Saturday, April 25, 2015

Samsara - Dewi Lestari



Samsara

Sebuah tulisan yang sangat menyentuh dari seorang Dewi Lestari, yang saat membacanya membuat saya ingin segera memeluk Endang. Ya, entah kenapa saya merasakan kesedihannya dalam tulisan ini… Dewi Lestari selalu berhasil membuat aksara-aksara bicara dalam rangkaian kalimat dengan caranya sendiri dan mengaduk-aduk emosi saya. Oleh karena itu secara khusus tulisan ini saya abadikan dalam blog ini, semoga kalian, seperti halnya saya, dapat memetik sesuatu yang berharga setelah membacanya. Terimakasih, Dee ^^


Nama penyu itu Endang. Saya beri nama demikian karena saya belum sempat tahu Endang itu jantan atau betina, dan nama "Endang" cukup fleksibel mewakili keduanya. Endang dengan 'e' taling untuk perempuan, dan Endang versi 'e' pepet untuk laki-laki.

Pertemuan saya dengan Endang terjadi tanpa rencana. Saat saya ke Manado beberapa waktu lalu untuk talk show bersama seorang biksu perempuan, Ayya Santini, saya diberi tahu bahwa panitia ingin mengadakan fang shen (mudita citta, pelepasan makhluk hidup) sesudah makan siang, dan saya diajak ikut. Biasanya saya lebih memilih beristirahat, apalagi perjalanan ke Manado ini dimulai sejak subuh berhubung naik pesawat paling pagi. Tapi saya belum pernah ikut fang shen sebelumnya, dan saya memutuskan ikut demi pengalaman baru. Fang shen adalah salah satu puja bakti dalam tradisi agama Buddha, yakni melepaskan makhluk hidup kembali ke alam bebas. Mereka yang ingin melakukan fang shen dapat membeli ikan, atau burung, atau apa saja, yang barangkali sudah di penghujung maut karena akan dijagal, lalu melepaskan mereka kembali ke habitatnya. Fang shen dipercaya dapat membuahkan umur panjang, kebahagiaan, dan seterusnya.

Terlepas dari umur saya bertambah atau tidak, saya merasa fang shen adalah tradisi yang luar biasa. Burung yang memiliki angkasa tak berbatas sebagai rumahnya mendadak disekap dalam kurungan, hanya karena kita ingin menjamin kicauan merdunya terdengar oleh kuping setiap hari, tak peduli kicauan itu ungkapan kebahagiaan atau frustrasi. Ikan yang memiliki aliran air luas sebagai rumahnya mendadak harus mengitari kurungan kaca akuarium, hanya karena kita ingin menikmati keindahan wujudnya.

Belum lagi ikan lele yang kemungkinan besar dihantam di kepala lalu berakhir di penggorengan. Melalui fang shen, kita mengembangkan kasih sayang dan rasa hormat bagi semua makhluk. Keluar dari kerangka pikir manusia pemangsa, lalu dengan sadar mengembalikan hak hidup makhluk-makhluk yang selama ini kita sekap dan kita jagal. Waktu saya dan biksuni (biksu perempuan) Ayya tiba di pelabuhan, Endang dan satu penyu kecil lain (saya beri nama Endang Jr.) sudah menunggu dalam perahu motor. Keduanya beringsut saling mendekat seperti mencari rasa aman. Kondisi Endang tidak terlalu baik.

Kaki depan Endang sobek besar hingga tampak tulangnya mencuat keluar. Lantai perahu bernoda merah di sana-sini karena darah dari luka Endang. Salah satu petugas perahu berkata, "Tidak apa-apa. Penyu itu binatang kuat. Kepalanya putus saja masih bisa hidup. Baru setelah dimasak, dia benar-benar mati." Saya lantas membayangkan, jika tangan saya terluka menganga hingga tulang harus berhadapan dengan udara, seperti apa sakit dan ngilunya? Bagaimana kita bisa mengukur rasa sakit Endang, hanya karena penyu tidak memiliki area broca di otaknya dan tidak berkata-kata? Sementara penyu adalah hewan yang memiliki sistem limbik sempurna, yang memungkinkan ia merasakan sakit, nyeri, ketakutan, sama seperti kita. Namun Endang dengan tulang terpampang memang bernasib lebih baik, karena teman-temannya yang tertangkap akan dibedah hidup-hidup. Dalam posisi terbalik, tempurung mereka disayat, dan daging mereka dipotong-potong di tempat, untuk lalu dijual dan dijadikan sup.

