Tuesday, September 18, 2012

Ketika Kau Mati


Bagaimana rasanya berada pada liang sempit seukuran tubuhmu itu saja?

Dengan sehelai kafan sebagai selimut
Tanah lembab sebagai alas tidur
Bunga rampai mengering yang berantakan dihempas angin dingin sebagai atap, 
begitu rapuh....

Dinginkah yang kau rasa?
Saat tak ada teman untuk bicara melainkan hanya sepi yang tersisa

Bagaimana kau lalui hidup tanpa tawa?
Bahkan menangis pun kau tak tau bagaimana memulainya..

Entah dosa entah pahala yang kau bawa
Anggap saja itu kunci untuk membuka rumah abadimu nantinya
Liang sempit ini hanya sementara, bersabarlah sedikit lagi
Peluk dingin itu, hangatkan dengan ragamu yang beku
Ramaikan malam-malammu dengan sisa gelak tawa mereka yang belum merasakan yang kau rasa, 
toh, pada saatnya nanti mereka akan tau bagaimana rasanya

Dalam liang itu kau berbaring, tak bergerak lagi
Kau mati namun tak mati
Kau hidup namun tak hidup
Kau hanya tengah sekarat diantara dua dunia akan kau datangi dan tinggalkan

Kenanglah! 
Kenanglah segala yang t’lau kau torehkan semasa nyawa titipan-Nya masih bertengger pada tubuhmu yang rapuh

Ingatlah! 
Ingat-ingat segala janji yang sempat terucap namun hidupmu terlalu singkat untuk memenuhinya satu-persatu. Mungkin sekali waktu kau terlupa, alpa. Mungkin diwaktu lain sengaja kau buat dirimu lupa akan janji-janji yang pada akhirnya berujung  penantian pada orang yang kau janjikan. 
Apa lagi yang dapat kau lakukan? Kau sudah mati, teronggok dalam liang sempit, kau tak lagi kau jika kau hanyalah seonggok bangkai
Takkan mungkin kau kembali, mengakhiri penantian mereka akan janji-janjimu

Liang sempit itu tak senyaman kamarmu
Tanpa MP3, tanpa televisi
Tanpa kipas yang kau miliki hanya kapas. Menyumbat lubang demi lubang disana-sini

Tak ada cahaya apalagi sinar mentari. Kau akan kehilangan pagi, siang, sore, malam yang dulu kau sia-siakan. Waktu hanya akan mengejekmu yang terdiam. Dan detik itu pula yang dapat kau lakukan hanya diam, menyesali waktu-waktumu yang berlalu tanpa sesuatu yang dapat menyelamatkanmu dari liang sempit yang kian terasa sempit itu

Dosa-dosamu mengetuk dari detik ke detik, sedang pahalamu tak cukup banyak untuk menjadi pembelamu. Sesalkah yang kau rapal dalam mulutmu yang mengatup rapat itu? Sudah biru warnanya... satu dua cacing ingin mengulum ranumnya bibirmu, namun kau bahkan tak dapat berteriak jijik untuk mengusirnya pergi.

Suara,
Sedih,
Bahagia,
Kekasih,
Ayah,
Ibu,
Rasa,
Dunia,
Tega membiarkanmu sendiri. Terpuruk dalam keterasingan
Hening mengejekmu lirih
Sepi memelukmu erat, menjerat
Mereka yang semasa hidup begitu kau agung-agungkan, kau perjuangkan, ternyata tak turut terkubur dalam liang sempit ini. Bersamamu. Tidak.

Dulu kau bagi makanan kesukaanmu pada mereka
Kini mereka pergi meninggalkanmu sendiri

Dulu kau tertawa bersama mereka
Kini untuk kau bagi sedikit air mata pun mereka tak lagi ada

Salah siapa liang ini dibuat begini sempit?
Salah siapa?
Salah siapa?

Salah siapa...?


Salah siapa.............?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tanya hatimu saja.



