Saturday, February 16, 2013

biarkan kertas itu tetap kosong


Entahlah, berhadapan dengan kertas kosong selama lebih dari satu jam selalu membuatku frustasi. Ada begitu banyak hal yang ingin segera ku pahat diatas sebidang kertas ini. Kata demi kata tumpang tindih berusaha mencuri perhatianku, tampil menawarkan diri untuk menjadi yang terpilih sebagai awal dari segala rasa yang sedari tadi mendesak, melesak dalam hatiku, mencipta debar yang tak asing.. debar yang sangat ku kenali tiap saat berhadapan dengan kertas kosong, seperti saat ini.
Namun aku tetap merasa hampa. Hampa yang tak biasa. Hampa yang sering ku hadapi namun kini terasa berbeda. Lebih sakit, lebih membuatku luka. Tak ada satu hal pun yang lebih membuatku putus asa selain dihadapkan pada kehampaan putihnya kertas dihadapanku ini. Tak ada keinginan untuk membuka suara dengan lawan bicara, tak ada keinginan untuk berbagi cerita pada siapa saja. Aku memilih sendiri, menepi sejenak dari keramaian yang kian membuat dadaku sesak. Menyepi dari pekik hari-hari yang kian mencekik tubuh hingga tulang-tulangku.
Aku ingin menulis sesuatu. Sesuatu yang sedari tadi menggelitik perasaanku. Intuisi kemudian mempermudah segalanya, mengarahkanku secara alami dalam mempersiapkan segala senjata untuk bertempur dengan perasaanku sendiri. Namun nihil, aku babak belur sebelum sempat menyerang ide-ide liar yang berloncatan didalam kepalaku. Aku ditelanjangi oleh keinginanku jauh sebelum aku mulai mengukir sebuah kata pembuka diatas medan kertasku. Aku merasa dibodohi pikiran-pikiranku sendiri. Aku merasa ditipu mentah-mentah oleh intuisi yang selalu ku percaya sebagai bisikan ’baik’ yang mengarahkanku pada hal baik. Pada karya yang baik.
Adakah yang salah dari diriku?
Ku hitung kurang lebih sudah tiga kali jarum jam itu berlarian dari satu angka ke angka yang lain. Dentingnya terdengar seperti sebuah olokan akan ketidakberdayaanku melawan kebingungan yang merajai seluruh sistem kreatifitasku.
Dan sekali lagi, kata-kata mati dalam pelukan kebingunganku. Aku kehilangan kata-kata. Aku terjebak dalam kebingungan yang memenjaraku. Aku sangat ingin menulis. Ada banyak hal yang ingin ku tuang diatas kertas putih ini, namun nihil. Kertasku tetap tak tersentuh tinta perasaanku. Ia sama bisunya seperti jemariku. Menyempurnakan hampa yang kian mencekik diamku. Hampa yang sedari tadi ingin ku tuliskan bentuk rupanya, namun kalah segala kata dalam kepalaku karenanya. Akh, mungkin baiknya ku simpan saja hampa yang satu ini dalam kepalaku. Membiarkan segala kata beradu tumpang tindih satu sama lain hingga lelah menidurkan mereka pada akhirnya. Semoga. 

Friday, February 8, 2013

Resep: udang pedas manis





Yang namanya udang itu yaa.. masih idup aja kelihataannya enak, apalagi yang udah dimasak :) Nah, ini salahsatu cara mengolah udang yang lumayan praktis, nggak ribet, tapi rasanya enak. Bisa dicoba buat para pecinta udang olahan seperti saya hahaaha :D


UDANG PEDAS MANIS ala Inaz :)

Bahan-bahan:
Udang segar 1/4kg –kupas kulitnya
3 siung bawang putih
3 siung bawang merah
2 buah cabai merah besar
2 buah cabai rawit
asam jawa secukupnya –larutkan dalam 5 sendok air
1cm laos, memarkan
Gula merah secukupnya
garam + penyedap secukupnya

Cara membuat:
  1. panaskan wajan dengan api sedang, kemudian goreng udang yang telah dikupas dengan sedikit minyak. Angkat setelah berwarna sedikit kemerahan.
  2. haluskan semua bahan (selain udang) kemudian goreng sampai harum. Tambahkan larutan asam jawa dan garam serta penyedap secukupnya.
  3. terakhir masukkan udang yang telah digoreng setengah matang.
  4. aduk sampai merata dan tunggu sampai bumbunya meresap.
  5. hidangkan selagi hangat.


