Saturday, September 21, 2013

Main Ayunan, yuk!


Hidup itu kadang sesederhana bermain ayunan yang kedua talinya diikat pada dahan sebuah pohon. Kadang membawa kita melambung tinggi keatas, kadang kembali merendah kebawah. Kadang berayun dengan kencang, kadang pelan-pelan. Dan begitu seterusnya selama masih ada tenaga yang mendorong tubuh untuk tetap berayun-ayun.
Begitupun hidup. Sedih dan senang dapat kita rasakan bergantian, dengan porsi yang telah ditakar seadil-adilnya oleh Tuhan. Tidak ada orang yang seumur hidupnya bahagia terus, dan belum ada juga orang yang sejak lahir sampai matinya nelangsa terus. Pasti ada jeda. Setelah sedih yang panjang, pasti ada bahagia setelahnya. Pun demikian sebaliknya. Yah, ibarat spasi disela kata, kita kadang butuh kesedihan disela bahagia kita, karena dengan begitu hidup jadi lebih mudah kita baca.
Dalam hal ini, Tuhan lah satu-satunya yang memiliki andil dalam mengatur porsi masing-masing bahagia dan kesedihan itu sendiri. Kapan saatnya kita terpuruk, kapan saatnya kita berjaya, semua itu telah tercatat rapi dalam kitab rahasia-Nya. Dan kita tak memiliki secuil pun jatah untuk berhak tau segala yang akan terjadi pada diri kita dimasa yang akan datang.
Yang IA inginkan hanya melihat kita terus dan terus berayun, menikmati setiap pergerakan ayunan degan hati yang ringan, dan menjaga tubuh agar tetap seimbang dan tak terhempas dari ayunan yang kita naiki. Caranya? Dengan berpegang kuat pada dua tali disisi kiri-kanan kita: yaitu dengan berpegang erat dikedua tangan-Nya, dan percaya hanya pada-Nya bahwa IA satu-satunya yang takkan membuat kita terjatuh dari ayunan, kecuali jika kita lengah, merasa terlalu kuat untuk tak berpegang pada-Nya.
Jika dipikir-pikir kembali, sepertinya Tuhan memang sengaja menciptakan kita untuk bermain-main dikehidupan ini. Menikmati masa belajar tentang kehidupan itu sendiri. IA seperti orangtua yang diam diatas sana, mengawasi, menilai, dan memutuskan siapa yang berhak mendapat hadiah dan siapa pula yang berhak menerima hukuman jika kita bersalah. IA akan duduk diam diatas sana, menyaksikan waktu mendewasakan kita dengan sendirinya. Dan bila saatnya senja tiba, dan waktu kian menua, IA akan memanggil kita untuk pulang kembali kepangkuan-Nya, menikmati cerita tentang surga dan neraka. Dan bila beruntung kita diizinkan untuk menempati sebuah ruang dari satu diantara keduanya, untuk sementara ataupun kekal selamanya didalam sana,

Entahlah.

Thursday, September 19, 2013

Bermain Dengan Waktu


Aku masih disini, terjebak diantara jarum jam yang beku. Lama sekali saat terakhir kulihat ketiga jarum jam itu melaju dengan kecepatan peluru. Memutar waktu, menjadikan detik beranjak ke menit, menit ke hitungan jam, jam berlari menuju hari, dan tiba-tiba hari telah berganti tahun.
Dan segalanya terjadi begitu saja, serupa peluru yang meletus dari moncong pistol, waktuku pun melesat dengan terlalu tergesa. Jarum jam itu kembali ketempatnya semula, namun dengan hitungan yang tak lagi sama. Membuat segala yang terjadi ’dulu’ kini kusebut sebagai kenangan lama.

Ya, kini semua tak lagi sama. Waktu begitu kejam meninggalkanku tanpa aba-aba. Waktu selalu pergi tanpa pertanda.

Tiba-tiba aku teringat akan permainan Tuhan. Permainan roda kehidupan, begitu Ia namakan. Permainan ini adalah tentang ’melaju dan bertahan’, berbatas waktu, dan dengan hitungan tak ada kalah menang. Bagaimana mungkin ada permainan yang meniadakan kalah dan menang? Entahlah, pada bagian itu Tuhan diam saja saat kutanya. Dalam Firman-Nya ia katakan padaku, ’permainan telah dimulai, akan Ku putar rodamu, dan kau melajulah beriringan dengan waktu. Menang dan kalah tak akan Ku hitung, namun sejauh mana kau bertahan, itulah yang akan menjadi tolak ukur penilaianKu terhadapmu’.

Butuh waktu yang cukup lama untuk mengerti permainan ini. Namun seiring berjalannya waktu, satu hal yang ku sadari, bahwa aku tidak dalam posisi yang berkompetisi dengan Tuhan, melainkan sengaja Ia ciptakan aku untuk dicobakan: seberapa kuat aku bertahan, seberapa lama aku akan terus berdiri dengan keyakinan dalam hati bahwa Ia adalah satu-satunya dzat dengan segala ke-Maha-adilanNya.

Alkisah pada suatu masa, saat makna keadilanNya kian terdengar sumbang ditelinga, Tuhan mencoba pertahananku lewat kehilangan demi kehilangan. Ia tau betul apa dan siapa yang benar-benar ku jaga dengan segenap rasa. Kemudian Ia ambil mereka, aku berduka dan –Ia dalam firman-Nya-  lagi-lagi bersabda agar duka ku tak boleh terlalu lama. Saat itu yang dapat kulakukan hanya bertanya dan terus bertanya, ’Tuhan, bagaimanan bisa?’