Orang Manado bilang, daging penyu lembut. Namun daging itu aneh, bergerak terus, sekalipun sudah dipotongpotong, dan baru diam setelah matang dimasak. Baru setahun terakhir ini larangan memperdagangkan penyu diperketat dan daging penyu mulai menghilang dari pasar. Sesekali ada nelayan nekat yang tetap mencuri kesempatan dan menjualnya  sembunyi-sembunyi. Endang dan Endang Jr. ditebus dengan harga 500 ribu. Harga yang termasuk murah, karena biasanya tiga penyu bisa kena satu juta. Sekitar tiga puluh menit kami melaju ke arah Bunaken. Setelah menemukan satu tempat yang dirasa cukup aman dan sepi untuk melepas duo Endang ini, perahu pun berhenti dan biksuni Ayya mulai membacakan paritta – rangkuman doa dalam agama Buddha. Saya diam dan memejamkan mata. Berharap air laut dan waktu akan menyembuhkan luka Endang. Berharap Endang Jr. bisa tahu rasanya menjadi dewasa, mati secara alamiah di alam bebas, dan bukan dalam mangkok sup.

Berharap kita semua akan menemukan jalan untuk hidup beriringan dengan makhluk lain tanpa perlu menyekap dan memangsa. Kita menangkap Endang dan kawankawannya bukan karena mereka ancaman bagi nyawa kita, tapi karena sebagian dari kita ingin memuaskan lidah dan kita punya cukup uang untuk menyajikannya di meja makan, dan untuk itu sebagian dari kita yang butuh uang rela menangkap Endang dan kawan-kawan, membunuhnya dengan keji. Bukan karena Endang menyerang atau mendendam, tapi karena Endang gurih. Berharap kita semua akan menemukan jalan untuk mengenyangkan perut dengan kekerasan minimal, agar perdamaian dunia yang kita dambakan tidak cuma slogan. Bagi kita, Endang hanyalah satu makan siang, tapi bagi Endang itu masalah hidup dan mati. Dalam diam dan mata masih terpejam, saya teringat cerita petugas tadi. Katanya, penyu-penyu melelehkan airmata saat mereka dicacah hidup-hidup. Endang ternyata bisa menangis. Saya bahkan tak tahu itu. Saat biksuni Ayya usai membacakan paritta, mata saya membuka. Basah. Sore itu, memang bukan Endang yang perlu menangis. Ia dan teman kecilnya cuma perlu berenang lagi.

Wednesday, April 22, 2015

Beberapa hal sederhana yang saya lakukan saat sedang tidak bahagia.




1.   Berada didekat Ibu, melakukan banyak hal bersamanya, melihatnya sehat, tertawa dan selalu ceria. Dalam setiap do’a yang saya panjatkan ditiap usai sembahyang, nama ibu selalu menjadi yang pertama saya sebutkan. Memohon segala yang baik-baik untuknya, seperti kesehatan, kemudahan ditiap urusan, kebahagiaan, kemurahan rezeki, kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi apapun yang mampu melemahkannya. Kemudian baru saya sebutkan nama ayah, kakak-kakak, keponakan, teman-teman, semuanya dengan pengharapan yang sama. Kadang, mencintai mereka, terutama ibu saya dalam do’a adalah cinta paling sederhana yang entah bagaimana membuat saya bahagia. Selalu.

