Friday, March 22, 2013

Hanya Soal Waktu


Sekejap mata, waktu melaju sebelum sempat kita menyadarinya ia berlalu. Tiba-tiba hari  berganti dan menjadikan kita tua, bertambah usia..atau berkurang usia bagi sebagian orang yang mengartikannya dari sudut pandang berbeda. Toh, sama saja. Yang kita maksud tua adalah mati jua akhirnya.
Entah dimana titik mulanya, tak bermula dan sulit diterka ujungnya, begitulah cara kerja waktu.

Waktu adalah titian maya yang kita susuri. Katakan saja kita bermula dari sebuah janin, maka waktu dimulai dari saat itu, dan kematian adalah ujung yang menjadi akhir titian waktu kita di dunia. Dengan kata lain, waktu adalah hidup kita.

Setiap detik adalah sepotong nafas yang kita hela. Setiap detik adalah detak dalam dada. Setiap detik adalah wadah peristiwa yang membawa kita lebih jauh dalam menyusuri titian waktu menuju penghujung usia yang tak pasti kapan datangnya.

Sang pemilik waktu seperti diam, namun bicara lewat diamnya.  Ia bicara lewat usia kita yang menua. Lewat bumi yang Ia putar sesuka hati, menjadikannya gelap dan terang semau-Nya. Titian waktu milik-Nya tak sehalus bahasa do’a-do’a kita.  Kerikil dan jurang di kanan-kiri selalu siap menelan kejatuhan kita kapan saja. Kadang kita harus merasakan jatuh agar dapat belajar memanjat pada tebing kehidupan. Kadang kita harus merasakan terpuruk agar dapat belajar tentang ketabahan.

Hidup adalah tentang mengisi waktu yang telah disediakan untuk kita, dengan batas yang hanya IA yang tau. Mungkin kita hidup di dunia ini hanya untuk menunggu mati, membekali diri dengan sebanyak-banyaknya pelajaran agar tak mengulang kesalahan yang sama di kehidupan mendatang. Konon proses belajar kita akan dinilai kelak pada kehidupan yang lebih kekal. Kita mengenal dua nama: surga dan neraka. Sebatas imajinasi kita melihatnya. Dengan penjabaran sedemikian rupa oleh mereka yang begitu meyakini keberadaan keduanya.

Ini hanya soal waktu kita akan melihatnya, berada pada salah satunya. Entah surga atau neraka, semua ditentukan oleh proses yang kita lalui dalam meniti jalur waktu. Berapa kali kita terjatuh, berapa kali kita bangkit setelahnya atau malah semakin jatuh sesudahnya, semua akan menjadi pertimbangan nilai kita dihadapan-Nya Sang Pencipta waktu, penulis takdir yang meniupkan ruh pada janin diawal mula waktu kita.

Ini hanya soal waktu kita akan kembali ke pangkuan-Nya, seperti kala pertama kita berpindah dari rengkuhan hangatnya ke pelukan dunia dengan segala kefanaannya.

Ini hanya soal waktu...

"Waktu adalah guru
Yang mengajarkanku bahwa adanya aku kini akan menjadi ketiadaanku nanti,
Mudaku akan berubah menjadi tua ditangan sang waktu yang tak kenal kata menunggu
Lahirku yang kan berujung pada kematian pun akan terjawab oleh waktu
Waktu adalah guru
Yang membimbingku untuk memilih aku menjadi aku
Atau menjadi seorang yang terbentuk oleh sekelilingku"

