Saturday, July 12, 2014

Open Your Eyes

Kadang, kita hanya sengaja menutup mata dari segala.. memilih untuk tak perduli, atau bahkan mengingkari kenyataan yang hadir di depan kita. Padahal Tuhan selalu begitu dekat, ada bersama kita..

Salah satu lagu dari Maher Zein yang sangat aku sukai, semoga selalu dapat menjadi pengingat dikala lupa, dan menjadi alarm yang membangunkan dari keangkuhanku selama ini..
ampuni kami, Ya Tuhan..
"Open Your Eyes"

Look around yourselves
Can’t you see this wonder
Spreaded infront of you
The clouds floating by
The skies are clear and blue
Planets in the orbits
The moon and the sun
Such perfect harmony

Let’s start question in ourselves

Isn’t this proof enough for us
Or are we so blind
To push it all aside..
No..

We just have to

Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Look inside yourselves

Such a perfect order
Hiding in yourselves
Running in your veins
What about anger love and pain
And all the things you’re feeling
Can you touch them with your hand?
So are they really there?

Lets start question in ourselves

Isn’t this proof enough for us?
Or are we so blind
To push it all aside..?
No..

We just have to

Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

When a baby’s born

So helpless and weak
And you’re watching him growing..
So why deny
Whats in front of your eyes
The biggest miracle of life..

We just have to

Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look quiet we’ll see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Open your eyes and hearts and minds

If you just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Allah..

You created everything
We belong to You
Ya Robb we raise our hands
Forever we thank You..
Alhamdulillah..

Tuhan, Asma-Mu mengudara di langit Gaza



Ada sesak yang seketika menyeruak dalam rongga dada saat ku lihat mujahid dan mujahidah tergeletak bersimbah darah, namun bibir menyungging senyum. Mereka tak benar-benar mati, mereka hanya tertidur dalam lelap yang abadi. Dari percik darahnya menguar wangi, dari serpih tubuhnya semerbak kesturi… wangi syurga, yang aku manusia biasa tak akan pernah sanggup  membayangkannya.

Air mataku deras mengalir saat ku lihat anak-anak Gaza bermuka pias, raut mereka keras. Entah telah berapa banyak kesedihan yang mereka saksikan, atau… entah bagaimana ketakutan yang mereka rasakan tatkala mendengar teriakan kesakitan yang tak lain berasal dari ayah yang tubuhnya terbongkar oleh berondongan peluru, atau dari Ibu yang kehormatannya melayang bersama abayanya yang compang, atau.. dari saudara saudarinya yang ditembak tepat didepan mata mereka. Sungguh, aku tak dapat membayangkan bagaimana rasanya..

Aku kerap bertanya-tanya, jika aku terlahir ditanah konflik seperti Palestine, Suriah, Irak..atau Afghanistan, dapatkah kumiliki keberanian yang sama seperti yang dimiliki anak-anak disana?
Aku ragu.. bahkan melawan diri sendiri aku masih belum mampu. Melawan nafsuku, keegoisanku, dan penyangkalan-penyangkalanku atas kebenaran yang telah ditunjukkan padaku.

Tuhan,
Saat nyawa begitu mudah melayang ditanah Palestine
Dan darah juga air mata yang entah kapan akan mengering
Aku percaya Kau disana selalu memeluk hati mereka
Mengganti ketakutan, menjadikannya keberanian
Mengganti kemelaratan dengan janji pencukupan
Menjauhkan neraka dan semakin mendekatkan syurga
Melahirkan semakin banyak seiring dengan kematian yang semakin sering

Tuhan,
Selamatkanlah saudara-saudari kami
Yang berjuang diatas bumi para nabi
Demi kehormatan masjidil Aqsha,
Demi getar suara-suara yang menyerukan kebesaran-Mu
Matikan musuh-musuh kami..
Matikan mereka yang telah mematikan kebahagiaan saudara-saudari kami
Matikan mereka yang mengoyak kehormatan bangsa para nabi kami
Matikan mereka dengan benar-benar mati,

Tuhan,
Ku sebut nama-Mu berulang-ulang
Disetiap sembahyang
Disetiap keraguanku pada-Mu yang perlahan hilang
Kabulkanlah do’a kami.