Saturday, September 15, 2012

sudut dalam lingkaran


Seorang sahabat bertanya padaku, ”kamu mau lulus kapan sih Naz?” dengan nada bercanda dan disambut tawa lepas oleh sahabat-sahabat lainnya yang kebetulan berada ditempat yang sama denganku saat itu.
Sejenak aku biarkan mereka saling melempar canda yang tak jauh-jauh dari topik soal kapan kelulusanku sebenarnya. Aku tau, aku sangat mengerti, pertanyaan itu dilontarkan dengan niat bercanda. Tak lebih.
Namun sungguh, aku sungguh berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Sekalimat tanya yang benar-benar melontarkanku pada beberapa masa dibelakangku. Tapi tatapan mereka yang menunggu setengah memaksa mulutku untuk menjawab pertanyaan mereka dengan bercanda juga, ”Mei. Meibi yess meibi no”, dan mereka pun tertawa lagi.
Begitulah waktu mengalirkan pembicaraan kami kemana-mana. Syukurlah topik kelulusanku segera berganti dengan topik lainya. Dan sementara mereka asik bertukar opini, aku diam. Sesekali kulempar senyum agar tak seorang pun dari mereka yang menyadari betapa hatiku hancur oleh hantaman pertanyaan mereka tadi.
Ingatanku kembali pada saat pertama kali aku mengenal mereka. Dalam hatiku yang egois aku selalu berkata, meyakinkan diri sendiri bahwa kelak aku akan menjadi orang sukses bersama-sama dengan mereka.
Namun siapa sangka Tuhan menginginkan jalan lain untuk aku lalui. Tuhan memaksaku berbelok membiarkan teman-temanku berlalu, menjauh meninggalkanku. Menyesalkah aku? Jujur..iya, aku sangat menyesalkan takdir ini, pada awalnya. Tiada hari kulewati tanpa menangis. Pagi aku berangkat dengan wajah segar, berusaha keras mengukir senyum dihadapan teman-temanku. Namun basah juga pipi ini sekembaliku pulang.
Tak sanggup rasanya menerima kenyataan bahwa jalan yang kulalui harus berbeda dengan teman-temanku. Semakin banyak aku menangis, semakin jauh aku terpuruk dalam lembah kemuraman. Aku tau tangisku sia-sia karena aku masih enggan melakukan perubahan. Yang dapat ku lakukaan tiap hari hanyalah mempertanyakan kuasa Tuhan yang ku paksa-paksa agar segera menolongku keluar dari segala keputus-asaan ini.
Belum sempat aku berdiri, Tuhan kembali mengusap lembut hatiku dengan sedikit ujian lagi. Mungkin Ia agak kesal dengan macam-macam pertanyaanku tentang rencana-Nya yang tak seharusnya ku pertanyakan. Aku sakit, tepat disaat aku ingin memulai lagi menyusun prestasiku yang sempat runtuh sejak patah hati ditinggal Ayah pergi. Tuhan masih ingin melihat kesanggupanku. Tuhan begitu menyayangiku.
Lagi, ku telan bulat-bulat hasrat untuk kembali berjalan beriringan dengan teman-temanku. Beberapa yang mengerti selalu setia memelukku. Sampai terkadang aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku sebegitu terlihat menyedihkannya, sehingga mereka merasa selalu ingin melindungiku dari rasa sedih yang terpahat jelas dalam sorot mataku? Aktingku selalu berhasil, namun tidak jika didepan mereka. Mereka selalu tau saat yang tepat untuk mengulurkan tangan padaku.
Lama aku terdiam. Ah, tidak. Sebenarnya hatiku menjerit lewat diamku itu. Aku merasa dipecundangi oleh hidup, lewat tatapan mereka yang memandangku dengan sebelah mata. Aku merasa diludahi tepat diwajahku ketika pertanyaan-pertanyaan semacam itu dilontarkan tidak dengan nada bercanda, namun untuk mengejekku. Perih dada ini ketika aku tak tau harus menjawab apa ketika prestasiku mulai dipertanyakan.
Aku benci mereka. Namun disisi lain aku pun tak boleh menyalahkan mereka. Setidaknya, mereka tak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dan aku pun merasa tak harus membagi ceritaku pada semua orang. Aku harus pintar membedakan, mana orang yang akan hanya mengasihaniku, atau benar-benar membantuku membuka pikiran-pikiran sempitku tentang takdir-Nya.
Ah, tapi sudahlah. Itu cerita lama. Aku tak menaruh dendam pada siapapun. Malah aku bersukur pada Tuhanku. Diantara segala ujian ini, Dia hanya meminta sedikit perhatianku untuk-Nya. Tidak Tuhan.. masih Kau satu-satunya temaptku berpasrah, mengadukan lelah dan segala rupa resah dalam dadaku.
Pada titik paling bawah, aku pernah merasa aku takkan sanggup berdiri lagi setelah sekian kali terjatuh oleh berbagai hal yang mematahkan hatiku. Namun tidak, pada saat itulah sebenarnya aku hampir sampai pada titik balik menuju kekuatanku yang sebenarnya.
Pada sudut tergelap dalam hatiku, aku sellau percaya akan ada cahaya yang menuntun jalanku. Seperti malam yang selalu mengajariku untuk bersabar menanti pagi yang selalu datang setelah sepertiga gelapnya yang paling pekat.
Aku percaya, aku dan semua orang terlahir dengan kekuatan yang sama. Namun ada beberapa hati yang tak percaya pada Tuhan mereka, itulah kenapa seolah tiada daya yang tersisa. Jika saja segala pelajaran ini tak menjadikanku lebih baik, maka pantaslah aku menangisi setiap pertanyaan yang menyerempet pada kehancuran perjalananku.
Pada lingkaran hidup ini selalu ku temukan sudut untuk berhenti, berfikir dan merenung. Sudut maya yang terlihat hanya pada saat-saat nestapa terpahit dalam hidupku. Begitulah cara Tuhan menyayangiku.