Sementara Tuhan membiarkan tanyaku mengambang di udara tanpa jawab yang melegakan dada, waktu terus melengang dengan langkah panjang-panjang. Belum habis dukaku,  pun belum kering air mataku, namun aku tetap kukuh dalam pendirian, bahwa Ia tetap satu yang maha adil. (Sejenak tenang merasuki ku pelan-pelan).

Lalu kemudian Ia putar kembali roda mayaku.

Kali ini Ia coba lagi pertahananku dengan kehilangan lain, yang tak kalah pahit dan tak kalah duka dari sebelumnya. Saat itu aku hanya ingin waktu berkompromi denganku dengan melaju lebih cepat, agar luka yang menganga karena ketiadaan ia yang kucinta segera reda, bila perlu sembuh sempurna secepatnya. Namun waktu tak mau tau, pada saat-saat tertentu ia seakan sengaja melambat dari biasanya, sengaja membuatku putus asa, dan sekarat diantara dua waktu: hidup dan matiku.

Namun aku tetap yakin, ini juga merupakan bentuk keadilan-Nya. Dengan keyakinan yang erat terkepal dikedua telapak tanganku, diam-diam hatiku meragu. Entah bisikan darimana, aku mulai terhasut dengan sebuah keyakinan lain, bahwa ini bukan permainan, melainkan aku yang tengah dipermainkan. Ia minta aku cinta Dia, dengan percaya dan terus bertahan sembari Ia beri aku berbagai cobaan-demi-cobaan. Lalu diimana letak adil itu, Tuhan?

Tanyaku beku, menyublim menjadi udara yang kian menyesakkan dada. Sedang waktu terus melaju, sekali lagi memutar roda kehidupan yang tengah ku tunggangi entah sampai kapan dan dimana akhirnya...

Aku telah babak belur dihantam kenyataan. Waktuku habis dalam sebuah penantian akan kebahagiaan. Karena dalam hematku, permainan roda ini tentu takkan selamanya membuatku terus berada dibawah. Suatu saat nanti roda ini akan memutar lagi, dan membuatku berada diatas. Aku mengartikannya sebagai bentuk bahagia setelah sekian duka ku rasa. Ya, aku terus menanti waktu memutar lagi rodaku.

Namun Tuhan berkehendak lain. Jauh sebelum rodaku kembali membawaku berada diatas, pada suatu malam yang tenang aku menangis dalam tidur yang panjang. sebuah kesadaran yang membuat mataku basah, bahwa bukan bahagia yang sebenarnya ada diujung segala kepahitan ini, (sedang bentuk bahagia itu sendiri masih abstrak tak terjangkau imaji). Ini semua tentang perjalanan. Tentang berputar layaknya roda kehidupan yang sengaja Ia ciptakan untukku. Waktu yang tak berbatas Ia maksudkan agar aku tak terpaku pada finish sehingga mengabaikan proses menuju itu.

Ya, ini semua tentang bagaimana aku bertahan selama rodaku terus melaju. Sejak awal Ia minta aku tetap percaya pada-Nya, bahwa Ia satu-satunya yang memiliki adil sempurna ditangan-Nya. Bahwa segala kepedihan ini bukan terjadi dengan sia-sia. Ku sadari, bahagiaku mewujud waktu yang terus meninggalkanku. Ia membuatku kuat, membuatku belajar tentang banyak hal. Membuatku lihai menghapus air mata dengan berbagai cara.

Dan waktu pula yang membuatku sadar, bahwa Tuhan membesarkanku dengan cara istimewa. Layaknya kedua orangtua  yang membesarkanku dengan penuh cinta, begitupun Dia, hanya saja dalam bentuk cinta yang berbeda.
Tuhan membuatku tak lagi manja. Ia buat aku, -lewat waktu- belajar bagaimana caranya menepis segala ragu. Bahwa ternyata, percaya pada-Nya memang satu-satunya jalan yang harus ku tempuh untuk dapat bertahan. Bahwa cinta-Nya lah satu-satunya obat yang dapat menutup luka ku dengan penuh sempurna.
Sekalipun kenangan lama bersama mereka yang telah tiada hadir kembali, dadaku tak lagi sesak oleh rasa sedih yang kian terasa pedih, melainkan menjadi motivasi agar aku selalu dapat memperbaiki diri, agar suatu saat nanti Tuhan mengizinkanku berkumpul lagi dengan mereka disana, dekat dengan pangkuan-Nya.

Tuhan, maafkan ragu-raguku..

Tuhan, maafkan semua fikiran jahatku tentangMu..

Dan Tuhan, maafkan rinduku pada mereka yang telah Kau rengkuh disana. Jangan jadikan ini sebagai bentuk dosa, karena rindu ini hanya wujud dari cinta yang Kau cipta diantara kami. Aku merasa sudah semestinya rindu ini ada, tepat setelah detik pertama mereka tak lagi ada dalam jangkau lihatku..

Hari ini, tepat setahun setelah Kau ambil dia, kakakku. Aku tau dia bahagia disana bersama-Mu, maka ku titipkan rindu ini untuknya.. pastikan Ia tau Tuhan, bahwa disini do’aku tak pernah luput atasnya.. ia selalu ada, menempati ruang teristimewa dihatiku, selamanya.

Dan Tuhan, terimakasih untuk lengan-Mu yang selalu terbuka, memaafkanku yang tak sempurna..

Sunday, September 15, 2013

White Sand Beach - Karangasem


Thanks GOD, it's Sunday! Lepas dari rutinitas yang kerap membuat saya bosan selama enam hari dalam seminggu membuat saya begitu bersemangat saat seorang sahabat mengajak saya pergi ke pantai. 

