Monday, July 30, 2012

Melody Do'a Pada Teduhnya Subuh


Sunyi pun pecah oleh segerombolan suara yang mengalun merdu melalui corong-corong menara masjid. Mengantarkan amanat dari Tuhan mereka untuk mensegerakan bersuci dan mengahadap pada-NYA, Sang Penguasa Subuh.
Allah.. Engkau Yang Maha Baik.. Kau berikan ketenangan di tiap-tiap subuh-MU yang teduh. Luka hati pun terbasuh. Peluh dan daki hati segalanya luruh, diujung sajadah yang basah oleh sisa-sisa tetes air wudhu yang tumpah.
Bersama semua nama baik yang melekat pada-MU, lirih kuucapkan segala asa yang membumbung di ubun-ubunku. Kepada-Mu yang telah menciptakan aku, kusandarkan sejenak duka lara yang menggelayuti hati, lelah aku dengan gelisah ini.. letih aku dengan gundah yang selalu membuncah ini.
Ya Rahiiim... Engkau yang Maha Mendengar setiap letup suara hatiku, aku sungguh berlindung pada-Mu dari rasa yang tak Kau suka. Dari Cinta yang bukan milik-Mu. Dari kotornya hati yang senantiasa ingin menjauhi-Mu. Jadikan aku selalu lekat mengingat-Mu dalam setiap hela nafas yang berpasrah ini.. Berikan padaku apa-apa yang Engkau berikan kepada orang-orang soleh terdahulu. Karuniakan padaku hati yang senantiasa lapang mengingat tiap untaian ayat-ayat suci-Mu. Jadikan aku golongan orang-orang yang senantiasa takut akan azab pedih-Mu.
Ya Ghoffar.... Engkau yang maha Pengampun. Ampunilah mata yang melihat untuk keburukan hati. Ampunilah tangan yang mengantarkanku pada kesesatan hati. Ampuni kaki yang membawaku pada jalan yang tak Kau kehendaki. Ampuni raga yang senantiasa bermalas-malasan dari mensegerakan perintah-Mu. Ampuni Jiwa yang kian lemah ketika aku menjauh dari-Mu. Dan ampuni hati yang mengangankan cinta yang selalu membuatku sakit ini. Ampuni aku Ya Allah.. Ampuni aku...
Pada subuh aku bercerita tentang letihku. Tentang asaku. Pada subuh milik-Mu jua aku bersandar dari segala kemunafikan yang dunia tawarkan kepadaku. Ridhoi langkahku Ya Allah..Maha besar Engkau yang telah menciptakan subuh yang berima dengan desah nafas alam yang memuja-Mu, terimakasih untuk Subuh yang teduh ini. karena tiada tempat untuk meminta melainkan hanya pada-Mu. Amin Ya Robbal ’Alaminn..... 

Sunday, July 29, 2012

Cinta?


Kalau cinta bilang cinta
Kalau tak suka tinggalkan saja
Semudah kau datang,
Semudah itu pula ku bolehkan kau hilang

Bosan aku dengan permainan ini
Cinta bukan permainan tapi kenapa selalu kau yang menang?

Tentang hati yang mati-matian kau curi:dulu
Tentang hati yang kau buang sesuka hati:kini

Begitukah cinta dimatamu?
Atau sejak awal kita t’lah salah dalam mengartikan cinta?

Cinta itu apa sih?

Cinta itu kotoran hati
Cinta itu tai
Cinta itu sakit hati

Cinta itu warna
Warna hitam
Jika putih adalah sisi baik,
Kapan hitam menjadi putih?

Cinta itu pembodohan
Orang bodoh yang bercinta
Maka aku,
yang kusebut adalah aku

Cinta itu rasa
Rasa sakit
Sakit yang menggigit

Cinta itu kasih sayang
Diawal? Iya, lihat yang terjadi diakhir cerita..

Cinta itu saling menjaga
-demi sebuah kepentingan-

Cinta itu lara
Sakitnya tiada tara

Cinta itu kamu
Cinta itu aku
Aku dan kamu yang salah mengartikan cinta

Saturday, July 28, 2012

Senja..


Senja kali ini masih sama teduhnya seperti senja diwaktu-waktu yang lalu.
Masih setia memayungi dahiku yang berkerut, setelah seharian mengais asa diantara puing-puing mimpi yang berserak dihempas angin ribut subuh tadi.
Peluh mengucur deras namun aku tak perduli. Pendar jingga dibatas cakrawala itu menentramkan hatiku, entah bagaimana.
Satu waktu yang kunanti diantara sekian lamanya waktu, ialah senja ini.
Aku melihatmu pada senja. Karena pada hangat sinarnya kurasakan lembut tanganmu mengusap peluhku.
Pada senja aku merasakan hadir-NYA dengan lebih nyata.
Letupan kecil dalam hatiku berkata tentang ketidak-sabarannya menanti datangya senja. Layaknya bocah kecil yang mondar-mandir didepan pintu menanti kedatangan ayahnya yang seharian pergi bekerja, kalau-kalau ada sebingkis oleh-oleh untuknya.
Senja adalah Ayah bagiku, yang membuatku merasa aman.
Senja kadang terdengar seperti kidung puja-puji, yang menentramkan relung jiwa yang senantiasa memberontak, haus akan kasih sayang.
Senja selalu mampu menunjukkan betapa Ia begitu sabar, tak pernah sekalipun ia tunjukkan kemarahan melalui teriknya.
Aku begitu memuja senja, entah bagaimana..


