Thursday, August 28, 2014

LDR... -_-


Akhir-akhir ini ku biarkan kamu datang lebih sering ke kepalaku. Pada malam-malam panjang seperti malam ini, kau datang dengan banyak rupa dan cara. Terkadang kamu mewujud bayang, atau bayangmu sendiri menyatu dalam irama lagu yang ku dengarkan. Atau bahkan, langit-langit yang terbuat dari anyaman bambu itu menjelma seluruh kenangan –sisa ingatan yang kita ukir saat kita berkesempatan untuk bertemu pada satu waktu yang teramat jarang.

Ada yang bilang, jika kita merindukan seseorang, panjatkanlah do'a. Sebut namanya dihadapan Tuhan-Mu yang Maha Kuasa. Bukankah DIAlah Sang pemilik hati? Biarkan IA menyentuh hatinya dengan do'a-do'amu. Kelak Ia yang kau rindukan pun akan merasakannya. Apalah arti jarak dan waktu jika Tuhan berkenan atas rindu yang kita bentangkan? 

Semoga Tuhan lekas mempertemukan,

D



Beberapa tahun yang lalu, kita telah bersepakat untuk tetap bersama mengarungi derasnya arus kehidupan ini. Kau tentu ingat, saat itu kita tengah berada disebuah angkutan umum dalam perjalanan menuju sekolah. Matahari baru saja merangkak naik, dan hangat sinarnya  menelusup dicelah kaca angkutan tua langganan kita. Diakhir perbincangan singkat itu kita sama-sama berikrar untuk tak saling melepaskan genggaman tangan, terkecuali bila tangan Tuhan sendiri yang berkehendak memisahkan.

Tahun berganti. Aku yang tinggal jauh diluar kota tak lagi memiliki banyak kesempatan untuk sering bertemu denganmu. Pun kamu, yang sibuk dengan segudang kegiatan di kampusmu. Telepon dan SMS pun yang semula sering perlahan menjadi kering. Tak lagi seperti dulu, kini yang terbaca di layar ponselku hanya sapaan dari seorang yang dulu ku temui begitu sering, kini terasa begitu asing.

Tanpa ku sadari, waktu telah menggenapkan diri ditahun keenam sejak kita lulus SMA. Itu artinya, sudah begitu panjang perjalanan yang kita lalui dijalan kita sendiri-sendiri. Aku yang sibuk menggapai mimpiku, pun kamu yang larut dengan dunia barumu. Dan sekarang tiba-tiba saja aku teringat padamu lagi, Di. 

Buku harian yang dengan tanpa sengaja kujatuhkan saat merapikan buku-buku lamaku adalah buku yang penuh bertuliskan namamu dan cerita keseharian kita di sekolah itu. Mungkin Tuhan sengaja mengingatkanku tentangmu dengan cara-Nya yang unik. Setelah kubaca halaman demi halamannya, ku sadari kalau dulu kita tak sekedar dekat, persahabatan kita tak dapat didefinisikan dengan penjabaran sesederhana itu. Aku menganggapmu saudaraku, begitupun kamu padaku.

Segera ku raih ponselku dan mencari-cari namamu pada deretan kontak. Namun sayangnya nomor lama mu itu tak lagi dapat ku hubungi. Entah kapan tepatnya saat kita terakhir kalinya saling bertegur sapa lewat telepon. Dan tanpa kusadari itu benar-benar menjadi yang terakhir kudengar suaramu, tawamu dan lelucon-lelucon konyolmu itu. Setelah itu, kita seolah saling melupakan satu samalain. Tak saling menghubungi, dan perlahan tak lagi kuingat untuk menyebut namamu dalam do’a-do’aku.

Tak lagi ku sebut namamu dalam tulisan-tulisan di buku harianku. Dan tak juga ada rasa penasaran dalam hatiku tentang kabarmu. Sehatkah? Sibukkah? Aku benar-benar tak tau. Kamu terbenam jauh dibawah dunia baruku, Di. 