Dan tujuan kami kali ini adalah Pasir Putih, atau yang dikalangan bule dikenal dengan nama White Sand beach. 


Pasir putih terletak di Karangasem, tepatnya di desa Prasi, kurang lebih 2 jam dari Denpasar.
Posisi pantai yang agak 'tersembunyi', membuat pantai ini masih jarang dikenal oleh wisatawan asing. Namun justru hal inilah yang menjadi kelebihan pasir putih, pantainya tetap bersih, tenang, dan jauh dari hiruk pikuk keramaian seperti pantai-pantai terkenal lain di pulau Bali.

Seperti namanya, Pasir Putih memiliki pasir yang berwarna putih dan berkilauan saat diterpa sinar matahari. Diapit oleh dua bukit disisi kanan kirinya menyebabkan pantai ini agak sedikit terlihat seperti teluk, namun sama sekali tak mengurangi keindahannya. Pantai kecil ini hanya berjarak 3km dari ujung barat ke ujung timurnya, dan dibalik kedua bukit yang mengapitnya tersebut juga terdapat pantai, namun pasirnya berwarna hitam.


Saya dan teman saya, Cici, benar-benar menikmati waktu kami disana. Berangat dari rumah sekitar pukul 11 siang, kami hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di pantai cantik ini. 2 jam rasanya belum cukup untuk memuaskan keinginan kami untuk berfoto, mengabadikan moment-moment mneyenangkan saat bermain bersama.
Cici sendiri adalah sahabat saya sejak kami sama-sama masih didalam kandungan ibu masing-masing hehehe. Kami tumbuh bersama, dan walaupun kami tak bersekolah disekolah yang sama, namun persahabatan kami masih terjalin sangat baik hingga saat ini.

My bestfriend & I :)


See you later, Pasir Putih!
Saya sangat benci ketika waktu mulai tak berkompromi dengan kesenangan kami. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, tak terasa 3 jam telah kami habiskan di pantai cantik ini hanya dengan mengobrol dan berfoto berkali-kali.

Semoga untuk kedepannya semua wisatawan yang berkunjung ke pantai pasir putih, baik lokal maupun wisatawan asing, bekerja sama untuk tetap menjaga keasrian pantai pasir putih, agar tetap cantik, bersih dan tidak terlalu padat pengunjung.

Wednesday, September 11, 2013

confusion


Titik cahaya itu tiba-tiba menjadi kecil, kian mengecil, namun memanjang serupa benang metalik yang terang dikegelapan. Benakku yang sejak semula abu-abu pun kian meragu untuk semakin jauh menyeret langkah, aku membatu. Hanya ada dua kemungkinan yang akan ku temui jika ku ikuti benang cahaya itu, namun aku terlalu takut untuk memilih satu diantaranya.

Sejenak kudapati tubuhku mengecil, lalu kembali normal seperti sedia kala. Sebentar kemudian tubuhku bergetar, pun jantungku gemetar. Lalu sedetik kemudian kutemukan tenang merambat pelan-pelan dari ujung kaki hingga ubun-ubunku.
Mataku panas, kebingungan ini membuat bulir-bulir air dimataku mendidih, lalu meleleh seperti lilin yang perlahan lumer dijilat api berwarna biru kemerahan. Dan aku masih terperangkap dalam gelap.

Didepan sana, diujung cahaya memanjang ini, ada Tuhan. Aku tahu itu. Tuhan sedang menungguku dengan tenang. Kegelapan ini membuatku ingin segera berlari mendekat kepada-Nya,  namun ketakutan mencengkram kedua kakiku erat-erat, langkahku menjadi berat. Aku takut bertemu Tuhan, dan Tuhan masih menunggu, dengan sabar.

Seharusnya kebingungan ini tak perlu ada sejak awal. Dimana-mana, orang seharusnya cukup percaya pada satu-satunya cahaya yang mereka lihat ditengah gelap yang kian merapat. Lalu aku semakin bingung, kenapa aku malah bingung? Tinggal berjalan ikuti cahaya itu, atau tetap terpaku disuatu lorong tak berkesudahan ini dan betah dicumbu gelap berkali-kali, lagi dan lagi. Sejenak aku mati, mati suri. Setengah ingin pergi, setengah aku yang lain ingin tetap ada disini.

Aku tak mengerti mengapa Tuhan ingin menemuiku secepat ini? Tadinya aku sedang tidur, setelah lelah melumat hari. Lalu kutemukan gelap merayap dari sudut mataku, dan tak lama kemudian telah mendekap seluruh tubuhku. Hingga tiba-tiba titik cahaya itu muncul, mengambang beberapa senti dari keningku. Seolah berkata ’ikuti aku!’ namun aku malah didera ketakutan yang sangat untuk beranjak barang beberapa inci.

Apakah aku akan mati? Atau Tuhan punya hal lain yang ingin ditawarkan padaku? Selain mati, selain kesakitan lain yang lebih sakit, selain kegelisahan, selain apapun melainkan ketenangan yang kuharap-harap kemunculannya sejak hiruk pikuk dunia kian terdengar sumbang ditelinga. .

Haruskah aku pergi?
Atau tinggal saja disini?

Haruskah aku berlari ke pelukan terang?
Atau membiarkan gelap mencumbuku lebih dalam?

Entahlah.


Tuesday, September 10, 2013

Dialog


Rasanya ingin melakukan banyak hal mumpung masih ada bnyak waktu.
Memangnya kapan waktu nggak ada buat kamu?
nanti, saat kesibukan merenggut waktuku.
kapan?
nanti, biar waktu yang menjawabnya.
Iya, tapi kapan?
Nanti itu sebuah bilangan waktu yang tak terbilang, bisa besok, bisa tahun depan, atau kapan-kapan. Nanti itu adalah kejutan. Haruskah kujawab kapan tanpa ku tahu pastinya kapan? Aku bukan Tuhan.