#Akankah aku menjadi senja bagimu nanti, sayang? 

Hanya Do'a



Ya Allah, ku mohonkan untuk tubuh-tubuh titipan-Mu yang sedang kau uji dengan sakit, ringankanlah derita mereka.. jangan palingkan hati mereka dari-Mu, dan janganlah Engkau jauhi mereka. Hidupkanlah ikhlas dihati mereka agar mereka tak pernah luput mengingat-Mu, agar senantiasa mereka bersabar dan bersukur atas segala Rahmat-Mu.

Ya Allah Tuhanku.. untuk jiwa-jiwa yang telah Kau peluk dengan hangat-Mu, ku mohonkan pada-Mu, tidurkanlah mereka dipangkuan-Mu..lindungilah mereka dari panasnya api siksa-Mu, hangatkanlah jiwa yang menggigil tiap-tiap malam saat kami tak bersama mereka.. dan kasihilah mereka sebagaimana Kau mengasihi semua makhluk ciptaan-Mu, karena Engkau Ar-Rahiim..

Ya Rabb .. hanya untuk kedua orangtuaku, ku mohonkan dengan segala kerendahan hati.. tak ada satupun yang menjadi hakku untuk ku akui sebagai kepunyaanku saja. Tiada satupun yang ku punya melainkan semua hanya titipan-Mu saja.. begitupun orangtuaku yang salahsatunya tengah Kau rengkuh disana. Jagalah Ia dengan segenap kasih sebesar yang selalu Ia curahkan padaku. Cintai Ia melebihi cintanya kepadaku. Jaga Ia seperkasa ia selalu menjagaku…

Tuhan, hati kecil ini semakin mengecil sejak ia bersama-Mu. Aku mungkin cemburu karena rupa-rupanya CintaMu lebih besar melebihi cintaku padanya. Aku cemburu pada-Mu yang kini bersamanya, sedang saat ini aku tengah teramat sangat menginginkan hadir sosoknya disampingku. Ampunilah cemburu-ku ini Tuhan.. ampunilah Aku yang hanya bisa merindukannya… Bagaimanapun ia adalah titipan-Mu jua, aku mohon………sampaikan padanya betapa hati yg kecil ini tak mampu menumpu kerinduan yang begitu besar  terhadapnya…

Ya Malik..Ya Kuddus..Ya Salam.. untuk ibuku yang jauh disana, dialah harta yang tak ternilai harganya. Dialah permata hati yang selalu ku jaga, dia satu-satunya cinta terbesar yang ku punya. Lindungi setiap langkah kakinya kemanapun ia pergi.. Lindungi dia dr setiap titik kecil niat jahat yang hendak mencoba untuk menyakitinya. Jaga ibuku Ya Rabb… berikanlah Ia kesehatan agar ia selalu bisa menjumpai-Mu ditiap sujud dan takbir yang tak pernah luput Ia tunaikan. Sucikanlah hatinya sebagaimana ia selalu berusaha mensucikan dirinya dengan air wudhu yang setiap saat selalu ia basuhkan ke wajahnya.. Ya Allah, ibuku begitu mencintai-Mu, begitu mencintai kami anak-anaknya, kabulkanlah do’a-do’anya Ya Rabb….. segerakanlah Ia datang menjadi Tamu Agung di hadapan Ka’bah-Mu, seperti yang setiap detik selalu ia angan-angankan diam-diam.. tiada kerelaan dihati ini jika hatinya terluka Ya Allah,,,

Ya Rahmaan.. Ya Raahim.. Engkau Yang tak pernah tidur, Engkau yang mendengar tiap desah nafas yang sarat akan do’a-do’a , kabulkanlah do’a kami… karena sesungguhnya tiada tempat untuk meminta, selain hanya kepada-Mu saja. Amin Ya Robbal ‘Alaminn..

Demi Malam


Demi langit malam yang lengang
Aku mencari bintang namun yang kutemukan hanya binatang jalang
Serupa dinginnya hatimu, serupa diammu
menggigil aku dibuatnya
Beku buku-buku jemariku karenanya

Kata-kataku gemetar ingin dituliskan
Menghentak-hentak tak sabar
Sedang aku masih terkapar
Dibawah taburan bintang yang tak ada

Bulan separuh pun remang-remang
Penuh nafsu kuraba gelap
Mencarimu yang terdiam entah dimana, memandangiku dengan kelu

Demi langit terang yang aku rindukan
Aku mencari aku dalam dirimu
Dalam bingkisan diammu
Dalam keheningan malammu
dalam malam-malam sepimu


Wednesday, July 25, 2012

Money Can't Buy Us happiness


“Money can’t buy us happiness..”

