Sunday, September 27, 2015

Temani Jessica



Anak itu selalu melambaikan tangannya setiap saat aku melintas dijalan itu. Dia selalu berdiri dibawah pohon asem yang ukuran batangnya cukup besar sehingga dua orang dewasa masih tak akan cukup untuk memeluknya. Pohon asem itu adalah pohon terbesar di kampung kami. Disana juga menjadi satu-satunya tempat paling sejuk diantara ladang disektiranya yang menjadi gersang di musim kemarau ini. Namun anehnya, orangtuaku tidak pernah mengijinkanku bermain disana. Jangankan untuk bermain, berteduh dibawah pohon itu saja tidak boleh.

Sore itu Ibu meminta tolong padaku untuk ke warung membeli beberapa lilin, untuk berjaga-jaga kalau malam nanti listrik akan padam lagi seperti kemarin. Tanpa pikir panjang aku pun segera mengiyakan perintah Ibuku. 

“Jangan lama-lama ya sayang, sebentar lagi adzan maghrib” pesan ibu dari ambang pintu saat aku beranjak pergi.

Beberapa meter dari warung tempatku membeli lilin, aku melihat anak itu melambai-lambai ke arahku. Kali ini lambaian tangannya mengisyaratkan agar aku datang kearahnya. Sejenak aku melirik kedalam warung, kulihat ibu pemilik warung sedang masuk kedalam rumahnya untuk mengambil uang kembalian dan belum kembali. Saat itulah aku melangkah menjauh dari warung menuju pohon asem itu, kearah anak perempuan yang selalu melambaikan tangannya padaku.

Dia terlihat mirip denganku. Rambut sebahunya, matanya yang bulat dan caranya tersenyum. Kalaupun ada yang membedakan kami mungkin hanya pakaian yang kami kenakan. Ia memakai rok terusan  selutut berenda putih, dan aku memakai setelan baju tidur bergambar Teddy Bear kesayanganku. Entah berapa lama aku berdiri dihadapannya. Lidahku kelu, dan tubuhku entah kenapa terasa begitu kaku. Aku ingin pergi namun tidak satu inci pun aku beranjak dari tempatku berdiri.

“Jessica… namaku Jessica” kata anak perempuan itu setengah berbisik. 

Tidak mungkin! Nama anak itu sama dengan namaku. 

“aku mau pulang…kesana…” Ia menunjuk kearah rumahku. Tentu saja aku ingin protes dan bertanya banyak hal padanya, namun aku tak sanggup bicara apapun.

Lalu anak itu mulai mendekat kearahku. Aku begitu ketakutan oleh sensasi dingin yang terasa dipipiku saat Ia menyentuhku. Entah apa yang terjadi padaku, yang aku rasakan hanya gigil yang begitu hebat di tubuhku. Tubuhku bergetar dan keringat dingin mulai membanjiri lapisan dalam pakaianku. Aku begitu ingin berlari meminta tolong, namun anehnya tubuhku tak beranjak sesenti pun dari tempatku berdiri saat ini.

Dari kejauhan kulihat serombongan orang datang mendekat kearahku. Samar kulihat sosok bapak dan ibu, ibu pemilik warung dan beberapa orang dewasa dibelakang mereka. Masing-masing dari mereka tidak henti membuat suara berisik dari benda-benda yang mereka bawa sembari terus-menerus memamnggil namaku.

“Jessi… Jessii.. kamu dimana nak….” Teriak bapak dan ibuku bergantian. Begitupun orang-orang lain yang ikut dalam rombongan itu.

Aku ingin menjawab, atau menimbulkan suara apapun untuk menunjukkan keberadaanku pada mereka. Namun aku masih tak bisa melakukan apa-apa.
Sampai ketika mereka tiba dibawah pohon asem, bapak berdiri tepat dihadapanku. Namun anehnya bapak tidak menatapku, seolah-olah bapak tidak menyadari keberadaanku yang begitu dekat dengannya.