-ia diam untuk beberapa saat-

Kamu harus segera sibuk. Atau paling tidak menyibukkan diri lah..
Bukankah saat ini aku tengah sibuk?
Sibuk apa?
Sibuk menanti sebuah kesibukan.
alah. Kamu seperti orang yang tak punya harapan!
Aku punya. Harapan untuk menjadi orang yang diharapkan juga merupakan sebuah harapan bukan?
Iya, tapi perlu usaha supaya kamu benar-benar menjadi seperti yang kamu harapkan.
Tidakkah kamu bertanya, seperti apa wujud aku yang aku harapkan?
Tidak perlu. Paling-paling kamu hanya ingin menjadi orang sibuk dengan kesibukan yang terlalu dibuat-buat.
Hahhaha.. Kamu terlalu memandang rendah aku. Aku sudah dibawah, untuk apa kau rendahkan aku lagi?
Bukan untuk merendahkan, hanya saja....

-ia diam lagi, 1 menit, mungkin berfikir-

...Hanya saja kamu terlalu lembek pada harapanmu itu. Kamu harus tegas dan lugas dalam membingkai mimpi. Akan menjadi apa, akan berbuat apa, akan bagaimana nantinya, harusnya kau telah menyiapkan diri untuk itu semua, dari sekarang!

Jika mimpi itu adalah definisi 'menjadi manusia yg diharapkan' versimu, anggap saja saat ini aku sedang tidur dan menunggu mimpi itu datang. Tidur adalah satu dari sekian usaha kerasku untuk dapat meneruskan mimpi yang datang sepotong demi sepotong. Tidur pula lah yang menjadi satu dari sekian caraku untuk sejenak lupa pada secercah harapan yang kadang membuatku lelah untuk berjuang.

Kamu itu picik! Sungguh sangat picik! Percuma aku mendebatmu panjang lebar!

Hahahhaa..

-akupun tetawa, kehilangan kata-kata. Bagaimanapun juga yang ia katakan memang benar. Selalu benar.-

Tak lama kemudian aku bangkit berdiri. Diapun ikut berdiri. Kami berdua saling menatap lama setelah dialog yang cukup sengit. Aku menatap dia, dia balik menatapku. Aku tak tersenyum padanya, garis bibirnya pun datar, sama sepertiku. Kami berdua berjarak beberapa senti, saling menyentuhkan jari diantara sekat selembar cermin ini.

Sekian.

g i l a


Aku merasa cukup puas menjadi kenanganmu. Tersempil kecil disebuah ruang dihati yang kini penuh sesak oleh kebahagiaan baru. Setidaknya, waktu nantinya akan membuatmu ingat lagi padaku, mungkin disaat sepi, atau saat kau rindu aku namun mati-matikan kau tepis itu.

Aku rasa tak mengapa.

Sangat tak mengapa. Daripada benar-benar tiada karena terlupa, atau sengaja kau buat dirimu lupa.

Padaku.

Yang selalu megingatmu dalam susah senangku. Sekalipun aku tak pernah menjadi seseorang, melainkan hanya sesuatu untuk kau dapatkan –karena kebetulan saat itu kau adalah seorang yang menyukai tantangan-

Tantangan itu berupa aku. Sayangnya aku terlalu lugu untuk segera menjatuhkan hati pada wajah rupawan dan otak brilian yang adalah kamu. Aku hanya untuk kau dapatkan, untuk kau miliki. Dan sejak pertama kamu telah menjadi sesorang yang ku perjuangkan, dan ku sayangi dengan sepenuh hati.

Hati ini.

Cukup luas untuk menerimamu kembali namun kau lebih memilih pergi. Bagimu, untuk apa bersama dengan sesuatu jika ada seseorang lain yang lebih layak untuk dicintai?

Cinta ini.

Adalah cinta yang cukup jahat untuk memeras air dari kedua kelopak mataku.

Mataku ini.

Telah terbiasa menatapmu lama, dan kini harus maklum dengan ketiadaan yang sakitnya selalu terasa sama.

Samasekali tak mengapa.

Cinta memang begini, terkadang gila. 

Friday, September 6, 2013

Aquatic


Mungkin karena aku adalah makhluk aquatic, yang setiap pergerakan air selalu turut membuatku larut, mencair.
Aku selalu menyukai hujan yang turun selepas subuh, hingga pagi pukul delapan. Jika mungkin orang lain merasa tidurnya menjadi lebih lelap karena hujan, aku lebih memilih untuk duduk di tepi jendela, memandang lurus kearah kaca yang buram, menembus keluar.. menari bersama hujan. Menikmati dingin yang menelusup kedalam tiap pori-pori, membiarkan keheningan memelukku diam-diam, dan membuka telinga hanya untuk gemericik air yang berjatuhan..

Karena aku begitu aquatic, yang bahkan suara sungai dapat membuatku betah duduk berlama-lama ditepinya. Seorang diri saja, khusuk mengakrabkan diri pada arus yang terus mengalir kesatu arah, selalu ketempat yang lebih rendah. Kepada arus sungai yang tak pernah bicara itu aku dapat bercerita tentang apa saja. Apa saja yang ada di kepala.

Ceritaku takkan membuat sungai menjadi keruh, karena setiap cerita yang meruah dari lubuk hatiku akan selalu terbawa bersama arusnya, terbawa sampai ke muara terakhirnya, berakhir di pantai untuk kemudian menguap bersama mendung. Esok pagi ku nantikan lagi ia turun berupa hujan. Itulah saat aku berkesempatan mendengar ceritaku sendiri dari sudut pandang oranglain. Terdengar lucu kadang, namun demikianlah adanya.