Uang bisa membeli kasur, tapi tak bisa membuat kita tertidur lelap..
Uang bisa membeli buku, tapi tidak bisa memberi pengetahuan
Uang bisa membeli kue ulang tahun, tapi tak bisa memberi bonus umur
Uang bisa membeli jam, tapi tidak bisa mengembalikan waktu
Uang bisa membeli kepuasan sex, tapi tidak bisa memberikan cinta
Uang bisa membeli posisi, tapi jangan harap akan ada rasa hormat
Uang bisa mencetak foto, tapi takkan pernah bisa menghidupkan kenangan yg t’lah berlalu
Uang bisa membeli pulsa, tapi tidak bisa menghadirkan kamu didepanku

Lalu kebahagiaan seperti apa yang bisa didatangkan oleh uang?

Tuesday, July 24, 2012

Tengkiyuu ku buat kalian lohh :D

Terimakasih sedalam-dalamnya kpda Sensei Keniten, yang untuk pertama kalinya mengenalkan aku pada dunia tulis menulis tahun 2006 silam. yang selalu mendukung bahkan memuji setiap tulisan 4L4Y jaman SMA ku dulu..hahhaa
terimakasih untuk sahabatku Ratih Astiti, kamu yang bikin aku semangat nulis dulu..
Terimakasih untuk Ayah, Ibu, Kakak, Mas Irvan, dan manis pahitnya kehidupan bersama kalian, karenanya aku selalu mendapat ide-ide segar untuk menulis. sekedar menulis. tak ada yang lainn.
Terimakasih untuk kalian semua yang telah membuatku menemukan cara untuk mencurahkan unek-unek dikepala bebalku ini, hehe..
terimakasih untuk teman-teman gilaku: Lita, Mira, Helmy, Yessi, Helgha, dan semua yang tak bisa disebut satu persatu.. peluk cium buat kalian dimanapun kalian berada, #ennakkhh..
dan akhirnya, tiba waktunya saya mengakhiri latihan menulis bab dedikasi kalo buku ku beneran terbit 20th lg ini. wkkwkwkwk

amin Ya Allah..
LOVE YA ALL, mmmmuuuuahhhhhhhhhh :*

Peri Cantik Itu Ibuku..

terbanglah lagi peri..
biarkan bongkahan awan putih itu membasuh lembut kedua kakimu
biarkan embun memandikan hatimu yang merindukannya
bebaskan sayapmu 
robek angkasa raya diatas itu
Jangan pikirkan lara ini lagi
jangan murung lagi
karena periku adalah sinarku
bila kau meredup sekarang, maka habislah aku ditelan pekatnya gelap ini
kau sayang padaku bukan?
maka cerialah peri cantikku..
Lepaskan semua beban itu
sandarkan pada langit yang selalu menunggu merdu suaramu saat melantunkan ayat-ayat suci-Nya,
ayat-ayat cintamu pada Yang menciptakan segala keindahan yang ada padamu
jangan menangis lagi bidadari penjaga hatiku,
air matamu telah membasahi tiap puing ceriaku yang tengah kubangun lagi dengan sisa kekuatanku
tatap kedalaman hatiku jika kau masih ragu,
bahagiaku adalah melihatmu menari-nari pada Arsy Ilahi
melagukan lagi serpih-serpih iman dikedua kupingku
ingatkah ketika aku masih kecil dulu? dongengmu tentang Tuhan dan segala ciptaan-Nya ternyata benar adanya
namun aku sellau tertidur dibuatnya..
Periku, Bidadari ayahku.. kuatlah demi aku
Duniaku menanti hangatnya pelukmu lagi...... 
Bumi merindukan sujud mesramu lagi..
Sayapmu telah teramat sangat merindukan untuk terbang lagi
membelah langit
memecah duka
menghunus kefakiran hati akan cinta-Nya ini.

Anakmu Kangen, Yah..

Selintas angin bermenit lalu mengabarkan wajahmu
Mengukuhkan kembali reruntuhan rindu yang baru saja berserak
:rindu kamu tentunya-
rindu tawamu
rindu marahmu
rindu hadirmu
telah lama kamu pergi meninggalkan sebaris ruang hampa disini:dihatiku
kutau hadirmu adalah kemungkinan yang harus kuhapus dari separuh mimpi
namun angan ini tak henti merindukan hadirmu lagi
dosakah aku Tuhan?

Dosakah jika air mata ini mengalir seirama dengan kerinduan yang terpasung sepi ini?
Dosakah bila mengangankan waktu-waktu lalu saat Ia ada disini?

Bila rindu ini adalah dosa, cukupkan do'aku sebagai pengobat lara ini
pelepas dahaga rindu yang teramat sangat ini
karena aku tak mau membuat Ia sakit karena cintaku, karena rinduku
Selimuti hati yang menggigil merindukannya ini

Bila merindukannya adalah dosa, maka hukum aku dengan meringankan sedikit beban rinduku ini..

Think Again!