Perlahan, rindu yang telah begitu lama tenggelam didasar hatiku kembali menggeliat. Ku buka album foto kita semasa SMP dan SMA. Album foto bertuliskan Alya & Widi itu menyimpan begitu banyak kenangan saat kita pernah begitu dekat dulu. Ada sesak  yang perlahan melesak memenuhi rongga dadaku. Dan sesaat kemudian pandanganku mengabur, aku sadar telah terlalu lama aku melupakanmu, Di. Ku peluk album foto itu dan menangis sejadi-jadinya.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali  ku putuskan untuk berkunjung kerumahmu, Di. Tak kujumpai seorang pun disana. Biasanya pada jam segitu ibumu sedang menyapu di halaman, dan kedua adik perempuanmu sudah berangkat sekolah. Sedangkan kamu, tentu masih kerepotan menguncir rambut panjangmu yang hitam legam. Kamu ingat kan, kita terlalu sering terlambat sampai disekolah gara-gara kamu. Disepanjang jalan aku akan terus mengomeli kamu yang dengan tanpa rasa bersalah selalu tersenyum padaku sambil berjanji “besok nggak nelat lagi deeehh..

Dari tetangga sebelah rumahmu aku mendapat informasi kalau keluargamu telah pindah ke kampung halamanmu di Bandung.  Memang sejak ayahmu tiada, keadaan keluargamu tak semakin membaik. Ibumu tentu kerepotan mencari uang tambahan untuk membiayai sekolah kedua adikmu. Kalau kamu, aku tau sejak dulu kamu begitu mandiri. Pagi sampai siang kamu bersekolah seperti biasa, dan siangnya sampai sore kamu menjaga toko milik Koh Aci. Biasanya aku akan betah nongkrong di toko itu untuk menemanimu. Sukurlah Koh Aci berbaik hati memperbolehkan karyawan illegal sepertiku berada di tokonya lama-lama setiap hari.

Setelah mempertimbangkan berkali-kali, akhirnya Minggu depannya ku putuskan untuk 
berangkat ke Bandung seorang diri. Berbekal nekat dan restu dari ibu aku pun berangkat. Dari Bali ke Bandung memakan waktu kurang lebih dua hari semalam kalau ditempuh dengan menggunakan Bus malam. Tak apalah, demi menjumpaimu, Di, ketempuh perjalanan sejauh itu. Selembar kertas bertuliskan alamat rumahmu disana menjadi penyemangatku. Tak akan lama lagi kujumpai  kamu, sahabat kecilku. Kamu pasti terkejut sekali dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Membayangkannya saja aku sudah senang. Kuharap kedatanganku ini dapat sedikit membayar lamanya waktu kita tak saling mengabari.

Pagi-pagi sekali, Bus yang membawaku akhirnya sampai di terminal terakhir yang terdekat dengan rumahmu. Melalui petunjuk seorang penumpang yang duduk disebelahku, aku harus naik ojek untuk sampai pada alamat rumahmu. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di rumahmu. setelah menyerahkan beberapa lembar uang ribuan pada tukang ojek yang mengantarku, dengan langkah mantap kudekati rumah sederhanamu. Sejenak ku lirik bungkusan oleh-oleh yang telah kusiapkan untukmu, ibu, dan adik-adikmu. Aku sungguh rindu kalian!

Sesuai dengan dugaanku, ibumu sangat sangat terkejut saat melihatku berdiri didepan pintu rumahmu dengan wajah kucel dan kerudung yang tak lagi rapi. Dipeluknya aku erat-erat, Ia menangis, Di. 

Ku tatap wajah ibumu lama dan aku tersenyum padanya. Namun tangisnya semakin menjadi. Aku jadi bingung sendiri…

“Alya juga kangen Ibu.. maaf ya bu, alya jarang ngabarin. Alya baru aja lulus bu, Alhamdulillah bulan depan sudah bisa mengajar di SMA 2” ceritaku pada ibumu.

Namun ibu hanya terdiam tak menanggapiku. Air matanya masih mengalir, semakin deras.
Winda dan Wardah adik-adikmu datang bergabung dengan kami di ruang tamu. Sama seperti ibu, mereka pun memelukku sangat lama. Seperti berusaha menumpahkan kerinduan yang telah begitu tua. Ku balas pelukan mereka, lalu ku pandangi mereka satu persatu. Ah, Di.. adik-adikmu sudah besar-besar. Mereka pasti telah duduk di bangku SMA sekarang. Diusia mereka itu kita pernah begitu bahagia dulu. Iya kan, Di?

