Friday, November 22, 2013

Malaikat Itu bernama 'Ibu'

Dia yang dalam tiap do'aku namanya selalu kusebut,
mencintainya adalah perjuangan paling menyenangkan yang tak boleh tak kulakukan disepanjang hidupku.
Ia tak pernah bilang padaku seberapa besar tepatnya Ia mencintaiku, karena katanya.. Cinta itu bukan suatu yang dapat diukur dengan sejumlah bilangan angka. Lalu bagaimana dengan aksara? Tanyaku. Ia jawab dengan selengkung senyum dibibir keriputnya, sembari menatapku dalam. Dan tatapan itu, adalah satu jawaban dari sejuta tanya yang berhamburan dalam benakku, bahwa tanpa angka-angka, tanpa harus menyusun aksara.. Cintanya utuh, penuh, seluruhnya untukku.

Dia yang sedihnya membuatku berduka berlama-lama., melihatnya menangis adalah sebuah petaka maha besar dalam hidupku, apalagi jika tangis itu disebabkan olehku. Aku rela menghukum diri demi melihat ia tersenyum lagi, lalu memaafkanku. Namun entah karena memang dia seorang malaikat, atau hatinya memang baik, atau karena ia begitu mencintaiku..maaf itu selalu dia beri jauh sebelum aku memintanya. Maka malu lah aku tiap kali berbuat salah padanya. Malu pada diri sendiri, dan malu pada seorang yang begitu pemaaf sepertinya..

Dia yang tak ingin ku buat khawatir karena berbagai himpitan hidup yang kian menjepitku, malah rajin mendo'akanku ditiap malam dalam tiap sujudnya. Pernah ku dengar dalam lirih do'anya, namaku disebutnya berulang-ulang.. Sembari berloncatan air matanya dan menahan isak yang mengguncang dadanya, ia rela bersujud lama..demi aku. .

dia yang rela terjaga semalaman menunggui demamku yang tak kunjung reda, sedangkan aku lelap disampingnya. Dia, yang kerap menahan lapar dahaganya demi memuaskan lambungku yang selalu merasa kurang. Namun adakah yang telah kulakukan padanya yang membuat hatinya tenang?

Dia yang tak boleh ku buat marah dengan kebodohanku, meskipun rupanya aku belum cukup pintar untuk tak mengecewakannya dengan sikapku. Namun ia tetap merangkul aku, aku dengan segala kekuranganku ini.

Begitu besarnyakah cintanya padaku, hingga apapun yang kulakukan untuknya masih selalu terasa tak sebanding dengan apa yang selalu dia lakukan untukku?
Ku pikir cintaku padanya begitu besarnya, namun yang kurasa adalah cinta yang bertubi-tubi selalu darinya untukku.
Ku pikir aku bisa membahagiakannya, namun yang ku dapat adalah kebahagiaan tiada tara karena terlahir menjadi bagian dari dirinya.
Ku pikir akulah satu-satunya yang bersedih, namun tanpa ku tahu.. rupanya ia yang paling menderita saat tak dijumpainya raut bahagia terpahat diwajahku.

Dia, yang rinduku padanya membuat jemariku senantiasa bergetar diatas kertas ini.. Membuat kata berlari-lari dan menghambur pada Tuhan mewujud permohonan demi permohonan, untuk segala kebaikan atasnya: wanita paling mulia dalam hidupku.. Ibu.

Wednesday, November 13, 2013

Gak Usah Dibaca...


