Wednesday, January 30, 2013

Piring-Piring Kaca


Ibarat sebuah piring kaca yang retak, aku kini tengah berada diantara setumpukan piring-piring kaca lain yang nyaris sempurna. Kehadiranku tenyata melukai piring diatasku, dibawahku. Dan piring diatasku melukai kedua sisi diatas dan dibawahnya, dan begitu seterusnya.
Semua luka itu berawal dariku bukan?
Aku tak berdaya untuk memisahkan diri dari tumpukan kesempurnaan itu. Apakah mereka pikir luka ditubuh mereka yang ku beri tak juga melukaiku? Aku tak pernah tau luka siapa yang lebih dalam. Aku tak pernah bisa menerka luka siapa yang lebih sakit dari luka siapa, namun yang ku rasakan jauh melebihi kesakitan dari batas yang mampu kurasakan.
Ingin pergi, tapi kemana?
Ingin menghilang, memangnya bisa?
Pada akhirnya yang dapat ku lakukan hanyalah pasrah. Diam ditempat, tepat diantara tumpukan piring kaca yang nyaris sempurna di atas dan di bawahku. Aku hanya sebuah piring kaca yang retak. Kehadiranku hanya memberi luka. Hanya menggores kesempurnaan piring lainnya.
Kepada Sang pemilik piring-piring ini aku memohon.
Pada awalnya ku mohon pada-Nya untuk menyingkirkanku dari tumpukan piring lainnya. Rasa lelah dipersalahkan membuatku tak lagi betah berdiam diri lebih lama. Rasa letih menanggung perih tak lagi membuat mataku berair, menangisi sedih yang menguasai dada. Namun Dia tak menjawab do’aku, mungkin belum.. mungkin belum saatnya.
Kemudian aku memohon pada-Nya agar segera memperbaiki keretakanku. Lelah sudah aku memikul rasa was-was karena takut melukai piring lainnya lebih dalam lagi. Penat sudah kepalaku memutar otak memikirkan cara untuk menghindari luka-luka baru yang sewaktu-waktu dapat ku ciptakan lagi. Aku hanyalah piring bodoh yang berulang kali membuat kesalahan yang sama. Namun Dia masih belum menjawab permintaanku jua. Mungkin belum....mungkin masih belum waktunya.
Hingga pada akhirnya aku benar-benar t’lah sampai pada batas dayaku, aku memohon lagi pada-Nya. Namun kali ini yang ku pinta bukan untukku sendiri, melainkan untuk mereka. Aku memohon pada Sang pemilik jiwa-jiwa yang bersemayam pada piring-piring yang mendekati sempurna itu, agar dikuatkan hatinya. Agar tak mudah terluka oleh goresanku. Agar tak ada lagi luka baru yang disebabkan oleh kebodohanku. Agar aku tak menjadi satu-satunya piring retak yang menghantui kesempurnaan mereka. Agar mereka bisa menerimaku apa-adanya.
Pada suatu malam yang terasa lebih dingin dari biasanya aku mengiba lagi pada-Nya,
”Wahai Sang Pemilik piring-piring kaca,  damaikan kami dalam setumpuk takdir yang t’lah Kau susun rapi ini. Jangan pisahkan kami karena luka. Jangan hancurkan kami karena aku yang tak sempurna. Jadikan kami kuat menjadi seutuh tumpukan piring yang selalu siap untuk mewadahi jiwa-jiwa kami yang saling mencinta”

Sebut saja aku (nama sebenarnya)

