Saturday, April 26, 2014

Sak Karepku dewe -_-

Dikisahkan oleh seorang sahabat yang enggan disebutkan namanya. Sebut saja Ngatiri (nama disamarkan). Cerita ini terinspirasi dari secuil kisah cintanya di masa lalu dengan seorang  yang juga nggak boleh disebutkan namanya. Maaf ya pembaca yang budiman, temanku ini emang sok misterius. Tapi sebenarnya orangnya menyebalkan kok, jadi nggak ada hubungannya samasekali sama cerita dibawah ini.
Judulnya ini enaknya apa ya? Jujur saja, menentukan judul dari sebuah cerpen yang disadur dari kisah nyata ternyata susah-susah gampang. Takutnya si Ngatiri nggak berkenan dengan judul yang aku cantumkan. Tapi saat ditanyai pendapatnya soal judul yang sesuai untuk cerpen ini, dia berkata "Kasih judul sak karepku dewe aja..wkwkwkwk" 
hhhh...baiklah Ngatiri. sak karepmu ae wess.. iki loh cerpenmuu sing tak tulis ulang. Lek kamu keberatan sama beberapa part, atau semua, ndang komen.en!! -_-

*nb: endinge iku do'a cek kamu ndang rabi karo mbak memey. ngahahhahaaamiinn :v

Binar matanya begitu terang menyenangkan. Binar yang membuatku tak pernah merasa puas jika memandangnya sepintas. Mata itu seperti bintang dikegelapan malam, berkerlip namun berada jauh dibalik awan. Mata yang menyimpan  sejuta rahasia yang Ia sembunyikan lama. Dan aku, selalu, menikmati terang dari kedua bintang itu sembari diam-diam mencoba menyelinap kedalamnya tiap saat tatapan kami tak sengaja bertemu.

Aku tak tau persisnya apa, namun setiap saat mata kami bertemu ada rasa asing yang diam-diam menelusup dalam dada hingga membuatku gugup. Kau tau kan bagaimana rasanya saat kau gugup? Telapak tanganmu menjadi dingin, dan getar yang menyebalkan itu membuat nyalimu gentar untuk balas menatapnya juga. Lebih-lebih menyapanya. Untuk bertanya langsung siapa namanya? Ah, lupakan saja.

Mungkin aku telah jatuh cinta padanya, kataku mencoba meyakinkan diri. Ya, aku rasa ini memang cinta, karena ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya aku pernah merasakan getar yang sama dari dalam hatiku, getar hebat saat bertemu wanita yang ku sukai.

Namun entah mengapa, kali ini getar itu terasa sedikit berbeda. Bukan lagi getar yang menggebu-gebu, yang membuatku dengan tanpa malu-malu mengajak wanitaku pergi berkencan dan membawanya kemanapun aku suka seperti sebelumnya. Bukan. Getar ini terasa lebih halus, menentramkan. Yang tentu saja membuatku semakin penasaran.

Aku ingat betul bagaimana kami bertemu untuk pertama kalinya. Sore itu seperti biasa aku sedang berkumpul di Mushalla dekat rumahku dengan teman-teman lainnya untuk mengaji. Senda gurau bercampur celoteh riang  sesekali terdengar dari mulut-mulut kami, menyemarakkan jeda waktu saat menunggu guru mengaji kami datang.

Namanya juga bocah laki-laki, ada saja yang menjadi bahan untuk dibicarakan. Tawa meledak beberapa kali saat seorang teman bercerita tentang kebodohan yang dilakukannya, dan tawa lain meledak tak kalah riuh saat yang lain menimpali. Sejenak kami lupa kalau kami sedang berada di Mushalla, tempat yang seharusnya jauh dari gelak tawa berlebihan seperti itu.

Tak lama kemudian tiba-tiba sebuah suara datang dari arah pintu, sebuah ucapan salam yang berbarengan dengan suara ketukan pelan pada daun pintu Mushalla itu.

