Saturday, August 18, 2012

Tentang Hati, Untuk Rizky


Mengimani pemberian sebagai titipan yang tak boleh ditangisi ketika hilang.
Pun, mencintai musibah sebagaimana dalamnya kecintaan kita pada segala rupa anugerah yang Dia limpahkan. Apakah menurut-Mu kami sekuat itu, Ya Tuhan?

Hati ini penuh misteri.
Dan Tuhan? Bagian terkecil yang mana dari kuasa-Nya yang bisa ku mengerti?
Aku tak harus mengertinya, cukup mengimani, mengimani dengan hati, dengan hati ini lagi, dengan hati yang penuh misteri ini lagi.

Rasa berupa-rupa warna yang membuat manusia mengiba-iba, menghamba. Apakah kami hanya boneka? Rasa ini tak mudah kami mengerti. Rasa ini terlalu ajaib untuk kami pahami. Haruskah kami Kau beri untuk kemudian Kau ambil lagi, baru Kau izinkan kami mengerti sedikit tentang misteri hati kami ini?

Kau ambil ayah kami..ibu kami..anak-anak kami, sahabat-sahabat kami.. mereka yang paling kami cintai, namun tak Kau izinkan kami menangis berlama-lama untuk sepotong hati yang turut dibawa serta oleh mereka?

Katanya DOSA.
Kata siapa?
Kata mereka yang sepertinya telah mengerti hati mereka.
Kata mereka yang nampaknya begitu mengimani Kau, sebagai Tuhan mereka.

Kataku aku tak mengerti. Masih tak mengerti.
Dangkalnya hati membuat aku sulit ’tuk menggapai kunci dari misteri hati ini.

T’lah berulang kali Kau uji kami. Dengan rasa merah muda cinta, kemudian abu-abu ketika mulai terasa pahitnya kehilangan. Kau pun uji kami dengan sakit, kemudian sembuh, kemudian sakit lagi, dan kemudian mati meninggalkan orang-orang yang kami kasihi. Begitu banyak warna hati yang harus kami pelajari untuk bisa menjadi Hamba kesayangan-Mu. Ada begitu banyak rasa yang harus kami coba setelah banyak tawa dan  air mata, untuk menjadi apa? Untuk mendapat apa?

Katanya SURGA.
Kata siapa?
Kata mereka yang sepertinya telah mengerti hati mereka.
Kata mereka yang nampaknya begitu mengimani Kau, sebagai Tuhan mereka.

Tuhan. Aku bukannya meminta mereka untuk bertanya-tanya tentang hati. Aku tau pertanyaan ini tak akan menemui ujungnya.
Bukan jawaban yang kami maui, melainkan kekuatan. Kuatkan kami saja. Cinta kami kepada-Mu tak usah lagi Kau pertanyakan. Kami hanya kadang tersesat dalam kebingungan dangkal otak-otak manusia kami, keterbatasan kami. Jangan biarkan kebodohan kami ini, kebodohanku ini, menjadi kunci jawaban misteri hati yang malah menjerumuskan kami dalam lembah kenistaan yang Kau benci.

Katanya IMAN.
Maka seharusnya tak ada pertanyaan.
Hanya YAKINI.
Hanya PAHAMI.
Karena kuasa Tuhan bukanlah suatu yang harus dipertanyakan.
Kuasa Tuhan bukanlah suatu yang harus dijabarkan.

Mungkin.

Sampai mati, hati ini hanya akna menyisakan misteri.

Wallahua’lam bisshawab...... 




.:dedicated to my beloved lil brother, RIP sweetheart.. we loves you:.
Bali, 19 Agustus 2012

Friday, August 17, 2012

Pinangan


Malam ini aku akan meminang kekasihku. Telah berjam-jam kuhabiskan waktuku hanya untuk mematut diri didepan cermin buram, bercahayakan temaram lampu minyak yang tergantung lemas pada dinding anyaman bambu.
Cintaku terlalu kuat untuk dikalahkan kesederhanaan hidupku. Aku tak punya apapun untuk kuberikan padamu. Sekalipun kau takkan pernah kenyang kuberi makan cinta, namun setidaknya cinta ini jua yang akan menopang langkahku untuk mengais butir-demi butir beras untuk kau masak nanti.
Aku meminangmu dengan modal keyakinan bahwa dengan menikahimu maka rezeki Tuhan akan terbuka untuk kita. Maka jangan berkecil hati sayang, jangan resah.. Tuhan tak pernah ingkar janji jika IA merasa mampu untuk menyanggupi. . .

