Sunday, June 29, 2014


Sekarang aku paham kenapa bapak dan ibu jarang bilang IYA terhadap semua permintaan kanak-kanakku dulu. Mereka cuma ingin membuatku mengerti bahwa tidak semua keinginan HARUS aku dapatkan. Ada kalanya aku harus ikhlas dan puas dengan apa yang aku miliki saat ini, tanpa harus memaksakan diri untuk bermimpi mendapatkan kelebihan yang diluar batas kemampuanku untuk mendapatkannya. Itu cara mereka mengajarkanku tentang kesederhanaan____I LOVE YOU MOM, DAD____

Thursday, June 26, 2014

Saat Tuhan Bicara Lewat Sebuah Kehilangan



Kali ini ku mengerti hidup sebagai sesuatu yang berbeda. Bukan lagi sekedar penjabaran betapa perihnya luka demi luka, atau sesuatu yang hanya sekedar menguras air mata. Tidak. Hidup tak sejahat itu untuk tak selalu berpihak pada kita: manusia yang seolah diciptakan untuk mau tak mau terlibat di dalamnya.

Kehidupan adalah suatu yang niscaya, sebuah amanah yang dititipkan untuk membentuk kita menjadi seorang yang bertanggung jawab, ataukah lalai pada akhirnya. Ia adalah sebuah madrasah tempat kita belajar dan belajar dari segala hal, dari segala yang hidup ini berikan pada kita untuk kemudian kita menjadi pandai melihatNya dengan akal, juga dengan hati yang tak lagi dangkal.


Jika dihatimu masih ada nama Tuhan, masihkah telunjukmu akan menuding kehidupan dengan gurat muka penuh kemarahan?


Pernah ku rasakan betapa hidup tak adil padaku. Saat ayah sedang meregang nyawa diujung usianya yang ke tujuh puluh Sembilan, aku yang berduka layaknya sebuah buku yang kehilangan halaman terpentingnya. Kemudian, aku dipaksa akrab dengan asingnya kehidupan setelah ketiadaannya: dia yang begitu penting dalam hidupku.

Aku menangis, dan tak sekedar menangisi kepergiannya. Aku menyesal, dan tak sekedar menyesali keterlambatanku menyatakan betapa aku mencintainya. Aku hanya merasa Tuhan begitu tak adilnya padaku. Ia biarkan aku memintal luka dalam dada, hingga tak ada lagi celah untuk ku simpan udara.  Dan bahkan hingga kurasa telah kering kelenjar air mataku. Aku hanya merasa Tuhan begitu tak adilnya, hingga membiarkan hari-hariku menjadi kosong tetapi penuh akan gemuruh rindu demi rindu yang kian hari kian terasa ngilu.

Lalu pada satu titik yang tak ku sangka-sangka, Tuhan bicara padaku. Lewat sebuah mimpi yang membuat mataku basah selagi masih lelap tidurku. Hadirnya, yang entah Ia merupakan rindu yang menjelma sosoknya, ataukah memang diizikanNya dia datang berwujud nyata dengan sorban putih melilit dikepalanya. Dan baju itu, serasi dengan sarung yang dikenakannya, Ia berpakaian serba putih…seputih latar mimpiku, begitu jernih. Aku sungguh melihatnya lagi. Ayah yang begitu ku rindukan tengah berdiri disisi ranjangku, sedang aku berada diambang antara lelap dan terjagaku.

Sungguh, Ia tersenyum padaku. Dan kalau saja mataku tak segera membanjir oleh bulir air yang seketika deras mengalir, aku tentu dapat menatapnya lebih lama. Merekam tiap detik yang kuharap melambat seketika. Tapi, sayangnya sosok berpakaian serba putih yang begitu mirip dengan ayah itu segera mengabur, seperti kabut yang perlahan menipis, pudar lalu benar-benar hilang sesaat kemudian. Ia pergi, lagi. Meninggalkan hati yang kebas –tak tau harus bagaimana kusebut perasaanku saat itu-, ia benar-benar telah pergi. Sedang aku, terbangun dengan tangan dan kaki yang masih kaku, dan keringat membanjir disekujur tubuhku. Sedang mataku? Terlalu nyata jika kusebut itu mimpi, namun ia begitu samar untuk kuyakini nyata hadirnya. Dan mataku yang basah adalah satu-satunya bukti, kalau dia benar-benar datang kepadaku.

Lalu hal-hal semacam mimpi atau bukan itu tak lagi penting untuk ku perdebatkan dengan diri sendiri.

