Ia lakukan hanyalah menyeret langkahnya dalam diam.
Wanita separuh baya yang cemas menunggu anaknya kaget bukan kepalang melihat kondisi putrinya yang pulang dalam keadaan yang menyedihkan. Bajunya koyak, pakaian dalamnya entah kemana. Jarum jam telah sampai pada angka 2 kala itu, tengah malam yang suram. Tengah malam paling kelam bagi Kirana dan ibunya. Seandainya ayahnya masih hidup, luka pada pangkal pahanya itu akan terbayar dengan darah disekujur tubuh kedua pemuda itu. Ayahnya takkan membiarkan mereka hidup menghirup udara lebih lama. Bedebah.
Beberapa waktu berlalu. Kirana menjadi sangat pendiam dan menarik diri dari kehidupan normalnya. Seluruh waktunya Ia habiskan didalam kamar, memandang serpih cahaya matahari yang menerobos malu-malu lewat kaca jendela yang selalu Ia tutup rapat. Ketika malam menjelang, buru-buru Ia menenggelamkan diri dibalik selimut tebalnya. Selimut berwarna ungu muda itu selalu berhasil melindungi ketakutannya dari suara-suara tawa dan desah dua pemuda yang selalu terngiang dalam dunia heningnya.
Ibunya hanya bisa menangis mendapati satu-satunya putri yang Ia miliki terpuruk dalam trauma hebat. Tak ada yang dapat ia lakukan selain menyembunyikan aib tersebut dari siapapun yang tak berhak mengetahuinya. Ia hanya bermaksud melindungi Kirana. Ia begitu mencintai putri semata wayangnya itu.
Hingga suatu hari ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan. Pagi-pagi sekali saat Ia mengantarkan makanan ke kamar Kirana, dijumpainya putri tunggalnya itu tengah duduk meremas perutnya. Wajahnya pucat. Terlihat bulir-bulir keringat dingin membasahi anak-anak rambut yang acak-acakan dikeningnya.
”Kamu sakit sayang?” tanyanya dengan lembut. Namun dua garis merah pada alat test kehamilan yang tergeletak dilantai itu menjawab semua tanda tanya dalam hatinya yang seketika remuk.
”Aku hamil Ma.” seru Kirana lirih dengan mata berkaca-kaca. Dua ibu anak itupun berpelukan. Dengan pipi yang basah, segala keingin-tahuan tentang letak keadilan Tuhan pun mulai mereka pertanyakan.
Segala mimpi buruk itupun kembali berputar-putar dibenak Kirana. Malam saat ia diculik ketika pulang dari les gitar. Hujan yang terlalu deras terpaksa membuatnya harus berteduh dibawah canopi sebuah rumah yang nampaknya kosong. Satu jam berlalu hujan tak jua reda, saat tiba-tiba muncul kedua lelaki bejat itu.....akh, Kirana bahkan tak sanggup mengingat apapun yang terjadi setelah itu.
***   
Entah mendapat ilham dari mana, pagi-pagi sekali keesokan harinya setelah mengetahui bahwa dirinya hamil, Kirana mengatakan sesuatu yang membuat mamanya hampir kena serangan jantung. Ditatapnya putri semata wayangnya itu dengan tatapan memohon ketika didengarnya Ia berkata, ”aku akan melahirkan anak ini Ma”. Wanita separuh baya itu tak sanggup berkata apa-apa. Seketika tubuhnya lemas, dan Kirana berlalu ke kamarnya lagi, ke dunia heningnya lagi.
Dan pagi berikutnya adalah babak petaka baru bagi Kirana yang malang. Akal sehatnya seakan tak sanggup menggapai cara berfikir Mamanya. Bagaimana mungkin Ia tega menghabisi nyawa cucunya sendiri dengan cara yang begitu pengecut? Segelas susu yang telah dicampur dengan ramuan penggugur kandungan t’lah merenggut kehidupan kecil yang tengah Ia perjuangkan. Walaupun ia tak pernah membayangkan untuk memiliki seorang anak di usia semuda itu, namun kasih sayang yang tak dimengertinya selalu berbisik padanya bahwa Ia harus membesarkan anak itu.
Tapi pagi ini, buah hati yang baru saja Ia cintai t’lah luruh mengalir dikedua pangkal pahanya... mengalir deras lewat kaki mulusnya. Kirana yang malang hanya mampu menangis. Sekali lagi, dunia heningnya telah memulai episode baru dalam jeda yang pahit.