2.   Melihat langit. Saat saya merasa sedang terhimpit jauh didalam hati saya, langit akan menjadi pelarian yang melegakan dengan seketika. Entah saat ia berwarna biru disiang hari, jingga diwaktu senja, atau dimalam hari saat ia gelap pekat. Memandangnya saja sudah cukup membuat saya kembali berpikir: Tuhan ada disana, sedang melihat kesusahan saya, dan bahwa luasnya langit adalah satu dari sekian banyak bukti bahwa IA jauh lebih besar dari semua masalah yang sedang saya hadapi. Kemudian saya akan kembali tenang dengan sebuah keyakinan, setidaknya kesusahan saya tidak akan langgeng selamanya, seperti halnya siang digantikan malam, begitupun ada gelap dan terang yang berpasangan. Setelah ini saya akan baik-baik saja! Dan abracadabra! Mood saya kembali baik seketika.


3.   Makan!  Yang satu ini tidak butuh banyak penjelasan lagi, karena sebagian orang akan merasa lebih baik setelah makan makanan kesukaan mereka. Tidak terkecuali saya. Lupakan diet (bagi yang sedang berdiet), nikmati makanan disetiap gigitan, resapi rasa minuman baik-baik, dan bersyukurlah karena kita masih diberikan kesempatan untuk bisa merasakan itu semua. Semoga perasaan kita membaik setelah makanan dan minuman kita tandas tak bersisa. Tapi jangan lupa bayar ya! ;)

4.   Olahraga. Lakukan gerakan apa saja di dalam kamar saat sendirian. Putar music dengan cukup keras, lalu bergeraklah! Membuat badan sendiri bermandi keringat juga cukup efektif dalam mengusir kegundahan hati saya. Entah itu dengan senam, menari-nari dengan gerakan ngawur, break dance kalau bisa, kayang kalau mau, atau cuma melompat-lompat saja, silahkan. Lakukan apa saja yang penting jangan diam saja saat otak kita mulai berpikir kemana-mana yang ujung-ujungnya membuat kita galau. Jangan berikan kesempatan pada kekosongan untuk menguasai hati kita. Karena sekali kita membiarkan kekosongan mengisi sedikit ruang di pikiran kita, lama-kelamaan kita akan terbelenggu dalam banyak pikiran-pikiran tidak perlu. Begitulah cara kerja setan dalam menipu kita. Loh, kok setan? Iya, memang itu kerjaan setan. Kita galau ya biasanya karena kita sendiri yang membiarkan setan mengisi hati kita dengan bisikan-bisikannya tentang banyak hal yang kemudian memunculkan kesedihan kita.


5.   Bernyanyi. Bagus atau tidaknya suara itu persoalan nomor sekian dan tergantung siapa yang mendengarkan, yang penting nyanyi dulu. Ingat, kesehatan pendengaran orang-orang disekitarmu bukanlah tanggung jawabmu, maka bernyanyilah dengan penuh penghayatan (semoga kita nggak digrebek warga sekitar kemudian diusir sama pak RT, aamiin). Usahakan untuk selalu menyanyikan lagu-lagu yang kita kuasai saja, biar nggak malu… lagian nggak lucu juga, udah nyanyinya keras, salah lyric pula! -_- eh, tapi ini beneran loh, menurut pengalaman saya sendiri, bernyanyi saja ternyata ampuh untuk melawan kegelisahan yang melanda jiwa.. apalagi kalau disertai dengan kemampuan untuk memainkan alat music, tentu lebih maksimal. Saya saja yang tidak bisa memainkan gitar tetap nekat genjrang-genjreng dengan gitar tua saya sambil menyanyi sesuka hati saya~ memang saya sering mendapat protes keras dari anggota keluarga saya yang pendengarannya jadi sedikit terganggu, tapi tak apalah, yang penting saya bisa menjadi lega sesudahnya #lalala~