Bali, 2013

Saturday, January 26, 2013

Gagal Itu Indah


Kata siapa aku seorang yang gagal? Aku ini adalah seorang yang benar-benar berhasil, berhasil menjadi seorang yang gagal dimata orang lain. Tak apalah, toh mereka yang mematok pencapaian sebagai tolak ukur sebuah keberhasilan, maka  sah-sah saja jika ku sebut diriku ini telah berhasil dalam sebuah pencapaian. Pencapaianku yang masih gagal.
Bukankah aku telah berhasil mencapai tahap gagal dalam hidupku? Tak banyak orang berhasil yang tau bahwa dirinya t’lah gagal, dan mereka menjadi lebih gagal karena telah melewatkan kesempatan untuk belajar dari kegagalan mereka tersebut. Kasihan kan? Positive thinking, aku selalu berhasil dalam hal ini.
Seperti halnya mereka yang berhasil memberi cap ’gagal’ pada price tag ku, aku dihargai setinggi batasan antara gagal dan berhasil. Dan aku, saat ini tengah berada pada tarif gagal. Tak apalah, aku sudah terbiasa berhasil dengan kegagalan. Lagi-lagi aku menghibur diri dengan sebuah pelajaran. Akh, seperti sedang membodohi diri dengan pujian sampah yang pada akhirnya akan menyadarkanku bahwa gagal sudah jadi prestasiku.
Pada beberapa buku karya penulis-penulis ternama ku telaah pengertian gagal dan berhasil sebatas yang mampu dinalar oleh pemikiran cerdas mereka. Dan yang kutemukan memang seperti yang orang-orang jabarkan, bahwa PRESTASI itu adalah sebuah pencapaian. Pencapaian pada sesuatu yang sudah diperjuangkan.
Lalu apakah aku telah berjuang untuk kegagalanku? Tidak, teman. Aku sama seperti kalian yang selalu berjuang untuk sebuah keberhasilan. Jika dalam hal pencapaian hidup, aku tak begitu bernafsu mengejar prestasi hanya demi memuaskan orangtuaku. Perjuanganku ini lebih kepada cintaku pada mereka. Aku ingin berhasil semata-mata untuk membahagiakan mereka kelak, bukan demi sebuah pujian dari mulut mereka, untuk memamerkan keberhasilan perncapaianku ke tetangga kanan- tetangga kiri. Tidak. Syukurlah mereka bukan orangtua yang menyebalkan seperti itu.
Dalam perjalanan menuju pencapaian itu, aku berulang kali gagal. Ibarat mendaki gundukan ribuan anak tangga, saat ini aku tengah terengah-engah merangkak untuk sampai pada anak tangga ke empat. Untuk mencapai anak tangga kedua, aku gagal. Aku coba lagi berulang kali sampai akhirnya kaki gemetarku menjejak anak tangga ketiga, begitu pula dengan anak tangga keempat yang sedang kupijak saat ini. Aku berhasil. Tiap anak tangga adalah pencapaian, bukankah begitu?
Teman, aku menulis ini bukan untuk membuat kalian bangga akan kegagalan kalian. Bukan untuk membuat kalian berbesar hati dengan kegagalan kalian. Bukan pula untuk menyenangkan hati kalian yang hanya bisa gagal. Tidak. Ini semua adalah tentang bagaimana kita tetap mencintai diri kita bahkan disaat kita benar-benar berada pada titik paling gagal dalam hidup kita. Bukankah gagal juga merupakan sebuah pencapaian? Pencapaian getir yang harus bisa memotivasi kita untuk membalik keadaan.
Percayalah, tak ada keberhasilan yang manis sebelum kita mencecap pahitnya rasa kegagalan. Setiap orang punya kisah, keluh, kesah dalam hidup mereka. Aku, kamu, kita semua selalu punya alasan untuk berdalih menyalahkan hidup yang tak berpihak pada diri kita. Namun apakah kita telah pernah benar-benar menelanjangi diri dari pakaian kemunafikan yang selalu kita kenakan? Gagal pasti ada sebabnya. Sama seperti keberhasilan yang selalu bermula pada sebuah sebab yang menciptakannya.
Gagal bukan karma. Gagal itu bukan karena perbuatan buruk kalian yang dibayar dengan kegagalan oleh Tuhan. Tidak, Tuhan tidak securang itu. Dia mendidik kita dengan gagal supaya kita lebih bijaksana dalam cara dan sikap mensyukuri keberhasilan yang kelak Ia berikan untuk mengganti kegagalan hidup kita.
