Friday, March 6, 2015

Biar Diam Yang Bicara..




            Senja baru saja menetas dibibir pantai, menggiring burung-burung gereja berarak-arak pulang, bergandeng-gandengan. Riuh celoteh mereka tak membuyarkan lamunanku. Anganku terbang pada satu titik dimasa kanak-kanakku. Seperti berputar-putar dilorong waktu, kutemukan diriku dengan tubuh lebih kecil dan gigi-gigi ompong disana-sini.
Seperti biasa, aku kecil sore itu hanya dapat memandangi sosok laki-laki dengan punggung tegap yang membelakangiku. Laki-laki itu sibuk dengan selembar koran, menyeruput kopi, mengacuhkanku. Pun dihari-hari berikutnya, aku kecil begitu setia menemani sorenya dengan diam. Duduk diantara sepi yang menari-nari. Tanpa suara, aku begitu mencintainya.
Tahun pun beranjak dari masa itu. Masih di sore yang sama, kupandangi punggung kekar itu dengan tatapan sayu. Rindu hati yang merayu untuk bercengkrama dengannya urung dengan niatannya. Ia terlalu kaku untuk kusentuh dengan sapaan sayangku. Terlebih mengecup pipinya, apalagi duduk dipangkuannya. Lupakan saja!
Waktu semakin merayap mengantarkanku pada usia remaja. Telah berpuluh, beratus sore kutinggalkan Ia sendiri yang larut dengan koran dan kopinya. Tak lagi kurasakan sepi. Duniaku, hariku, soreku kini penuh sesak oleh riuh tawaku dengan teman-temanku. Sejenak kulupakan cintaku padanya yang selalu mengacuhkanku. Kunikmati hari-hari dengan mengacuhkannya jua. Kuhampiri Ia hanya ketika aku butuh segepok uang untuk membeli sejumput kesenangan bersama teman-temanku. Dan kubanting pintu ketika hanya diam yang mampu Ia berikan. Kecewa, iya. Marah, pastinya. Tapi tak ada yang dapat kulakukan selain pergi dengan tatapan sendu, berharap ia akan mengerti betapa kecewanya aku saat itu..
Waktu masih terus melaju cepat mengantarkanku pada saat dimana aku harus pergi lebih jauh dari kotaku untuk menuntut ilmu. Dan untuk pertama kalinya, kulihat sorot matanya sedikit berbeda. Mata abu-abunya meredup. Seakan ada banyak kata yang ingin Ia sampaikan sebelum keberangkatanku. Namun hanya dengan diam dan selalu memunggungiku ia berlalu begitu saja. Seakan hanya itu satu-satunya cara yang dapat dilakukannya untuk mengatakan betapa Ia pun mencintaiku. Padahal jauh dilubuk hati, aku ingin mendengar sepatah kata darinya. Sekali saja, telingaku ingin dimanjakan dengan kata-kata ”berhati-hatilah disana anakku, jaga diri baik-baik puteri kecilku, ayah mencintaimu..”. ah sudahlah.
 Air mataku tumpah bersama sedihku, kecewaku, cintaku, rinduku yang tiba-tiba menerjang akal sehatku. Sesak dadaku ketika kucium tangannya yang kasar. Dengan mata berkaca-kaca dan masih dengan diamnya Ia melepaskanku. Baru kusadari bahwa cinta ini terlalu besar untuk kutahan lagi. Pada diri sendiri aku berjanji untuk tak membagi cinta ini pada lelaki manapun, melainkan hanya padanya. Lelaki berjaket cokelat dengan peci putih itu. Lelaki berpunggung tegap yang selalu mengacuhkanku itu.
Dulu saat aku begitu marah padanya, aku selalu berharap moment perpisahan ini segera terjadi. Aku begitu ingin membentangkan jarak sejauh mungkin dengannya. Hingga tiba-tiba saja deru mesin tua Bis yang akan membawaku bergetar di dasar hatiku, menggema di kepalaku,  menyadarkanku dari lamunan.  AKU TAK INGIN PERGI! Aku ingin tinggal lebih lama bersamanya, di rumah kami, meski setiap sore harus kupandangi punggungnya saja tanpa kata-kata.
 Dari kaca jendela yang berembun kucari-cari sosok ayahku. Dibawah keremangan malam dan redupnya lampu-lampu terminal, kudapati sosoknya yang berdiri kaku, nanar menatap gerakan bis yang perlahan menjauhkanku darinya. Kulihat ia menyeka air matanya, dan pipiku kian basah menyaksikan pemandangan itu. Ia melambai, dan kubalas lambaian tangannya dengan pedih. Bis pun berbelok, dan bayangannya ditelan baliho besar di gerbang terminal. Sesuatu menyentak naluriku, sebuah firasat samar yang berkata takkan banyak lagi sore yang akan kulalui bersamanya.