6.   Berkebun. Yang satu ini memang hobi bawaan dari kecil pemirsah! Tapi buat kalian yang belum pernah mencobanya, tidak ada salahnya untuk mulai mempraktekkannya mulai sekarang. Kalau di rumah tidak tersedia halaman yang memadai, kita bisa memanfaatkan botol-botol minuman bekas untuk disulap menjadi pot gantung. Cara membuatnya? Silahkan tanya mbah google, beliau menyediakan banyak tutorial untuk membuat taman gantung dengan berbagai variasi model. Bayangkan, saat kita marah, benar-benar marah dan merasa HARUS segera melampiaskan kemarahan kita tersebut kita memilih untuk berkebun daripada ngamuk-ngamuk di sosmed (yang Cuma bikin kita jadi kelihatan buruk dimata orang-orang), lalu beberapa bulan kemudian kita akan melihat hasil dari ‘kemarahan’ tersebut berupa bunga dari tanaman yang kita tanam, atau buah-buahan kalau yang kita tanam sebangsa pohon mangga dan lain sebagainya. Alangkah baiknya kemarahan tersebut saat kita tau bagaimana menyikapinya dengan cara yang benar. Percayalah, bagaimanapun bentuknya, berkebun juga selalu bisa membuat perasaan saya membaik… mungkin akan berlaku juga bagi kalian semua. Lagipula tidak ada salahnya mencoba, kan?

7.   Masak. Ada yang bilang jangan memasak saat mood kita buruk, karena akan mempengaruhi rasa masakan yang kita buat. Benarkah? Tentu saja salah… menurut saya lohyaa. Justru saat mood kita sedang tidak baik, masaklah. Coba buat makanan dari resep-resep baru yang belum sempat kita coba, atau buat saja masakan dengan resep yang sudah kita kuasai. Saat pikiran kita teralihkan pada aneka bahan makanan yang siap kita olah, tidak akan ada kesempatan lagi bagi kesedihan-kesedihan itu untuk mengganggu kita. Selain hati yang senang, keterampilan memasak kita juga jadi semakin terasah. *Semoga masakan kita enak, atau minimal layak dimakan, dan lebih-lebih tidak membuat anggota keluarga kita keracunan gara-gara kita masaknya sambil marah-marah. Naudzubillahimindzalik…


8.   Baca buku, minum teh, dan sediakan beberapa cemilan. Kita tidak boleh egois pada otak dan hati kita dengan hanya terpaku pada hal-hal yang meresahkan  kita saja. Sadar atau tidak, hal tersebutlah penyebab utama berkaratnya otak kita. Akibatnya kita jadi cepat lupa, gampang emosian, dan galau tak berkesudahan. Cobalah untuk memberikan ‘hak’ yang semestinya pada otak kita sesuai dengan fungsinya, yaitu dengan mengisinya dengan sebanyak-banyaknya pengetahuan untuk membuatnya berpikir. Bukan berpikir tentang hal-hal buruk apalagi buat berpikir yang jorok-jorok, tapi berpikir tentang hal-hal baru yang kita dapat dari buku yang kita baca jika itu buku pengetahuan. Atau buat otak kita berimajinasi dengan membaca novel-novel fiksi. Percayalah, sebaik-baik teman duduk adalah buku bacaan. Apalagi kalau bukunya ngajak teman-temannya sekalian, sebangsa teh atau kopi beserta pisang goreng dan aneka cemilan lainnya. Subhanallahhh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

9.   Dengerin curhatan temen. Jangan buru-buru mengeluh saat ada teman yang menyampaikan keluh kesahnya pada kita. Kita bukanlah ‘tempat sampah’ seperti yang selalu kita pikirkan, melainkan kitalah ‘orang kepercayaan’ yang dirasa mampu meringankan sedikit beban mereka sekalipun yang kita lakukan hanya mendengarkan. Bagi saya pribadi, sejujurnya saya lebih suka mendengarkan orang bercerita daripada saya yang harus bicara. Bukan karena saya tidak mau, tapi karena mendengarkan cerita orang-orang bisa menjadi ajang pembelajaran tersendiri bagi saya. Dengan mendengarkan, setidaknya saya bisa membuat otak saya sedikit berpikir, “Kalau saya jadi dia, apa yang akan saya lakukan? Kalau saya jadi dia, sanggupkah saya melewatinya? Kalau saya jadi dia, apakah saya akan kuat menceritakannya pada orang lain seperti ini?” dan masih banyak pertanyaan lain “kalau saya jadi dia”, yang walaupun saya tidak akan pernah menjadi dia dalam arti sebenarnya, namun tak menutup kemungkinan jika saya juga bisa mengalami hal-hal seperti yang dialami teman saya tersebut. Dengan mendengarkan saya juga belajar untuk bersabar dalam memberi pandangan-pandangan saya pada mereka, entah didengarkan atau tidak, entah saran saya dikerjakan atau malah diabaikan, saya tidak perduli… saya tidak rugi sedikitpun. Setidaknya saya telah belajar banyak hal hanya dengan mendengarkan saja. Terimakasih Tuhan, telah menciptakan dua telinga berikut pendengaran yang baik ini untukk saya.