a note to myself


Manusia dan masalah adalah satu koin dengan dua sisi berbeda yang tak dapat dipisahkan. Setiap manusia diciptakan dengan takdir masing-masing yang telah ditulis-Nya dengan sedemikian rupa, tanpa cela dan tanpa alpa. Sejak ruh baru ditiupkan pertama kali kedalam janin yang kelak mewujud kita (manusia), garis kehidupan telah dimulai untuk kita jalani dengan segenap kekuatan hati yang kita miliki.
Inilah titik yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya. Ketika masalah yang telah ditakar sedemikian rupa tak menjadikan kita belajar untuk menjadi lebih baik, saat itulah kita menjadi manusia yang gagal. Namun ketika sebuah masalah berhasil menjadikan kita lebih kuat untuk mendaki anak tangga yang lebih tinggi, maka saat itulah kita dikatakan berhasil dalam hidup.
Tuhan memberikan masalah kepada manusia-Nya dengan takaran yang tak mungkin melebihi kapasitas kemampuan manusia itu sendiri. Hanya saja, banyak dari kita yang terlalu cepat berputus asa, menyerah dengan takdir yang diberikan-Nya, dan cenderung terburu-buru menyalahkan DIA yang terlihat tak adil dimata keterbatasan manusia kita.
Begitulah manusia diciptakan. Dengan segenap akal yang seharusnya digunakan untuk mencari jalan keluar dalam setiap masalah, bukan malah mencari-cari celah untuk mempersalahkan keadaan.
Setiap sakit pasti ada obatnya. Setiap kegelisahan pasti ada penenangnya. Seperti kiri yang diciptakan dengan kanan, utara dan selatan, siang malam, hitam putih dan segala hal yang bersebrangan. Seperti masalah yang diciptakan beserta jalan keluarnya. Hanya saja kita harus sabar mencari, menemukan dengan lebih teliti jawaban dari segala permasalahan yang diberikan kepada kita.
Itulah tugas manusia, mencari jalan keluar dari setiap kesulitan yang dibebankan untuk menjadikan kita makhluk yang tunduk dan selalu bertambah kadar cintanya kepada Sang Pencipta yang meniupkan kehidupan kepada kita.
Bersahabatlah dengan setiap masalah. Fasihkan lidah dan hati dengan senantiasa menyebut nama-Nya setiap saat, setiap detik, dan pada tiap-tiap hela nafas kita. Jadikan masalah sebagai pagar diri agar kita tak melangkah diluar jalur kehidupan yang telah IA tetapkan. Hiasi diri dengan rasa syukur tak terperi untuk apapun yang diberikan oleh-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu mendapat cinta-Nya, dibahagiakan hati kita dunia akhirat, dan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung seperti orang sholeh terdahulu. Amin Ya Allah.. 

Tuesday, March 19, 2013

takdir tak datang tiba-tiba


Semua terjadi begitu cepat. Begitu tiba-tiba. Tiba-tiba aku berada disebuah ruangan bercat putih dengan seseorang berjas putih tengah sibuk membebat kakiku dengan perban berwarna putih. Tiba-tiba kurasakan sakit disekujur tubuh, mulai dari ujung jejari kaki sampai akar rambut yang satu-persatu terasa seperti tercerabut. Beberapa menit mataku hanya mengerjap, berusaha mengumpulkan serpih ingatan yang tercecer dalam jeda ketidak-sadaranku tadi.

”dok, pasien sudah sadar.” seorang wanita muda disebelahku berkata. Lelaki yang dipanggilnya dokter tersebut kemudian menghampiriku, memeriksa bola mataku, dan menyentuh pergelangan tanganku, memeriksa denyut kehidupan pada nadi yang tadi sempat melemah.

”kepalanya masih sakit?” Ia bertanya dengan suara lembut sembari memeriksa kepalaku.

Aku diam. Ingatanku melesat melampaui segala tiba-tiba yang baru saja aku alami. Baru beberapa saat lalu aku berada diruangan lain, menunggui ayah yang belum sadar dari koma-nya setelah beberapa hari. Baru beberapa saat lalu aku mengecup tangannya untuk pamit pulang sebentar, dan tiba-tiba sekarang aku berada diruang yang sama sepertinya, terbaring dengan perban melilit tubuhku disana-sini. Nyeri dibagian kepala, kaki, tangan, pinggang, dan punggung satu-persatu mengukuhkan serpih ingatan bahwa beberapa saat lalu aku mengalami kecelakaan.

