Sunday, June 16, 2013

Ayo Kita Bahagia! :D


Kita tidak berhak memilih untuk terlahir sebagai apa dan siapa, yang perlu kita lakukan hanyalah memilih cara yang paling tepat untuk menghabiskan hari ini, besok dan seterusnya, agar minimal penyesalan-penyesalan yang kerap kita keluhkan saat ini bisa sedikit berkurang dimasa yang akan datang.
Ada sebagian orang yang selalu diliputi rasa kurang puas sepanjang hidupnya. Entah ketidak-puasan itu berasal dari lingkungannya, orang-orang terdekat, dan bahkan dari dirinya sendiri. Dan pada titik tertentu, orang cenderung akan merasa jenuh akan rasa tidak puas itu sendiri, yang pada akhirnya kejenuhan tersebut akan mengarahkan mereka pada keinginan untuk mencari solusi untuk keluar dari masalah klise tersebut.
Sebenarnya sederhana saja, yang perlu digaris-bawahi dalam hal ini adalah keinginan yang ada dalam diri kita. Seberapa besar keinginan yang kita tumbuhkan setiap saat, dan bagaimana keinginan tersebut dapat kita cukupi. Terang saja, keinginan yang tidak terpenuhi hanya akan berakhir menjadi ketidak-puasan dalam diri seseorang. Yang mana, ketidak-puasan ini menjadi akar dari segala penyebab ketidak-bahagiaan hidup seseorang.
Dengan tubuh berisi seseorang ingin menjadi lebih langsing. Dengan hidung mancung, seseorang ingin memiliki wajah tirus. Dan segala hal ’lebih bagus’ lainnya yang selalu menjadi bahan perbandingan dengan diri sendiri tersebut adalah sebagian contoh kecil dari ketidak-puasan seseorang dalam hidupnya.
Sungguh sangat miris, jika yang disebut kebahagiaan oleh sebagian orang adalah pemenuhan keinginan-keinginan semu seperti contoh-contoh tersebut. Tentu saja, mengejar kebahagiaan akan menjadi hal yang paling melelahkan dalam hidup. Karena bagaimanapun juga, diri kita tidak akan pernah bisa sebanding dengan segala pembanding yang notabene jauh lebih baik dari diri kita sendiri.
Seperti kata pepatah, ”diatas langit masih ada langit”. Kebahagiaan yang kita kejar dalam bentuk perbandingan-perbandingan tak akan pernah ada habisnya. Bayangkan, jika makna kebahagiaan yang kita kiblati hanya sebatas mengejar kesempurnaan wujud dunia yang tak akan ada habisnya ini. Dan bayangkan, seberapa tidak-bahagianya kita jika setiap keinginan semu tersebut tidak berhasil kita penuhi seberapa keraspun upaya yang telah kita tempuh untuk memenuhinya? Tentu saja, kita hanya akan hidup menjadi budak keinginan-keinginan kita sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita merubah sedikit mindset kita tentang makna kebahagiaan yang selama ini kita cari kemana-kemana. Mulailah berpikir dari hal-hal kecil yang memungkinkan diri kita menjadi ’bahagia’. Atau, mungkin kebahagiaan yang kita cari tersebut dapat diraih dengan merubah sedikit definisi bahagia dalam hemat kita.
Bahagia, bagi saya adalah rasa nyaman, tenang dan aman. Segala sesuatu yang dapat membuat saya nyaman adalah bentuk kebahagiaan yang tak perlu saya cari dengan susah payah. Cukup berada didekat keluarga, teman-teman terdekat, kekasih, maupun orang-orang baru yang membawa pemikiran baru dan semakin membuka wawasan saya. Bahagia yang sederhana, mungin dapat kita temukan dari orang asing yang tak sengaja kita jumpai ditengah jalan, bertegur sapa sejenak untuk selanjutnya tak bertemu lagi kecuali lewat sebuah kebetulan lain dilain waktu dna tempat. Dan masih banyak bentuk kebahagiaan lain yang dapat saya, dan kita raih tanpa harus bersusah payah menyiksa diri untuk mengejarnya setengah mati.
Saya teringat nasihat mendiang ayah saya, beliau selalu menanamkan dalam diri kami anak-anaknya, bahwa kebahagiaan itu terletak pada rasa syukur dan bagaimana kita mensyukuri segala sesuatu yang kita miliki. Saat ini saya memaknai nasihat ayah saya tersebut sebagai cara terampuh untuk membunuh keinginan yang semakin susah dikendalikan dari hari-kehari.
Bersyukur. Mungkin merupakan sebuah pekerjaan sederhana, namun sulit untuk benar-benar dilakukan kecuali bagi mereka yang benar-benar mendambakan kebahagiaan hakiki dalam diri mereka sendiri. Bersyukur karena mengenal Tuhan, mengenal diri sendiri, mengenal keinginan kita sendiri, dan mengenal bentuk kebahagiaan yang sebenarnya kira cari.
Mari kita bersyukur sejak saat mata kita baru terbuka dipagi hari. Dimulai dengan bersyukur atas udara segar yang masih leluasa masuk memenuhi rongga paru-paru kita. Bersyukur karena tubuh kita masih sehat untuk bekerja diluar rumah. Bersyukur atas segala pengetahuan yang kita dapat setiap hari. Dan bersyukur atas diri kita apa adanya. Tidak ada yang lebih dapat kita syukuri, melainkan kenikmatan terlahir menjadi diri kita sendiri, ditengah keluarga yang sekarang kita miliki, dengan bentuk fisik yang penuh keterbatasan ini, dan kesadaran untuk selalu bersyukur seperti ini.
AYO KITA BAHAGIA dengan selalu bersyukur setiap saat, sampai bersyukur itu menjadi kebiasaan yang sulit untuk tidak kita lakukan.
Karena bahagia ada ditangan kita sendiri, maka jangan sekalipun kita biarkan orang lain merusaknya, kecuali jika kita sendiri yang mengizinkannya! 