10.                Berbaring di rerumputan. Lihat disekitar kita, apakah ada lapangan berumput? Kalau tidak ada, pinjam halaman tetangga yang ada rumputnya. Tapi pastikan kalau rumputnya bersih ya man-temaan, jangan sampai kita yang bermaksud menghalau galau dengan leyeh-leyeh di rerumputan malah menjadi semakin galau karena ditempat kita berbaring ada eek kucingnya.. Berbaringlah dengan mensejajarkan kepala, punggung, bokong dan kaki dalam keadaan lurus dan kepala menghadap keatas, lurus menatap langit. Bentangkan tangan lalu tarik napas dalam-dalam, hembuskan, lakukan berulang kali. Sambil menarik napas, berpikirlah kalau yang kita hirup bukan sekedar udara saja, melainkan kekuatan yang dikirim Tuhan melalaui udara disekitar kita. Isi penuh rongga dada kita dengan udara bersih dan hembuskan kotoran-kotoran hati bersama dengan CO2 dan rasakan bedanya setelah beberapa saat. Saya sih pas mempraktekkannya sendiri nyaris ketiduran. Tiduran di rumput yang bersih pas udara cerah itu MasyaAllah enaknyaaa…. (yang kemudian saya terpaksa mandi minyak kayu putih gara-gara sekujur body saya gatal-gatal digigit semut).


11.                Jalan diatas tanah dengan kaki telanjang. Ingat, kakinya aja yang telanjang, lainnya jangan. Taukah kalian? Berjalan diatas tanah dengan kaki telanjang menurut penelitian ilmiah ternyata diklaim mampu memperlancar peredaran darah, menenangkan syaraf-syaraf yang tegang, mengurangi bau kaki, mengembalikan bentuk alami kaki kita dan membuat tidur kita jadi lebih nyenyak loh! Pikirkan lagi, bisa jadi kan penyebab kita sering galau adalah karena kita tidak cukup tidur dimalam hari? Selain memang dianjurkan oleh para ilmuwan, ternyata jaman dahulu kala Nabi Muhammad SAW juga telah menganjurkan untuk berjalan diatas tanah, rumput, kerikil, pasir atau kayu tanpa alas kaki. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Fadhalah bin ‘Ubaid bahwasannya dia berkata: “Dahulu Nabi SAW memerintahkan kami agar berjalan tanpa alas kaki kadang-kadang”. (Musnad Imam Ahmad dengan sanad yang shahih menurut Syaikh al-Albani dan Syau’aib al-Arna’uth rahimahumallah). Dan hadits yang semakna dengan hadits ini ada banyak. Wallahua’lam.