Sedari tadi tak sedikitpun kujumpai tanda-tanda keberadaanmu, Di. Bahkan setelah duduk selama kurang lebih setengah jam dan ngobrol tentang banyak hal bersama ibu dan adik-adikmu. Pikirku mungkin kamu sedang berada ditempat kerja. Karena tak satupun dari ibu dan adik-adikmu yang menyebut namamu sejak tadi, maka kuberanikan diri untuk bertanya.

“Widi pulang jam berapa ya bu biasanya?” Ibu pun terdiam. Senyum yang sempat merekah saat mendengar celotehku tadi kembali memudar. Wajahnya dengan cepat berubah muram.
  
Setelah saling memandang sesaat, akhirnya Winda membuka suara. “Kak Alya mandi dulu aja, nanti winda antar ketempat kak Widi. Dia pasti senang melihat kak Alya datang”

“Hahaha.. okedeh, aku mandi dulu. Sekalian makan, Ibu masak apa nih?” selorohku sambil berjalan kearah dapur. Sama seperti dulu, keluargamu sudah menganggapku bagian dari kalian. Aku bebas makan, mandi, berkeliaran dirumah kalian dengan leluasa. Begitupun kamu dirumahku. Ibuku pernah bilang, rasanya anak beliau nambah satu lagi sejak kamu sering kerumahku.

Setelah mandi, makan dan berdandan ala kadarnya ku hampiri winda dan Wardah yang telah menungguku di beranda. Ternyata Ibu ikut juga. Hmm.. sepertinya kali ini kamu benar-benar terkejut oleh kedatangan kami ketempat kerjamu. Sekotak Blackforest kesukaanmu telah kusiapkan dalam kantong plastik lengkap dengan lilin ber-angka 25. Walaupun ulangtahunmu telah berlalu satu minggu, aku rasa tak ada salahnya ku berikan kejutan ini untukmu. Ku harap kau mau memaafkan ku.

Tanpa bertanya apapun kuikuti langkah ibu dan adik-adikmu. Kami berjalan kaki lumayan jauh, Di. Tak jauh didepan kami, terlihat sebuah lahan pemakaman tempat ayahmu disemayamkan. Ku percepat langkahku mendahului mereka, “Alya mampir sebentar ya bu, kangen bapak!”
Ibu tersenyum saja melihat tingkahku.

Sampai di makam bapak, segera kupanjatkan do’a-do’a dank u katakana dalam hati betapa aku merindukan sosok beliau. Dulu saat kita masih kecil, almarhum ayahmu selalu membelikan oleh-oleh untukku juga. Sering juga aku digendongnya dilengan kirinya, dan kamu digendong dilengan kanannya. Namun sejak winda dan wardah lahir, tubuh kita tampaknya terlalu berat sehingga bapak tak pernah menggendong kita berdua lagi. Hahhaha

Ku pandangi Ibu, Winda, dan wardah satu persatu. Mereka nampak sedang khusuk berdo’a, entah apa. Selama beberapa saat aku ikut larut dalam nostalgia keluargamu, Di. Bisa kurasakan kerinduan yang dirasakan oleh adik-adikmu, karena aku pun sepertimu, ditinggal Ayah saat usiaku masih begitu muda untuk mengerti arti kehilangan.

Persis disebelah makam Ayahmu, kulihat sebuah makam yang nampaknya belum lama. Pada nisannya tertulis sebuah nama yang sangat ku kenal, Di. Ingatanku bekerja begitu keras saat kucoba berpikir siapa lagi yang memiliki nama itu selain kamu. Widi Lestari, Lahir tanggal 18 November 1989, wafat tanggal 25 November 2013. Itu namamu, Di! 

Bagai disambar petir, kutatap mata Ibu yang telah basah denga penuh tanda tanya. Benarkah yang kulihat itu? Tak mungkin Widi telah pergi.. rasanya sungguh sangat tak mungkin!
Ibu menangis sejadi-jadinya, begitupun Winda dan Wardah. Mereka tak sanggup berkata apa-apa. Dan siang itu, sinar matahari yang begitu terik tak sedikitpun menembus celah hatiku yang seketika muram. Aku kehilangan kata-kata, sungguh… aku tak tau harus berkata apa. Ku peluk nisanmu saat tangisku pecah. Suara adzan dzuhur yang bergema dari surau tak jauh dari makam pun terdengar ngilu dikupingku. 