Assalaamu’alaikuum” ucapnya lirih. Aku dan teman-teman seketika bungkam, dan sedetik kemudian serentak teman-teman menjawab salamnya itu, “Wa’alaikumsalaam

Dia pun berlalu begitu saja didepanku dan segera bergabung dengan kelompok mengaji perempuan disudut lain di Mushalla itu. Aku bahkan sampai lupa menjawab salamnya. Aku pun lupa memalingkan muka. Mungkin aku akan terus memandanginya kalau saja seorang temanku yang menyebalkan itu tak mengolok-olokku dan membuat yang lainnya tertawa puas melihatku nyaris mati menahan malu.

Itu pertama kalinya aku melihatnya. Dan harus ku akui, itupun pertama kalinya aku telah jatuh pada pesonanya. Dia bernama Alea, muallaf berkulit kuning langsat yang selalu menundukkan wajahnya malu-malu.

Alea tidak hanya cantik, dia juga indah. Dia begitu indah sampai membuatku berkali-kali memuji Allah tiap saat melihatnya. “Subhanallah... kau adalah bukti bahwa Tuhan memang Maha pencipta keindahan” gumamku dalam hati.

Sejak saat itu Alea bergabung menjadi santri di Mushalla tempatku mengaji. Dan sejak saat itu pula aku menjadi semakin bersemangat menanti sore tiba untuk dapat melihatnya lagi, lagi dan lagi. Meski dengan mencuri pandang, meski dengan tak saling bertukar senyuman, aku merasa sangat senang. Meski aku tau kalau aku mencintainya, namun cinta yang diam-diam seperti ini terasa lebih menentramkan.

Bukan hanya sekali duakali aku ingin menyapanya dan mengobrol dengannya seperti yang dilakukan teman-teman lainnya. Aku telah setengah mati berusaha untuk menghampirinya, namun entah kenapa aku selalu merasa gugup tiap saat kakiku melangkah beberapa senti mendekat kearahnya. Itulah sebabnya selama ini aku hanya bisa memandangi dari jauh saat dia tertawa-tawa dengan teman-temanku yang lainnya.

Aku merasa begitu bodoh. Aku merasa sesak oleh ketakutanku sendiri. Namun tiap saat dia tersenyum kearahku sambil menganggukkan kepalanya aku langsung merasa tenang. Senyum itu kumengerti sebagai isyarat bahwa sebenarnya dia ingin dekat denganku, dan mungkin Ia pun memiliki rasa yang sama sepertiku. Hahaha.. bodoh memang, tapi entah mengapa keyakinan itu begitu kuat menancap dalam hatiku.

Dan keyakinanku bertambah kuat saat tiba-tiba saja Alea datang menghampiriku. Masih teringat jelas, sangat jelas dan masih menggantung dalam anganku bagaimana pertemuan singkat waktu itu terjadi.
Saat itu bulan Syawal, entah tahun berapa aku lupa. Namun yang pasti aku takkan pernah melupakan  yang terjadi sore itu.

Adzan maghrib baru saja mengumandang saat Aku dan Alea berada pada jarak yang begitu dekat untuk pertama kalinya.  Aku hanya bisa terpaku menatap sosok yang berdiri tepat dihadapanku. Ia tersenyum, seolah dengan sengaja ingin membuatku beku dengan senyumnya itu. Jangan ditanya lagi bagaimana dahsyatnya gemuruh dalam dadaku saat itu. Dengan melihatnya dari jarak sedekat itu, aku merasa untuk sejenak waktu menghentikan langkahnya untukku, ya, hanya untukku.

“Raka? Kok bengong?” katanya sembari melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.

Aku terkesiap. “Eh.. Iya. Ada apa Alea?”

“Ada apa? Nggak ada apa-apa. Kamu nggak mau minal aidin wal faidzin sama aku? Dosamu banyak loh ke aku” selorohnya sambil tertawa kecil tanpa rasa berdosa. 
Kalau saja dia tau, ada sejuta balerina yang tiba-tiba datang entah darimana sedang menari-nari riang dikepalaku saat mendengar dia bicara padaku.