12.                Lakukan kebiasaan-kebiasaan ini: buka jendela lebar-lebar, biarkan udara pagi memenuhi rongga paru-parumu. Kemudian sediakan wadah kecil yang telah diisi air, lalu letakkan ditepi jendela kamarmu. Kita tak pernah tau, mungkin akan ada burung yang singgah atau semut dan binatang kecil apa saja yang sekedar lewat di jendela kamar kita. Semoga dengan menyediakan mereka minuman, kita telah sedikit bersedekah dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan tersebut.  Atau saat kita sedang berjalan kaki lalu dijalan kita menjumpai kerikil kecil atau batu agak besar yang memungkinkan orang dapat tersandung karena tidak melihatnya, maka singkirkanlah batu tersebut. Suatu saat, orang lain akan melakukan hal yang sama untuk kita, anak-anak kita, atau siapapun juga. Anggap saja kita sedang membantu menjauhkan bahaya dari orang lain, siapapun mereka. Tidak perlu lah kita mengharap pujian dari manusia, bukankah Tuhan adalah sebaik-baik pemberi balasan? Semoga yang kita lakukan tersebut benar-benar dicatat sebagai investasi kebaikan dengan imbalan pahala. Astaghfirullah.. ampunilah hamba jika pemikiran hamba ini salah, Yaa Allah..

Lakukan hal-hal baik, itu saja intinya. Dengan begitu kita tidak lagi akan merasa tidak berguna, atau sia-sia hidup di dunia karena banyaknya masalah yang sedang kita pikul dipundak kita. Seberat apapun masalah-masalah tersebut, sesedih apapun kita, percayalah, masih ada banyak cara untuk menghadapinya. Tuhan sangat mencintai hamba-hambaNya yang mau berusaha untuk selalu memperbaiki diri, dan membenci mereka yang buru-buru putus asa.


Mungkin ada lebih banyak cara untuk menghalau galau yang melanda kita, karena masing-masing orang memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi hal tersebut. Semua hal yang saya tulis diatas adalah murni menurut pendapat saya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Saya adalah tipe orang yang moodnya mudah berubah-ubah. Mungkin bagi sebagian orang cara-cara tersebut diatas belum cukup untuk mengatasi berbagai perasaan negative yang sedang dihadapi, namun bagi saya, cukup melakukan itu semua saya akan kembali baik-baik saja.

Tapi ada kalanya kita tak harus melakukan apa-apa untuk menghilangkan kesedihan dihati kita. Sesekali, atau cukup sekali saja, tidak ada salahnya membiarkan diri kita merasakan kesedihan itu seperti halnya saat kita merasakan makanan kesukaan kita. Rasakan ia dengan sebaik-baiknya, hayati dengan sepenuh hati. Menangislah sejadi-jadinya, marahlah dengan bijaksana, lalu kembalikan itu semua pada Tuhan, lakukan instrospeksi diri.. tanya pada diri sendiri: “apa yang salah dengan saya? Apakah dengan bersedih seperti ini hidup saya akan menjadi lebih baik?” lalu kembalikan lagi segala urusan pada Dzat yang sedang merindukan kedekatan kita untuk kembali padaNya. Kembalilah dengan kepasrahan, dan pengakuan bahwa kita hanya manusia, tempatnya salah dan lupa, yang lemah dan butuh pelukanNya untuk menguatkan hati kita. Mungkin entah dosa kita yang mana, diantara banyaknya dosa yang telah kita lakukan, yang menajdi penyebab gundahnya hati kita. Ataukah telah terlalu lama kita meninggalkanNya demi kesenangan fana? Kita lupa menyebut nama-Nya, lalu menjadi sombong dengan merasa hidup kita baik-baik saja tanpa pertolonganNya? Yang mana? Yang manakah sebenarnya penyebab sedihnya kita?

Hanya kita yang tau jawabannya.

Semoga coretan saya ini dapat sedikit membantu untuk mengurangi kegalauan saya, kegalauan kita semua. Dan semoga kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam mengelola hati.

Astaghfirullahal’adzim… alladzii laa ilaaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadzzhalimiin…

Friday, April 17, 2015

Karena saya percaya.



