Friday, October 16, 2015

Palangka Menguning



Foto diambil dari depan Polres Palangka

Terhitung sejak pertengahan Agustus lalu sampai hari ini asap masih mengepung disegala penjuru hingga ke sudut-sudut kota Palangka Raya. Nggak cuma diluar, kadang asap juga masuk sampai kedalam rumah sampai-sampai untuk bernapas saja rasanya sakit. Menyalakan kipas angin sepanjang waktu juga tidak banyak menolong.

Dan hari ini asap berwarna kuning kemerahan disini. Bisa dibayangkan bagaimana sesaknya kami? Dada dan mata terasa perih, tenggorokan sakit, dan kepala jadi gampang pusing. Kami rindu langit biru, kami juga rindu bernapas lega. Kalau saja paru-paru ini bisa bicara, tentu ia sudah menjerit setiap saat.

Tapi kami tetap bertahan, karena kami percaya Tuhan akan segera menyudahi bencana ini.

Hari ini saya menulis catatan ini agar saya selalu ingat untuk bersyukur. Ketika Tuhan mengkaruniai saya dengan udara bersih dan lingkungan yang aman serta nyaman, terkadang saya luput untuk sekadar mengucap kata terimakasih pada-Nya. Mungkin bencana ini adalah alarm bagi diri saya pribadi, dan semoga bagi kita semua juga, agar kita bisa lebih menghargai apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Udara bersih itu bukan hal yang sepele, disini, di kota berasap ini, udara bersih menjadi angan-angan setiap orang. Maka tidak ada salahnya kita sama-sama mengucap syukur saat ini juga untuk udara bersih yang masih bisa kalian hirup disana… Alhamdulillah..


Do’akan kami disini. Do’akan paru-paru kami kuat. Do’akan hujan lekas turun membasahi perihnya dada kami. Dan do’akan juga agar Tuhan membalas tangan-tangan jahat pembakar hutan itu agar tidak mengulangi perbuatannya lagi lain kali.

Karena kami masih manusia, yang butuh udara bersih untuk bernapas lega.






Palangka raya, 15 Oktober 2015





Thursday, October 15, 2015

Sudah siapkah saya menjadi seorang ibu?



Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya CUMA jadi ibu rumah tangga?”

Mana orangnya yang ngomong kayak gitu? Mana?! Gue beliin terang bulan lu biar kapok! I mean, hellaaaaww?? Memangnya untuk menjadi ibu rumah tangga nggak perlu sekolah, gitu? Kebalik, justru karena kamu akan jadi ibu rumah tangga, sebaiknya tuntutlah ilmu setinggi mungkin, yah.. meskipun ilmu nggak punya salah apa-apa sama kamu~

Saya memang baru saja menikah, kurang lebih baru tiga bulanan lah. Tapi saya sadar, menjadi ibu rumah tangga itu nggak gampang. Kita jadi punya tanggung jawab baru. Kalau dulunya cuma mikirin diri sendiri, sekarang ada satu orang lagi yang harus dipikirkan, yaitu pasangan kita. Mikirin besok dia mau dimasakin apa, mikirin gimana caranya untuk menciptakan suasana rumah yang nyaman, mikirin gimana caranya mengelola keuangan, dan masih banyak hal lagi yang kesemuanya itu sangat-sangat berbeda dari sewaktu kita masih single.

Itu baru mikirin suami. Lah, nanti kalau sudah punya anak? Kita bukan cuma dituntut untuk menjadi wanita strong yang bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, tapi juga dituntut untuk menjadi Ibu yang baik untuk buah hati kita. Bagaimanapun caranya! Jelas kita nggak mau kan kalau anak-anak kita akan tumbuh dengan didikan yang ‘kurang’ dari orangtuanya? Disinilah orangtua, terutama kita para wanita dituntut untuk menjadi wanita yang pintar, mau tidak mau, suka tidak suka, it’s a must. 

Semua orang tentu ingin melakukan yang terbaik untuk keluarganya. Terutama untuk buah hati tercinta. Begitupun saya. Dalam masa-masa penantian seorang buah hati seperti sekarang ini, saya sering merasa nervous bukan main. Disatu sisi ada rasa penasaran ingin segera menimang bayi, merawat dan membesarkannya. Tapi disisi lain saya juga merasa takut, takut kalau belum bisa menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak saya nanti.