Huruf-Huruf


Bagaimana ku ungkapkan rinduku?
Bila kata-kata terpasung diantara huruf-huruf dari A sampai Z saja
Terbebat ruang geraknya diseputar huruf-huruf itu saja
Terpasung diatara A sampai Z itu saja

a-k-u  m-e-r-i-n-d-u-k-a-n-m-u

ku bisikkan 15 rangkaian huruf itu ke udara lepas
agar menghempas pada kedua daun kupingmu
merasuk dihatimu
dan kau pun tau, aku benar merindukanmu

namun tak puas hatiku dengan hanya 15 huruf-huruf itu
masih tak lega rasanya rindu ini mengganjal perasanku
rinduku lebih dari sekedar 15 huruf dari A sampai Z itu
rinduku tak cukup menetas jika hanya dengan secuil rangkaian huruf-huruf itu

rindu ini lebih dari itu..
dan kau masih tak tau, tak mau tau.

Thursday, August 16, 2012

Terserah


Kalimat  tanya “Beli makan dimana?” selalu berpasangan dengan sesingkat kata ”terserah” dari mereka. Bingung kaki melengang hendak kemana, demi perut yang sedari tadi memberontak kesal minta diisi. Kenapa harus ’terserah’ yang terlontar dari mulut kalian? Bukankah ada banyak tempat disekitar kita, namun kenapa memilih terserah? Aku tak suka tempat itu.. disana tak tersedia panganan beraneka rupa, rasa. Hanya tanda tanya baru dan ketidak-puasan saru ditiap jengkal langkah kaki kita sesudahnya. Kadang aku marah dengan seringnya mendengar kata terserah. Aku kesal namun kalian masih saja bebal. Sering aku ingin berceloteh tentang marahku pada kalian yang membebaniku dengan sebuah keputusan sakral,-hendak dimana kita membeli makan untuk mengganjal perut ini-, namun aku terlalu malas untuk memperpanjang kata terserah itu tadi.

Namun waktu membuatku mulai terbiasa dengan terserah itu. Terbukti ketika tiba-tiba rindu ini merasuk begitu saja saat tak ada kalian yang berkata ”terserah” itu lagi untukku.. L



.:dedicated to all of my beloved sisters in Arkesa 15A. Bloody miss ya all:.

Sepertiga Malam

Malam masih menyulam hitamnya pada hamparan permukaan langit diatas sana. Berserak satu, dua, jutaan bintang dengan cahayanya yang temaram.
Syahdu, ku lumat perlahan keheningan penghujung malam ini diatas sajadah yang mulai basah oleh anak-anak hati yang merembes melalui pipi.

Ini bukan air mata. Ini hanya suara hati yang tertahan oleh keterbatasan kata. Aku tak ingin mengusik syahdu malam ini dengan isak tangis dan keluh kesahku. Ku tahan saja. Dalam diam yang paling diam toh Tuhan selalu mendengar bisik lirih  hamba-hamba-Nya yang mengiba. 

Cinta tak perlu dijabarkan dengan kata. Percuma mendebat hati tentang rasa yang takkan pernah ada habisnya. Cintaku pada-Nya adalah doa yang kurapal ditiap hela nafas sejak nama-Nya tertaut dihati, dulu. Tak ada lagi ragu. Cinta ini suci. Cinta ini pamrih. Cinta ini mengharap balasan yang pasti. 

Tuhan,
Di sepertiga malam ini kujumpai Kau yang tengah membelai lembut hatiku. Tenang merasuk diam-diam dalam jiwa yang telah gerah oleh kemunafikan yang dunia tawarkan. Hening seketika merayap dalam aliran darah yang selalu gemetar dirangkul nafsu yang senantiasa membuncah. Birahi ruah tatkala dengan naif kulumat tubuh hari dengan kemalasan dan berjuta alasan yang kuciptakan. Hidup kutau hanya alibi. Sibuk menyalahkan ini-itu hanya untuk menutupi aib yang kuciptakan sendiri.