Kalau ada orang kembar cewek-cewek nikah sama kembar cowok-cowok, kira-kira anak mereka akan sama persis nggak ya?
Kalau aku nggak dilahirkan dikeluarga ini, kira-kira siapa namaku? Aku anak siapa? Apa aku punya kakak-kakak yang sayang banget sama aku kayak kakak-kakakku sekarang?
Kalau aku lahir sebagai cowok, kira-kira siapa namaku? Siapa pacarku? (:P)
Kenapa air mineral kemasan tanggal kadaluarsanya lebih lama dari ale-ale?
Kenapa negeri ini namanya Indonesia, bukan Indonesya atau inDownEsha?
Kalau aku mati, siapa yang akan nangisin paling lama?
Kalau aku tau aku akan mati satu jam lagi, apa yang akan aku lakukan untuk terakhir kalinya?
Kalau dulu aku nggak lahir, kira-kira sekarang aku ada dimana?
Kalau aku punya saudara kembar, namanya siapa ya?
Kenapa dukun beranak kalo melahirkan mesti dibantu oranglain?
Kenapa dukun nggak ada yang kaya raya?
Kenapa warna item namanya item? Kok nggak putih atau kuning?
Kenapa hari hitungannya Cuma ada tujuh? Padahal setiap hari kan beda-beda..
Kenapa aku banyak tanya? Aku juga nggak tau kenapa..
Kenapa kodok harus lompat-lompat?
Kenapa orang gila nggak bisa bertingkah normal?
Kenapa bulan purnama dinamain purnama, kok nggak purnami atau purwanto aja?
Siapa pencetus istilah “suami” dan “istri” dan “selingkuh” pertama kali?
Kenapa SM*SH kepikiran bikin boyband? Padahal bisnis kacang ijo lebih menjanjikan..
Pak SBY kalo tidur gimana ya? Merem sih pastinya..ah sudalah!
=D

Friday, July 20, 2012

Lagu Tentangmu


#1
Mendengar lagu ini lagi, lagu cinta ini lagi
Lagu yang seketika melontarkan imajiku tinggi-tinggi
Tentang kamu
Tentang sosok yang kubangun dalam anganku

Aku tersihir pesonamu lagi
Setiap hari
Setiap kali kudengar lagu ini, lagi

Aku berkhayal tentangmu
Setiap waktu
Membuat otakku buntu

Dadaku penuh sesak oleh cintamu
Tak ada lagi celah untuk Tuhanku
Rinduku hanya untukmu
Anganku hanya padamu
Inginku hanya kamu

Kubiarkan Tuhanku menunggu
Kubiarkan jantungku berdetak dari ragu ke ragu

Cinta ini
Cinta yang dibawa lagu ini
Membawakan kamu lagi
Menghidupkan bayangmu lagi
Lupa aku pada Tuhanku
Hilang hasratku untuk berbincang mesra dengan Tuhanku itu

Karna kamu,
Karna lagu
Karna aku
Karna hatiku yang dungu
Karena cintamu t’lah melagu dengan aku:
seirama,sejauh jarakku dengan Tuhanku

Wajarlah bila Ia murka padaku #

Thursday, July 19, 2012

Aku Kata Yang Tak Terkatakan


Aku Kata Yang Tak Terkatakan


//Mungkin hendak kau temukan aku disini
Pada sajak picisan yang lemah kata-katanya:
dalam menggambarkan kalimat-kalimat hati
Jangankan kau: akupun terkadang tak dapat mengartikannya
Aku sama tersesatnya seperti kalian dalam mencari aku dalam sajakku,
dalam diriku.

Namun seberapa picisan pun sajakku ini,
 kesemuanya tetaplah terbentuk dengan awal sebuah kata
Yang menjadi senjata.
Kata-kata adalah senjata terakhirku
Kata-kata selalu menguatkanku
Kata-kata tak membuat aku kalah dari aku dengan keakuanku

Kadang aku merasa kata adalah aku: aku adalah kata-kataku
Dan ketika kurangkai semua kata-kata itu
aku kemudian menjadi aku yang masih saja belum utuh:
lalu kapan aku menjadi utuh?
::Aku::
Siapa aku?
Kata-kata takkan cukup menggambarkan aku
Aku pun belum, dan takkan bisa mencari komposisi kata yang tepat
untuk membuat kalian mengenal aku lewat kata-kataku
Ternyata aku bukanlah kata-kataku.
Karena kata tak sepenuhnya dapat mewakili aku.
Namun lewat kata-kata aku ingin kalian tau,
bahwa hanya lewat kata-kata: aku menjadi aku.
...........//


Malang, Juli 2012

Untuk Yang Sudah Dewasa

Dewasa itu pilihan. Kita bebas memilih untuk menjadi dewasa atau tidak. Dewasa itu kebutuhan. Kita bisa menjadi dewasa ketika kita membutuhkannya. Dewasa itu HARUS. Kita diharuskan menjadi dewasa pada saat-saat yang memang membutuhkan kedewasaan kita. Dewasa itu adalah komitmen antara aku kecil, dan aku sekarang ini.... 