Terimakasih Tuhan,
Terimakasih hidup,
Terimakasih Ibu, Ayah..
Terimakasih untuk segala kepahitan ini. Darinya aku belajar banyak tentang kepasrahan. Dan benar adanya, segalanya terasa lebih mudah sekarang. Semoga ini benar-benar menjadi titik balik menuju kebahagianku. Dan jika pun nanti aku terjatuh lagi, aku sudah tau bagaimana caranya berdiri lagi. Dengan uluran tangan-Mu tentunya.


J

Friday, September 14, 2012

pada hidup aku belajar tentang kehidupan


Hidup mengajariku bagaimana mencintai dengan penuh keikhlasan lewat seekor penyu yang rela meninggalkan telur-telurnya agar kelak mereka dapat berjuang sendiri, untuk hidup yang lebih baik, hidup mereka sendiri. Karenan keterbatasan sang penyu yang merasa takkan sanggup menjaga buah hatinya seorang diri.

Hidup juga mengajariku kesederhanaan lewat padi yang kian merunduk saat bulir-bulirnya padat berisi.

Hidup mengajariku bagaimana mencintai sekedarnya saja, lewat gerimis yang selalu romantis dan menyejukkan, namun menjadi dingin ketika gerimis menjelma hujan yang berlebihan.

Hidup pula yang mengajariku tentang bagaimana menjadi seorang yang kuat, lewat sebatang pohon yang terlihat rapuh dan keropos, namun sebenarnya memiliki akar yang kuat. Tak perduli seberapa kuat angin berusaha merobohkannya, ia tetap berdiri, walaupun sesekali ia merasa takkan lama lagi ia sanggup bertahan dengan angin yang terus-menerus mengusiknya. Dengan sedikit air, pohon tersebut akan tumbuh kembali. Menyejukkan mereka yang berteduh, menyenangkan hati mereka dengan buahnya yang rimbun. Aku dan pohon kering itu mungkin sama. Akan ada saat yang tepat air menyirami seluruh jiwaku yang kerontang. Hidup masih menungguku dengan sejuta pelajaran darinya untuk kuresapi, untuk ku mengerti.

Hidup mengajariku untuk menjadi seorang pendengar yang baik bagi siapapun yang ingin berbagi cerita padaku, lewat tanah yang menyerap air untuk kemudian menyimpannya dalam-dalam. Kelak, akan ada saat sebatang pohon kering yang membutuhkan air simpanan tanah tersebut. Itulah saat aku belajar untuk mengambil hikmah dari segala yang terlihat, terdengar, dan yang kurasakan disekelilingku.