Aku begitu mencintai air, bahkan air laut yang asin itu. Pantai selalu menjadi tempat kedua setelah sungai yang ku tuju saat aku ingin sendirian. Sejenak ingin melarikan diri dari keramaian yang memekakkan telinga. Pantai membuatku damai. Yang sepi, yang terdengar hanya pasir yang berbisik, yang terlihat hanya daun kelapa yang bergoyang-goyang,... dan beberapa kepiting kecil yang berjalan kesamping.

Dan pagi ini, adalah pagi kesekian yang begitu aku sukai. Hujan turun sejak subuh mengetuk daun jendelaku. Aku terbangun dengan perasaan terceraduk, namun cukup tenang untuk mendengar ceritaku sendiri dari sang hujan.

Dan entah kenapa, cerita ini belum membuatku bosan. Cerita tentang sebuah kenangan yang erat melekat dalam ingatan. Tentang beberapa tempat, dan seseorang yang kerap kuajak pergi bersama kesana. Seperti hujan pagi ini yang kian menyuburkan rindu yang telah sekian lama ku kubur bersama keinginan untuk menepisnya, namun ia malah semakin tumbuh meninggi dari hari kehari. Menancapkan akarnya kuat-kuat di dasar hati, dan selalu berhasil mebuatku bungkam, diam untuk beberapa saat.

Mungkin karena aku adalah makhluk aquatic yang cinta pada air, tak ada bantahan sedikitpun dariku saat ia mengajakku larut bersamanya, dan mencair bersama segala cerita yang ia bawa...

Falling In Love At A Coffee Shop
-Landon Pigg-
I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the paths that your eyes wander down
I want to come too

I think that possibly, maybe I'm falling for you

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew
I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew

I think that possibly, maybe I'm falling for you
Yes there's a chance that I've fallen quite hard over you.
I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shining too

Because oh because
I've fallen quite hard over you

If I didn't know you, I'd rather not know
If I couldn't have you, I'd rather be alone

I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while I never knew
I never knew just what it was about this old coffee shop
I love so much
All of the while, I never knew

All of the while, all of the while,
it was you


Thursday, September 5, 2013

home sweet home

Sore hari selalu menjadi waktu terfavorit saya setiap harinya. Sepulang dari beraktifitas diluar rumah seharian, saya selalu meluangkan waktu setengah jam sambil menanti datangnya maghrib sekedar duduk-duduk didepan rumah sembari mencecap cangkir yang sarat akan teh beraroma melati yang dicampur dengan gula dan sesendok madu. Kadang sesekali sambil mengobrol dengan tetangga yang baru pulang dari sawah dan kebetulan lewat didepan rumah saya. Membahas hal yang tak begitu penting, namun terasa hangat, sehangat teh yang sangat saya sukai ini.

Saya tinggal disebuah Kabupaten bernama Karangasem yang terletak di bagian timur pulau Bali. Diapit oleh pantai dan pegunungan membuat udara dirumah saya menjadi sangat dingin dipagi dan malam hari, namun panas terik disiang hari.

Tepat di depan rumah saya, terdapat sawah yang terangkai petak demi petak sampai di kaki gunung. Ohya, Gunung yang terlihat jelas dari depan rumah saya bernama gunung Agung. Mungkin karena ia menjadi satu-satunya Gunung tertinggi di bali maka ia dinamakan Gunung Agung (Agung dapat diartikan maha tinggi).

Di pagi hari, sekitar pukul 06.00 pagi, Gunung Agung akan terlihat sangat cantik namun gagah berdiri diantara hamparan sawah yang berbentuk terasering, seperti tumpukan kue tart yang disusun sedemikian rupa, dan Gunung Agung menjadi puncak tertinggi dari tumpukan keindahan tersebut, sangat apik.

Dan pada saat senja seperti ini, mega berwarna orange cerah mengambang diatas langit, mencipta siluet gunung agung yang berwarna hitam, tampak kokoh dari kejauhan, namun sekaligus menentramkan. Seperti mercusuar yang tegak berdiri, menjadi penunjuk arah jalan pulang. Begitulah, dimanapun saya berada, saya selalu merindukan saat-saat melihat gunung agung tertutup mega, berwarna orange sepenuhnya dan kemudian menjadi hitam beberapa saat setelahnya.

Seperti fase kehidupan, senja seperti ini selalu mengingatkan saya pada waktu yang akan selalu bergulir. Saya yang muda nantinya akan menjadi tua. Dan suatu saat nanti saya pasti akan mati meninggalkan segala warna kehidupan untuk beranjak pada kehidupan setelahnya yang belum saya ketahui seperti apa wujudnya, seperti apa warnanya. Mungkinkah hitam seperti malam? ataukah berwarna lebih cerah seperti jingga yang merekah? entahlah..

Senja selalu menjadi rumah yang paling nyaman untuk melepas penat. Kadang ia seperti ayah yang sudah terlihat tua, namun masih cukup kuat untuk membuat saya merasa aman dan nyaman berada di dekatnya.

Senja seperti inilah, yang membuat saya selalu ingin pulang kerumah. Duduk seorang diri menyaksikan sore yang ditelan kaki-kaki gunung agung, menikmati secangkir teh beraroma melati, dan menyesakkan paru-paru dengan udara segar pegunungan. Terasa damai, terasa sangat damai sekali.
Suatu saat nanti, bila takdir mengharuskan saya untuk jauh dari rumah ini, saya masih akan tetap pulang ketempat ini, ke kota kecil ini. Karena disinilah satu-satunya tempat terdekat untuk melihat dan bercakap dengan gunung Agung, lebih-lebih disaat senja seperti ini. Disinilah rumah saya, dan disinilah tempat saya kembai nanti.