Di, haruskah kau pergi secepat itu?

Ataukah aku yang datang terlambat menemuimu?

Terbata-bata Ibu bercerita tentang kamu beberapa tahun terakhir ini. Aku tak pernah sedikitpun menyangka bahwa sahabat kecilku akan menjalani kehidupan yang begitu pelik.
Selama tiga tahun belakangan ini kamu menyimpan rahasia sakitmu seorang diri. Pantas saja dulu kau sering mengeluhkan sakit di dadamu. Sesekali kau ceritakan padaku kalau kamu kadang merasa kesulitan bernapas. Ku pikir semua itu karena kamu stress dengan kegiatan kampusmu. Seperti biasanya, hanya ku sarankan kamu banyak istirahat dan kalau perlu temui dokter untuk memastikan keadaanmu. 

Terakhir kali kau telepon aku, kudengar suaramu begitu lirih. Tapi aku yang sedang sumpek dengan tugas-tugasku tak begitu memperdulikan ucapanmu. Aku lupa kamu bilang apa waktu itu, yang kuingat hanya permintaanmu agar aku segera pulang saat liburan semester nanti. Saat kutanya kenapa tiba-tiba kamu memintaku untuk cepat pulang, katamu kamu ingin main ke sekolah kita sekedar untuk bersilaturrahmi dengan guru-guru SMA kita dulu. Ada-ada saja mintamu, Di.

Seandainya saja saat itu perhatianku tak terpecah antara tugas, pacarku yang bajingan dan teleponmu, aku tentu akan mendengarkan semua ucapanmu baik-baik. Namun sayangnya, segera ku katakana aku sibuk saat kamu belum selesai bicara. Ada rasa bersalah saat teleponnya telah kamu tutup. Saat itu aku berpikir untuk meneleponmu kembali setelah segala hal yang memusingkanku dapat kuatasi satu persatu.  Tapi lama setelah hari itu, aku tak pernah meneleponmu lagi. Dan telepon itu benar-benar menjadi yang terakhir bagi kita.
Tuhan, apa yang telah kulakukan pada Widi sahabatku?

Tangisku semakin menjadi saat kuingat bagaimana ku lupakan kamu beberapa tahun paling sulit dalam hidupmu. Kata Wardah, kamu sengaja tak mengizinkan siapapun mengabarkan padaku tentang penyakitmu. Katanya, kamu takut aku terganggu. 

Pasti sakit kan, Di? Seberapa sakit? Sebelah mana yang sakit? Obatnya sudah diminum? Ahh.. harusnya pertanyaan-pertanyaan itu kutanyakan padamu tiap hari kalau saja kutau bagaimana keadaanmu. Aku tak pernah mengira kalau kanker paru-paru itu akan membawamu pulang secepat ini…

Tuhan, apakah aku masih berhak untuk meminta maafnya?
Pada akhirnya, penyesalan ini tak akan menghidupkanmu kembali. Dan tak akan dapat mengembalikan beberapa tahun terakhir saat namamu perlahan tenggelam didasar keegoisanku sendiri.

Ada banyak kata “seharusnya” yang satu persatu menusukku begitu perih di ulu hati. Seharusnya ku telepon kamu lebih sering, seharusnya kutanyakan kabarmu selalu, seharusnya kamu tak pernah hilang dari ingatanku, dan seharusnya….kamu selalu menjadi sosok yang penting dihatiku. Tapi nyatanya tak ku lakukan itu, Di..

Nyatanya kepergianmu ini benar-benar menjadi hantaman yang begitu sakit buatku. Kamu pergi begitu tiba-tiba. Atau aku yang terlambat datang menemuimu?

Dan jawabannya adalah iya. Nyatanya, semua ini bermula dari kesalahanku sendiri. aku salah karena telah mengabaikanmu demi dunia baruku. Kupikir, kamu pun tengah sibuk menyongsong mimpi-mimpimu sama sepertiku. Tapi semakin kupikir kembali, seharusnya aku tak pernah berpikiran seperti itu.