Banyak pertanyaan yang terlintas dalam kepala, apakah saya sudah benar-benar siap? Apakah sudah cukup bekal yang saya punya untuk merawat bayi yang akan Tuhan titipkan pada saya? Dan apakah kondisi tubuh saya telah benar-benar sehat untuk menjadi tempat tumbuh dan berkembang calon bayi saya nantinya selama kurang lebih Sembilan bulan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang benar-benar membuat saya gugup.

Tapi kemudian ada satu hal yang membuat saya sadar. Mungkin ini cara Tuhan agar saya mau untuk terus dan terus belajar tanpa henti tentang apapun, kapanpun dan dimanapun. Saya memang tidak diharuskan untuk menjadi wanita yang jenius, tapi setidaknya saya belajar untuk membekali diri sendiri agar saya benar-benar siap jika sudah sampai waktunya untuk tuhan menitipkan amanah-Nya pada saya dan suami.  And it’s a lifetime commitment to learning.


Toh, tidak ada ruginya belajar terus kan? 

Memang belajarnya belajar apa sih? Ya banyak. Belajar memasak, belajar ilmu agama lebih banyak lagi terutama mengingat kembali pelajaran mengaji dari hal yang paling dasar, belajar cara merawat dan mendidik anak, belajar tentang kesehatan, belajar apa saja. Tidak ada batasan untuk seseorang untuk belajar apa yang disukainya.

Kalau semasa sekolah kita belajar untuk menghadapi ujian, esok hari kita akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari buah hati kita. bayangkan betapa berbahayanya jika dalam pertanyaan mereka itu kita memberikan jawaban yang kurang tepat. Hal itu sama saja dengan menanamkan konsep yang salah pada anak sejak dini, dan hal itu akan terus diingatnya sampai dewasa nanti. Karena dalam dunia anak-anak, apa yang dikatakan orangtua sudah pasti benar, dan itu mutlak.

Tulisan ini saya buat karena merasa tergelitik oleh pertanyaan dari seseorang yang saya tuliskan diawal tadi. Saya hanya merasa perlu untuk menuliskannya, karena siapa tau, saya mungkin akan menemukan titik jenuh dalam proses belajar saya ini. saya hanya ingin menjadikan tulisan ini sebagai jejak agar saya mengingat kembali, kearah mana kaki saya akan melangkah.

Dan untuk semua wanita di dunia ini, kuatlah. Naikkan kualitas diri kita dengan terus belajar. Karena menjadi pintar itu jauh terlihat lebih seksi daripada riasan dan pernak-pernik yang kita gunakan. Explore keahlian kita, gali lebih dalam lagi semua ilmu yang kita butuhkan sampai keakarnya, dan mari kita sama-sama berjuang melawan kebodohan pola pikir mereka yang memandang ‘ibu rumah tangga’ dengan sebelah mata.

Karena rumah adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita, dan seorang ibu adalah pilar terpenting dalam menopang proses tumbuh kembang mereka. Semoga Tuhan mengkaruniai kita dengan keturunan yang sholeh sholeha, dan berbakti bagi keluarga, nusa dan bangsanya kelak. Aamiin.

 yah, kurang lebih mungkin seperti itu. Silahkan ambil benarnya dan salahnya dibuang jauh-jauh, karena saya juga masih belajar.. kalau ada yang bersedia memberi kritik atau ingin menambahi, saya akan sangat berterimakasih. 
sampai berjumpa lagi dalam tulisan saya selanjutnya! ;)

Friday, October 9, 2015

The (best) Book I never Wrote



Tiap saat berhadapan dengan kertas kosong yang masih putih bersih, saya sadar kalau membangun dunia itu tidak semudah meludah. Bukan dunia beserta isinya, tapi dunia khayal saya sendiri. Kalau kata pepatah China, perjalanan sejauh 1000 mil harus dimulai dengan langkah pertama. Nah, masalahnya disini saya selalu kesulitan untuk memulai langkah pertama tersebut.

Saat ini saya dalam proses menulis sebuah novel. Dan jujur saja, selama hampir dua bulan ini proses tersebut masih saja stuck di prosentase terkecil, yaitu sebanyak 2% saja. Ide sudah ada, tema pun sudah terpikirkan sejak jauh-jauh hari. Tokoh? Tentu saja itu hal pertama yang terpikir sejak awal saya berniat untuk menulis novel ini. Begitupun dengan syarat-syarat penulisan novel lainnya, hampir semuanya sudah saya lengkapi, kecuali satu hal saja: saya bingung mau mulai bercerita dari mana!