Kado Terindah


Dua puluh tiga tahun yang lalu, pada tahun 1990 di bulan Mei ayah dan ibu saya lagi-lagi mendapat kado terindah dari Tuhan. Adalah berupa bayi mungil nan lucu juga menggemaskan yang kebetulan merupakan saya sendiri yang kala itu lahir kedunia hehehe.. Saya terlahir dengan sambutan hangat dari kedua orang tua beserta enam kakak saya yang lainnya. Dengan lahirnya saya, maka secara resmi ayah dan ibu memiliki tujuh orang putra dan putri, dan saya adalah bungsu yang beruntung karena terlahir diantara keluarga hebat ini.
Inaz, begitulah mereka memanggil saya. Nama kecil yang mulai akrab ditelinga sejak pertama kali saya dapat mendengar dengan jelas. Sebuah nama yang diambil dari nama Ayah, yaitu Nazaruddin, sedangkan nama saya sendiri adalah Nazria. Untuk lengkapnya kalian bisa lihat KTP saya nanti..hahhaha
Menjadi bungsu bukan berarti saya tumbuh dengan berlimpah keistimewaan dari keluarga saya, tidak. Kami semua diperlakukan sama. Rata. Adil seadil-adilnya. Baik sulung, maupun kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan saya sendiri tumbuh dibawah didikan keras dari Ayah. Beruntung, sikap keras ayah diimbangi oleh kelemah-lembutan ibu yang menentramkan. Namun jangan salah, bila Ibu sedang sangat marah, Ibu bisa jauh lebih menyeramkan daripada ayah. Dan saya, adalah anak yang paling takut bila ibu sedang marah.
Pernah, suatu hari saya kecil yang penasaran dengan cara ayam bertelur, dengan isengnya memasukkan secara paksa sebuah telur kedalam lubang anus induk ayam yang sedang tidur hingga telur tersebut pecah dan cangkangnya (mungkin) melukai pantat ayam tersebut. Terang saja, induk ayam tak bersalah itu pun seketika murka dan mengejar saya kemanapun saya berlari. Ibu yang melihat tragedi itu bukannya membela saya dan memarahi ayam jahat tersebut, malah memarahi saya habis-habisan karena kurang kerjaan mengusik ketenangan induk ayam yang memang menjadi ganas pasca bertelur itu. Saya pun menangis. Dan induk ayam tersebut terlihat sangat dendam pada saya. Sejak saat itu hubungan saya dan ayam yang semula baik tiba-tiba menjadi renggang. Tiap saat kami bertemu, ayam tersebut seketika menjadi kalap kesetanan dan berlari mengejar-ngejar saya lagi. Dan saya pun menangis lagi.
Kalau saya pikir-pikir, saat itu ibu marah besar hanya karena Ia takut terjadi apa-apa pada saya. Bayangkan saja, tubuh saya yang montok kecil dan hanya mengenakan selembar celana dalam bergambar hello kitty harus berlarian kesana-kemari dikejar induk ayam yang begitu murka, yang dengan penuh nafsu berusaha mematuk bokong saya habis-habisan saat itu. Jelas saja ibu khawatir. Dan sejak saat itu, saya tidak pernah mau dekat-dekat lagi dengan ayam. Saya trauma... pada ayam, dan pada raut marah ibu.
Beda lagi dengan kedua abang saya. Di usia belasan, adalah hal yang wajar bagi sesama saudara kandung, terlebih sesama lelaki berdebat hingga berantem untuk hal-hal yang tidak penting. Ayah yang pendiam sangat jarang marah-marah. Biasanya, cukup dengan diamnya tersebut kami mengerti kalau ayah tidak suka dengan apa yang kami lakukan. Namun kali itu agaknya menjadi siang yang naas bagi kedua abang saya.
Hanya karena meributkan hal kecil, kedua abang saya tersebut berkelahi dengan sengit dihalaman rumah. Saling tonjok, saling tendang, cakar dan semua ilmu karate terpendam mereka keluarkan satu persatu. Saat itu ibu tidak berada dirumah, hanya ada saya dan seorang kakak perempuan saya yang saat itu berusia 12 tahun. Dan yang kami lakukan adalah menonton, sembari sesekali menyemangati salah-satu yang terkuat diantara mereka. Sampai akhirnya Ayah datang dan mengubah alur pertandingan sengit itu dengan cepat.
Tanpa banyak bicara, ayah turut menyaksikan perlkelahian tersebut. Saya dan kakak perempuan saya yang sedari tadi berteriak-teriak menyemangati pun mendadak diam. Beberapa menit berlalu, kedua abang saya yang bandel tersebut pun akhirnya menyadari kehadiran ayah. Dengan raut wajah yang mendadak pucat, seketika mereka berangkulan, akrab, dan terlihat awkward. Kata ayah, ’kenapa berhenti? Ayo teruskan! Atau mau diteruskan di lapangan?’ kedua abang saya pun jatuh dalam diam yang semakin dalam. Kepala mereka tertunduk, dan terlihat salah seorang dari mereka meneteskan air mata. Dan beberapa saat kemudian tangis mereka berdua pun pecah, ’maafin kami, Yah............’ kata mereka disela raung tangis yang kian menjadi-jadi karena kediaman ayah yang saat itu marah. Scene selanjutnya dari rangkaian kejadian itu adalah mereka berdua dibebankan tugas untuk membersihkan kandang sapi disamping rumah kami, selama seminggu penuh dan tanpa upah. Begitulah, setelah efek jera yang diberikan ayah pada kedua abang saya itu, mereka berdua tidah pernah ribut lagi, setidaknya tidak bila ada ayah atau ibu dirumah. Kalaupun harus berkelahi, mereka berdua lebih memilih untuk melakukannya diam-diam di kebun, dan kembali pulang dengan senyum merekah seolah tak pernah terjadi apa-apa. hahhaha