Dia pun mengulurkan tangannya padaku. Awalnya aku ragu untuk menyambut uluran tangannya itu. Namun kupikir kapan lagi kesempatan ini datang? tenang Raka, tenang. Dia cuma mau salaman, bukan minta kamu ngelamar dia. Stay cool! Batinku menenangkan diri.

Dan kami pun bersalaman, lima detik. Ku tatap matanya lama, mencoba menelusup kedalam labirin-labirin penuh rahasia dalam dirinya. Ku cari sebuah pembenaran keyakinanku kalau Alea juga menyukaiku. Dan sepintas, aku melihat kerlip bintang dimatanya lagi, kerlip yang sama seperti yang biasanya kulihat. Namun bedanya kali ini kerlip itu khusus untukku, ya hanya untukku. Dan kerlip itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab rasa penasaranku. Aku tersenyum padanya, dan ia pun balas tersenyum padaku.

Aku bahagia. Sangat bahagia.

Sore itu adalah kali pertama aku dapat bicara langsung padanya. Walaupun hanya sekedar bersalaman dan bertukar maaf seolah pernah ada luka yang kami torehkan pada hati satu samalain. Dan sore itu juga menjadi yang terakhir aku melihatnya. Keesokan harinya aku mendengar kabar kalau dia telah pindah, entah kemana.

Beberapa tahun setelah pertemuan itu aku masih kerap mengingat sosok Alea dalam benakku. Hingga tanpa terasa waktu telah menggenapkan diri ditahun keduabelas sejak aku mengenalnya.Dan dua belas tahun lamanya aku telah mencintainya.

Dua belas tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk memendam cinta sendirian. Bagaimanapun juga, belum pernah sekalipun ku katakan pada Alea betapa aku sangat menyukainya. Dulu, saat aku masih memiliki kesempatan yang besar untuk menyatakanya aku malah memilih bungkam, menyimpan perasaanku dalam ruang paling rahasia dalam hatiku.

Entah mengapa, aku merasa lebih nyaman seperti itu. Membiarkan perasaan ini mengakar dan tumbuh menjadi pohon yang rindang dalam hati meski dengan begitu Alea tak dapat merasakan teduhnya, namun tak mengapa.

Mencintainya diam-diam sekaligus membuatku belajar, bahwa cinta tak harus memiliki. Ada kalanya sesuatu akan menjadi lebih indah jika tak berada ditangan kita.

Terkesan kalau aku menyerah sebelum berjuang? Tak mengapa. Memang demikian adanya.

 -------
Lamunanku pecah saat tiba-tiba ponsel yang ku genggam sejak tadi bergetar. Ku lihat layar ponselku. Ada dua pesan singkat dari Memey, pacarku.. dan InsyaAllah calon istriku. Sembari membalas pesan singkat darinya, aku mantap berkata dalam hati untuk melupakan Alea, mulai detik ini.

Mungkin cinta memang tak harus memiliki, saat kita merasa bahwa ada hal-hal yang harus dibiarkan berada pada tempatnya untuk menjaganya tetap indah. Bagiku, cinta yang nyata ada pada sosok wanita sederhana bernama Memey.  Selamat tinggal. Alea.

*tamat*

Rasanya seperti jatuh cinta lagi..



Suka senyum-senyum sendiri tiap saat teringat bagaimana Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya padaku dengan cara-Nya yang unik. Rasanya sudah tak ada keraguan lagi bahwa pertolongan Tuhan memang selalu dekat adanya…


Aku hanya perlu menunggu, dan yakin bahwa pertolongan-Nya datang tak pernah terlambat. Selalu disaat yang tepat. Disaat aku telah benar-benar siap, dan mengerti sendiri bahwa semua yang melemahkanku, pada akhirnya hanya akan menjadi batu loncatan yang membawaku selangkah lebih dekat menuju kekuatanku yang sebenarnya.