Dan kini, sepertiga malam-Mu seolah menjadi ujung dari sepanjang lorong hitam nan panjang ini. Tak habis ku kunyah jalanan terjal untuk menemui-Mu. begitu sulitnya, begitu lelahnya. Namun segala penat itu terbayar oleh janji-janji yang Kau tawarkan dulu. Janji akan mencintaiku lagi setelah begitu banyak hari Kau ku tinggalkan.

Tak perlu ku utarakan alasan mengapa ku begitu mencintai-Mu bukan?
karena memang cintaku tak beralasan..
Hanya komitmen diantara kita berdua. 
Hanya kesanggupan menjaga cinta ini, cinta kita.
ku rela malam-malam terjaga hanya untuk-Mu. karena di sepertiga malam itulah aku mampu bercerita dengan mesra, bermanja pada Penguasa yang sukanya membolak-balikkan hati ini, namun tak mengapa. Cintaku pada-Mu tak kan pernah terpuaskan hanya dengan rangkaian kata-kata. Ini bukan sekedar cinta biasa, ini cinta anak manusia yang menghamba pada Dzat yang menciptanya. 

Wednesday, August 15, 2012

Genang Kenangan


Pagi baru saja meleleh
Menggenangkan sebaris cahaya terang dibatas cakrawala
Dingin hati setelah semalam tadi duguyur air mata pun terselimutinya
Hati yang gemetar pun tenang dibuatnya

Ombak pagi melarung jauh anganku tentangmu
Membawa perahu kertas yang kubuat dari fotomu menjauh, kuharap kan tenggelam dengan sekali terjang gelombang pagi, lagi
Kuharap itu lagi dengan diam-diam berharap itu tak terjadi

Dengan satu lambaian tangan perahumu berlalu
Membawa sebingkis kenangan dimasa lalu, hanya kau dan aku
Akankah pagi ini kau benar-benar kan pergi?
Atau memang kepergianmu ini hanya untuk kembali lagi?
Mungkin nanti?
Entahlah.

Pagi membiaskan pelangi dari kucuran air mata yang terjerembab
Membiaskan harap yang cemas akan datangnya perahumu lagi
Sesal merasuk seketika, ’tak seharusnya ku larung perahumu tadi’ bisik hatiku
Namun pagi menggenang begitu saja, melarung perahumu dengan sendirinya
Aku tak pernah melepasmu untuk pergi,
Hanya saja keyakinan hati menghibur gundah bahwa kau akan kembali,
nanti,
entah kapan

Pagi yang menggenangkan kenangan tenangmu, tentang kita
Menyibak gelap kata-kata yang lahir dari anak emosi manusia kita
Menghapus duka air mata kelopak-kelopak payung yang kuncup saat hujan tiba
Ah, entahlah.. cintamu membuat badai semalam tadi hanya menyisakan genangan manis pagi ini.


Bali, 16 agustus 2012

Wednesday, August 8, 2012

Hujan Hujan Hujan


Aku jatuh cinta.
Pada hujan.
Layaknya dua insan yang dimabuk cinta, akupun tak tau harus menjawab apa saat kau tanyakan sebuah alasan mengapa aku mencintai hujan.

Bagiku.. hujan adalah kamu.
Kamu adalah hujanku.
Teduh hatiku saat menatapmu, saat turun hujan pertamamu.

Hujan turun dengan wajah bahagia dan sedihku
Ada kala kenangan mengantarku pada dongeng kepahitan dimasa lalu, waktu itu
Pun suatu ketika hujan merembeskan sebaris kecil senyum pada bibirku
Aku seperti tengah melukis pelangiku sendiri
Pada permukaan kanvas biru kelabu itu
Lewat gumpalan awan abu-abu itu

Hujan dan kamu adalah dua hal berbeda namun sama dimataku
Selalu aku rindukan
..aku angankan
..aku harap-harap kedatangannya

Jika nanti seseorang memintaku berasalan lagi tentang cintaku pada hujan
Maka yang akan kusebut adalah namamu
Karena kamu dan hujan
adalah satu nama yang membuat aku jatuh cinta


Hanya Nama

#1
seperti saat seseorang memutar lagu yang ku suka, letupan prasaan kecil yg sama pun sketika muncul begitu saja ktika seseorang mnyebut namamu..