Namun dibalik sikap kerasnya itu, sebenarnya Ayah kami adalah sosok yang sangat menyayangi kami anak-anaknya. Tidak dengan materi yang berlimpah, melainkan dengan didikan keras yang sampai saat ini sangat kami syukuri. Ayah tidak pernah begitu saja mengabulkan permintaan kanak-kanak kami. Harus dengan melakukan sebuah usaha, entah itu dengan menimba air di sumur, menyapu halaman, atau memberi makan dua ekor sapi dan beberapa ekor kambing yang Ia pelihara barulah kami mendapatkan apa yang kami inginkan.
Ayah tak memberikan apapun dengan cuma-cuma, bukan karena Ia pelit, tidak. Melainkan karena Ayah ingin kami tumbuh dengan menghargai rezeki yang kami dapatkan. Ia ingin kami belajar berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang kami mau. Dan begitulah, hingga saat ini, didikan ayah tersebut sangat kuat melekat dalam keseharian kami. Bahwa tidak semua keinginan harus tercapai, kecuali jika kita benar-benar mengusahakannya. Sembari berusaha, do’a pun tak boleh terputus dari tiap hela nafas kami. Begitu kata ayah.
Soal ibadah pun demikian. Sejak kecil ayah dan ibu begitu keras dan tak ada tawar menawar untuk urusan ibadah. Begitu bedug terdengar dari mushalla yang berada di dekat rumah kami, kami semua sudah harus berangkat untuk shalat berjamaah di mushalla tersebut. Jika kebetulan pada waktu shalat salah satu dari kami berada diluar rumah, maka shalat boleh kami lakukan di mushalla kecil milik kami sendiri sesampainya kami dirumah. Dengan cara itu, ayah dan ibu mengajarkan kami tentang bagaimana mengahargai waktu, dan bagaimana cara mendisiplinkan diri sendiri. Dan sampai sekarang, tidak hanya dalam hal shalat, semoga saja dalam hal lain kami semua dapat menerapkan disiplin tersebut sesuai dengan apa yang orang tua kami ajarkan.
Tak henti-hentinya, tiap saat ada kesempatan untuk bicara, yang selalu mereka tekankan pada kami adalah hakikat hidup kami sebagai manusia yang sejatinya adalah makhluk Allah yang takkan dapat melakukan apapun tanpa izin-Nya. Dalam tiap hela nafas kami, kesadaran tentang adanya Allah SWT yang selalu mengawasi gerak-gerik kami membuat kami sangat takut untuk berbuat curang secara diam-diam. Saya ingat dulu ketika saya diam-diam makan permen padahal ibu melarang keras saya memakan manisan aneka rasa tersebut karena batuk, abang saya yang ketiga berkata 'Biarin ibu nggak tau, tapi Allah liat kalo kamu nggak nurut kata ibu. dosa loh! sini bagi permennya..' entahlah, itu merupakan situasi yang agak sulit untuk didefinisikan dalam kategori mengingatkan, atau sekedar bentuk intimidasi pada saya yang tak tahu apa-apa dan sangat takut dengan 'mata' tuhan yang selalu mengawasi tingkah laku saya saat itu, dan bahkan sampai detik ini. 
Sekarang saya bukanlah anak kecil lagi. Semua saudara saya yang lain pun sudah berumah tangga masing-masing, kecuali saya sendiri yang masih single hahhaha. 
Beruntung saya masih berkesempatan sepenuhnya untuk merawat kedua orang tua saya selagi saya masih mampu. Namun takdir berkata lain, Ayah saya yang pendiam namun sangat penyayang itu telah lebih dulu berpulang meninggalkan ibu, saya dan saudara-saudara lainnya. Duka yang mendalam itu masih kental terasa, walaupun detik ini, meninggalnya ayah telah berlalu empat tahun lamanya. Kemudian satu tahun lalu, pada tanggal 19 September abang ketiga saya pun berpulang kerumah-Nya karena penyakit gagal ginjal yang telah lama di deritanya. Duka kembali menyelimuti keluarga kami. Namun kenangan tentang mereka akan selalu hidup dalam hati kami masing-masing, terucap ataupun tidak, cinta kami kepada mereka masih sama besarnya.. bahkan lebih banyak dari hari-kehari. Dan semua yang Ayah ajarkan kepada kami dulu akan tetap kekal sampai kapanpun, sampai batas usia kami hidup di dunia. Dan akan terus menerus kami ajarkan pada anak-anak kami kelak. 
Tak terasa sudah dua puluh tiga tahun saya hidup. Kehidupan dewasa yang pasang surut kadang membuat saya begitu rindu untuk dapat kembali ke masa kanak-kanak. Masa yang penuh dengan hal-hal baru. Belajar memasak dengan kakak perempuan saya, sekaligus belajar memanjat pohon mangga dengan abang-abang saya. Namun, tiap saat saya melihat jauh kedalam mata ibu, seketika saya hunus kuat-kuat segala keinginan untuk kembali kemasa yang sudah-sudah. Mata ibu hanya terus bercerita sesuai alur waktu yang mengalir kedepan, bukan lagi menentang arus untuk ngotot kembali ke belakang.
Jika nanti pada saatnya tiba saya melahirkan putra dan putri dari rahim saya sendiri, saya tak akan segan bercerita tentang masa kecil saya yang terlahir sebagai bungsu dari rahim ibu terhebat, ayah terkuat, dan saudara-saudara super yang pernah saya miliki. Jika pada saat itu tiba, Tuhan, izinkan ibu saya tetap sehat untuk berada disisi kanan saya dan menyaksikan sendiri bagaimana saya menikah dan bermimpi mengikuti jejaknya untuk menjadi seorang ibu sepertinya. Semoga.
Terimakasih Tuhan, untuk sebuah keluarga sederhana ini. Mungkin lahirnya kami adalah kado terindah bagi kedua orang tua kami, namun jauh di lubuk hati kami, kami lah yang merasa mendapatkan kado terindah karena memiliki kedua orang tua seperti mereka. Terimakasih Ya Allah.. sehatkanlah mereka selalu, sayangilah mereka selalu melebihi kasih sayang yang tak habis-habis mereka curahkan untuk kami, anak-anak yang selalu mencintai mereka sepanjang masa. Aamiin.