Aku percaya, Tuhan mungkin tak selalu memberikan  apa yang ku minta. Namun Ia selalu tau saat yang tepat untuk memberikan  apa yang ku butuhkan.


Sama halnya ketika aku berkali-kali meminta kekuatan padaNya, aku tak merasa kekuatan itu lantas ada padaku saat itu juga. Tuhan malah memberikanku kesulitan demi kesulitan. Kesulitan-kesulitan yang kerap membuat mataku basah setiap malam. Yang membuatku semakin mempertanyakan letak kemurahan dan keadilan-Nya. 


Namun bila dipikir-pikir kembali, justru kesulitan itulah yang membuatku menemukan kekuatan yang ada padaku. Dan dengan kata lain, Tuhan sedang berkata padaku dengan caraNya sendiri  bahwa Ia tidak menciptakan makhluk yang lemah, semuanya terlahir kuat..seperti halnya aku. Hanya saja, aku harus menemukan kekuatanku sendiri  melalui cara-cara-Nya yang kadang terasa sulit untuk dilewati.


Tuhan tak menjawab pintaku, namun menunjukkan cara agar ku temukan sendiri jawaban yang telah ada padaku.


Entah mengapa, hatiku selalu bergetar saat mengingat hal itu. Mataku basah lagi, Tuhan.. namun bukan karena kesedihan. Tapi karena rasanya hati ini semakin sesak oleh cinta yang kian tumbuh besar kepada-Mu.


Terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan untukku belajar sedikit demi sedikit  mengerti kehidupan ini, yang semuanya dengan pelan namun pasti membuatku merasa menjadi semakin dewasa dalam  beberapa hal. 
Terimakasih untuk segalanya…

  

Thursday, April 24, 2014

Tweet hasil Insomnia beberapa malam (yang lalu)


Mereka yang menghina pengangguran nggak pernah tau gimana capeknya nganggur gak ada kerjaan..
Menyesal itu baik, selama yang disesalkan adalah waktu yang terbuang untuk kesia-siaan.
Selain airmata, do'a adalah puisi paling sederhana yang  mampu meredam sejuta rindu yang tak mungkin berujung temu
Bisa jadi, hal kecil yang selalu kita abaikan adalah sesuatu yang penting bagi orang lain. Perhatian misalnya.
Semua yang melemahkan, pada akhirnya akan menjadi batu loncatan yang membawa kita ke titik balik menuju kekuatan yang sebenarnya.
Seperti halnya senja yang tak dapat ku tahan datangnya, pergimu pun diluar batas dayaku untuk mencegahnya..
Jika senja adalah kaca, maka fragmen jingga yang ku genggam ini adalah rindu yang hanya memberiku luka
Jangan lupa kalau gagal juga merupakan sebuah prestasi. Prestasi (gertir) yang harus bisa memotivasi kita untuk segera bangkit dan membalik keadaan.
Maybe, that person you want most is the person you're best without.
Banyak hal yang nggak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesempatan
Aku membutuhkanmu sebanyak kebutuhanku akan kebebasan dari merindukanmu.
Diantara ruang-ruang do'a yang Kau sediakan, penghujung malam-Mu adalah ruang paling lapang untuk gelapnya hati yang mendamba terang.
Orang yang tersesat itu adalah orang yang beruntung, karena berkesempatan untuk mencoba lebih banyak jalan lain.
Panglima bercangkul tersenyum simpul, beras sebakul dirasa cukup untuk menjaga dapur istrinya tetap mengepul.
katakan padaku, akankah panglima kecil ini mampu mengalahkan musuh tangguh yang bernama "aku?" cerminku diam, kelu.
Malam memudar saat aksara layu diatas kepingan rindu yang menderu-deru, rindu kamu.
Noda ini aku, aku yang mencoba membersihkan diri dengan tobatku. Aku yang mandi dengan do'a-do'aku.
Jika cintamu adalah bercak noda, jangan heran jika kini kau dapati sekujur hatiku kotor semua..
Kembalikan aku pada tidur yang bebas dari amarah, rindu, lapar dan segala rasa yang membuatku terjaga beberapa malam kemarin.