Ibu pemilik warung yang bernama Bu Lulik itupun mulai buka suara. “Tadi saya lihat Jessi berjalan kearah sini pak, saya lihat jalannya cepat sekali.  Saya panggil-panggil beberapa kali tapi kelihatannya Jessi tidak mendengar saya”

 “saya mengerti, bu. Terimakasih” kata bapak.

Seseorang yang sangat ku kenali wajahnya mendekat kearahku. Dia tidak lain adalah guru mengajiku di Mushalla dekat rumah, Pak Syamsul namanya. Pak Syamsul memejamkan matanya dan tangannya menengadah. Ia mengajak semua orang yang berada didekatnya untuk bersama-sama memanjatkan do’a.

Perlahan namun pasti aku mulai terisak. Sedikit demi sedikit aku bisa menggerakkan jariku dan dalam hitungan ketiga aku pun ambruk dihadapan banyak orang yang begitu terkejut melihat kemunculanku yang begitu tiba-tiba.

Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi padaku setelah itu. Yang aku ingat hanya sebuah cahaya yang begitu terang menerobos kelopak mataku saat aku terbangun keesokan harinya. Aku sudah berada dirumah, di kamarku. Di sisi tempat tidurku ada Ibu yang menatapku dengan khawatir, dan bapak yang terlihat lega saat melihatku membuka mata.

“apa yang terjadi, Bu?’’

“Kamu diculik genderuwo penghuni pohon asem itu Jessi” jawab Ibu sambil terisak di pelukanku.

Beberapa hari kemudian, kudengar pohon asem itu sudah ditebang. Dan anak perempuan kesepian yang bernama Jessica itu masih terlihat di sisi tempat tidurku pada beberapa malam saat aku terbangun bersimbah keringat di sekujur tubuhku.

Sampai detik ini pun masih.

Saturday, September 26, 2015

[REVIEW] Senyum Cantik, Senyum Khalisa Lip care

Sepanjang bulan September ini menjadi hari-hari paling kelabu bagi beberapa kota yang berada dipulau Sumatra dan Kalimantan. Bagaimana tidak, sudah satu bulan ini kabut asap mengepung akibat kebakaran hutan. Salah satunya adalah kota Palangka Raya yang menjadi tempat tinggal saya, bahkan kualitas udaranya sudah berada dilevel sangat berbahaya.
suasana kota Palangka Raya siang hari

Pencemaran udara yang sudah memasuki level berbahaya ini tidak hanya menyebabkan terjadinya infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, namun juga membuat mata menjadi perih dan dada mudah sesak. Selain itu, masalah yang tidak kalah memusingkan yang ditimbulkan oleh kabut asap ini adalah kulit menjadi lebih mudah kering. Terutama bibir yang merupakan bagian tubuh yang paling sensitive, bibir menjadi mudah kering dan pecah-pecah sepanjang waktu.

Bagi seorang perempuan dengan pekerjaan yang mengharuskannya untuk bertemu dengan banyak orang setiap hari, tentu masalah ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Alhasil dalam melakukan pekerjaannya menjadi tidak maksimal.  Setidaknya itulah yang saya rasakan beberapa hari belakangan ini, bibir kering dan pecah-pecah sungguh tidak sedap dipandang mata. Saya pun menjadi kurang percaya diri saat bertemu apalagi bicara dengan orang lain.

Beruntung kakak perempuan saya menyarankan untuk menggunakan lipbalm dari Khalisa. Awalnya saya meragukan kualitas lipbalm ini, karena sebelumnya saya sudah mencoba beberapa produk lip care dari berbagai merk yang cukup terkenal, baik itu merk luar negeri maupun dari dalam negeri. Namun hasilnya nihil, dari semua produk lipbalm yang telah saya coba belum ada yang benar-benar dapat melembabkan bibir saya yang ekstra kering ini.