Seingatku, aku tengah berada diboncengan kakakku yang mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Bagaimanapun juga, kami tidak sedang diburu waktu. Dibawah siang yang terik kami berdua melumat jalanan yang terlihat seperti meleleh diujung sana.
Seingatku, aku tengah asik membalas sms seorang temanku. Masih diboncengan, sesekali aku tertawa kecil menanggapi smsnya. Menikmati udara siang jalanan yang pengap. Memandang silau pepohonan yang menengadah memandang matahari. Dan tiba-tiba sebuah truk merah menyerempet motor yang  membawa kami.
Tiba-tiba, aku terlempar ketengah jalan. Jalanan yang tadinya kulihat seperti meleleh dilalap panas, ternyata begitu keras menghantam batok kepalaku. Aspal ini terasa panas saat mengoyak jeans yang ku kenakan. Dan terasa cukup panas saat menggores kulit tanganku, kakiku, bahkan mengoyak sehelai kerudung yang membalut kepalaku.
Aku berguling beberapa saat, beberapa detik yang terjadi begitu tiba-tiba. Detik berikutnya ku buka mata dengan paksa, beberapa meter didepanku terlihat truk merah yang berhenti dengan tiba-tiba. Sedetik saja kaki supir itu terlambat menginjak rem, mungkin aku telah luluh lantak dilumat roda-roda besar truk itu.  Lalu tiba-tiba segalanya terlihat gelap dimataku.

Telepon genggam milikku berdering nyaring, mengacaukan lamunanku. Nama ibu tertera disana, memanggilku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha terdengar baik-baik saja. Biar bagaimanapun juga, aku tak ingin membuat ibuku terkejut dengan berita kecelakaanku. Dengan suara yang sangat gembira Ia berkata, ”Ayah sudah sadar...dan langsung menanyakanmu. Cepat selesaikan urusan dirumah dan kembali ke rumah sakit ya.”

Dua hari berlalu, aku belum cukup mengumpulkan keberanian untuk berkata sejujurnya. Tak dapat ku bayangkan bagaimana perasaan ibuku saat mengetahui bahwa putrinya hampir saja menemui ajal dijalanan. Disaat hatinya tengah kacau balau memikirkan suaminya yang terbaring lemah disana, ku rasa takkan adil untuk membagi sakit ini lagi padanya. Maafkan aku, Ibu..

”Sepertinya ada sedikit masalah dibagian kepala yang terbentur. Mengingat benturannya cukup keras, saya tidak bisa memastikan kepalamu akan baik-baik saja untuk satu-dua tahun kedepan. Sebaiknya saya segera memindahkan kamu ke Rumah sakit pusat yang peralatan medisnya lebih memadai..” dokter berkata kepadaku sambil menyerahkan beberapa lembar kertas untuk ku tanda-tangani.

Dengan diantar ambulance dan kakak lelakiku aku dipindahkan ke rumah sakit pusat, rumah sakit dimana ayahku tengah berbaring sakit selama berhari-hari karena serangan stroke yang tiba-tiba merubuhkan tubuh kekarnya dengan sekali hantaman. Itu artinya beberapa saat lagi aku akan bertemu ibuku disana. Itu artinya ibuku akan terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba, tiba-tiba penuh luka.

Benar saja, takdir t’lah tertulis begitu rapinya. Siapa sangka aku yang pada mulanya begitu gigih menunggui ayah yang tak jua sadarkan diri pada akhirnya terbaring tepat diruangan sebelah tempat ayahku berbaring. Sekat tembok yang menghalau pandangan tak mampu menutupi kesedihan ibu yang terpahat jelas dimatanya yang lelah bergadang selama berhari-hari. Yang dapat kulakukan hanyalah menguatkan diri sebisa mungkin agar tak menambah lelah itu lagi.

Beberapa hari kemudian ayah dinyatakan sembuh, walau sebelah tubuhnya menjadi lumpuh. Ia diperbolehkan pulang oleh dokter-dokter yang merawatnya. Namun aku masih harus terbaring disana. Hati ibuku kembali terbelah dua, bingung antara harus pulang ,erawat ayahku dirumah, atau menunggui aku yang bersikeras berkata tak mengapa jika ditinggal saja.

Dengan berat hati Ibuku menitipkanku pada kakak dan beberapa kerabat yang menjagaku. Saat kulihat betapa keras usahanya menahan tangis, ku bisikkan padanya kalau aku pasti menyusulnya pulang secepat mungkin. Agar Ia tak perlu lagi bersusah membelah kekhawatirannya pada ayah dan padaku.