Aku terisak disepanjang jalan. Perpisahan selalu terasa pedih bagiku. Entahlah, kupikir semester depan aku pasti akan pulang dan menemuinya lagi dirumah, namun kesedihan ini terasa begitu dalam menusuk-nusuk lubuk hatiku. Ku ingat-ingat sosok ayahku yang pendiam itu, dan kusadari bahwa lelakiku kini semakin tua. Punggung tegapnya kini terbungkuk. Sorot mata dinginnya kini sayu. Dan semua itu karena hari-hari keras yang ia lalui untuk menghidupi segala kebutuhanku. Dan semua itu kubalas dengan wajah masam, pintu yang dibanting, dan kaki yang menghentak pergi ketika hasrat kanak-kanakku yang ingin memiliki ini-itu tak jua Ia penuhi.  
Terbayang tahun-tahun terberat yang Ia lalui demi sekepal kebahagiaan untuk anak istrinya. Dia, selalu menjadi sosok seorang ayah yang kaku,  yang jarang tersenyum pada anak-anaknya, namun begitu kuat kharisma ke-ayahannya. Didekatnya kami merasa nyaman. Didekatnya kami merasa mendapat perlindungan paling aman.
Aku ingat pernah melihatnya menangis untuk pertama kali. Ayahku menangis. Ayahku yang pendiam itu menangis sejadi-jadinya saat kebahagiaannya direnggut oleh manusia-manusia tamak yang selalu berusaha menjatuhkannya. Kali ini mereka membakar rumah kami. Dan seakan tak cukup dengan meluluh-lantakkan istana yang dibangun ayahku, mereka juga ingin merenggut nyawanya, nyawa kami! Sumpah! Sampai mati aku begitu mengutuk mereka yang telah melukai hati lelakiku. Dendam ini mendarah daging dalam tubuhku. Membulatkan tekadku untuk mengembalikan kebahagiaan yang pernah mereka curi darinya. Air mataku semakin deras membanjir di pipiku. Dengan segenap dayaku, kucintai ia dalam diam yang larut bersama udara, bersama laju bis yang membawaku pergi.
Siapa sangka kalau sore itu ternyata benar-benar jadi soreku yang terakhir bersamanya. Saat kepulanganku terakhir kali kujumpai Ia terkulai lemah di ranjang rumah sakit berbau obat, begitu menyengat. Seakan tak dapat ku percayai mataku, sosok lelaki tegap itu kini harus mengalah pada selang yang menancap selang-seling ditubuhnya yang terlihat lebih kurus itu. Nafasnya terputus-putus, berat membawa nyawa yang kian gemetar ditubuhnya. Asma Tuhan membuncah, menyeruak bersama haru yang mengudara menderu-deru kerinduanku. Kulafadzkan segenggam do’a, berharap-harap matanya akan terbuka seketika, memandangiku. Tak apalah bila kau tatap aku dengan tatapan dingin itu lagi. Tapi bangunlah! Bangunlah Ayah!
Namun kelu. Ia masih sama diamnya seperti waktu-waktu itu. Dengan diam yang berbeda, yang lebih membunuhku.
Dan senja kembali menetas dikaki langit. Temaramnya menggerayangi setengah jiwaku yang pergi bersama lantunan ”laailahaillallah..” para pelayat yang turut menghantar jasad lelakiku pada persemayaman terakhirnya.
Kebas hatiku pada rasa, pada suara. Ini benar-benar sore terakhirku bersamanya. Kepergiannya membuat tiap soreku tak lagi indah. Takkan pernah indah lagi tanpa punggung yang selalu membelakangiku itu. Separuh hidupku Ia bawa serta, membuatku merana. Aku mengiba pada hati yang kian merapuh agar tak semakin jatuh. Aku harus kuat untukku, untuk jalan kepulangannya, untuk ibu, untuk sisa kehidupan yang harus kulanjutkan.
Maafkan aku Ayah. Cintaku padamu terkadang selalu membangunkanmu dari tidur lelapmu dipangkuan-Nya.
Terimakasih untuk hari-hari diam kita. Diam yang mebahasakan cintaku padamu, cintamu padaku.
Terimakasih untuk tidak memenuhi semua pinta kanak-kanakku dulu, karena dengannya kini aku mengerti tetang arti sebuah kesederhanaan. Kau membuatku belajar untuk selalu merasa cukup dengan segala kecukupan yang Tuhan berikan padaku. Kau pun membuatku belajar bahwa diam jauh lebih baik daripada kata-kata yang mengumbar untuk kemudian menjadi hambar dihempas udara, lenyap tanpa bekasnya. Baru kusdarai, Diammu itulah wujud cintamu padaku, pada puteri kecilmu yang takkan habis cintanya padamu.
Tenanglah disana Ayahku sayang.. do’akan untuk kebahagiaan yang tengah kuperjuangkan untukmu. Jika sampai saatnya kita dipertemukan lagi, izinkan aku mengecup keningmu, dan mencintaimu dengan lebih diam dari caramu. I LOVE YOU DAD.....