Lewat hidup juga, aku belajar untuk selalu bersukur. Terkadang Tuhan mengujiku dengan banyak air mata pedih yang harus ku seka ditiap malam-malam saat mereka tertidur pulas dengan senyum mengukir ditiap bibir mereka.
Itulah saat aku merasa tiada penolongku selain Tuhan saja. Aku mendekat pada-Nya, berpasrah dan menyerah, seolah tiada lagi daya yang tersisa untuk sekedar menghirp udara kehidupan agar aku mampu berdiri lagi.
Tapi sebenarnya tidak. Aku salah persepsi dengan ujian yang Tuhan berikan padaku. Memang, sisi baiknya adalah aku menjadi kian dekat dengan Tuhanku. Namun bukan itu yang Ia mau sebenarnya. Ketika Tuhan mengujiku dengan bahagia tiada tara, saat itulah Tuhan ingin tau, siapakah nama yang pertama kali akan kusebut ketika hati ini bersuka cita dengan sesuatu yang Tuhan berikan. Namun aku terlalu jahat, terimakasihku bukan untuk Dia pertama kali, melainkan kepada manusia perantara-Nya yang sama lemahnya denganku. Begitu sering aku khianati Tuhanku, namun Ia masih ingin aku belajar lewat kehidupan yang masih Ia titipkan padaku.

Hidup punya banyak cerita lewat kediamannya.
Tuhan memberi kita mata untuk membaca isyarat yang tak terlihat.
Tuhan memberi kita telinga untuk dapat mendengar desah nafas alam yang tak terdengar oleh kepala-kepala yang sibuk memikirkan dunia saja.
Tuhan memberi kita tangan untuk dapat merasakan ilmu-Nya lewat sentuhan jiwa-jiwa yang percaya pada segala pemberian-Nya.
Begitu banyak yang Tuhan berikan. Takkan dapat dibandingkan dengan sedikit permintaan Tuhan padaku untuk selalu berserah pada-Nya.


Lalu nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan? 

Wednesday, September 12, 2012

Cinta Semusim


Cintamu tak ubahnya seperti musim semi yang menghangatkan jiwa yang kala itu tengah terpuruk dalam ketidakpastian cinta anak manusia. Kau rubah abu-abuku menjadi ungu. Kau rubah pekatnya duka kembali merah muda, merona. Pelangi seakan membias lagi tiap saat embun mengerling manja pada pagi-pagi saat kau sapa aku yang menahan rindu semalaman tadi.
Aku terbuai oleh kehangatan yang musim semi tawarkan padaku. Hingga tanpa terasa musim ’kan berganti lagi ketika kau pergi meninggalkanku sendiri. Tak lagi ku dapati kupu-kupu disekeliling hatiku, tak ada lagi kamu. Musim dingin ini begitu sakit menggigit hatiku yang kehilanganmu. Namun kau tak mau tau.
Ternyata cinta kita tak sepanjang pergantian musim selanjutnya. Adapun kutemukan sisa-sisa dedaunan berguguran dihempas angin saat musim gugur tiba, menyisakan duka yang tak lagi berair-mata. Dengan hati yang dingin, hampir membeku, ku peluk hangat musim dengan kedua lenganku tanpamu. Biarlah, tak mengapa. Dan, toh, musim gugur ini pun akan segera berlalu, sesingkat musim semi yang pernah kurasakan saat aku mengenalmu dulu...

Sunday, September 9, 2012

nyanyian desember (part II)


#2

Akupun menuruti perintah mama tanpa berkata-kata. Segera ku balikkan badanku menuju ke kamar. Namun tiba-tiba ku dengar mama menjerit. Segalanya terjadi begitu cepat. Aku tak mempercayai mataku sendiri.
Tubuh mama melorot ke lantai dengan pisau menancap di dadanya. Ayah mengambil pisau lainnya diatas meja dan menusukkannnya berkali-kali ke tubuh mama yang tergeletak di lantai. Semua terjadi di depan mataku. Mama, aku tak mengerti semua ini. Aku bingung. Aku takut. Aku tak ingin melihatnya lagi. Aku... ”TIDAAAAAKKKKKKKKK....!!” aku tak melihat apa-apa lagi. Semuanya gelap.
Mataku mengerjap perlahan. Dan ketika aku dapat membuka mataku seluruhnya, aku merasa asing. Tiba-tiba aku teringat mimpiku semalam. Akh, benar-benar mimpi yang menyeramkan. Aku tak dapat membayangkan jika mimpi semalam benar-benar menjadi kenyataan. Tapi, ini bukan kamarku, dan bukan ranjangku pula. Dimana aku? Dengan tubuh lemas aku turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mencari mama. Tapi sampai diluar kamar yang kulihat hanya tante Audi bersama seorang dokter.