Dan benar saja, tekadku yang sekuat baja membuatku lebih cepat pulih dari perkiraan. Masih dengan kaki, kepala dan tangan yang terbebat perban disana-sini aku pulang ke rumah satu minggu kemudian. Begitu gembiranya sampai-sampai aku tak sanggup memejamkan mata selama diperjalanan. Sejenak aku melupakan segala kesakitanku, aku merasa tak ada yang lebih baik daripada berkumpul dengan ibu dan ayahku. Ku rasa itulah satu-satunya obat yang akan meringankan sakit disekujur tubuhku.

Aku sampai dirumah dengan disambut peluk cium oleh ibu dan kakakku. Belum ku jumpai ayah, kata ibu Ia tengah melakukan check up di Rumah Sakit terdekat di kotaku. Pikirku tak mengapa, toh sebentar lagi dapat kutemui Ia sekembalinya nanti.
Entah berapa lama aku tertidur. Tubuhku yang masih lemah tak menyadari penantianku t’lah berlalu berjam-jam. Hari beranjak gelap, ku lihat raut wajah ibu begitu gelisah. Sesekali ia berkata padaku, ”Jangan khawatir..semua akan baik-baik saja”. Apa lagi yang harus ku khawatirkan bu?

”Ayah dimana?” tanyaku pada ibu.

“Kondisinya kembali memburuk, mungkin Ayah akan dibawa ke Rumah Sakit pusat lagi..” terbata-bata ibu berkata padaku. Aku tau Ia t’lah berusaha untuk terlihat tegar didepanku. Namun kata-kata meluncur begitu saja dari bibirnya, sederas air mata yang tiba-tiba mengalir dari sudut-sudut matanya yang keriput.

Dari kejauhan ku tatap tubuh ayah yang terbaring lemah. Sudut matanya membeliak, mencari-cariku. Ku hampiri Ia perlahan. Tanpa kata, ku usap punggung tangannya. Dalam hati aku berusaha meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Lirih ku bisikkan Istighfar ditepi daun telinganya, tiga kali, dengan suara yang nyaris tak dapat kudengar oleh telingaku sendiri. Aku takut, sedikit saja aku bersuara tangis ini akan tumpah meruah diatas semua suara yang dapat ku bisikkan padanya.

Perlahan tangannya meraih ubun-ubunku, mengusapnya lembut. Masih dengan diam yang sama, diamku dan diamnya, kami bercengkrama. Lewat matanya yang mulai basah Ia berkata, entah berkata apa. Hatiku terlalu berkabut untuk dapat mencerna isyarat yang coba Ia sampaikan kepadaku. Kesedihan ini datang terlalu tiba-tiba, entah mengapa. Seperti takkan ku jumpai ayahku lagi esok pagi. Tidak. Ku buang jauh-jauh pikiranku itu. Semua akan baik-baik saja.

Ambulance membawanya pergi. Kembali jarak membentangkan tangannya diantara tubuh-tubuh lemah kami. Sekalipun hati kami tertaut dalam simpul cinta yang tak terkatakan, namun tetap saja, tubuh kami ingin tetap bersentuhan. Sebisa mungkin, kami masih ingin melanjutkan cerita yang tertunda. Ah, tidak, masih terlalu banyak kerinduan yang belum ku tuntaskan padanya. Pada ayah yang sangat ku cintai. Cepatlah sembuh, Ayah....


21 Desember 2009,
Jarum jam masih bergelayut manja diangka 2. Masih terlalu pagi untuk terbangun. Aku bahkan belum merasakan tidur malam ini. Entah sudah berapa kali ku tatap jam dinding itu, namun seakan waktu bergerak begitu lambat, jauh lebih lambat dari biasanya. Gelisah yang tak biasa memaksa mataku tetap terjaga. Entah t’lah berapa banyak kali segala do’a ku rapal untuk sekedar menenangkan hati, namun sia-sia.. aku tetap merasa ingin segera berlari menemui ayahku.

Sayup-sayup kudengar subuh mengetuk daun jendelaku, mengabarkan kedatangannya yang tiba-tiba. Aku tertidur beberapa saat ditengah kekalutanku. Tergopoh-gopoh kuraih telepon genggam disebelahku. Beberapa panggilan tak terjawab dari kakak dan ibuku. Setengah gemetar ku tekan tombol untuk memanggil nomor itu lagi, kakakku menjawab.

Innalillahi wainnailaihiroji’un... do;akan agar ayah kita mendapat tempat yang terbaik.....”