Ingatlah prinsip roda. Roda itu bundar dan selalu berputar. Namun ia berputar bukan tanpa usaha, ia butuh tenaga untuk menggerakkannya. Begitu pula alur hidup kita yang selalu digerakkan oleh tangan-Nya, berputar terus menggelinding. Memutar nasib baik kita pada nasib buruk. Memutar kesenangan kita pada nestapa tiada tara. Seperti halnya memutar gagal kita menjadi berhasil, berhasil menjadi gagal semau dan sesuka tangan-Nya.
Satu-satunya yang harus kita lakukan hanyalah berusaha menjadi roda yang baik bagi kehidupan kita. Teruslah berputar sebagaimana mestinya, berputarlah sehingga anak-anak tangga itu seolah berubah menjadi jalan menurun yang tak berundak-undak. Hingga roda kita bisa dengan mudah berputar dari atas-kebawah tanpa harus diberatkan oleh berbagai macam keluhan-keluahan, makian pada Tuhan, dan segala prasangka buruk yang dapat semakin memungkinkan Tuhan untuk memperlambat gerak roda kita.
Aku bicara soal hidupku, teman. Soal keberhasilanku mencapai kegagalan. Kegagalan yang sedang aku usahakan untuk menjadi sebuah keberhasilan manis yang akan aku hidangkan disisi pembaringan ayahku nanti.
Akh, beliau bahkan belum sempat melihatku mengenakan toga. Belum sampai hajatnya untuk menjadi wali ketika menikahkanku kelak dengan lelaki yang kupilih nanti. Tapi tak mengapa, dengan begitu bukan lantas beliau gagal menjadi ayah yang baik. Beliau sudah sangat berhasil mendidikku menjadi seorang putri yang kuat berdiri sendiri hingga saat ini. Beliau adalah seorang ayah paling sukses yang berhasil menanam kekuatan dalam jiwaku, walau terkadang tubuh ini terlalu rapuh untuk menopang semangat yang menyala-nyala dalam dada. Terima kasih Ayahku.. engkau segalanya untukku.
Untuk Ibu yang sangat aku sayangi, engkau pasti tau bagaimana usahaku untuk meyakinkan Tuhan agar selalu memutar rodaku. Kau bantu aku dengan do’a ditiap sepertiga malam, sampai sajadahmu selalu basah oleh air mata permohonan untuk keberhasilanku dalam hidup ini. Aku tau itu ibu, walaupun aku berpura-pura tidur, mata, hati dan telingaku selalu mendengar isakmu yang tertahan ditengah malam. Kau bahkan menjaga suara tangismu agar tak membuat aku terbangun. Engkau wanita paling berhasi sebagai ibu didunia kecilku. Kau ibuku yang paling juara yang bisa memberi contoh terbaik untukku. Jika aku menjadi seorang ibu kelak, aku mungkin tak dapat sebaik dirimu, namun aku akan selalu berusaha mengikuti jejakmu.
Lalu, apakah kalian masih akan menilaiku gagal? Semoga saja tidak. Aku ini seorang yang berhasil, berhasil menetapkan hati pada satu titik keyakinan paling mutlak pada Tuhan yang menciptakanku. Sekalipun roda membuatku berada dititik paling bawah, maupun pada titik paling atas, hatiku tetap berada pada tempatnya. Tubuhku mungkin terlalu jujur dalam membahasakan gembira dan putus-asaku. Aku kadang sakit, hingga daging dalam tubuhku menyusut seperti balon yang disimpan lama dalam ruangan dingin tanpa cahaya. Namun percayalah teman, hati dan jiwaku selalu sehat untuk menerima setiap perputaran roda yang selalu terjadi sewaktu-waktu dalam hidupku.
Aku bangga telah mengenal kalian. Teman-teman yang selalu mencemoohku, memujiku, berada disampingku selalu, mencintaiku dengan sangat, dan selalu menjadi cermin untukku. Kelak jika aku berhasil dalam pencapaian yang orang-orang harapkan dariku, nama kalian takkan tergeser sedikitpun dari ruang ingatku. Ini janjiku pada diriku sendiri. Dan kegagalan yang paling kutakutkan saat ini adalah, jika aku gagal menjadi teman yang baik untuk kalian semua.
Terimakasih hidup. Terimakasih rodaku. Terimakasih Tuhan, jangan bosan bermain denganku. Aku berjanji, hati dan jiwa ini akan selalu kuat demi mereka semua yang mencintaiku. Berhasilkan aku dengan sebuah pencapaian manis seperti mauku. Amin.

