Sunday, August 23, 2015

Bu,



Aku ingat hari itu, ibu mengenakan baju berwarna biru memandangku dengan matanya yang sayu, namun saat ku balas tatapannya Ia memalingkan muka, menepis butir air yang mengintip disudut matanya.

Aku tau Ia menangis, namun Ia tak mampu membedakan apakah itu tangis sedih atau bahagianya. Begitupun aku.

Kami berdua pun menangis tanpa alasan yang pasti.
Apakah untuk menangis kami butuh alasan? Tidak. Atau,. alasan itu sebenarnya ada namun kami tak tau harus menamainya apa.

Mungkin kelak aku akan dapat menjabarkan tangisan itu dalam tulisan. Nanti, saat puteri kesayanganku hendak dinikahi orang. Nanti, saat jurang perpisahan dengan puteriku menganga curam diantara kami. Dan nanti, saat aku harus ikhlas melepas puteriku kedalam pelukan lelaki yang berjanji untuk menjaganya sampai mati dalam suka maupun duka, walaupun aku masih merasa tak akan ada yang dapat mencintai puteriku dengan segala kelebihan dan kekurangannya sedalam aku mencintainya.
Nanti aku akan merasakan itu semua, dan aku, begitupun kalian akan dapat memahami tangisan kami ini, tangisan ibuku..

Kami akan berpisah.. adakah yang lebih pahit dari rasanya berpisah dengan seseorang yang paling kau harapkan selalu ada dekat denganmu? Rahangku mengeras saat memikirkan ibu akan kehilangan teman memasaknya, orang yang setiap sore menemaninya duduk mengobrol sambil mendengarkan radio tuanya, dan seorang yang saat sakit tak akan mau tidur sendirian melainkan dengannya. Aku merasakan ngilu yang sangat pada ulu hatiku saat kebersamaan itu akan terhalang oleh jauhnya jarak yang membentang diantara kami.
Lalu ibu berkata padaku dengan lembut saat itu,

“nak, jika kamu telah menikah nanti.. kamu bukanlah milik ibu lagi, melainkan milik suamimu. Taati semua keinginannya selama itu masih ada dijalan yang baik, karena ridho Allah ada pada ridho suamimu. Ikuti dia kemanapun dia mengajakmu pergi dan tinggal. Meskipun kamu harus berada jauh dari ibu, pergilah dengan tetap mencintai ibu dan jangan sekalipun kamu membencinya untuk itu. Allah telah menjanjikan Surga untuk isteri yang patuh terhadap suaminya…

Saat kamu jauh nanti, sering-seringlah telepon ibumu ini nak.. ibu tau kamu akan baik-baik saja dengannya dan dengan Allah yang selalu menjagamu, namun tetap saja ibu ingin mendengar suaramu. Pergilah, dan berbahagialah anakku.. ibu telah merelakanmu, karena seberapa jauhpun raga ini berpisah, do’a ibu akan selalu memelukmu..’’

Aku pun menikah. Dan aku menangis, dengan satu alasan yang pasti… aku bahagia.

Tuesday, August 18, 2015

rumah adalah



Rumah adalah,
Ibu dan hangat peluknya.
Dan manis tes hangat buatannya
Serta rasa masakannya
Juga sorot mata lembutnya

Kadang saat rindu ini terasa begitu ngilu,
Aku ingin pulang.