Jika kita jatuh cinta, maka sudah semestinya kita percaya pada apa yang kita cinta dan pada cinta itu sendiri: percaya bahwa cinta hanya membawa kebaikan. Dan taukah kamu? terkadang, kebaikan yang kita dapat tak selalu seperti apa yang kita harapkan. Tanpa kita sadari, terkadang kita hanya mengharapkan sesuatu dan menyangka bahwa hal itulah yang terbaik bagi kita, padahal nyatanya ‘kebaikan’ itu tak lebih dari pemenuhan ‘keinginan’ yang kita bungkus rapi diatas nama ‘kebutuhan’. Dan saat ‘kebutuhan’ itu tak kita dapat dengan cara yang kita inginkan, kita akan kecewa… hingga pada akhirnya dengan mudahnya kita menudingkan telunjuk untuk melempar kesalahan pada apapun yang tak memuaskan keinginan kita tersebut.
Dan pada akhir kesimpulan kita akan berkata: cinta hanya membuat kita sedih!
Benarkah cinta yang salah?
Benarkah kita telah salah menjatuhkan cinta pada sesuatu yang terlanjur kita anggap benar?
Entah.

Mari kita ambil contoh dari pengalaman pribadi saya berikut ini.
Beberapa waktu lalu, saat usia saya baru menginjak awal usia 20an saya berdo’a pada Tuhan agar segera dipertemukan dengan lelaki yang tampan, baik hati, dan menyayangi saya dengan sepenuh hati. Tak lama kemudian, saya berkenalan dengan seorang pria yang memiliki ciri-ciri mirip dengan apa yang selalu saya minta pada Tuhan, pada awalnya.
Dia tampan, baik hati, bisa bermain alat music, disukai banyak perempuan dan tentu saja saya merasa beruntung karena menjadi satu-satunya wanita yang bisa menggandeng tangannya sambil berkata dengan bangga: lihat, dia pacarku!
Bulan-bulan pertama tentu saja yang saya rasakan hanyalah manisnya cinta, dan jujur saja saya merasa cukup bahagia. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Pelan namun pasti saya mulai merasakan kesedihan-demi kesedihan. Hingga pada suatu titik saya benar-benar merasa putus asa, saya salahkan semua kesedihan ini pada Tuhan.
“Tuhan, apa sebenarnya mauMu? Kenapa Kau buat hidupku begini susah. Mengapa Kau pertemukan aku dengannya?”
“Tuhan, kenapa Kau diam saja?”
“Tuhan, Kau benar-benar tak adil padaku!”
Kurang lebih seperti itu kalimat-kalimat kurang-ajar yang saya ucapkan disela do’a saya pada Tuhan, Dzat yang sebelumnya saya agung-agungkan karena telah mempertemukan saya dengan laki-laki sempurna yang kemudian menjadi brengsek tersebut.
Entah memang laki-laki tersebut yang brengsek, atau saya yang terlalu banyak berharap padanya. Ataukah salah Tuhanlah karena telah mempertemukan kami berdua dan kemudian menjadikan jalan kami berakhir demikian tragis?
Saya seperti cacing kepanasan saat menyadari tak ada satupun yang bisa salahkan melainkan diri saya sendiri.
Apa salah saya? Berulang kali saya lontarkan pertanyaan ini pada diri saya sendiri. Ada banyak jawaban yang saya jawab sendiri namun berusaha keras saya abaikan, karena sebagai manusia yang egonya terlalu tinggi saya sama sekali tak ingin mengakui kesalahan saya tersebut.
Lalu pada suatu titik saya merasa begitu jenuh. Jenuh bersembunyi dari diri sendiri. Jenuh dari kepura-puraan saya ngambek pada Tuhan.
Saya mengaku kalah. Memang sayalah yang salah. Bukan salah laki-laki itu, bukan pula salah Tuhan.
Saya salah karena nyatanya saya mengaku cinta pada Tuhan, namun saya tidak mempercayai-Nya dengan sepenuh hati. Yang selama ini saya percayai hanyalah apa yang ingin saya percayai saja. Dan hal-hal itu hanya meliputi apa-apa saja yang saya rasa telah memuaskan keinginan-keinginan saya.