***
Bocah kecil berambut ikal itu masih duduk dengan setia, menanti hujan menuntaskan sisa tetes terakhir airnya. Bibirnya sedikit biru, seharian mengulum manisnya dingin dengan selembar baju lusuh yang melekat ditubuh mungilnya. Bersama detik jarum jam dinding dan sepi yang menari-nari, angannya melengkungkan sebias pelangi dilangit muram sore itu.
Kau bocah, bermimpi menjadi dewasa ketika masih terlalu banyak sisa waktu untukmu menikmati manisnya masa kanak-kanak. Soremu yang mendung seketika cerah ketika kau bayangkan sosok dewasa dalam benakmu melengang anggun, cantik tak bercela.
Imajinasi mengantarkanmu pada janji-janji kedewasaan semu dalam persepsimu yang salah. Akh, aku bahkan tak berhak mengatakan SALAH, karena waktu belum menjawab seperti apa rupa dewasamu kelak.
Seandainya kau tau seperti apa menjadi dewasa itu, bocah. Seandainya kau mengerti, kedewasaan yang akan kau raih nanti terkadang akan memaksamu ingin kembali ke masa-masa kecilmu. Kau akan mengenal waktu dimana Hujan takkan semuram hujan-hujan sebelumnya. Dimana dingin tak sekejam hari-hari yang lalu. Dewasamu akan mengangankan waktu masa lalumu yang lugu, yang tak perlu memikirkan ini itu.
Tapi aku tak sepenuhnya melarangmu berkhayal tentang sosok dewasamu nanti. Kau berhak melambungkan imajinasimu sejauh mungkin. Kau berhak mengukir mimpimu pada bias warna-warni pelangimu sendiri. Karena dewasa kita berbeda. Kerumitan masalah yang membuat sudut pandang kita berbeda dalam melihat ’dewasa’ itu sendiri.
Kau berbicara tentang sosok dewasa, sedang aku berbicara tentang matangnya kedewasaan dalam tubuh dewasa itu sendiri. Bagai sebuah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda, namun masih dalam satu paket tubuh, lengkap dengan nurani yang beranjak dewasa.
Jika saja kau mengerti bocah.. jika saja kau tau betapa sakitnya menapaki jalan menuju kedewasaan itu. Aku tak ingin kamu takut untuk menjadi dewasa, aku hanya ingin kau siap nantinya menyambut waktu dewasamu. Tanpa perlu mengenang manisnya masa kecilmu dulu, tanpa harus menangisi saat-saat tersulit dalam hidup dengan tubuh dewasamu.
Jangan pernah menyalahkan waktu yang membuatmu dewasa secepat itu. Bahkan tak boleh sedikitpun kamu menyalahkan Tuhan yang mengantarkan kedewasaan itu padamu.  Karna tak ada yang dapat kau lakukan untuk menolak kedewasaanmu. Satu-satunya yang dapat kau lakukan hanyalah melawan ketidakbahagiaan yang ada dalam waktu-waktu dewasa yang kian mematangkan pribadimu. Jadilah bocah yang dewasa dengan tegar, tanpa sisa-sisa penyesalan seperti rintik hujan yang tak kunjung usai ini. Jadilah pelangi setelah badai masalah datang menggelitik hari-hari penuh tawamu. Jadilah kebahagiaan, dan bahagialah dengan dewasanya kamu. Bocah kecil berbaju lusuh itupun bangkit dari duduknya, dan kemudian berdiri menatap cermin yang memantulkan bayanganku, bocah kecil yang telah dewasa. 

Karangasem, 2011















Tuesday, July 17, 2012

Biar Diam Yang Bicara

Biar Diam Yang Bicara..