(Bolak-balik dengerin Somewhere I Belong-nya Linkin Park selama nulis ini.. )

Wednesday, January 23, 2013

Mencari AKU


Dear, Lita..
Kamu adalah seorang yang sangat ku kenal, sebaik aku mengenal diriku sendiri. Namun kadang, kamu bisa menjadi seseorang yang sangat sulit dimengerti, sesulit aku berusaha mengerti diriku sendiri. Bolehkah aku sedikit menulis tokoh ’kita’ disini?
Tiap pagi ketika mata kita baru saja terbuka, satu pertanyaan yang kita hafal diluar kepala selalu jadi hidangan pembuka bagi hari-hari panjang kita, hari-hari lelah kita: ”Tuhan, untuk apa aku diciptakan?”
Itu kan yang selalu kita pertanyakan? Tentang eksistensi kita. Tentang kepentingan kita didunia ini. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah kita ketahui jawabannya, namun kita masih belum dan tak pernah puas dengannya. Sebuah pertanyaan paling naif sebagai bentuk halus dari cara kita menyalahkan Tuhan karena beberapa ketidak-adilan-Nya pada kita. Iya kan?
 Kadang, ah tidak, sering kita merasa Tuhan begitu tak adil dengan bolak-balik memberi kita cobaan. Seolah DIA sangat suka melihat betapa susahnya kita memeras air mata dalam diam, sedang disisi lain kita tak ingin seorang pun tau betapa rasa sakit yang kita tahan sering membuat tubuh, hati, dan pikiran kita mati rasa. Dan kita mulai marah pada kenyataan. Lebih-lebih pada diri kita sendiri yang ’kalah’ pada kenyataan tersebut.
Ada satu waktu dimana ayah bisa jadi sangat menyebalkan, ibu bisa jadi sangat memuakkan, saudara sangat membosankan, sahabat bisa jadi sangat mengesalkan. Kita menolak dunia sekitar kita yang tak bersikap sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mungkin saat itu kita tengah menjadi terlalu sensitif setelah terus menerus diganggu oleh pertanyaan soal eksistensi kita tersebut. Dan yang lebih menyebalkan, Tuhan belum juga mau menjawabnya dengan cara yang kita mau. Kita semakin frustasi. Semakin gila dibuatnya.
Ada satu waktu dimana kita sangat ingin marah tanpa tau alasan mengapa kita harus marah..pada apa, pada siapa. Mungkin saat itu kita hanya tengah marah pada diri sendiri atas ketidak-mengertian kita terhadap keinginan-keinginan yang ada dalam diri kita, yang kita merasa belum mampu mewujudkannya, yang kita lebih memilih lari daripada mencari tau lebih gigih pada diri kita sendiri. Kalau aku, biasanya lebih memilih bersembunyi dibalik selimut sepanjang hari, menolak dunia dengan menenggelamkan diri pada pengapnya kasur yang selama ini sudah berat menampung kotoran hatiku. Bagaimana denganmu, Lita?
Kadang, kita terjebak dalam kebekuan rasa takut entah pada apa. Mungkin saat itu kita hanya tengah takut pada kemungkinan-kemungkinan yang kita ciptakan sendiri. Padahal, toh, pada akhirnya kemungkinan-kemungkinan itu hanya akan berakhir menjadi kemungkinan saja. Dan tenaga kita telah bnyak terbuang untuk ketakutan yang sia-sia. Begitukah yang kau rasa? Aku merasakannya.
Suatu ketika, pernah kita menangis sejadi-jadinya. Semua perasaan yang kusebutkan tadi tiba-tiba terjadi disatu waktu. Dan kita sama sekali tak siap sedikitpun dengan keadaan seperti itu. Apa yang kita lakukan kemudian? Menulis? Ah, itu hanya seperti menyimpan perasaan dan kenangan buruk kita untuk kemudian membuat luka kita basah lagi suatu waktu. Tapi setidaknya menulis membuat kita sedikit lega.. lalu apa? Lari ke suatu tempat?
Kalau aku, pasti lebih memilih menangis sejadi-jadinya. Karena lewat air mata, aku bisa jujur pada diriku sendiri bahwa aku sudah terlalu lama terluka namun tak tau bagaimana cara menumpahkannya lewat kata-kata. Walau setelah menangis aku masih terjebak dalam ketidak-mengertianku tentang ini itu, tapi tak mengapa, aku merasa sedikit lebih ringan setelahnya. Bagaimana denganmu?
Akh, bicara denganmu tentang kehidupan takkan pernah kutemui habisnya. Selalu ada hal-hal diluar nalarku yang kutemukan dalam setiap pembicaraan kita. Tentang cinta misalnya. Hahaha.. bagian yang satu ini sepertinya kita lebih banyak terluka, lebih banyak air mata. Tapi bukankah seru membicarakan ini denganmu yang juga mengalami hal yang nyaris sama denganku? aku seperti tengah melihat ’aku’ ketika mendengar ceritamu, dan mungkin kamu juga merasakan hal yang sama.