”Mau kemana sayang?” tante Audi menghampiriku. Dokter disampingnya mengerutkan kening melihatku.
”Ima mau ketemu mama , tante”

”Ima...sayang..,” tiba-tiba tante audi memelukku, sangat erat, ”..ima, mama kamu..”

”Mama kenapa tante???” nafasku memburu tak sabar.

”Mama kamu sudah meninggal......” dan tangis tante Audi meledak dibahuku. Mama meninggal? Apa lagi ini sekarang?

”Tante jangan bercanda dong. Semalam Ima memang mimpi buruk. Mama meninggal, tapi itu kan cuma mimpi..” aku seperti sedang menghibur diri sendiri. Meyakinkan diri bahwa ini semua hanyalah bagian dari mimpi buruk semalam tadi. Tapi tidak, air mataku meleleh tanpa henti. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Mama benar-benar meninggal. ”Mamaaaaaaaaaaaaaaa.....”

Aku berlari dan terus berlari. Menembus keramaian kota, berlari di trotoar tanpa alas kaki. Aku tak perduli pada puluhan pasang mata yang menatapku keheranan. Dan kakiku baru berhenti berlari ketika aku sampai didepan rumah. Garis polisi melintang disekeliling rumahku. Tak seorang pun kulihat disana. Hanya seorang pria, duduk sambil memeluk kedua lututnya. Tangannya menggenggam pisau berlumuran darah. Darah mama.
”Pembunuh..” hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Pria itu menatapku. Wajahnya terlihat sangat kacau. Baju yang Ia kenakan pun tak lagi rapi. Pria itu tertawa terbahak-bahak, dan sesaat kemudian kembali menangis sambil menggumamkan kalimat yang tak dapat kumengerti. Dia gila. Pria itu menjadi gila. Dan hatiku semakin hancur dibuatnya.
Sejak saat itu aku hanyalah gadis sebatang kara. Tanpa mama, aku bukanlah siapa-siapa. Dan pria itu, dia bukan ayahku lagi. Ku anggap ayah t’lah mati. Dan sejak saat itu pula, aku tinggal bersama pria paruh baya gila yang tiap harinya hanya diam memandang foto kami bertiga. Sampai hari ini.

* * *

Hujan masih menyisakan rintik-rintik, sedang malam kian larut dalam gelapnya. Ku putuskan untuk kembali kerumah dan bertekad tidak akan menghiraukan pria itu lagi.
Dalam perjalanan pulang, otakku yang benar-benar t’lah letih kembali emmutar memori masa lalu. Namun kali ini bukan tragedi itu lagi yang kuingat, meainkan kenangan-kenangan manis tentang mama dan ayah ketika kami masih sangat bahagia dulu.
Teringat kembali saat ulang tahunku yang ke-13 ayah mengajakku dan mama berlibur diluar kota dan menyewa sebuah villa. Atau kenangan ketika kami piknik ditepi danau. Dan berjuta kenangan manis lainnya tentang ayah, tentang mama, tentang kami bertiga.
Tuhan, salahkah bila ku maafkan pria itu? berdosakah jika kupanggil Ia dengan sebutan ayah lagi? Tuhan, aku harus bagaimana..

Aku t'lah sampai didepan rumah. Dengan tangan gemetar karena kedinginan ku buka pintu rumah perlahan. langkahku terhenti ketika kulihat pria itu masih duudk di kursi goyang tuanya, seperti biasanya. namun sepertinya ada yang berbeda kali ini. Dia seperti tengah tertidur, sangat lelap.
Perlahan ku hampiri pria itu. Rasa benci dan cintaku berpacu dalam dadaku. Aku berdiri didepannya, kaku tak bersuara. Aku sama sekali tak ingin mimpi buruk empat tahun silam terulang lagi sekarang. tidak, jangan sekarang.
Namun pria itu tak membalas tatapanku. Matanya tertututp rapat. Tangan kirinya memeluk foto kami bertiga, dan ditangan kanannya ada sepucuk surat yang Ia biarkan terbuka.
Entah mendapat keberanian dari mana, ku raih surat itu. Dan perlahan ku coba meraba kata demi kata yang tertulis disana.