Aku terlalu sibuk tersungkur dalam syukur yang dalam.

Tuhan sedang mengajarkanku bab baru dalam proses belajarku, dalam hidupku. Bahwa ikhlas adalah sesuatu yang ada didalam hati. Layaknya cinta, Ia suatu yang tak dapat jemariku sentuh, bukan pula sesosok yang dapat ku rengkuh. Ia adalah sebuah rasa yang hanya dapat ku rasakan setelah ku alami sebuah kehilangan. Dan kehilangan yang begitu pahit itulah yang rupanya mampu mendewasakan.

Bisa jadi, kuanggap kehilangan ayah adalah pukulan telak yang telah membuatku ambruk dan terserak dalam puing-puing berlumur darah. Namun saat ikhlas itu dapat ku raih dan kusimpan rapat dalam hati, aku tak lagi menangisi luka rinduku dengan sebegitu pilu.. melainkan teduh hatiku tatkala segala rindu itu ku untai dalam do’a demi do’a hingga ku rasa lebih dan lebih dekat lagi Tuhan memotong jarakNya denganku.

Tuhan… hidup ini bukan lagi ku pusingkan sebagai sesuatu yang sekedar bermula dan pasti memiliki akhirnya. Aku, kini tengah berjuang untuk mengeja kata per kata yang Kau tulis dalam rencana hidup-matiku. Toh, mati adalah hal yang niscaya terjadi pada setiap makhluk yang bernyawa, begitupun aku.


Bukan kematian itu yang menakutiku, melainkan jauhnya hatiku dari keyakinan atas janji-janjiMu saat nyawaku meregang nanti.


Aku tak ingin kembali menjadi gadis dungu yang hanya mampu menudingkan telunjuk dengan raut penuh kemarahan pada-Mu. Aku pun tak ingin membasahi mataku dengan air mata penuh kekecewaan atas apa yang ku anggap tak adil dari-Mu. Aku hanya ingin, Engkau memeluk hatiku lebih erat..lebih lekat.

Bukankah Kau telah berjanji untuk berlari padaku saat ku berjalan menujuMu? Lalu ikat kaki ku agar tak selangkahpun aku menjauh dari-Mu.

Bukankah telah kau tegaskan berulang kali dalam banyak firmanMu tentang ke-maha-pengasihMU? Lalu kasihi aku, Tuhan.. kasihi aku yang tak ingin membebat luka seorang diri lagi. Jauhkan rasa sepi dan keinginan untuk selalu menyendiri. Bicaralah padaku dalam semua bahasa dan buat aku mengertinya, buat aku belajar untuk tak lagi perduli pada bagaimana caraku memahami kehidupan ini,

………hanya beri aku kekuatan dalam menjalaninya.

Itu saja.

Friday, June 20, 2014

Alfie & Sepeda Barunya




Sore ini aku lagi duduk sambil ngeliatin Alfie, keponakanku yang baru saja naik ke kelas dua Sekolah Dasar, lagi main sepeda sendirian. Sepedanya terlalu gede untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Tapi biar kegedean gitu, Alfie tetep ngotot pengen main sepeda.

Pas pertama kali nyoba, sepedanya cuma dituntun muter-muter halaman rumah, beberapa kali putaran. Setelah ngerasa cukup berani, pelan-pelan Alfie coba ngayuh sepedanya. Ibarat balita yang baru belajar jalan, selangkah demi selangkah..itupun dengan tertatih dan rawan jatuh sewaktu-waktu. Alfie juga gitu, udah nggak kehitung berapa kali dia nyungsep dari sepedanya. Habis jatuh, bangun sendiri, jatuh lagi, bangun lagi. Dengan lutut terluka dan berdarah-darah, paling nangisnya bentar.. trus nyoba lagi.

Aku jadi mikir, ini Alfie yang keras kepala atau memang semua anak kecil punya karakter yang sama kayak alfie? Ketakutannya dan ketidak-mampuannya itu seakan kalah oleh keinginan yang di dorong kuat oleh rasa penasarannya pengen bisa naik sepeda muter-muter di halaman rumah.