Tapi biar bagaimanapun juga, saya sangat menikmati setiap proses ini. Keinginan untuk merealisasikan khayalan saya dalam sebuah novel telah memancing semangat saya untuk belajar lebih dan lebih banyak lagi. Setiap berhasil mencatat hal baru, saya merasa saya harus menemukan lebih banyak lagi. 

Mulai dari melakukan survey sana-sini tentang setting yang akan saya pakai, sampai melakukan pendalaman internal dengan tokoh ciptaan saya sendiri. Singkatnya, walaupun saya yang menciptakan semua tokoh tersebut, tapi saya merasa saya harus lebih mengenal mereka secara pribadi. Tentu masing-masing dari mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda kan? Itulah mengapa saya belajar sangat keras untuk melihat dan mengamati karakter setiap orang yang pernah saya temui. Siapa tau ada salah-satu yang cocok untuk dipasangkan dengan tokoh ciptaan saya.

Selama proses penulisan novel ini, saya menjelma menjadi tomcat. Loncat dari satu blog, ke blog yang lain. Menyelam di satu artikel menuju entah berapa banyak artikel lain yang telah saya baca. lalu apakah saya merasa lelah? Tidak. Saya justru merasa senang, sekaligus merasa tertantang.

Anggapan bahwa saya adalah penulis yang baik seketika patah saat dalam proses ‘pencarian’ itu saya menemukan orang-orang yang dengan imajinasi brilliant mereka mampu menciptakan dunia khayal versi mereka masing-masing. Disatu sisi tentu saja saya merasa minder, namun disisi lain saya tidak bohong kalau saya merasa sangat termotivasi oleh mereka. Seandainya mereka tau, tulisan yang mereka anggap sederhana itu nyatanya telah mampu membangkitkan harapan menulis saya yang sering loyo seperti nutrijel kebanyakan air.

Baiklah. Mulai sekarang saya akan berdamai dengan diri saya sendiri dulu. Novel ini memang keras kepala, sama seperti saya. Oleh karena itu salah satu dari kami harus mau mengalah. Dan dalam hal ini saya lah yang akan mengalah, saya akan belajar lebih banyak lagi. Saya telah siap untuk merasakan jatuh, karena saya juga telah siap untuk belajar berdiri lagi. Saya juga siap untuk stuck lagi dalam proses ini, karena saya telah menyiapkan diri untuk menggali lebih dalam lagi untuk mencari apa yang seharusnya saya cari.

Saya harap blank page ini tidak lagi menjadi mantra pembeku jari-jari saya untuk kedepannya. Karena bekal untuk membangun dunia dalam kepala saya sedang saya kumpulkan satu-persatu. Dan saya yakin, suatu saat nanti kalian akan melihat, dunia seperti apa yang sedang saya perjuangkan ini.

Insha Allah.

Thursday, October 8, 2015

bohong

Aku tersenyum, dan Ia memilih untuk terjun bebas  kedalam mataku
Menyelam semakin dalam lalu berdiam didasar hati
Ia karang yang tumbuh ditempurung kepalaku,
Karat pada besi yang sulit menjadi bersih kembali
Ia merasuk dan seolah tak berusaha untuk mencari jalan kembali

Bohong jika ku katakan aku tak senang.
Bagaimana tidak?
Aku bisa membawanya kemanapun bersama ingatanku
Meletakkannya dalam saku, dekat dengan hatiku
Lalu setiap saat aku rindu, tinggal ku kenang senyumnya itu

Lalu waktu seperti membeku, namun tidak dengan air mataku
Ia meleleh diantara segala yang diam tak bergerak
Memberiku rasa hangat diantara dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang
Bohong jika ku katakan kalau aku sedang berbohong

Senyum itu adalah akar rindu yang selama ini mengakar kokoh didasar hatiku,
Yang kubawa kemanapun aku pergi
Saat aku di jalan, aku tak merasa sendirian
Saat hujan menghunjam, aku tak kedinginan
Saat aku duduk di perpustakaan yang lengang, aku merasa tenang
Saat mataku akan terpejam, ia tersenyum semakin riang,
Di kepalaku.
Hanya di kepalaku saja.