31 Desember 2012
"Ima, puteri kecilku tersayang...
Empat tahun ayah merindukan senyumanmu, empat tahun tak ada yang memanggilku dengan sebutan ayah lagi. Empat tahun ayah memendam penyesalan ini. Dan selama empat tahun pula ayah tersiksa karena menahan diri untuk tidak memelukmu, sayang. Karena ayah tau, kau tak akan mengizinkan ayah untuk menyentuh puteri kecil ayah dengan tangan kotor ini.
Ima, anakku sayang,
Ayah tau, ayah samasekali tak pantas untuk meminta maafmu. Ayah tak berhak memintamu tersenyum pada ayah. Karena ayah tau, kau pastinya sangat membenci ayah. Ayah sangat mengerti, sayang.
Tapi, Ima, buah hatiku, ayah tak dapat membohongi hati kecil ayah yang selama empat tahun ini begitu merindukanmu. Tapi ayah tak punya cukup keberanian walau untuk sekedar tersenyum padamu. Segalanya yang terjadi empat tahun lalu adalah murni kesalahan ayah. Ayah khilaf. Tapi ayah rasa hukuman yang ayah dapatkan sudah cukup setimpal, karena selama empat tahun ini kau menganggap ayah tak ada.
Ayah begitu menyayangimu, nak. Ayah mencintaimu dengan segenap rasa penyesalan yang takkan cukup ditebus dengan kepergian ayah. Maafkan Ayah, sayang. Selamat tinggal..."


Butir-butir obat tidur berserakan dilantai. Inikah jalan yang ayah pilih untuk menebus kesalahannya? Inikah cara ayah untuk mengakhiri hidupnya? Kenapa.... kenapa disaat aku mulai belajar untuk mencintainya lagi ayah malah pergi? Tuhan..apa lagi inii....
Aku tak tau lagi harus bagaimana. Selain air mata, aku tak punya apa-apa lagi. Keberanianku t'lah menguap bersama rasa benciku pada ayah. Kenyataan ini terlalu pahit untuk ku telan sendiri. Aku hanya berharap ayah tidak mati, ayah hanya sedang tertidur pulas karena kelelahan. Ayah akan segera membuka matanya dan tersenyum padaku, kemudian aku akan memeluknya. Ayah, bicaralah! Katakan sesuatu padaku! Buka matamu ayah.....
Lonceng jam berdentang dua belas kali. 1 Januari, ulang tahun ayah. aku berlutut dihadapannya, menggenggam tangannya yang tak lagi hangat.
"Selamat ulang tahun, Ayah.." lirih kuucapkan selamat ini pada ayah. Ucapan pertama sejak empat tahun lalu.. Namun ayah tetap diam tak bersuara, matanya terpejam.
Aku berdiri dan kemudian memeluk tubuh ayah. Aku duduk dipangkuannya seperti tahun-tahun lalu saat aku masih kanak-kanak. Ku lingkarkan kedua tanganku pada lehernya yang tertunduk lemas. "Selamat ulang tahun, Ayah.." kuucapkan lagi, dan ku kecup keningnya perlahan. Ayah tak membalasnya seperti yang Ia lakukan empat tahun lalu. Ayah bahkan tak membuka matanya. Tak akan pernah membuka matanya lagi.

Desember akan segera berakhir lagi. Ada yang berbeda dari Desemberku pada tahun-tahun sebelumnya. Pria paruh baya itu tak pernah menatapku lagi. Kursi goyang tua itu kini kosong, dan seterusnya akan selalu kosong tanpanya.
Hembusan angin yang menampar dedaunan kudengar sebagai nyanyian perpisahan untuk bulan Desember. Mengalun, membuai diriku yang sebatang kara. Selamat tinggal Desember, Selamat jalan Ayah.