Mahatma Gandhi pernah bilang..

Tiba-tiba saja teringat akan kalimat mutiara dari seorang Mahatma Gandhi yang berkata,
“The weak can never forgive, forgiveness is the attribute of the strong”.
Memang, ada saat dimana sebuah maaf akan menjadi begitu sulit untuk diberikan. Saat dimana untuk sejenak aku lupa kalau Tuhan saja maha pemaaf, kenapa aku dengan begitu angkuhnya enggan memberi maaf pada mereka yang mau memintanya?


Mahatma Gandhi memang benar. Kalau aku lemah, aku tak akan sanggup untuk memaafkan kesalahan oranglain.
 

Dan kalau aku begitu suka melanjutkan
hidup dengan perasaan tak tenang, aku akan enggan meminta maaf kepada siapapun.

Padahal aku cuma manusia, tempatnya salah dan dosa-dosa…….


Wednesday, April 16, 2014

Seharusnya Jangan Lupa Terus

Jangan salahkan oranglain atas ketidak-mengertian mereka terhadap sesuatu yang kamu ingin mereka mengerti. Karena mereka, seperti halnya aku, adalah manusia yang hanya dapat melihat apa yang nampak  dan mendengar apa yang terucap, bukan yang tersembunyi didalam hati..

Aku seharusnya mengerti kalau tugasku hanyalah berbuat baik tanpa memikirkan balasan seperti apa yang akan ku dapatkan. Yang seharusnya kulakukan adalah tetap cuek pada sikap orang dan fokus pada perbaikan sikap diri sendiri yang masih jauh dari kurang. Aku juga sering melakukan kesalahan demi kesalahan, namun mengapa begitu sedih rasanya saat dikecewakan?

Seharusnya sudah sejak lama aku paham kalau niat baik tak akan selalu mendapatkan balasan yang baik. Namun semakin aku memikirkannya, rasanya aku seperti terlalu berharap pada balasan orang. Dan memang begitu adanya.

Maafkan aku Tuhan,.

Aku lupa kalau sebagai manusia yang harus kulakukan adalah hanya berusaha menjadi baik, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku lupa kalau balasan orang apapun bentuknya tak lagi penting, karena ridho-Mu melebihi segala yang sangat aku harapkan.

Maafkan lupaku ini, Tuhan...

Maafkan ketidak-baikan sikapku yang membuat mereka membenciku. Aku hanya sedang memperbaiki diri, maka bantu aku untuk tak semakin menyakiti hati mereka dengan kebodohanku..

Maafkan lupa ku pada apa yang seharusnya menjadi kewajibanku, tanpa melulu menghitung-hitung hak yang seharusnya ku dapatkan.

Maafkan hati yang tak peka ini.

Aku tau Kaulah yang Maha pemaaf, sedalam apa maaf ini berteriak dalam hatiku pun hanya Kaulah yang maha mengetahui, maka maafkanlah aku Tuhan...


Tuesday, April 1, 2014

Eureka!

Disuatu malam yang hening disudut kota Sleman, aku hampir menemukan semua jawaban-Mu, Tuhan...

Jawaban dari banyak pertanyaan yang selama ini menjadi beban yang tak ringan di pundakku.


Perlahan namun pasti aku mulai mengerti cara termudah mengurai apa yang dulu kuanggap begitu rumit. Lalu sedikit-demi sedikit beban itu mulai berkurang, mencipta ruang yang begitu lapang dihatiku namun aku tak merasa kosong karenanya. Ruang yang membuatku merasa begitu beruntung karena telah terlahir kedunia, untuk pertama kalinya-

Terima kasih, Tuhan..

(Masih) Tentang Waktu Yang Sama

Ada jejak yang tertinggal saat waktu beranjak dari sisimu. Jejak yang sengaja Ia biarkan berserak agar terlihat oleh kedua ekor matamu itu. Mungkin, dengan jejak-jejak ituwaktu ingin menuntunmu berjalan ketempat ia menunggumu, diujung jalan itu.