#2
ada rindu yang sulit dijabarkan disana, pada namamu

#3
hanya nama. Namun takkan berakhir dengan hanya, jika itu namamu

Sebut Saja " SETAN" (Nama Sebenarnya)


Sering kita buru-buru menyalahkan setan atas pekerjaan yang kita tunda untuk dikerjakan. Akh, mungkin tak enak rasanya jika aku sebut kita disini. Sebut saja aku.

Aku seringkali menunda pekerjaan yang seharusnya bisa kulakukan pada saat itu juga. Dan ketika segalanya sudah menjadi terlambat, setan selalu jadi kambing hitam atas kesalahan yang telah aku lakukan itu.

Sepele memang, sekedar berkata ”nanti saja”, ”sebentar lagi”, ungkapan kecil yang siapapun bisa mengatakannya. Sekalipun hanya bisikan halus dalam hati, kesemua itu tetaplah berasal dari diri sendiri. Setan hanya memfasilitasi dengan pembelaan-pembelaan kecilnya yang meletup-letup tanpa aku sadari. Tapi tetap, semua itu berasal dari aku sendiri bukan?

Itu baru sekedar menunda pekerjaan. Bagaimana dengan dosa-dosa kecil lainnya? Terlebih dosa besar yang telah dipetakan takarannya sesuai dengan apa yang telah aku lakukan. Lagi-lagi setan menjadi satu-satunya terdakwa atas segala tuduhan Tuhan atas kesalahan yang telah aku buat.
Ungkapan ”aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa” bukannya menyadarkanku lama-lama malah menjadi tameng untuk membuatku lebih kreatif dalam beralibi, dan menciptakan modus bahwa ”itu hanya dosa kecil, Tuhan kan maha pemaaf” . BAH!

Aku selalu berdoa pada Tuhan, “Ya Tuhan..aku sungguuh berlindung pada-Mu dari godaan setan yang terkutuk..”.
Mungkinkah suatu saat harus kuganti isi do’aku dengan memohon perlindungan dari godaan “aku” yang terkutuk?
Bukankah segala macam godaan pada mulanya datang dari diri sendiri?
Kembali aku tegaskan, setan hanya memfasilitasi segala macam niatan busuk sekecil apapun. Ibarat maling yang diberi kuasa penuh atas kunci rumah yang penuh dengan bongkahan permata didalamnya. Tak mungkin maling tersebut akan membiarkan berlian itu utuh begitu saja ditempatnya bukan? Mungkin seperti itu relasi yang dekat antara aku dan setan dalam diriku.

Boleh jadi aku tak mengenal setan-setan diluar sana. Terserah seperti apa cara mereka dalam menggoda otak manusia. Aku hanya bicara soal sekompeni setan yang bersarang dalam liang hatiku.
Kadang, setan menjebakku dengan cara yang seolah-olah mengarahkanku pada kebaikan. Padahal.. ada sombong yang terselip didalamnya.
Hal yang seperti itu bagiku sangatlah sepele, padahal dalam agama yang begitu tegas batas hitam dan putihnya sama sekali tidak mentolerir se-sepele apapun kesalahan. Hitam ya hitam. Putih ya putih. Belum ada sejarahnya tiba-tiba agama menghalalkan yang haram. Pun sebaliknya. Tuhan begitu tegas soal yang satu ini.
Namun setan, dengan segala tipu dayanya terlalu sering berhasil membuat aku membolak-balik hitam menjadi putih, putih menjadi hitam, adapun hitamku semakin suram jadinya dengan sedikit sentuhan si setan itu tadi.

Sudah saatnya aku berkenalan dengan setan ini (baca: dengan aku sendiri). Tak pernah bosan Tuhan berteriak lantang tentang kompensasi bagi setiap buih perbuatan yang telah aku lakukan. Adapun janji-Nya adalah surga bagi si putih, dan neraka bagi si hitam.
Jelaslah setan menggodaku terus-menerus. Mereka ingin aku temani di neraka sana, mengingat Tuhan menciptakan mereka dengan jumalah yang terbatas jika dibandingkan dengan manusia. Mereka hanya tak ingin kesepian. Mungkin seperti itu. Maaf jika pemahamanku kurang tepat dibagian ini.