*TAMAT*

Nyanyian Desember (part I)



#1

Sebentar lagi Desember akan berakhir. Beberapa Desember t’lah kulewati bersama sepi dan tanpa Ayah disisiku. Beberapa Desember t’lah berlalu namun ayah tak pernah memberikan senyumnya untukku. Dan entah berapa Desember t’lah kulalui dengan derai air mata yang seolah tak pernah kering dari lubuk hatiku. Mama, aku percaya tangamu erat memelukku, walau dunia kita tak lagi sama.
Tahun ini tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pria paruh baya yang tinggal bersamaku masih sama seperti hari-hari sebelumnya, dingin dan tak bersahabat. Aku hanya bisa bersabar menghadapi tingkahnya yang kadang membuatku sangat sulit untuk mencintainya.
Benci, marah, menyatu menjelma dendam tiap kali teringat ketika desember beberapa tahun silam yang kulalui bersamanya, pria paruh baya yang selalu memandangku dengan tatapan yang tak ku mengerti, tak pernah ku mengertinya. Terlalu sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku harus tinggal satu atap dengannya. Ayah, ku mohon jauhkan pria ini dariku!

* * *
Mega berarak jingga keemasan ketika aku sampai di rumah. Tanpa melirik sedikitpun kearah pria itu aku masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuh lelahku diatas ranjang. Kegiatanku hari ini sudah cukup menguras seluruh tenagaku. Aku tak ingin mempersulit diriku dengan mengingat pria itu lagi hari ini. Pria yang tak pernah tersenyum, yang tiap harinya dihabiskan diatas kursi goyang tua memandang fotoku, mama, dan ayah yang tergantung di dinding ruang tamu kami. Akh, semakin hari aku semakin membencinya saja. Ayah, katakan aku harus bagaimana lagi?
Baru sebentar mataku terpejam, tiba-tiba aku teringat bahwa sejak siang tadi perutku belum juga diisi. Dengan langkah gontai aku keluar kamar menuju dapur untuk mengambil makanan. Barangkali masih ada sisa-sisa makanan yang kutinggalkan dilemari es semalam.
Namun langkahku terhenti ketika kulihat pria itu tidak seperti biasanya. Dia menangis. Kulihat tangannya memeluk foto yang selalu dipandanginya tiap hari. Isaknya memancing emosi yang selalu ku pendam dalam-dalam selama ini. Dengan amarah yang teramat sangat ku hampiri pria itu dan merebut foto yang dipeluknya erat.

”untuk apa air mata itu, hah?? Kamu bahkan nggak berhak menangisi foto ini! Seharusnya kamu nggak  pernah menyentuh foto ini...”. Suaraku bergetar emnahan amarah dan pedih yang menari-nari didadaku. Sesak dan sakit merasuk diam-diam.

”Ayah hanya teringat kenangan kita dulu, Ima...” Ujar pria itu lirik disela-sela tangisnya.

”Apa? Kenangan apa? Kenangan ketika dengan tanpa belas kasihan kamu bunuh mama didepan mataku? Itu yang kamu sebut kenangan?” Aku tak dapat menahan emosiku lebih lama lagi, semua tumpah bersama air mataku.

”Maafkan Ayah...semua itu terjadi diluar kendali ayah....”

”Kamu bukan ayahku lagi! Bagiku kamu tak lebih dari seorang pembunuh!” Tanpa mampu berkata-kata lagi aku menghambur keluar rumah, berlari menerobos malam yang seakan mengerti kesedihanku. Tak kuhiraukan seberapa dingin malam memelukku diluar sana. Aku tak perduli. Aku hanya ingin pergi.

”Ima.. jangan pergi nak... maafkan ayah..” sayup-sayup ku dengar pria itu memanggil –manggil namaku. Aku tak tahan lagi. Aku hanya tak ingin mendengar suaranya. Aku terus berlari dan terus berlari.
Dadaku seperti mau meledak. Detak jantungku berpacu bersama marah dan kepedihan yang bergejolak semakin membuatku frustasi. Aku berteriak mengoyak keheningan malam yang t’lah terlelap dalam tidurnya, berharap benciku pada pria itu terbang bersama gema suaraku.