Senja baru saja menetas dibibir pantai. Menggiring burung-burung gereja berarak-arak pulang, bergandeng-gandengan. Riuh celoteh mereka tak membuyarkan lamunanku. Anganku terbang pada satu titik disuatu hari dimasa kanak-kanakku. Seperti berputar-putar dilorong waktu, kutemukan diriku dengan tubuh lebih kecil dan gigi-gigi yang tak utuh. Ompong disana-sini.
Seperti biasa, Aku kecil sore itu hanya dapat memandangi punggung tegap yang membelakangiku. Sibuk dengan selembar koran, menyeruput kopi mengacuhkanku. Pun dihari-hari berikutnya, Aku kecil begitu setia menemani sorenya dengan diam. Duduk diantara sepi yang menari-nari. Tanpa suara, aku begitu mencintainya.
Tahun pun beranjak dari masa itu. Masih disore yang sama, kupandangi punggung kekar itu dengan tatapan sayu. Rindu hati yang merayu untuk bercengkrama dengannya urung dengan niatannya. Ia terlalu kaku untuk ku sentuh dengan sapaan sayangku. Terlebih mengecup pipinya, apalagi duduk dipangkuannya. Lupakan saja.
Waktu semakin merayap mengantarkanku pada usia remaja. Telah berpuluh, beratus sore kutinggalkan Ia sendiri yang larut dengan kopinya. Tak lagi kurasakan sepi. Duniaku, hariku, soreku kini penuh sesak oleh riuh tawaku dengan teman-temanku. Sejenak kulupakan cintaku padanya yang selalu mengacuhkanku. Kunikmati hari-hari dengan mengacuhkannya jua. Kuhampiri Ia hanya ketika aku butuh segepok Uang untuk membeli sejumput kesenangan bersama teman-temanku. Dan kubanting pintu ketika hanya diam yang mampu Ia berikan. Kecewa, iya. Marah, pastinya. Tapi tak ada yang dapat kulakukan selain pergi dengan tatapan sayu, berharap ia akan mengerti betapa kecewanya aku saat itu..
Waktu masih terus melaju. Mengantarkanku pada waktu dimana aku harus pergi lebih jauh dari kotaku untuk menuntut ilmu. Dan untuk pertama kalinya, kulihat sorot matanya sedikit berbeda. Mata abu-abunya meredup. Seakan ada banyak kata yang ingin Ia sampaikan sebelum keberangkatanku. Namun hanya dengan diam dan selalu memunggungiku ia berlalu. Seakan hanya itu satu-satunya cara Ia mengatakan betapa Ia pun mencintaiku. Naluriku sebagai seorang anak ingin mendengar kata-kata ”berhati-hatilah disana anakku, jaga diri baik-baik puteri kecilku, ayah mencintaimu..”. ah sudahlah.
 Air mataku tumpah bersama sedihku, kecewaku, cintaku, rinduku yang tiba-tiba menerjang akal sehatku. Sesak dadaku ketika kucium tangannya yang kasar. Dengan mata berkaca-kaca dan masih dengan diamnya Ia melepaskanku. Sudah banyak sore setelah sore dimasa kecilku dulu, aku mulai mencintainya lagi. Kali ini takkan ku bagi cinta ini pada lelaki manapun, melainkan hanya padanya. Lelaki berjaket cokelat dengan peci putih itu. Lelaki berpunggung tegap yang selalu mengacuhkanku itu.
Baru kusadari ketika Bis tua ini melaju membawa ragaku semakin jauh darinya. Suatu hal yang selalu kuharapkan ketika amarah menguasai hatiku yang terlanjur kecewa dengan sikapnya. Tapi kini diam-diam kusesali. Mendadak aku tak ingin jauh darinya. Firasatku berkata takkan banyak lagi sore yang akan kulalui bersamanya.
 Waktu yang membunuh tiap jeda udara ketika cintaku padanya menyeruak, kian menyadarkanku, bahwa lelakiku kini semakin tua. Punggung tegapnya kini terbungkuk. Sorot mata dinginnya kini sayu. Dan semua itu karena hari-hari keras yang ia lalui untuk menghidupi segala kebutuhanku. Dan semua itu kubalas dengan wajah muram, pintu yang dibanting, dan kaki yang menghentak pergi ketika hasrat kanak-kanakku ingin memiliki ini-itu tak jua Ia penuhi.  
Terbayang tahun-tahun terberat yang Ia lalui demi sekepal kebahagiaan untuk anak istrinya. Sosok yang jarang tersenyum pada anak-anaknya. Namun begitu kuat kharisma ke-ayahannya.
Pertama kalinya kulihat tangisnya tumpah ketika orang-orang jahannam itu merebut kebahagiaan ia dan keluarganya.  Melihat apa yang telah ia perjuangkan sepanjang hidupnya luluh lantak dimakan manusia-manusia tamak dengan kedengkiannya.
Tak cukup hanya kebahagiaannya, bahkan nyawanya pun hendak mereka ambil paksa. Sumpah! Sampai mati aku begitu mengutuk mereka yang telah melukai hati lelakiku. Dendam ini mendarah daging dalam tubuhku. Membulatkan tekadku untuk mengembalikan kebahagiaan yang pernah mereka curi darinya. Dengan segenap dayaku, kucintai ia dalam diam yang larut bersama udara, bersama laju bis yang membawaku pergi.
Siapa sangka kalau sore itu ternyata benar-benar jadi soreku yang terakhir bersamanya. Kepulanganku terakhir kujumpai Ia terkulai lemah di ranjang rumah sakit berbau obat, begitu menyengat. Seakan tak dapat ku percayai mataku, sosok lelaki tegap itu kini harus mengalah pada selang yang menancap selang-seling ditubuhnya yang terlihat lebih kurus itu. Nafasnya terputus-putus, berat membawa nyawa yang kian gemetar ditubuhnya. Asma Tuhan membuncah, menyeruak bersama haru yang mengudara menderu-deru kerinduanku. Kulafadzkan segenggam do’a, berharap-harap matanya kan terbuka seketika, memandangiku. Tak apalah bila kau tatap aku dengan tatapan dingin itu lagi. Tapi bangunlah! Bangunlah Ayah!
Namun kelu. Kau masih sama diamnya seperti waktu-waktu itu. Dengan diam yang berbeda, yang lebih membunuhku.
Dan senja kembali menetas dikaki langit. Temaramnya menggerayangi setengah jiwaku yang pergi bersama lantunan ”laailahaillallah..” para pelayat yang turut menghantar jasad lelakiku pada persemayaman terakhirnya.
Kebas hatiku pada rasa, pada suara. Ini benar-benar sore terakhirku bersamamu. Kepergianmu membuat tiap soreku tak lagi indah. Takkan pernah indah lagi tanpa punggung yang selalu membelakangiku itu. Separuh hidupku kau bawa serta, membuatku merana. Mengiba pada hati yang kian merapuh agar tak semakin jatuh. Aku harus kuat untukku, untuk jalanmu, untuk ibu, untuk sisa kehidupan yang harus kulanjutkan.
Maafkan aku Ayah. Cintaku padamu terkadang selalu membangunkanmu dari tidur lelapmu dipangkuan-Nya.
Terimakasih untuk hari-hari diam kita. Diam yang mebahasakan cintaku padamu, cintamu padaku.
Terimakasih untuk tidak memenuhi semua pinta kanak-kanakku dulu, karena dengannya kini aku mengerti tetang arti sebuah kesederhanaan. Kau membuatku belajar untuk selalu merasa cukup dengan segala kecukupan yang Tuhan berikan padaku. Kau pun membuatku belajar bahwa diam jauh lebih baik daripada kata-kata yang mengumbar untuk kemudian menjadi hambar dihembas udara, lenyap tanpa bekasnya. Baru kusdarai, Diammu itulah cintamu padaku. Pada puteri kecilmu yang takkan habis cintanya padamu.
Tenanglah disana Ayahku sayang.. do’akan untuk kebahagiaan yang tengah kuperjuangkan untukmu. Jika sampai saatnya kita dipertemukan lagi, izinkan aku mengecup keningmu, dan mencintaimu dengan lebih diam dari caramu. I LOVE YOU DAD.....