Sedemikian jelas janji Tuhan kepadaku. Lantas apa yang aku tunggu?
Setan masih ada dalam diriku. Akupun masih belum bisa memisahkan aku dengan sisi setanku.
Kembali mencuat pertanyaan dalam benakku, untuk Tuhan pastinya, ”mengapa KAU ciptakan aku dengan dua wajah HITAM dan PUTIHku jika KAU hanya ingin agar aku mengikuti perintah-MU, untuk kemudian mendapatkan janji surga yang KAU tawarkan untukku?”

Dari sini mungkin dapat kusimpulkan, bahwa hidup di dunia ini adalah untuk berjuang. Bukan, bukan berjuang melawan setan, tapi ini tentang perjuangan melawan DIRI SENDIRI, dan sekompeni SETAN yang selalu ada dibelakang aku, kita, yang selalu bersemangat untuk mengajak kita ke neraka.

Hidup ini lucu.

Agama ini lucu.

Tuhan.... entahlah, rahasia-Mu selalu memunculkan pertanyaan baru dalam benakku.
Selalu begitu.



Malang, 9 agustus 2012

Tuesday, August 7, 2012

Ketika Kamu & Aku menjadi Kita

Aku bisu
Hingga tak sepatah kata mampu kuucap
Aku tuli
yang sekalipun bisik angin tak dapat kudengar
Kakiku lumpuh
akupun harus terseok-seok menggapai asaku
Jemariku rapuh
kelu gitarku tak kupetik, teronggok disudut kamar gelapku
Nanar ku tatap dirimu
tanpa sentuhan, bahasa kiasan
dengan diam kau suarakan rindumu
dengan lebih diam ku katakan akupun merindukanmu
jantungku berdetak
berdetak seiring rasa yang tumbuh subur
Dihadapmu,
ku nyanyikan melody kerinduan yang t'lah lama membusuk di bilik hatiku
Bersamamu,
ku petik gitar dan alunkan nada-nada yang merongrong imajiku, tentangmu
Dan akhirnya kau pun mengerti
betapa cintamu menjadikanku sempurna..

Slamat Jalan Kawan

Aku baru saja menyelesaikan bacaanku, ketika tiba-tiba saja bayangmu melintas, tersipu malu.
Tampak olehku kau seperti memendam ranumnya kerinduan yang telah dipupuk sang waktu. Jelas terlihat dari pipimu yang merona, merah muda.
Inginku akan hadirmu, ringan laksana mendung yang menggantung dilangit abu-abu, namun tajam laksana hujan yang menghunjam ditanah antah berantah. Sekelumit kisah yang ku petik dari kebersamaan kita mengajarkan padaku tentang berharganya waktu bersamamu. Namamu akan selalu hadir dalam catatanku, dan takkan pernah lapuk digerogoti waktu.
Sahabat, kau abadi hidup dalam kenanganku.
Selamat jalan Arsa............




16 Juli 2008

Sebuah Isyarat

Isyarat usapan lembut tangan-Mu pada ubun-ubunku melebihi makna jutaan rangkaian kata yang menyerukan semangat agar aku bisa lebih bersabar menghadapi semua ini. Seandainya bukan tangan-Mu yang mengusapku, entah siapa yang akan mengenalkan kesabaran itu padaku.







kurasa takkan ada yang bisa,







selain DIA.

Andai Bukan Sekedar Mimpi


“Kita belum pernah jalan-jalan berdua kan, Yah? Ayo kita pergi sebentar menghirup udara segar..berdua saja. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, sekali ini saja..” Kataku memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangan didepan dada. Dan Ayah nampak berpikir dengan keras.
Beberapa saat berlalu akhirnya Ia memberiku jawaban manis, ”Oke, kita pergi.”
Ia pun tersenyum, memandangku dengan kasih, penuh rasa sayang. Dan aku merasa seolah segala beban yang sekian lama menggelayutiku seketika terbang keudara bersama senyumnya. Aku melambung merasa ringan. Aku bahagia sampai-sampai tak dapat kutemukan kata-kata yang tepat untuk mengukirkan betapa aku bahagia, entah mengapa. Hingga tiba-tiba kulihat senyumnya perlahan memudar dan kemudian hilang, tepat disaat kubuka mataku yang t’lah basah oleh tangis ditengah tidurku.

Akh, ternyata itu cuma mimpi......