Beberapa saat kemudian aku sadar aku telah berada ditepi danau. Danau yang sering ku kunjungi bersama mama dan ayah dulu. Danau yang menjadi saksi bahwa kami pernah menjadi keluarga yang benar-benar bahagia seutuhnya, dulu.
Tiba-tiba lidahku kelu, tak mampu berkata-kata. Air mataku baur bersama air hujan yang mengguyur tubuhku yang bersimpuh tanpa daya ditepi danau ini. Otakku memutar kembali memori beberapa tahun lalu. Desember terakhir yang kulalui bersama mama dan ayah.
                                           * * *

Saat itu aku dan mama t’lah merencanakan akan menghabiskan malam tahun baru ditepi danau ini. Sengaja rencana ini kami rahasiakan dari ayah, karena ini semua merupakan bagian dari surprise party yang kami siapkan untuk ulang tahun ayah yang bertepatan dengan malam pergantian tahun baru.
Masih dapat kuingat dengan jelas, malam itu tanggal 31 Desember. Mama duduk seorang diri di depan televisi yang menyala, namun matanya memandang hampa entah kemana. Ku hampiri mama perlahan.

”Mama..” dengan lembut ku sentuh bahu mama, berusaha agar tak membuatnya terkejut.

”Ima.. kok belum tidur sayang? Udah larut lo” Mama membelai lembut kepala yang kurebahkan dipangkuannya.

”Belum ngantuk ma. Mama sendiri kok belum tidur?”

”Mama nunggu ayah dulu, sayang”

Emangnya ayah kemana ma? Kok jam segini ayah belum pulang? Nggak biasanya..”

“Ayah masih ada urusan……,” Belum sempat mama meneruskan kalimatnya, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak didepan pintu. Mama segera menghampiri pintu dan membukanya. Rupanya ayah yang datang. Dan, oh Tuhan…ayah mabuk? Ayah bicara seperti orang mengigau. Aku tak mengerti apa yang ayah katakana. Judi? Kalah? Apa maksud semua ini.....

”Ima, masuk kedalam kamar dan kunci pintu ya sayang!” Kata mama setengah memerintah. Sepertinya mama tak ingin aku melihat ayah seperti itu. Tidak seperti biasanya ayah pulang dalam keadaan sekacau itu.
Akupun menuruti perintah mama tanpa berkata-kata. Segera ku balikkan badanku menuju ke kamar. Namun tiba-tiba ku dengar mama menjerit. Segalanya terjadi begitu cepat. Aku tak mempercayai mataku sendiri.
Tubuh mama melorot ke lantai dengan pisau menancap di dadanya. Ayah mengambil pisau lainnya diatas meja dan menusukkannnya berkali-kali ke tubuh mama yang tergeletak di lantai. Semua terjadi di depan mataku. Mama, aku tak mengerti semua ini. Aku bingung. Aku takut. Aku tak ingin melihatnya lagi. Aku... ”TIDAAAAAKKKKKKKKK....!!” aku tak melihat apa-apa lagi. Semuanya gelap.

*bersambung*

Saturday, September 8, 2012

tik...tok..tik..tok..


Aku membayangkan jarakku denganmu hanya sebentang dua angka pada jam dinding tua yang tergantung lemas dikamarku.
Hanya 60 detik yang kuhitung berkali-lipatnya saat kau tak disini.
Hanya 60 detik namun kau tak terasa dekat, pun tak terasa jauh.
Aku hanya merasa jarak kita tumbuh semakin jauh saat kita tak bersama.
Seiring pucuk-pucuk rindu yang bermekaran sampai kembali berguguran, rinduku tak kunjung terpuaskan dengan hanya sekali-dua kali sapaan.
60 detik ini tak pernah terasa singkat untukku, jika ku berpikir tentangmu.
60 detik ini pula yang membuat jiwaku sekarat karena memanggil namamu dan kau tak dengarkan aku, tak pernah dengarkan aku.
60 detik bukan hanya jarak sebentang 2 angka antara kau dan aku, namun lebih dari itu.
Aku membenci waktu yang semakin mendewasakan jarak hati kita
Aku benci menunggumu selama 60 detik yang begitu jauh dari realita
Aku menginginkanmu sejauh 60 detik jarak kita

Namun kau semakin menjauh, jauh lebih jauh dari sekedar detik kesatu yang kuhitung perlahan sampai 60 detikmu, detikku, detik-detik kematian cinta kita...