Para lelaki itu telah hadir dalam hidup kita. Berawal dari teman biasa, akhirnya jadi seseorang yang kita suka, mereka suka kita, kita dan mereka bercinta, mereka pergi, kita sakit hati..dan, pada akhirnya jadilah mereka guru yang mengajarkan kita tentang cara mengobati luka seorang diri. Aku bersukur ada kamu yang membantuku menyembuhkan lukaku, dan semoga...walaupun aku tak banyak membantumu, do’aku mampu meringankan sakitmu juga. Amin. J
Kembali pada pertanyaan tadi, TUHAN.....UNTUK APA KAMI DICIPTAKAN?? Mungkin jawabannya adalah untuk memerangi diri sendiri. Mungkin untuk mengalah pada diri sendiri, bukan pada keadaan. Mungkin untuk membuat kita belajar memaafkan diri sendiri. Mungkin untuk membuat kita faham bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk bahagia.
Bukankah Tuhan begitu sayangnya pada kita? Kita sengaja diciptakan untuk bahagia, namun tidak dengan cara yang sederhana. Kita diminta untuk mencari ’alasan’ penciptaan kita pada diri kita sendiri. Sedang kita telah lelah bersusah-payah melawan sekitar kita hanya untuk menemukan jawaban yang kita cari. Padahal, jawabannya adalah diri kita sendiri.
Kita sadar bahwa kita sedang dipermainkan ego kita sendiri. Tak apalah, wajar kok. Tuhan tidak menciptakan kita agar kita mudah masuk surga. Disisi bagian dari diri kita yang baik, Tuhan juga menciptakan diri kita yang jahat. Lebih sederhananya, kita sebut saja ia nafsu, keinginan, ambisi, ego kita sendiri. Hal-hal itulah yang selalu berusaha menjebak kita dalam kebingungan semu dalam pencarian kita akan jati diri. Kita dibuatnya capek, dibuatnya marah, dibuatnya lelah dan menyerah. Hingga pada akhirnya dengan berani kita bertanya pada Tuhan tentang tujuan IA menciptakan kita.
Akh, Lita. Aku sudah lelah melawan hidup ini. Aku sudah lelah diperbudak diriku sendiri. Aku terbelit dalam kungkungan masalah yang ada dalam kepalaku sendiri. Aku terperangkap dalam sisi gelapku sendiri. Begitukah yang kau rasa?
Soal para lelaki yang telah menjadi guru bagi kita, bukankah mereka merupakan instrumen yang sengaja Tuhan ciptakan untuk membantu kita dalam menemukan siapa kita sebenarnya? Itu kan yang selalu kita pertanyakan?
Kita selalu merasa ingin kembali menjadi diri kita yang ’dulu’. Dulu yang mana? Dulu sekali saat kita belum mengalami hidup sesulit ini. Dulu sekali saat hidup kita hanya dipusingkan oleh bagaimana memilih warna yang paling manis untuk mewarnai pepohonan dalam kertas gambar kita. Akh, rindu kita kurang seru.. kita jadi terkesan tak suka berada dalam kesulitan. Kita membenci masalah. Kita hanya membenci kerumitan.
Iya, aku tak suka berada dalam kesulitan. Aku suka berada dalam zona nyaman. Aku suka tak bermasalah dengan kehidupan. Aku bahkan berusaha tak saling mengenal dengan kehidupan itu sendiri. Aku hanya TAKUT berada dalam kebingungan, ego-ambisi-sedih-marahku jika masalah-masalah itu datang. Apakah kali ini pun kamu merasakan hal yang sama denganku?
Pada akhirnya, aku hanya menemukan satu jawaban dari pertanyaan kita itu, Lita. Mungkin setelah ini aku takkan bertanya lagi pada Tuhan tentang alasan-Nya menciptakanku. Dia hanya ingin aku, kamu menjadi penghuni surga-Nya dan sekaligus berjuang sendiri agar terhindar dari neraka-Nya. Hebat.
Namun pada akhirnya, otak bebal kita kembali mempertanyakan sebuah tanda tanya baru. ’SIAPA KITA?’
Untuk pertanyaan yang satu ini aku tak akan mencoba menalar lagi. Jawabannya ada dalam diri kita sendiri. Mungkin saat ini kita sedang berada ditengah-tengah perjalanan kita dalam mencari identitas, sebuah keyakinan yang pasti tentang pengenalan kita terhadap diri sendiri. Dan semoga, diujung perjalanan itu dapat kita temui jati diri kita yang sesungguhnya. Jawaban yang dapat memuaskan semua tanda tanya kita tentang siapa diri kita sebenarnya. Mungkin, satu kunci yang bisa mengantar kita pada saat itu adalah hanya dengan memulai hal-hal kecil, dengan mulai mencintai diri kita sendiri misalnya. Kemudian mulai memaafkan diri sendiri, barulah kemudian berdamai dengan segala warna kehidupan yang Tuhan berikan. Jika dengan begitu saja kita bisa masuk surga, bolehlah ku katakan Surga-Nya begitu dekat diatas ubun-ubun keyakinan kita sendiri. Hanya saja, kita masih harus mengalahkan satu musuh abadi yang bernama ”AKU”.