Yang Tak Bisa Disebut Satu-Persatu...

Leeta, Miira & Inaz

Helmy
.....
Thanks Malang, thanks Leeta, Mira,.Helmy,. and all of u, for the sweetest memories.. for never let me down,.
You guys are the most precious gift from God to me. I Love u all, as always.. :*

HEy, Kamu!


Hey, Kamu!

T’lah banyak lagu kuciptakan untukmu. Pun, entah beribu puisi ku tuliskan dengan menyebut namamu. Hanya puisi tak berima dari sekepal larik kerinduan yang tak pernah jadi sempurna, takkan sempurna tanpa kehadiranmu.
Detik waktu hanya masalah angka yang ditarikan oleh sebilah jarum. Berdetik seirama dengan tiap detak jantungku yang mulai menghitung kerinduan ini sejak pertama tak ku jumpai wajah itu lagi. Akh, waktu semakin memupuk subur hasratku untuk menemuimu dalam rupa. Bukan sekedar angan, bukan kenangan. Bukan sekedar membayangkan, aku ingin merasakan. Bukan sekedar menunggu, yang aku inginkan hanya kamu. Tapi keterbatasan kata takkan cukup mewakili kerinduan ini. Harus dengan cara apa kusampaikan padamu? Kini rinduku terhenti diujung kata-kataku sendiri. Takkan cukup bila sekedar kukatakan ”aku merindukanmu”. Karena rindu ini lebih dari sekedar itu. Namun kamu tak pernah tau. Takkan pernah tau. ....

Malang, 17 Juli 2012 
9.54 PM

Tuesday, July 10, 2012

Anonim


Maghrib-Mu


Ku rasa sepi
Maghrib-ku kini sunyi
Saat tiada lagi do’a yag kau panjatkan,
Untuk kau perdengarkan
Untuk dapat kuhayati
Untuk dapat ku amin-i

Heningkah yang kau rasa kini?
Dinginkah yang temanimu kini?

Tergetar hatiku saat kudengar Adzan
Terngiang syahdu suaramu lewat Adzan yang kau kumandangkan
Bersama lafadz suci-Nya
Yang mengalun mengiringi senja yang merangkak ke peraduannya
Aku mengingatmu ketika adzan maghrib tiba
Aku merindukanmu di tiap Adzan magrib saat senja
Aki mencintaimu dari maghrib hari ini, pun diwaktu maghrib seterusnya

Ayah.

Insomnia


mataku masih terbuka
sedang malam kian garang menebarkan pekat gelapnya
apa gerangan yang membuatku terjaga?
Aku bertanya, dan tak kutemui jawabnya
Kuarungi malamku dengan perahu kayu
Yang kian rapuh
Diterjang gelisahku,
Dan badai ketakutanku
Nanar kupandang hamparan hitam diatas sana
Tak ku temu bintang, pun bulan
Ku berlayar tanpa tau dimana ’kan kulabuhkan perahuku
Sedang malam kian larut
Kian dingin
Kian sepi
Apa gerangan yang membuatku tetap terjaga?
Ku kayuh perahuku semakin bernafsu
Arungi malam yang tak kenal kasihan
Ku kayuh saja perahuku
Agar ku lelah
Dan jatuh terlelap dalam buaian kasih sang malam