Atau mungkin juga tidak, sebenarnya waktu tak benar-benar sedang menunggumu. Ia bukan sesuatu yang bisa diam lebih dari sepersekian detik hanya untuk menunggu. Ia adalah suatu yang terus dan terus menerus bergerak dan akan bergerak terus meninggalkanmu.

Maka kejarlah dia sebelum langkahnya terlampau jauh dari yang dapat dijangkau kaki-kaki kecilmu itu!

Jangan biarkan waktu menjebakmu dalam kenangan demi kenangan yang Ia cipta dalam jejak yang ia tinggalkan. Kenangan pada benda yang ketika melihatnya membuatmu betah memaku diri lama-lama untuk sekedar mengingat yang telah lalu. Atau kenangan pada satu-dua lagu yang membuatmu menghentikan langkah hanya untuk mendengarkan ingatanmu yang berteriak lewat lyric penuh kerinduan semu itu.

Sampai kapan kau akan berdiam ditempat yang sama? Sedang waktu semakin jauh beranjak dari sisimu?

Bergeraklah... sejajarkan langkahmu dengannya. Tinggalkan jejak kenangan bersamanya, sang waktu. Kemudian biarkan angin meniup jejak-jejak itu.... biarkan hujan menghapus kenangan-kenangan itu. Karena kamu hidup bukan untuk berdiam diri disatu tempat  disatu masa. Kamu, serupa waktu  adalah sesuatu yang harus terus-menerus bergerak mengikuti arus kehidupan yang begitu derasnya. Kamu akan sakit bila memaksa diri bergerak melawan arus, kamu hanya akan terluka bila memaksa diri untuk tetap tinggal ditempat yang sama dalam waktu yang lama.

Kamu terlahir bukan  untuk membusuk di masa lalu.
Kamu tercipta untuk selalu melangkah kedepan dengan belajar dari setiap langkah yang kau ambil.
Kamu mungkin akan terjatuh berkali-kali, lalu bangkitlah lagi..lagi dan lagi.
Kamu mungkin akan merasakan perihnya luka disekujur tubuhmu, tapi kau pun harus ingat.. pada setiap luka itu ada obat yang diam-diam Tuhan titipkan untuk menyembuhkanmu.

Lalu jika kau telah sampai pada titik kau merasa begitu putus asa, jangan pernah lupa... bahwa Tuhan masih ada bersamamu dan akan selalu begitu. Ia selalu siap jika sewaktu-waktu kau memanggil namaNya untuk kau mintai pertolongan. Maka mintalah! Mintalah dengan hati yang sungguh-sungguh percaya bahwa Ia pasti akan mengabulkan permintaanmu itu. Walau tidak dengan cara yang kau kira, tapi yakinlah cara-Nya selalu yang paling sempurna untukmu.

Bergeraklah dengan kedua kakimu.. pijakkan telapak kaki itu diatas bumi ciptaan-Nya ini. Berjalanlah, tataplah sekitarmu. Lihatlah rumput-rumput itu, rumput yang selalu kembali hijau setelah terinjak.. hangus oleh panas matahari, atau sekarat karena  terendam genang air hujan. Ia selalu kembali hijau, sehijau harapan yang selalu dibawa mentari pagi.

Angkat dagumu dan lihat langit diatas sana. Gambar birunya didalam kepalamu, dan ciptakan gumpalan awan-awan putih yang bergerak dalam benakmu. Bayangkan kau adalah burung yang terbang bebas memecah udara. Bayangkan kedua sayapmu mengepak dengan gerakan teratur sembari menyebut asma-Nya. Bukankah ada banyak hal yang lebih indah untuk dilihat di dunia ini selain berdiam diri disatu tempat yang sama?

Kamu, terlalu berharga untuk terpenjara dalam sepimu.

Kamu terlalu istimewa untuk terjebak dalam ilusi masa lalumu.


Maka bergeraklah bersama waktu.