Akhirnya saya merasa semua produk lipbam sama saja, tidak ada yang benar-benar bagus. Namun keraguan saya akan adanya produk lipbam yang benar-benar bagus akhirnya hilang setelah mencoba lipbalm Khalisa. Khalisa adalah merk lipbalm dibawah naungan PT. Rohto Labolatories Indonesia yang memiliki label HALAL. Jadi, buat para wanita muslimah seperti saya tidak perlu khawatir lagi saat menggunakan lipbalm Khalisa, karena produk ini dijamin halal lan toyyiban, Insha Allah.

Khalisa lipbalm memiliki kandungan vitamin E yang berfungsi untuk melembabkan bibir secara maksimal, juga kandungan SPF 25 yang dapat melindungi bibir dari pengaruh buruk sinar UV. Jadi, produk ini sangat cocok digunakan untuk para wanita yang berada di daerah yang beriklim ekstrim. Tidak heran kalau lipbalm Khalisa ini menjadi satu-satunya yang dapat saya andalkan untuk melindungi bibir saya dari pengaruh udara dan cuaca yang buruk di Kota Palangka Raya.

Oiya, ladies, kalian juga tidak perlu khawatir bibir kalian akan terasa lengket saat menggunakan lipbalm dari khalisa ini, karena lipbalm Khalisa terasa sangat ringan dan lembut di bibir.

Ada empat varian warna yang dapat dipilih untuk mempercantik penampilan kita loh, ladies! Keempat varian itu adalah Khalisa Peach Caramel, Khalisa Buble Gum, Khalisa Cherry Peppermint dan Khalisa Pure Vanilla Honey. Keempat varian ini memiliki warna-warna soft yang sangat cantik dan dapat dipilih sesuai dengan kepribadian kita. Kalau saya sih suka memakai yang Cherry Peppermint. Warnanya cantik, dan terasa segar di bibir.


Saya pun tidak lagi merasa takut untuk beraktifitas dibawah paparan sinar matahari atau udara yang tercemar, karena kini saya telah memiliki produk yang dapat meminimalisir efek buruk yang mungkin ditimbulkan oleh cuaca yang tidak bersahabat tersebut. Rasa percaya diri saya tetap terjaga dan pekerjaan saya pun dapat dilakukan dengan lebih maksimal.

Tetap konsumsi buah dan sayur untuk menjaga kesehatan kulit ya, ladies! Juga perbanyak minum air putih agar kelembaban dari dalam tubuh tetap terjaga. Dan yang paling penting,  jangan lupa untuk selalu mengaplikasikan Lipbalm Khalisa dengan varian warna pilihan kamu agar penampilan maksimal kamu tetap terjaga.

Lipbalm khalisa ini juga mudah dibawa kemana-mana. Dengan berat bersih 2,2 gr dan harga yang terjangkau, kamu sudah mendapat perlindungan maksimal untuk bibir kamu.

So, tidak perlu khawatir bibir menjadi kering kan? Selalu sedia Khalisa Lipbalm didalam tas kamu dan tunjukkan pada dunia senyum cantikmu.

Have a nice day, ladies ^^


Monday, September 21, 2015

sepotong rindu yang tertinggal dirumah



Rumah bagi saya adalah sumber kerinduan. Sebuah titik untuk pulang dari perjalanan yang melelahkan. Satu-satunya tempat yang membebaskan saya untuk menjadi diri saya sendiri yang apa adanya. Dan juga satu-satunya tempat dimana saya merasa benar-benar ‘diterima’. 

Di rumah itu masih ada Ibu yang saat ini mungkin sedang duduk seorang diri di bale sembari mendengarkan radio tuanya, sebuah kegiatan yang mestinya kami lakukan berdua. Saya dengan sebuah buku bacaan ditangan, dan Ibu dengan Radio tua disisinya, serta secangir kopi untuk kami nikmati berdua. Tanpa cemilan, namun setiap sore kami selalu hangat seperti itu. Ya, sesederhana itu.