Bali, November 2007  01.09am

Kuasa Malam

Kuasa Malam


Permadani t’lah digelar dipelataran bumi beralaskan ilalang. Tidak indah, melainkan gersang. Belum lagi pelita dinyalakan, angin sudah datang padamkan semuanya. Ini saatnya malam duduk di singgasananya. Jangan ada pelita, jangan ada penerangan. Biarkan malam merangkul bumi dengan kemilau gelapnya. Biarkan tubuh-tubuh kita telanjang digerayangi dan digeliati kesepian.
Apa lagi yang bisa aku, kau, lakukan etika malam membungkam kita dalam diamnya? Kunci rapat-rapat mulutmu! Jangan ada suara, jangan ada tawa. Biarkan malam berbicara. Biarkan angin yang bersuara. Bumi t’lah sepenuhnya hitam. Semuanya nampak kelam.
Disini dingin dan sepi. Tak ku temu siapapun, tak kuraih apapun. Hanya tubuh-tubuh telanjang, berlari-lari tanpa alas kaki diatas permadani ilalang. Dibawah naungan kaki-kaki sang malam.
Apa algi yang bisa aku, kau, lakukan? Tidak! Tak ada yang bisa kita lakukan. Disini, saat ini, segalanya adalah kepunyaan malam. Karena saat ini adalah waktu milik sang malam.




Bali, 2007

Suara Hening


Aku benci suara itu
Suara hening yang begitu bising
Suara yang tak ingin ku dengar
Tak ingin ku dengar

Ku sumbat saja kudua kupingku
Agar tak lagi dapat kudengar suara
Suara hening yang begitu bising

Jangkrik mengerik
Air bergemericik
Langkah kaki berderap-derap
Akh! BERISIK!!!

Tapi hening
Kembali hening
Lebih berisik
Lebih bising

Bicaralah!
Berteriaklah!
Agar kudengar suaramu
Dan bukan suara hening bergaung dikupingku

Tertawalah!
Menangislah!
Agar kudengar suara
Suara hatiku,
Suara hatiku yang sendirian...


Bali, 16 Juni 2007   22.43pm

Cinta Semu


Dengarlah hati berbisik lirih
Demi sejumput rindu yang tersemat di kalbu
Gelisah, marah, dan gundah
Bergejolak
Membuncah
Tumpah
BAH! Persetan dengan semua ini
Pergi saja bawa semua ceritamu
Jika tawa tak lagi dapat kau sisakan
Melainkan luka yang kau tancap begitu dalam
SUMPAH! Demi hati yang t’lah kau curi
Tak ada lagi ruang yang tersisa untukmu
Bilik hatiku t’lah penuh sesak oleh kenangan palsu
Aku malu! Pada diriku, terlebih hatiku
Putihnya yang tak terjamah kini kelabu
Oleh lagu rindu yang mengalun pilu
Benarkah cinta yang kau bawa singgah dalam hidupku?
Bukannya nafsu manusiamu yang selalu menguasaimu?!
Sumpah… demi aku yang terlalu menyayangimu,
Aku masih inginkanmu disisiku...


Bali, 2006

Jejak Kepastian


Seakan tak dapat dibendung lagi
Hasrat ’tuk mencari dan terus mencari
Langkah kaki tiada tentu arah
Berpijak di Bumi yang kian goyah

Kemana lagi harus kucari?

Sedang dada kian sesak
Lelah walau hanya untuk melangkah
Sedang tak satupun jejak yang nampak
Hanya harapan yanag temani perjalananku
Dan harapan ini pula yang sellau menyiksaku

Ingin kuhentikan saja pencarian ini!
Ingin ku mengkafani semua harapan ang ku punya
Dan membiarkan angin menghempaskanku dalam kesia-siaan

Haruskah aku pulang tanpa sebuah kepastian?

Kemudian hidup lagi dalam titian penuh keragu-raguan
Dan tersiksa oleh belenggu kebimbangan?

Tiadakah sebuah jejak sebagai penunjuk jalan?

Agar aku bisa tenang
Sampai akhir penghabisan
Jejak kepastian itu..


Karangasem, 2005

I Miss You


Malam datang lagi
Bersama dingin dan sepi
Memaksa untuk menemaniku yang masih sendiri,
Tanpamu disini

Kurasa hampa
Kupeluk sepi dan menangis
Dalam diam yang terdalam
Kugapai bayangmu
Yang melintasi ruang hampa dihatiku

Kutau kau ada, namun tak ada
Kuharap kau nyata, namun tiada

Jangan kau siksa aku seperti ini
Aku hanya tak mampu jika tanpamu
Jika malam menghampiriku nanti
Datanglah,
Jangan biarkan sepi ini memelukku lagi

Kutau kau ada dalam bilik rinduku
Namun tiada dalam ruang nyataku
I miss You.. 

Ada Kamu Tak Ada


Sepi.
Bahkan diammu terdengar jelas olehku
Diam mu yang bercerita tentang sepi ku,
Tentang bisu duniaku
Fotomu yang terdiam terdengar sepi
Sekelebat bayangmu terlihat sepi
Gelak tawamu dulu, kini sepi
Sekalipun hiruk-pikuk memelukku malam ini,
Ketiadaanmu ’kan membuat hatiku selalu sepi. Ayah.