Saturday, July 5, 2014

Bulan paling dendam



Gadis kecil itu baru saja menggenapkan usianya di angka sepuluh saat tubuhnya dikuasai kemarahan yang dalam sekejap menyeluruh, dalam satu tarikan nafas dengan udara yang sama dan aliran darah yang sama, kemarahan itu ada. Teriakan-teriakan nyalang itu masih terdengar terang, terngiang bahkan saat Ia mengiba pada Tuhan agar ditulikannya Ia sesaat saja demi mengunci suara-suara yang begitu Ia benci.

Bulan November baginya, adalah bulan beraroma dendam yang entah sampai kapan akan mengerami diri untuk kemudian lahir menjadi benih kebencian tiap saat dijumpainya sekelompok orang-orang yang telah sempat mengukir luka di bulan Novembernya yang ceria. Mereka, merebut apa yang Ayahnya perjuangkan dan lalu menjatuhkannya, dan kemudian mengusirnya dari tanah kelahirannya sendiri.. tak ubahnya anjing yang sekujur tubuhnya penuh nanah berbau busuk, ayahnya ditendang..dilempari batu-batu sekepalan tangan. Dibakarnya rumah, dibabatnya segala tanaman yang tumbuh dihalaman rumahnya, dan kemudian bersholawatlah mereka seakan-akan telah berhasil membakar iblis paling terkutuk. Bagi mereka itulah kemenangan. Dan bagi gadis kecil itu, kemenangan itu adalah awal dari hal paling kesumat dalam sisa hidupnya.

Namun itu telah begitu lama berlalu. Gadis kecil itu kini telah menjelma menjadi perempuan dewasa saat untuk pertama kalinya Ia menjejakkan kaki ditanah kelahiran yang dulu terpaksa Ia tinggalkan. Ditatapnya langit itu, langit yang menjadi saksi betapa malam itu menjadi malam yang begitu pelik untuk gadis kecil yang bahkan untuk berteriak saja tak mampu.

Tubuhnya bergidik tiap saat teringat malam itu. Diingatnya dengan jelas, malam pada bulan November berpuluh tahun lalu itu purnama sedang bulat sempurna. Cahaya bulan itu begitu lembut, begitu terang bahkan saat matanya memejam dapat Ia rasakan terangnya merambat dibalik kelopak matanya yang memerangkap gelap. Wajah ayah dan ibunya membayang silih berganti. Dengan bayang kelembutan yang sama, dan tenang yang dibawa juga terasa sama. Malam itu, dengan tanpa curiga Ia tersenyum bahagia. Sampai tiba-tiba saja sebuah batu sekepalan tangan lelaki dewasa mendarat diatap seng rumahnya. Satu, dua, berpuluh, beratus lalu entah berapa banyak lagi yang mampu dihitungnya.  Suaranya begitu nyaring, berbarengan dengan pekik ibunya yang melengking. Malam itu berubah panik. Dan segalanya kembali gelap. Yang terlihat hanya berpuluh, bahkan beratus batu yang menghujani atap rumahnya entah bagaimana. Lalu suara-suara teriakan orang-orang itu memburu, mengepung kesadarannya jauh sebelum Ia dapat memahami apa yang terjadi.

Ia menelan ludahnya sendiri, getir.

Perempuan itu menengadah. Menantang langit biru yang menyilaukan mata. Bayang-bayang almarhum ayahnya kembali terkenang. Melesat tanpa mampu Ia kendalikan. Wajah yang  senantiasa tersenyum teduh itupun terlihat keruh malam itu. Ia tau dalam benak ayahnya terlalu gaduh untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Kepalanya tertunduk, dan bulir-bulir Kristal itu merembes di pipi keriputnya. Gadis kecil itu merangkul kaki ayahnya dalam kebisuan yang terasa perih. Dipeluknya lebih dan lebih erat lagi dari yang dapat dilakukannya. Dingin merayap perlahan, membekukan suara dan semua pergerakan, memperlambat gerak waktu, membuat malam itu terasa begitu lama. Lalu entah mengapa, ketidak-berdayaan begitu cepat beranak-pinak dihati ayah dan anak itu, pada malam itu.

Sudah berpuluh tahun berlalu sejak kejadian itu. Kini, tak ada yang berubah dari kampung halamannya itu. Manusia-manusianya masih sama.. jalan besar didepan rumahnya itupun masih sama. Yang berubah hanyalah beberapa rumah baru yang dibangun entah kapan tak jauh dari pekarangan rumahnya itu. Yang berubah hanyalah kecintaannya pada kampung halamannya itu yang dahulu begitu padu, kini pecah dalam serpih yang menancapi ulu hatinya hingga terasa begitu perih.