12 April 2012 01.45pm

Monday, August 6, 2012

Berkaca Pada Peristiwa

3tahun berlalu, masih saja aku terkaget-kaget menyadari betapa jalan hidupku penuh dengan liku-liku tajam yang menjebakku. Siapa sangka kalau semua akan begini jadinya?

Tuhan mengusap ubun-ubunku dengan lembut tangan-Nya, meredakan gejolak ambisi yang kerap mendidih di kepala mudaku. Hasrat ingin meraih segalanya menari-nari dengan semangat kepercayaan diri yang sudah sejak lama terpatri dalam diri. Namun aku manusia biasa, ada sekepal kecil kesombongan merasuk dalam garis tegas perjuanganku. Kubiarkan saja, karena menurutku takkan mengapa sedikit menyombong, karena aku merasa bisa. Aku bisa menggenggam dunia dengan telapak taganku. Aku bisa meraih segalanya dengan modal ambisiku. Aku bisa menjadi aku dengan segenap kemampuan yang melekat padaku.
Namun ternyata Tuhan yang begitu menyayangiku tak suka melihat anak-anak kesombonganku tumbuh dengan liar dalam hatiku. Satu persatu kepunyaanku yang berharga Ia ambil kembali. Akh, iya.. bukan kepunyaanku, melainkan pinjaman dariNya. Dan aku sombong dengan barang pinjamanku. Betapa aku malu pada Tuhanku.
Mimpi yang kurapal tiap hari ditiap hela nafasku menjadi buram ketika Tuhan ingin aku mencoba jalan lain yang kurasa tak mungkin. Aku suka jalanku sebelumnya, yang mudah tanpa aral menerjal. Aku merasa tak mungkin menaklukkan jalan berliku yang Tuhan tawarkan ini. Lalu dimana kesombonganku? Aku membutuhkannya, namun ciut ia dengan jalan baru yang Tuhan tawarkan.
Satu persatu ambisiku luruh ketika sebuah kecelakaan membenturkan kepala bebalku. Ternyata aku diingatkan untuk bersyukur karena kepala ini masih ada untuk kugunakan berpikir, berpikir tentang-NYA.
Belum kering darah di pelipisku, kembali harus kutelan bulat-bulat kenyataan milikku yang paling berharga diambil kembali Sang Pemiliknya. Ayah yang kusayangi harus pergi disaat aku sama-sekali tak terpikirkan dengan peristiwa ini. Aku mengorek-orek kesombongan dalam tumpukan keluh kesah dalam hatiku, namun tak ada. Yang kudapati hanya segumpal daging yang bergetar menahan sakit yang begitu perih.
Tuhan mengusap dadaku dengan begitu halus. Ia minta aku ganti kesombongan itu dengan sabar dan hati yang senantiasa lapang. Ia hanya ingin mengingatkanku, bahwa ketika aku mati nanti, bahkan kesombongan akan meninggalkanku. aku akan kembali pada-NYA dengan tubuh telanjangku. Hanya saja jika aku mau sedikit bersabar, IA berjanji akan menutup aibku, aib kesombonganku. Dan Tuhan tak pernah ingkar akan janji-janjiNYa.
Ambisi kini tinggalah ambisi. Aku pejuang yang tertinggal diantara pejuang-pejuang lain yang telah lebih dahulu memenangkan pertandingan ini. Kini aku sendiri. Kini aku menatap hampa segala bentuk ambisi yang berhasil mengantar mereka pada garis kemenangan. Sedang aku mati suri karena ambisiku yang salah kaprah.
Sesal datang diakhir cerita. Kalau saja bisa ku putar waktu, sejak awal takkan kuampuni kesombongan yang diam-diam merasukiku dulu itu.
Tuhan hanya meminta aku tetap menjadi makhluk kecil-Nya yang penurut. Yang senantiasa bersukur. Tuhan tidak sedang menghukumku, IA hanya terlalu sayang untuk membiarkanku tersesat lebih jauh dalam kubangan lumpur kesombongan yang perlahan menelan imanku bulat-bulat.
Kini aku beralih pada arena perang yang lain. Musuh yang menantiku akan sama garangnya. Kepada pejuang-pejuang terdahulu ku, aku hanya mencontoh pada ambisi baik mereka. Dan Tuhan yang Maha Kaya benar-benar melimpahkan Rahmatnya dengan cara yang tak pernah kusangka-sangka. Terima Kasih Tuhanku......... 