Wednesday, June 12, 2013

wake up call


Bismillahirrahmaanirrahiim..
Sayang,
Di bumi yang kau jejak, tak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Begitupun tak ada cinta tanpa pengorbanan. Kau harus memahami dan menetralisir betul arti ungkapan itu dalam tiap hela nafasmu.
Kita sama-sama tengah berjuang untuk tetap ‘hidup’ dalam kehidupan yang kita susuri menuju impian kita masing-masing. Kau ingin berhasil menemukan bintangmu, aku juga. Kau dan aku telah berani menentukan arah yang kita anggap benar. Maka untuk itu kitapun harus siap menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi pada jalur itu. Apakah dengan itu kita mesti kehilangan tangan, kaki, bahkan…kepala. Kita mesti siap meradang di setiap persimpangan jalan kita.
Kau tahu, Sayang… bahwa Dia tidak melihat hasil cita-cita kita, tapi Dia menilai setinggi dan sebesar apa perjuangan yang kita laukan demi mencapainya. Nama atau gelar hanya hadiah dari manusia tidak lagi berarti bagi Allah terhadap orang yang mencarinya. INGAT!!! Dia tidak butuh semua itu. Dia hanya ingin menjual surga dengan diri, keluarga dan harta hamba-hambaNya. Dan di firmankan sudah bahwa Dia tidak menjadi rugi bila kita tidak membelinya.
Kita harus lebih dulu menangis untuk bisa tertawa. Bukankah Rasulullah pun telah menangis lebih banyak? Bahkan dia merasakan sakit lebih dari siapapun. Kamu tidak iri, sayang?  Melihat banyak manusia yang lebih memiliki cinta Allah, justru kita harus memiliki cinta yang lebih besar dari mereka.
Ingatkah kau pada waktu ibu kita berkata lewat matanya yang bijak, bahwa beliau ingin melihat kita berdiri ditempat imam-imam  dengan mengibarkan panji-panji Allah? Dan sewaktu Ayah menasehati lewat tangannya yang pedih, bahwa kita harus menjadi orang terkuat. Apa kau lupa ketika beliau berdua melambaikan tangan-tangan yang penuh dengan bekas luka itu diluar kereta yang kita tumpangi menuju medan jihad? Tangan-tangan itu berbicara lewat bahasa yang sudah kita kenal bahwa tangan kita harus lebih terluka dan lebih pedih dari mereka.
Setelah itu kereta tak perduli dengan mirisnya hati kita yang masih ingin mendengarkan kata-kata mutiara yang mengalir pada tiap bulir keringat ayah ibu tentang apa yang akan terjadi esok hari....
Sejenak kemudian, air mata kita menceritakan pada jendela kereta yang menampilkan gambar-gambar alam dan angin tentang kehijauan perasaan kita yang belum mempunyai cukup keberanian unntuk bangun sendiri esok pagi. Disinilah kita yang tengah mengisi catatan perjuangan untuk selanjutnya akan kita kuak tirai batu dihadapan kita, lalu kita saksikan berjuta kehidupan berserakan yang masing-masing menawarkan penderitaan yang tersimpan dibalik kenikmatan yang tersaji.
Teranglah, sayang... hal itu masih lama terjadi, itu semua belum menjadi jatahmu. Hari ini kita masih harus bermain dengan pena dan kertas. Nah, menggambarlah!!! Lukislah kata-kata mereka: guru dan kedua orangtuamu, dan cintailah mereka. Telanlah masak-masak yang mereka ajarkan padamu. Sebab merekalah yang kana menggandeng tangan-tanganmu untuk menikmati jatah yang akan disodorkan ke mejamu.
Aku pun tengah mendapat bagian yang sama sepertimu. Perasaan kita sama walau bumi yang kita pijak berbeda warnanya. Kita juga kehilangan waktu bersama keluarga dirumah. Tapi jangan kau bersedih, kau hanya boleh menangis pada tidurmu saja, lalu katakan pada hidupmu bahwa ia diciptakan bukan untuk membuat matamu basah, tapi untuk membuat keningmu berkeringat oleh kekuatanmu untuk mendapatkan cinta-Nya. Kau harus kembali menjadi dirimu sendiri. Tanpa terusik oleh keinginan oranglain atasmu.
Mari sayang.... tajamkanlah pandangan kita, kita belah angkasa raya, kita tembus cakrawala bumi. Kita pinjam pengasuh-pengasuhNya, jelajahi seribu satu galaksi yang ada. Selanjutnya mari bergerak vertikal menuju singgasana-Nya. Dan mari nikmati asinnya keringat yang mengalir dari dalam jiwa kita untuk dapatkan peluk sayang-Nya.
Mari berjuang, Sayang!

(My dearest sister, Jamee’ ..love you much.)