Saya memohon dipertemukan dengan laki-laki tampan, kemudian saya dipertemukan dengan laki-laki tampan tersebut. Lalu saya merasa senang, saya puji-puji Tuhan dengan segala pujian gombal yang tak sepenuhnya berasal dari hati saya. Padahal ada kelanjutan maksud dari Tuhan dengan mempertemukan saya dengan laki-laki tampan tersebut, yaitu untuk belajar bahwa Ia tak baik untuk hidup saya kelak. Dan memang, yang mampu Ia berikan pada saya hanyalah wajah yang tampan. Tak ada perhatian berkelanjutan, apalagi kasih-sayang dihari setelahnya seperti yang begitu saya harapkan darinya.
Lalu ditengah kejenuhan itu saya kembalikan lagi kepasrahan ini pada Tuhan. Saya berpikir, mungkin Tuhan sengaja membiarkan saya tersesat agar bisa saya coba semua jalan yang salah untuk kemudian menemukan satu jalan yang paling benar. Tuhan ingin saya belajar dari laki-laki yang ‘salah’ tersebut.
Dan ya, sekarang saya tau apa-apa saja yang telah saya pelajari dari kegagalan itu. Saya telah belajar banyak. Bahwa kegagalan ini hanyalah satu dari banyaknya warna yang memang sudah seharusnya ada untuk melengkapi hidup saya. Kalau warna itu tidak ada, tentu lukisan hidup saya tak akan terlihat ‘hidup’.
Disakiti, dikecewakan, ditinggalkan, diabaikan, penolakan demi penolakan dan entah seberapa sering mata ini basah karena menangisi itu semua, nyatanya saya telah berhasil melewati itu semua!
Buktinya, saya bisa menulis semua ini sambil tersenyum mengingat betapa naifnya saya dulu yang menghabiskan hari-hari dengan menangis… :D
Dan saat ini, hari-hari kelabu itu telah berganti dengan hati yang lebih ringan. Memang, Tuhan belum berhenti membuat saya belajar dengan banyak cara yang sakit, namun setidaknya saya percaya satu hal: bahwa Tuhan melakukan itu semua bukan untuk mempermainkan saya, melainkan hanya untuk membuat saya belajar tentang arti cinta yang sebenarnya.
Jika memang cinta, seharusnya saya percaya.
Jika memang saya benar mencintai Tuhan, maka seharusnya saya percaya bahwa Ia akan lebih mencintai saya dengan caraNya.
Saya percaya, bahwa DIA yang benar-benar mencintai saya tak akan menjerumuskan saya pada hal-hal yang buruk. Meskipun Ia bicara dengan bahasa yang tak mesti dapat saya pahami, namun keyakinan ini mutlak berada pada satu titik prasangka yang baik-baik saja pada-Nya.
Dan taukah kalian apa yang terjadi pada saya saat ini?
 Saya berhasil mengikhlaskan laki-laki tampan itu dengan anggapan bahwa dia hanyalah seorang laki-laki baik yang tak diciptakan untuk saya, mungkin untuk perempuan mana.. entahlah.
Saya berhasil menjalani hari-hari saya dengan lebih santai, dengan satu keyakinan: jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang saya inginkan, berarti ada yang lebih baik yang sedang disiapkan Tuhan untukku.
Lalu pada suatu hari Tuhan mempertemukan saya lagi dengan seorang lelaki. Lelaki ajaib yang dengan segala kekurangannya mampu melengkapi saya yang bukan apa-apa ini. Dia, yang kadang membuat saya malu karena selalu minta sesuatu pada Tuhan melebihi dari apa yang dapat saya lakukan untuk-Nya.
Rasanya masih tak percaya kalau sebentar lagi kami akan menikah….. (semoga Tuhan benar-benar meridhoi kami..)

Saya tau, cerita saya tidak akan berakhir sampai disini. Laki-laki ini bukanlah manusia sempurna, seperti halnya saya. Akan ada banyak masalah yang menghadang kami nanti. Tapi apa lagi yang perlu dikhawatirkan saat kita percaya bahwa Tuhan ada dibalik itu semua? Adakah hal lain yang patut kita syukuri selain besarnya rasa cinta kita pada-Nya?
Rasanya tidak ada…
Karena jika kita telah memputuskan untuk jatuh cinta pada-NYA, maka percayalah, hanya cinta-NYA yang tak akan pernah membuat kita luka…