*nb: sebenarnya saya ingin menyertakan beberapa foto, tapi sayang foto masa kecil kami tak banyak yang tersisa karena peristiwa kebakaran yang melalap habis rumah kami tahun 2000 lalu :(

Titik Dua Kurung Buka


Bahkan ketika bulan dimatamu melelehkan darah, aku tak jua terkesan dengan kesedihan barumu itu
Sedihmu itu tak lain adalah kesedihan lama yang bersembunyi, dan muncul kembali sewaktu-waktu, merenggut bahagiamu yang mulai jarang nampak olehku

Sedihmu telah tua
Sedihmu terlalu sering kulihat, hingga ia tak lagi asing
Ia seperti saudara kandung yang tiap saat ku jumpai di rumah
Hingga aku terbiasa melihatnya ada padamu, merenggut ceria diwajahmu itu

Aku mengenal kesedihan itu sebaik aku mengenalmu
Aku bahkan mulai akrab dengan kesedihan yang kerap ku usahakan ketiadaannya,
Seperti pintamu

Kali ini apa lagi yang membuatmu sedih, duhai puan?
Katakanlah, aku mendengarkanmu seperti hari yang sudah-sudah
Bicaralah, biarkan kesedihan itu bebas mengudara bersama tiap kata yang telah sedari tadi kau pendam itu
Aku disini untuk mendengar segala sampah hatimu yang nyaris membusuk itu
Barangkali dengan berbicara hatimu menjadi sedikit lebih lega,
Dan setidaknya, untuk kali ini dapat kulihat bahagia kembali  berkerlip dimatamu, dan bahkan bertahan lebih lama dari biasanya

Kau cantik, juga rupawan.. ..
Dunia tak akan menyakitimu selamanya
Dan kesedihan itu nantinya akan lelah memelukmu lebih lama
Ia terlalu tua untuk jiwa muda mu yang seharusnya bahagia
Sedihmu itu terlalu egois untuk pribadimu yang selalu berlapang dada

Kau cantik,
Bukankah kecantikanmu itu berhak diutarakan lewat sebuah senyuman?

Tersenyumlah pada kesedihan itu
Tersenyumlah pada air mata itu, dan selalu katakan kalau kau baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja!
Bukankah hidup akan terasa lebih mudah bila kau, aku, kita.. bahagia?

Wednesday, September 4, 2013

Mata Itu...


Aku selalu lupa caranya bersedih, saat kulihat kedua mata itu.. kedua mata yang memancarkan keteduhan dan kelapangan hati yang sangat itu. Kesedihan terasa seperti selintas angin yang hanya sekedar lewat, meremangkan tengkuk beberapa saat dan kemudian pergi berlalu begitu saja, tiap saat kulihat mata itu.

Kedua mata itu, mata yang selalu jernih.. Mata yang membuatku leluasa menelusup kedalamnya, membaca sejuta rahasia yang tak pernah sekalipun terungkap dalam rangkai kata demi kata.

Mata itu, mata yang bercerita tentang kepedihan yang sudah-sudah, kepedihan yang kerap membasahi keduanya ditiap malam saat kantuk tak lagi ia rasa..

Mata itu, mata yang selalu menatapku dengan penuh kasih, penuh rasa sayang.. Mata yang membuatku merasa aman dan nyaman, meskipun hidup kadang terlihat begitu gelap dan menakutkan untuk kulalui seorang diri.

Mata itu selalu siap meneduhkan hatiku, mata yang seolah berkata.. 'anakku yang hebat, tak ada alasan untuk menjadi tak kuat.. Tetaplah bersemangat. Ibu ada disini, melihatmu dari belakang dan selalu menyertakan do'a ditiap jengkal langkahmu, saat kau dekat dipangkuan ibu.. Maupun saat kau berada jauh dari jarak pandang ibu. Ibu selalu ada untukmu nak..'

Dan pemilik kedua mata ajaib itupun tak pernah ingkar janji. Ia benar-benar selalu ada untukku.. diwaktu sehat dan sakitku, diwaktu bahagia dan sedihku, disaat ramai pun saat sendiriku..

Pemilik mata yang teduh itu selalu menyertakan do'a-do'anya untuk separuh nafas yang kadang terasa berat untuk ku hela. Ia benar-benar selalu ada, bahkan disaat ego kekanakanku dengan sengaja melukai halus perasaannya, Ia selalu ada dengan kedua lengan yang terbuka, memaafkanku..

Ia selalu ada.
Dimanapun aku berdiri, Ia selalu ada. Terasa nyata mendekapku dengan segenap cinta yang Ia punya. Ia adalah ibuku.. :)