Daaaannnn masih terlalu banyak hal yang ingin aku tulis disini, namun lagi-lagi, keterbatasan kata takkan pernah mampu memuaskan keinginanku untuk mengungkapkan semua yang berkecamuk sekian lama dalam kepalaku. Mataku sudah berat, Lita.... kapan-kapan sajalah ketika waktu mempertemukan kita lagi, mari kita berdebat tentang kehidupan. Dan aku tak sabar menunggu saat itu datang lagi J

Wednesday, January 16, 2013

membunuh waktu


aku membunuh waktu dengan memotong kuku
menyisir rambut
mengusap bedak
mengoles gincu
menoreh hitam celak
menyemprotkan wewangian,
mempercantik  aku
aku yang beranjak tua bersama waktu
waktu yang perlahan ‘kan membunuhku

Wednesday, January 2, 2013

Puisiku


Seperti gerimis yang selalu datang bersama mendung
Puisiku pun datang bersama rindu yang mengepung

Bukankah puisi adalah anak-anak hati
Yang lahir dari pertemuan jarak dan rindu dalam sekat waktu?

Jangan bertanya apapun padaku
saat kau jumpai banyak namamu kusebut dalam tiap untai puisiku

Bagaimana kau bertanya sedang kau tau betul jawabnya?

Lihat dirimu,
dan temukan aku yang hilang ditengah puisiku