*Bersambung*

Tuesday, April 9, 2013

Rumah


Sempat ku mengenal cinta yang tak berakhir bahagia
namun aku tak membencinya
Karena ku tau Tuhan ingin aku belajar darinya,
Tentang rasa yang sekedar mampir
tanpa harus tinggal lebih lama.
apalagi selamanya

Pernah ku dikenalkan-Nya pada cinta yang hanya
membuatku menghela nafas berkali-kali, namun tak lelah ku dibuatnya
Karena aku tau, Tuhan sedang berbisik padaku
tentang cara menyemai bibit sabar dalam benakku
Sehingga tumbuh ia dengan rimbun daunnya
Menyejukkan hati yang selalu resah
diterpa terik takut kehilangan, dia

jika aku seumpama rumah, maka hatiku adalah
ruang tamu bagi dia yang datang membawa sebingkis pelajaran hidup
Ku jamu Ia layaknya seorang tamu istimewa, (dan memang begitu seharusnya)
Karena kelak ketika Ia memutuskan untuk pergi,
aku harus tau bagaimana cara mengendalikan hati
untuk tak membuka pintuku lagi
pada sembarang lelaki.

Monday, April 8, 2013

Bahagia Itu Sederhana


Bahagia itu sederhana, sesederhana bangun pagi setiap hari dan mandi dengan air segar dan sabun yang paling wangi. Percayalah, mempersiapkan diri untuk menyambut hari dengan kualitas diri terbaik setiap hari adalah apresiasi tertinggi untuk menghormati diri sendiri, dan dengan sendirinya hati kita akan merasa bahagia. 

Bahagiaku sesederhana. Menikmati sarapan dengan perlahan dan bersyukur untuk tiap-tiap suap makanan yang masuk kedalam mulutku, dan menenggak air putih yang segar, merasakannya mengalir disepanjang kerongkonganku yang kering. Bukankah tak ada yang lebih nikmat dari segelas air putih diujung kerongkongan yang kerontang? 

Kesederhanaan bahagiaku pun terletak pada orang-orang yang mau saling berbagi cerita denganku, mendengarkan ceritaku untuk kemudian mempercayakan cerita mereka didengar olehku. Ya, bahagiaku sehangat itu, bahagia yang dibangun diatas kepercayaan yang saling ditumpukan satu-samalain.

Bahagiaku yang sederhana, kadang terletak disudut bibir keponakan-keponakanku yang tersenyum karena lelucon hambar yang ku lontarkan ditengah kebosanan kami yang terjebak hujan ditengah rumah. Mendengar tawa renyah mereka, adalah kelegaan tersendiri yang membebaskan semua sendi yang t’lah penat direkat kesibukan yang melelahkan diluar sana.

Kadang, bahagiaku yang sederhana hanya terletak didalam secangkir kopi yang ku nikmati beramai-ramai dengan ibu dan kakakku. Ritual ngopi sore seperti itu selalu beralih fungsi menjadi ajang berbagi cerita, tentang apa saja. Dari hal-hal paling sepele sampai pembicaraan tentang acara televisi yang kian hambar untuk ditonton. Apa saja. Yang menbahagiakanku bukanlah apa yang kami bicarakan,  melainkan waktu itu sendiri yang mengikat kebersamaan kami lewat secangkir kopi yang begitu cepat tandasnya.

Ada kalanya, aku mudah merasa bahagia atas hal-hal semacam ucapan ’selamat pagi’ dari siapa saja yang kutemui dijalan. Polisi lalu-lintas, tukang sayur, tetangga yang sedang menyapu halamannya..siapa saja yang tersenyum padaku selalu berhasil menularkan energi positif pada diriku, membuat cerah hariku dan kian membentangkan syukur dalam dadaku.

Bahagia selalu sesederhana hal-hal sederhana itu. Jika saja kita mau membiarkan hati kita sedikit lebih santai dalam hidup ini, kebahagiaan itu akan datang sendiri lewat hal remeh yang biasanya selalu kita abaikan. Dan kita tak perlu mati-matian menyiksa diri demi sebuah kebahagiaan besar yang melelahkan jiwa raga kita dan melupakan kebahagiaan kecil semacam itu. Manusia terkadang luput melihat hal-hal terdekat mereka karena terlalu focus pada sesuatu yang lebih besar nun jauh entah dimana yang belum tentu dapat mereka raih. Aku, kamu, kita semuanya sama.

Mungkin itulah sebabnya Tuhan tak lelah mengingatkan kita untuk selalu bersyukur, karena bahagia yang kita cari setiap hari telah datang sendiri lewat sepersekian-detik yang kita luangkan untuk sekedar bersyukur pada Dzat yang paling berhak membagi kebahagiaan-nya pada siapapun yang diinginkan-Nya. Hehehe :)