Sunday, August 5, 2012

Pergi Saja


Mantra apa yang kau rapal untuk mengambil hati ini?
Begitu kuatnya, sampai-sampai ketika kau pergi aku masih saja mencintaimu dengan sama kuatnya. Kucari mantra serupa untuk menghapus cinta saktimu ini, namun yang kudapat hanya sebingkis airmata duka yang merindukanmu. Pada titian malam kudapati mantramu melemah, satu waktu itu saja, ketika waktu yang begitu lama menjauhkan bayangmu dari hari-hariku, aku merasa merdeka. Bawa pergi saja hati yang kau curi itu, aku sudah tak butuh lagi. Aku rela tak punya hati jika memang hati yang itu tlah kau lumuri dengan darah cintamu. Tak, takkan sudi aku memiliki hati yang seperti itu. Sekali kau pergi, bawa semua yang telah menjadi milikmu. Aku rela hidup tanpa hati, agar nanti saat aku mengenal cinta lagi aku tak perlu lagi merasakan sakit hati. . . .

Saturday, August 4, 2012

AKU Adalah.........ANUku


Aku adalah aku.
Hasrat, asa, mimpi, marah, bahagia, adalah aku. Kepunyaanku.
Mimpi adalah mimpiku. Sekalipun hanya mimpi kosong tentang sekelebat bayang tak berwajah, ia tetaplah mimpiku.
Hasrat menggapai pagi yang tak kunjung kuraih, sekalipun pada beribu penghujung malam kutemui hitam, pagi tetap meninggi dari hari ke hari. Menjauhiku.

Namun apakah aku menyerah?

Belum. Belum saatnya kuletakkan baju zirah dan pedangku.
Belum saatnya kugantungkan harapan pada muramnya malam-malamku.
Aku merasa masih punya satu pagi lagi esok, hari setelahnya, dan hari-hari setelahnya lagi sampai nyawa pada tubuh renta ini diambil pemiliknya. Nanti.

Aku adalah nafsuku. Nafsu untuk menang dari segala belenggu yang memasung aku. Nafsu untuk lepas dari jeratan sisi hitamku. Nafsu yang ingin terbebas dari ke-aku-anku. Sekalipun terkadang aku tak bisa membedakan mana nafsu baik dan nafsu birahiku, aku tetaplah nafsuku. Keduanya mengarahkanku pada kesenangan dan kemerdekaanku. Cukup aku.

Aku adalah pikiran-pikiranku. Yang bergejolak dalam tempurung kecil kepalaku. Yang meluap-luap tak sabar untuk segera dijabarkan. Namun kelu diujung lidahku. Terkadang lincah menari pada ujung-ujung jemariku. Begitulah caraku melahirkan anak-anak hatiku lewat tulisanku yang bisu.
Aku adalah pikiran masa depanku. Masa depan yang menggambarkan dirinya sendiri sebagai tebing yang harus kutaklukkan dengan keakuanku. Lagi-lagi aku.

Aku adalah marahku. Marah pada aku yang tak kunjung beranjak dari belenggu kemunafikan yang ada padaku. Aku marah pada hidup yang kusia-siakan hanya untuk memenuhi hasrat bejatku. Aku marah pada malam yang tanpa ampun membiarkanku meraba-raba dalam gelapnya. Terkadang dengan baik hati ia berikan petunjuk, namun aku terlalu marah untuk berpikir tentang petunjuk itu, petunjuk untuk aku.

Jika hidup memang terkotak-kotak dalam hitam dan putih. Maka tak mengapa jika kuibaratkan malam sebagai sisi hitamku. Dan pagi adalah sisi putihku. Boleh jadi putih itu pula yang akan menjadi titik terang dari gelapnya jalan yang kutempuh saat ini.
Aku terkadang merasa lelah mencoba menggamit lengan pagi yang terus-menerus menjauhiku. Mungkinkah ia marah padaku? Pada aku yang mana? Aku? Mimpiku? Marahku? Nafsuku? Pikiranku? Yang mana?

Pagi adalah cintaku. Dan seorang pecinta sejati takkan pernah lelah mengejar paginya, walau harus sakit dan sesekali terpincang-pincang ditengah jalan, suatu saat akan kudapati pagiku akan memeluk mesra, aku.