Jarak seharusnya bukanlah menjadi penghalang untuk kita tetap merasa dekat. Bagaimanapun juga, kita sebenarnya tak memiliki alasan untuk saling melupakan. Dunia baru, kesibukan baru, teman-teman baru yang perlahan semakin akrab seharusnya tak membuatku kemudian melupakanmu begitu saja. 

Nyatanya, kamu tak sekedar teman lama seperti anggapanku selama ini. Nyatanya, waktu tak akan pernah kembali lagi untuk memberiku kesempatan membayar beberapa tahun lamanya kamu hilang dari ingatanku. Atau mungkin, sebenarnya aku tak pernah melupakanmu.. hanya saja, kuanggap kau tak sepenting dulu. Setidaknya, kamu tak lagi menjadi satu-satunya teman dekatku. Maafkan aku, Di.

Keesokan harinya, setelah berpamitan pada Ibu dan adik-adikmu aku kembali pulang ke Bali. Kau tau, Di? Aku mungkin akan mati oleh rasa bersalah jika aku berada lebih lama dirumahmu. Tapi pelukan Ibu menguatkanku. Katanya, kedatanganku berarti begitu banyak baginya. Setidaknya, dengan melihatku saja kerinduan Ibu padamu dapat sedikit terobati. Begitupun Winda dan Wardah. Mereka menangis saat aku berpamitan pulang.

Hatiku seperti pecah dan tercecer disetiap langkahku yang menjauh dari rumahmu, Di. Aku benar-benar kehilanganmu. Didalam Bus yang akan membawaku pulang, ku buka halaman demi halaman buku harian yang kau tulis. Buku itu diserahkan padaku, Di. Ibu bilang, mungkin ada baiknya aku menyimpan kenang-kenangan terakhir darimu. Dan benar saja, dalam buku itu, disetiap halamannya kamu menulis tentang kita, tentang impian-impian masa kecil kita, tentang aku yang selalu kau sebut dalam setiap do’a.

Dan sekali lagi, aku merasa tengah mendengar kamu bercerita. Maafkan aku, Di.

draft

Saturday, August 23, 2014

Labbaikallah humma labbaik..



Sudah dua bulan ini wajah ibu terlihat jauh lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Sejak kepergian bapak dan bang rahman untuk selamanya, aku rasa ini pertama kalinya ibu tersenyum begitu sumringah. Pada suatu pagi yang cerah, selembar surat yang membawa kabar gembira itu jatuh ditangannya. Surat yang mengabarkan bahwa secepatnya ibu akan menjadi salah-satu tamu-Nya di Makkah pada bulan haji nanti.

Empat tahun telah berlalu dan  ibu menanti-nanti kabar bahagia ini dengan penuh harap dan hati yang cemas sembari memintal do’a ditiap ruku’ dan sujudnya, dan takbir yang lirih kudengar bergetar disepertiga malam-malamnya yang sepi. Kini, hati ibu menjadi hangat oleh jawaban yang menjadi pasti.

Tuhan, dengan cara apa lagi harus kuungkapkan besarnya syukurku pada-Mu?

Tersungkur ku dalam sujud penuh syukur
Untuk pertama kalinya sejak kematian bapak, air mata ini tak lagi berasal dari sesaknya hati yang rindu melihat kelegaan diwajah ibu… telah Kau jawab do’a-do’anya, do’a kami..
Jadikan Ibu hajja yang mabruroh ya Allah,
Lancarkan perjalanan beliau. Sehatkan raganya, ampuni segala dosa-dosanya.
Cintai Ibuku yang kini telah menua namun tak pernah renta cintanya untukku.
Panjangkan usianya hingga aku dapat membahagiakannya selama sisa umurku,
Dan bawalah Ia kembali kerumah kami seusainya bertamu dirumah-Mu, Yaa Rabb.. 

aamiin..

You don’t have to be Muslim to care about Gaza & Palestine… you Just Need to be HUMAN

Untuk mereka yang berkata “PR Negara kita masih banyak, untuk apa memikirkan perang di Negara lain?” atau yang berkata, “mengapa Palestine tak menyerah saja? Toh, tak ada gunanya lagi melawan kekuatan besar itu..”