Tak sanggup lagi ku dengar lanjutan kata-katanya yang tiba-tiba. Angin subuh yang biasanya teduh seketika membekukanku. Lidahku kelu. Ku paksa kedua mataku tertidur lagi, dan berdo’a dengan sepenuh hati, mengiba kalau-kalau ini hanya bagian dari mimpi buruk. Namun tidak, entah darimana datangnya, airmata berloncatan dari kelopak mataku yang menghitam. Tiba-tiba kurasakan sakit disekujur tubuhku merajam kesadaranku. Aku merintih, bukan untuk ngilu ditubuhku, namun jauh di ulu hatiku. Seperti sebuah luka yang berusaha kusembuhkan sekian lama, tiba-tiba kembali terbuka, menganga.

Bagi-Nya, tak ada kata tiba-tiba. Segala takdir dan ketetapan-Nya t’lah tertulis sempurna dalam catatan-Nya, tanpa cela. Namun tidak bagiku sebagai seorang hamba yang tak tahu apa-apa. Segalanya terlalu tiba-tiba. Tiba-tiba terjadi tanpa sempat menyiapkan hati.
Tiba-tiba Ia pergi.

Tiba-tiba aku sendiri.

Tiba-tiba aku dipaksa menguatkan diri sendiri.

Segala tiba-tibaMu ini Tuhan, akankah aku mampu melewatinya? Semua yang kau curahkan tiba-tiba padaku, bilakah aku kan mengerti?

Tiba-tiba pandanganku mengabur. Gelap. Cahaya pergi meninggalkanku, dan bahkan suara, pun segala rasa. Tak ada lagi kesedihan dan gembira di ulu hatiku yang terlanjur ngilu. Kalau saja aku lebih dalam mencerna, sesungguhnya tak ada yang terjadi tiba-tiba, takdir selalu datang tepat pada waktunya.

Untuk ayah,
"Setelah kau pergi, Ayah, yang tersisa adalah seruang ingatan yang mengerami kenangan tentang masa kanak-kanak yang kulalui dengan begitu bahagia bersamamu. Tiap saat subuh yang teduh berpendar di ufuk timur,  hening yang dalam seketika memeras hujan dari sudut-sudut mata yang ku paksa memejam. makin ku terpejam, makin nyata sosokmu mewujud dalam ingatan. Tersenyum, merangkulku dengan rasa yang nyata. ...... "

Ingatan



Tentu, masih ada malam untuk ku berbaring
Untukku sejenak melerai penat yang memelukku erat
Sejenak mengusap peluh yang tak henti-henti meluruh
Sejenak membasuh kaki yang lelah mendaki hari-hari

Bayang-bayangmu, bilakah kau menghilang dari benakku?
Mata yang terpejam ini kian nyata melihatmu dalam gelap
Kian pekat gelap merapat, kian erat pesonamu menjerat

Dengan mata terbuka bayangmu mewujud tubuh yang lama tak ku sentuh,
Mencipta debar yang utuh
Mengunci tiap aksara dari bibir yang biasanya lantang bersuara
Bisu, lidahku kelu karenamu

ingatanku tentangmu, bilakah ia kan sirna?
Beberapa malam berlalu dengan kepenatan yang sama
Kantuk yang t'lah lama kulupakan
Kantuk yang selalu ku sisihkan demi mantra yang ku rapal untuk mengutuk ingatan yang tak jua beranjak dari ruang sadarku,
Ingatan tentangmu

Tak pernah terfikir olehku bahwa mencintaimu akan begini menyakitkan..
Sejenak saat kau ada, aku mengeja kata-perkata agar kalimatku selalu sempurna untuk kau dengarkan
Dengan segenap keterbatasanku aku (mencoba) mencipta kesempurnaan seperti yang kau mau
Dan aku gagal!
Karena aku manusia..

Dan kau manusia sama sepertiku,
Yang menginginkan kesempurnaan
Dan mengesampingkan cinta yang mula-mula menjadikan kita satu

Dan kau memilih pergi,
ketika kusadari cinta tak sesederhana saat kau ada
Memang segalanya terasa lebih sulit saat kau tiada,
Namun aku merasa untuk pertama kalinya,
Bahwa ketiadaanmu membuatku sempurna dengan keterbatasan yang ku punya..