Di setiap jengkal rumah itu ada kenangan yang tak akan cukup jika saya ceritakan diatas lembar kertas ini. kenangan bersama almarhum bapak, abang, keponakan, saat suka maupun saat lara begitu ngilu terasa dalam dada. Rumah itu seakan memiliki lorong waktu disetiap sudutnya yang menawarkan diri untuk menjadi tempat persinggahan jika sewaktu-waktu rindu menusuk-nusuk kalbu.

Namun sekarang saya berada sangat jauh dari rumah, dari ibu. 

Dan rindu tidak pernah terasa sesakit ini saat wajah Ibu membayang tiba-tiba. Malam terasa lebih panjang, dan siang seakan tak ada habisnya. Hari-hari seolah berhenti, dan waktu enggan melangkah lebih jauh lagi. Dan jarak yang begitu jauh ini semakin membuat mata ini mudah basah saat merindu ibu.

Ya, terkadang perasaan ingin ‘pulang’ itu muncul begitu saja.

Namun saya sadar betapa serakahnya diri ini bila mengharap rindu yang sembuh seketika dengan sebuah pertemuan yang manis dengan Ibu. Bukankah dulu saat masih berada dirumah do’a yang kerap saya panjatkan adalah agar saya segera dipertemukan dengan lekaki yang baik yang akan membawa saya ketempat yang jauh untuk memulai kehidupan baru, terlepas dari ke-monoton-an hidup saya sebelumnya? 

Dan Tuhan menjawab permintaan itu tepat waktu, bahkan jauh lebih awal dari yang saya duga. Saya pun menikah dengan lekaki baik yang sangat saya sayangi. Namun sebagai gantinya, tuhan menginginkan sebuah perpisahan sementara dengan Ibu. Tuhan tau hati ini begitu menyayangi keduanya, namun dibuat-Nya saya memilih salah-satu saja.

Maka ketika saya pergi jauh dari rumah, saya merasa pergi dengan setengah hati yang seketika melompong, kosong. Separuh hati milik Ibu yang selama ini menghangatkan diri ini harus saya tinggalkan walaupun berat. Tuhan tau saya akan bertahan dengan separuh hati milik lelaki pilihan-Nya ini. Namun tetap ada yang kurang rasanya. Bahagia ini terasa kurang lengkap.

Biasanya setiap menit bertemu, kini harus puas dengan rindu yang dipaksa lega lewat sebuah telepon singkat. Sekadar dengar suara bergetar-nya, dan tau kalau Ibu baik-baik saja maka saya akan merasa sedikit lebih baik. Lalu keesokan harinya rindu kembali meremas-remas kelopak mata yang menjadi lebih mudah panas ini. Apakah rindu selalu securang itu?

Tuhan, maafkan diri ini yang mash kurang bersyukur atas karunia-Mu. Ringankan Rindu ini Tuhan… saya tau Engkau adalah sebaik-baik penjaga yang akan melindungi Ibu dalam setiap langkahnya kemanapaun beliau pergi. 

Saya tau, selalu merisaukan apakah Ibu sudah makan atau belum, sehat atau sakit, bahagia atau sedih, adalah hal yang berlebihan dan tindakan yang seolah-olah menyangsikan Ke-Maha-Kuasaan-Mu  dalam melindunginya… namun bukankah hati ini terlalu sulit untuk dikelabui dengan dugaan demi dugaan saja? Ia ingin lebih, tuhan. Ia ingin merasakan kelegaan yang benar-benar lega setelah memastikannya sendiri. Dan Maafkan saya untuk itu…

Akh, menjadi bungsu yang selalu dekat dengan Ibu emang tidak mudah. Setelah do’a yang terkabul, ternyata saya masih harus berjuang untuk berdamai dengan diri sendiri, dengan rindu yang kadang keterlaluan ini.

Mungkin tuhan ingin saya lebih sering datang pada-Nya untuk mengadukan rindu ini. Mungkin Tuhan juga merindukan si bungsu ini.