Iya, mereka benar. Tak ada yang salah dari apa yang mereka ucapkan. Tak ada yang salah karena mereka tak turut merasakan kepedihan saat melihat manusia lain nun jauh disana porak poranda tubuhnya dihantam roket dan berondong peluru…
Tak ada yang salah saat mereka berkata demikian, karena mereka tak merasakan kehilangan sepedih kehilangan yang dirasakan saudara-saudari kami di Gaza sana. Mereka tak perlu merasakan ketakutan sewaktu-waktu rumah dan tubuh-tubuh mereka akan rubuh diratakan buldozer. Atau bayangan kematian yang mengintai disetiap desing pesawat yang lalu-lalang dilangit yang semestinya biru terang seperti langit diatas mereka.

Mungkin, mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri sehingga tak semenit pun mereka punya waktu luang untuk sekedar membayangkan, membayangkan bagaimana rasanya berdiri diatas kaki saudara-saudari kami di Gaza sana..
Ataukah mata dan hati mereka telah benar-benar tertutup untuk melihat tragedy kemanusiaan yang jelas terjadi di belahan bumi yang tak sedang mereka jejaki itu?

Tahukah mereka, di Gaza sana ada seorang Ayah yang tak sempat mencegah peluru menembus dada puterinya, Shadr, yang berusia empat tahun? Dan sesaat kemudian ketika sang Ayah hendak memeluk jasad puterinya tersebut, sekelompok anjing pelacak milik Israel telah menerkam tubuh kecil itu.. mencabiknya, dan tentara-tentara tersebut diam seolah sengaja mengokang senjata mereka ke dada gadis kecil itu hanya untuk memberi makan anjing-anjing mereka yang kelaparan…

Aku yakin mereka pun tak tahu, kalau Ayah itu hanya satu dari ribuan ayah malang lainnya yang tak sempat mengecup putera-puteri mereka sebelum bom dan hujan peluru mengoyak tubuh-tubuh mungil yang seharusnya masih berkesempatan untuk bermain lebih lama tersebut.

Tuhan… atas dasar pemikiran apa mereka dapat berkata seperti itu dengan ringan dan tanpa beban? Benarkah mereka manusia? Benarkah hati mereka telah begitu kerasnya untuk tak dapat merasakan sedikit saja kesedihan seperti yang dirasakan manusia-manusia tak berdosa di Gaza sana?
Sungguh.. tak ada peperangan yang tak menyebabkan kerugian. Dalam hal ini, baik pihak Israel maupun Palestine pastinya telah mengalami banyak kerugian dan kehilangan. Tak hanya materi, juga nyawa dari orang-orang yang mereka kasihi. Namun, penting juga bagi kita untuk mengetahui sebab muasal terjadinya peperangan ini..

Tentang siapa yang menyerang dan siapa yang diserang. Tentang siapa yang merebut tanah milik siapa. Tentang siapa yang seharusnya benar dan siapa yang seharusnya paling patut untuk dipersalahkan atas semua ini.
Benarkah mereka telah benar-benar mengetahui semua itu? Benarkah telah benar-benar mereka pahami yang sebenarnya terjadi hingga ringan mulut mereka berucap ketidak-perdulian hina seperti itu?

Baiklah.. tak mengapa jika ada sebagian dari kita yang masih berpikiran sempit seperti itu. Toh, saudara-saudari kami di Gaza sana tak butuh dikasihani.. hal yang mereka butuhkan adalah do’a dan do’a yang tulus dari kita semua. Itupun jika kita masih manusia… itupun jika kita masih memiliki sisi kemanusiaan dalam diri kita. Dan kalaupun do'a juga simpati tak mampu kita beri, semoga dengan diam dan tak berkata yang menyakitkan hati sudah lebih dari cukup yang dapat kita lakukan untuk mereka.

Semoga nurani kita tak buta untuk dapat membedakan mana yang hitam dan mana yang putih diatas kertas peperangan ini.
Mengutip kalimat dari seorang bocah Gaza, “The rockets may be above us, but THEY have forgotten  Allah is above them.

Subhanallah…  Radhitu Billahi Rabba, wabil Islaami Dina..wabi Muhammadin Nabiya wa Rosula.