*selamat mencoba*

Insomnia


Aku t’lah terbiasa babak belur dihantam sepinya hari-hari 
Dan yang dapat mengobati sakitnya hanya dengan tidur sejenak,
walaupun saat bangun nyeri disekujur hatiku kambuh lagi.

Mungkin hatiku sekarang telah biru dan membusuk
karena terlalu lama menahan sakit.
Sudah sekian hari aku lupa caranya tidur,
aku lupa bagaimana memejamkan mata.
Aku lupa caranya mengantuk..
Atau malah rasa kantuk itu yang telah melupakanku?
Entah.

Insomnia mulai ku persalahkan sebagai akar kegamanganku.
Malam kian pudar, sepi kian samar,
dan aku tetap menatap langit-langit putih kamarku
yang penuh dengan aneka gambar ingatan
yang perlahan usang oleh waktu.

Ku buka catatan harianku.
Baru beberapa jam tadi aku menulis betapa sakitnya hatiku,
dan kini semakin sakit rasanya saat ku baca lagi.
Seperti memutar kembali detik-detik
saat hati ini benar2 tengah kambuh sakitnya.

Aku ingin minum obat.
Tapi obat yang mana lagi yang dapat membuatku lupa akan sakitku?
Sakit hatiku?

Aku sangat ingin tidur malam ini..

Tidurkan aku dalam pangkuan-Mu tuhan..
Karena lengan manusia terlalu mudah menipuku
dengan kehangatan sesaat yang mereka tawarkan padaku.


Baringkan aku dalam kuasa dekapan-Mu,
karena bahu manusia tak cukup kekar untuk menopang
tubuh ringkih dengan segala kelemahanku ini..

Obati luka dihatiku ini dengan tidur yang maha lelap malam ini..
Agar esok pagi tak lagi ku maki-maki diri sendiri
dihadapan mentari yang lagi-lagi kulewatkan sinarnya
karena telat bangun pagi.


Tuhan, besok jangan bosan bermain denganku lagi.
Beri aku kehidupan untuk ku permainkan,
sebelum kau buat kehidupan mempermainkan hati yang mudah sakit ini.

Monday, February 4, 2013

Yang Tertinggal


Atas nama ketidakcocokan kau memilih pergi
Meninggalkan separuh ruang yang tak lagi berpenghuni
Sebelah cintaku kau bawa lari,
Sebelahnya lagi beranjak menuju mati

Dan yang tinggal hanyalah debar ini,

Debar ini amarah yang membuncah
bersama bayangmu yang pecah di ambang kelopak mataku
Aku memejam dan tarianmu kian nyalang meliuk-liuk jalang.
Debar ini benci yang mengunci tiap aksara cinta
yang pernah terpatri dalam tiap catatan demi ingatan.
Debar ini tak lagi rindu yang dulu
seperti saat waktu-waktu bersamamu selalu berwarna ungu,
kini tinggal abu-abu

Atas nama rasa yang t’lah hilang kau memilih pergi
Tinggalkan anak cintamu
yang beranjak dewasa dalam dadaku

Dan yang tersisa tinggalah hujan,

Hujan ini terasa hangat ketika malam-malam ku terbangun,
dan kau tiada.
Hujan ini mengalir deras dari hulu mataku
Menuju hilir ingatan yg kian usang sejak kepergianmu

Debar ini kian menuju mati
hujan ini kian terasa tajam bak belati
dan kau tetap memilih pergi,
tanpa sudi mengulur segenggam perduli



 Bali, 2013