Alfie tau betul kalau badannya terlalu kecil untuk sepeda gede itu, tapi dengan nekat tetep dia coba. Aku pun tau sebenernya alfie sangat takut jatuh dan nangis gara-gara lecet di lutut dan sikunya semakin lebar menganga, tapi tetep dia kayuh sepedanya. Sesekali alfie bahkan diketawain temen-temen sebayanya yang udah pada mahir kebut-kebutan di jalan bawa sepeda mereka, tapi alfie cuek-cuek aja. Dengan girangnya dia bahkan dadah-dadah ke temen-temennya itu sambil bilang, “tunggu alfie ya.. :D”

Ngeliat usaha keras alfie tersebut aku jadi mikir macem-macem. Mikir betapa cemennya orang dewasa kayak aku gini yang nggak jarang selalu kalah telak oleh bayang-bayang kegagalan disetiap satu langkah yang aku ambil untuk nyoba melakukan sesuatu. Aku terlalu takut nerima kenyataan kalau aku nggak bisa, nggak mampu melakukan hal tersebut tanpa pernah memberi kesempatan untuk diriku sediri untuk sekedar mencoba, mengukur dan memastikan sejauh mana aku mampu melakukannya.

Nggak kayak alfie yang tangguh, aku terlalu takut ngerasain sakit kalau-kalau aku jatuh. Padahal luka itu wajar ada dan selalu bersanding dengan setiap langkah kaki kita. Biar gimanapun juga, luka adalah luka yang masih bisa sembuh selama kita masih punya kemauan untuk kembali sembuh. Luka itu sesuatu yang lumrah, dan bukan hal yang seharusnya menjadi momok yang selalu berhasil menakut-nakutiku yang pengen nyoba melangkah lebih jauh dari tempatku berdiri sekarang.

Curhat dikit ya.. sebelum alfie, aku udah lebih dulu merasakan perasaan yang entah gimana menggambarkannya saat ngeliat temen-temen sendiri udah sukses melangkah dijalan yang sedang mati-matian aku coba ambil, melengang dengan wajah sumringah didepanku. Rasanya… ya gitu deh. Kalau alfie bisa bilang, “tunggu alfie ya..” aku Cuma bisa membatin dalam hati, “Ya Tuhan…apa salahku? Kenapa KAu hukum aku begini kejemnya?”

Aku malu sama Alfie…. Lebih malu lagi sama diri sendiri..

Kemudian, di kepalaku bermunculan banyak kalimat “seharusnya begini..seharusnya begitu” yang pada intinya aku sedang menyalahkan diri sendiri. Menyesal, sedih, malu dan termotivasi diwaktu yang sama dengan hanya ngeliat Alfie belajar naik sepeda.

Tapi sedetik kemudian aku terharu. Aku terharuuuu banget sampai-sampai mataku basah dengan sendirinya. Tuhan begitu sayangnya ya  ternyata sama aku.. aku masih dikasih kesempatan belajar lewat si kecil Alfie tentang kesalahan yang udah aku lakuin selama ini. Tuhan ngasih tau aku dengan cara-Nya, kalau di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin selama kita masih mau berusaha. Selama kita masih punya keinginan untuk mencoba dan mengabaikan segala yang mungkin menghambat langkah kita untuk maju. Aku bisa, hanya saja aku terlalu takut mencobanya.

Aku ngerasa lagi ditegur dengan cara yang sangat halus. Cara yang bikin aku nggak bisa menyangkal apapun lagi. Cara sederhana yang seketika bikin aku tersadar dari semua kesalahan mindset-ku selama ini.

Terima kasih, Tuhan. Aku akan berusaha lebih keras lagi.


Sore ini Alfie udah bisa maen sepeda bareng temen-temennya yang lain. 
Setelah tiga hari yang kejam buat alfie belajar menaklukkan sepedanya. Berkali-kali jatuh, lecet dimana-mana, sampai memar di jidat udah dia rasakan semua. Sekarang alfie udah berhasil ngedapetin hasil dari usaha kerasnya itu. Alfie udah lupa sama rasa sakit di sekujur badannya. Alfie juga udah nggak nangis lagi. Sekarang, dengan penuh percaya diri alfie duduk diatas sepeda gedenya itu dan berkeliling bareng temen-temennya yang lain. Dan tawa itu, menjadi obat luka dihati binaz, fie.. makasih ya sayang.. .

Wednesday, June 11, 2014

tentang yang datang dan meninggalkan



Ada yang bergegas pergi meninggalkan, dan ada yang diam-diam mengintip melalui celah retakan dikejauhan. Sedangkan aku, kamu dan mereka belum paham tentang apa-apa yang harus kita lakukan. Siapa suruh malam begitu cepat datang? Sedang belum ada yang merasa sanggup menutup mulut-mulut pemabuk yang meracau tak karuan. Mereka memaki dibawah mantra alcohol yang membius kesadaran, dengan ringan dan tanpa bersalah, menuding langit yang katanya sakral: langit yang sama yang mereka percayai dimana Tuhan berada.