Nanar ditatapnya bangunan tua itu. Bangunan tua yang menjadi saksi saat Ia dilahirkan dan menghabiskan masa kanak-kanak yang bahagia sampai usianya yang kesepuluh, sampai kuku-kuku manusia keji itu merobek kehormatan keluarganya.

Ada dendam yang begitu kentara dalam tiap hembusan nafasnya. Begitupun saat perempuan itu memejamkan mata, terlihat jelas gurat-gurat yang berjuang keras menahan emosi. Kalau saja Ia bukan perempuan, kalau saja Ia memiliki cukup kekuatan untuk melawan..tentu dibabat-habiskannya segala yang terlihat dihadapannya saat itu. Ia begitu terluka, dan luka itu telah terlalu lama ada disekujur tubuhnya hingga meresak ke dinding batinnya. Kalau saja Ia api, tentu terbakarlah semua manusia yang telah begitu keji pada ayahnya malam itu. Tangannya mengepalkan kemarahan, kemarahan yang teramat sangat. Layaknya bom waktu, dalam sekejap Ia akan meledak meluluh lantakkan sisa-sisa reruntuhan rumahnya yang dulu dihancurkan manusia-manusia itu. Ia akan musnah bersama dendamnya, Ia akan mati dengan sangat emosi. Ia perempuan yang untuk sekejap melupakan kalau Tuhan dengan tenang-Nya menyaksikan.

Tiba-tiba Ia tersungkur dalam sujud yang dalam. Diciumnya tanah tempat Ia dilahirkan dengan matanya yang basah. Tanah itu, meresapi air matanya yang tumpah.. dan mungkin meresapi darah yang kembali mengucur dari luka hatinya yang kembali menganga. Tanah itu meresapi segalanya, dan bahkan dendam kesumatnya. Tanah yang sama yang menjadi saksi betapa di dunia ini ada sekelompok manusia keji yang tega menghancurkan kebahagiaan keluarganya, yang tega melukai hati ayahnya. Lalu Ia teringat kata-kata Ibunya kemarin sore saat mereka berdua duduk-duduk di teras mencecap teh beraroma melati, “di dunia ini tak ada manusia yang terlahir menjadi jahat, nak.. yang ada hanyalah ambisi, yang merubah mereka dari hakikat mereka sebagai manusia.”

Perempuan itu ingin memahami kalimat ibunya.

Jika Ia mendendam begitu rupa, samakah Ia seperti mereka..yang jahat dan berambisi untuk merusak kebahagiaan mereka juga?

Perempuan itu kembali mengeja kata-perkata dari kalimat yang diucapkan ibunya,

Jika, Ia terlahir dari rahim ibu yang baik dan tumbuh dipelukan ayah yang juga baik, jahatkah ia ketika pada akhirnya Ia menjadi marah saat kehormatan keduanya diinjak-injak didepan kedua matanya?

Dan tanah yang Ia cium itu kembali meresapi pertanyaan-pertanyaan itu. Tanpa jawaban, perempuan itu merasa lega. Tuhan bicara padanya lewat bahasa yang sebenarnya belum mampu dipahaminya dengan benar. Hanya saja Ia mencoba percaya, bahwa segala yang terjadi pada keluarganya akan dibayar dengan sesuatu yang lain dikesempatan lain. Tuhan kan memang begitu, sukanya menguji seberapa sabar hambaNya akan bertahan, dan atau seberapa kuat Ia menahan diri untuk tak melawan dengan kejahatan yang sama.
Perempuan itu kembali teringat akan kalimat lain dari ibunya, “kelak manusia yang mati akan dipertemukan kembali di padang Mahsyar untuk dimintai pertanggungjawaban. Jika anakku masih anak sholeha yang dulu, Ia tentu tau..bahwa kebaikan akan selalu menang. Mungkin tak saat ini, namun nanti.”

Iya, kemenangan akan selalu berpihak pada hati yang baik. Dan semoga kebaikan hati itu bukanlah termasuk pada hati yang terlanjur memendam dendam.

Biar Tuhan yang membalasnya.