Waktu dan kematian layaknya sepasang sandal yang melekat ditelapak kaki. Yang kita pakai kemana-mana, selalu ada didekat kita. Lihatlah betapa cepat waktu menua dan kita masih tak menyadari entah dari sudut mana kematian tengah mengintai kita. Menanti waktu dan ia bersepakat untuk membawa kita kepada langit yang dicaci oleh pemabuk yang kerap melolong sumbang dimalam hari.

Udara begitu pekat oleh warna-warna, menciprati sebagian kemeja mereka yang pada pagi harinya disetrika hingga rapi sedemikian rupa. Mereka merayap disepanjang tubuh kota, membuatnya penuh berlumur warna. Nafas yang mereka hirup berwarna,  langkah mereka berjejak warna, gaji mereka berwarna dan bahkan suara mereka berwarna. Namun anehnya, saat mati warna-warana itu pergi begitu saja.. membuat tubuh mereka pucat.

Aku, kamu pun mungkin begitu saat mati nanti.

Lalu waktu masih bergegas dan aku, kamu juga mereka belum menyadari kapan datangnya giliran kita. Untuk pulang. Kau tau? Aku tidak tau. Tuhan selalu begitu, penuh rahasia dan membuat kita bertanya-tanya. Hingga tiba-tiba waktu terhenti disuatu hari yang tak disangka-sangka. Menggenggam erat tangan kematian yang telah bersiap membawa kita. 
Entah kemana.

Mana sempat kita merasa bingung? Mengingat dan menyesali apa yang telah dan belum kita lakukan, atau apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya ditinggalkan, atau memprioritaskan yang patut didahulukan dan mengabaikan apa-apa yang membawa kesia-siaan. Pada detik lengan kematian menggamit lengan kita yang seketika pias, kita akan paham…bahwa sejak semula waktu memang tak pernah mau menunggu. 

Dan kematian, adalah sebuah rahasia yang hanya akan kita ketahui pada saatnya.

pada suatu sore di puncak bukit asah



Kini aku berbaring di bibir tebing yang cukup curam untuk membuat tulang-tulangku remuk redam jika aku menghempaskan diri kedalamnya. Namun anehnya, tak sedikitpun kengerian terlintas di benakku saat melongok memastikan kedalaman jurang tersebut. Hanya rasa penasaran, dan kelegaan yang entah bagaimana ku rasakan tiba-tiba saat berada didekat di bibir jurang tersebut.

Aku hanya ingin berbaring seperti ini lebih lama lagi. Membiarkan segala kegelisahanku sejenak melarut dalam pekatnya udara kebebasan disekitarku. Merasakan aroma ketakutan sekaligus keberanian diwaktu yang sama. Aku menantang diri untuk tinggal lebih lama disini. Bersikap seolah akulah satu-satunya manusia yang hidup ditempat ini. 
 
Sendiri tak selalu membuatku merasa sepi. Kau tau? Terkadang yang kita butuhkan hanyalah jeda dari interaksi dengan siapa saja, dengan apa saja. Kamu dan aku butuh waktu untuk menepi dan menyepi dari hiruk pikuk yang kian terasa penat dikepala. Dan terkadang, menepi dari diri sendiri juga perlu dilakukan. Berpura-pura kalau aku bukanlah aku, dan memandang segala yang terjadi padaku dari sudut pandang yang berbeda. Seorang diri saja, bercengkrama dengan hati yang telah lama berat menanggung segala yang membuatnya sakit dan menderita.


 
Lalu sendirikan aku sekejap saja, sedikit lebih lama. Biarkan aku bertanya tentang segala yang patut ku pertanyakan pada-Nya. Biarkan Tuhan bicara padaku lewat bahasa-Nya. Buat aku mengerti, bahwa dibalik kebisuan tempat ini, DIA sedang bicara padaku tentang kemaha-kuasaanNya.  Dan buat aku belajar dari kesendirian ini, tentang keberanian untuk tak lagi melarikan diri seperti yang sedang aku lakukan kini.


Seperti terlahir kembali dalam tubuh yang sama, aku tersenyum sendiri. Lihatlah, aku begitu kesepian hingga sepi inipun tak lagi terasa istimewa. Namun setidaknya saat ini aku bisa pulang dengan hati yang jauh lebih lega dari sebelumnya. 

I love this place so much!