Ku akhiri malamku dengan gelas susu yang telah tandas isinya, dan buku bacaan yang ku biarkan tengkurap di lantai serta beberapa kertas berisi catatan yang ku tulis setengah malas. Jarum jam yang sedari tadi berkejaran kini memaku diri di angka dua, dini hari.
Aku lelah.
Aku terlalu mengantuk untuk meletakkan kembali semua barang yang berserak ini ketempat aslinya.
Kemudian mataku memejam.
Ku biarkan kantuk memelukku perlahan. Lalu aku mati suri dan hidup kembali di dunia yang kusebut mimpi. Kaki tak menjejak bumi, sedang tangan tak menggapai awan. Aku berada diambang pertengahan diantara dua alam. Melayang, dan sesekali bergoyang diterpa angin dingin.
Suara-suara perlahan menjauh dari telingaku. Dan waktu, entah harus ku sebut pagi atau malam, aku tak tau. Dalam dunia mimpi waktu berhenti. Tak lagi berlari-lari seperti saat kakiku menjejak bumi. Aneh. Aku merasa sesak saat waktu berhenti berputar disini. Dadaku meronta minta diisi udara. Tapi rasanya, aku hanya tak terbiasa dengan waktu yang diam, yang membiarkanku mengambang diruang hampa. Maya.
Akh, sepertinya aku mulai ngelantur.
Pikiranku tak lagi teratur.
Kata-kataku ngawur.
Pandanganku kabur.
Blur.
Ini mimpi, dan semua yang kulihat disini adalah ilusi. Ini hanya dunia abu-abu yang dengan cepat akan berganti-ganti warna semau dan sesukanya. Begitu kuyakinkan diri sendiri.
Namun yang kulihat tampak begitu nyata. Aku melihat sosok diriku, yang walaupun jijik tapi tetap asik melahap daging anjing. Iya, aku makan anjing. Ku potong tubuh anjing itu menjadi beberapa bagian. Yang ku sisakan hanya bagian kepala sampai lehernya, dan buntut sampai ekornya. Dan yang ku makan hanya bagian tengahnya saja. Bagian-bagian yang tak ku makan itu kembali hidup, lalu memasukkan dirinya sendiri kedalam kantong plastik berwarna hitam. Kataku pada anjing itu ”aku sudah kenyang”.
Menjijikkan.
Belum tuntas mualku, mimpi ini berganti warna lagi. Bukan lagi anjing yang kulihat, tapi dia. Sosok pria -entah siapa namanya- yang rasa-rasanya begitu ku kenal sejak lama. Kami akrab satu-samalain, begitu dekatnya. Bicara apa saja. Sampai ku kira aku telah jatuh cinta padanya. Tapi sayang ini hanya mimpi dan dia adalah ilusi yang dicipta alam bawah sadarku sendiri. Ia hanyalah bagian kecil dari mimpi abu-abuku ini. Lalu tiba-tiba Ia mewujud gelembung sabun dan melayang-layang satu senti dekat dengan keningku. Perlahan kusentuhkan jari padanya dan plash, Ia pecah menjadi titik-titik air dan meninggalkan perciknya dipipiku. Kemudian warna mimpi ini berganti lagi.
Aku terlempar ketempat yang jauh. Ketempat yang membuat mataku melihat hijau disekelilingku. Aku berada di hamparan padang rumput, mungkin di puncak bukit. Aku sendirian menghirup udara dalam-dalam. Memenuhi rongga dada yang sedari tadi terasa sesak. Terasa segar.
Dan waktu, masih terhenti ditempat yang sama. Masih tak dapat ku bedakan entah itu pagi atau malam. Aku masih ada di dunia mimpi. Terjebak dalam ilusiku sendiri. Aku mati suri. Dan jiwaku berpetualang membebaskan diri.
Benar. Saat terbangun nanti hatiku tak akan merasa seringan ini. Untuk bernafaspun mungkin akan berat lagi. Jadi ku nikmati dulu saat-saat ini. Mengasingkan diri di dunia sepi ini.
Bangun kembali kedunia nyata berarti aku tlah siap membunuh ilusi. Ini hanya perkara memilih: bertahan mati dan hidup dalam mimpi, atau hidup kembali di dunia nyata sembari menunggu nyawa meregang dengan sendirinya.
Lalu aku memilih bangun. Membuka mata. Dan yang pertama kali kulihat adalah pagi. Waktu pun berjalan kembali, dan bahkan berlari. Tubuhku menyentuh bumi, pertanda gravitasi berlaku padaku lagi. Aku tak lagi mengambang. Dan untuk itu, aku agak senang.
Disebelah bantalku buku bacaan itu masih tengkurap. Dan catatan yang semula ingin ku buat pendek ini ternyata masih ku tulis hingga titik ini.
Sudah lama sejak terakhir kali aku menulis dibawah tekanan kantuk seperti saat ini. Mau bagaimana lagi, kerumunan kata dalam kepalaku tak mau sedikitpun mengalah pada mata. Aku sebenarnya lelah.
Tapi sudahlah... Ini hanya tulisan seorang pemabuk, mabuk kata. Tak usah kau perdulikan aku. Pergi tidur sana! alami mimpi yang sama seperti mimpiku semalam. Selamat malam, dan selamat mengapung di dunia terapung semalaman. Besok saat kau bangun kembali, jangan biarkan lupa menghapus jejak mimpimu seperti aku yang lupa pada mimpiku. Ceritakan padaku semua yang kau lihat pada mimpi itu. Jika kau jumpai perempuan asing disana, bisa jadi itu aku.

Monday, November 11, 2013

Rakus


Setelah satu, aku ingin dapat dua
lalu tiga , empat, lima
dan seterusnya

tak cukup mencintai, aku ingin dimiliki
bukan oleh dia, mereka, tapi kamu

Tak cukup dicintai, inginku juga punyaimu
tak hanya sekarang, mauku selamanya

mungkin aku begitu serakahnya,
tapi..
Mau bagaimana lagi,
aku cuma manusia
Yang tak pernah ada puasnya.

Angin Membawamu



Dan angin bisikkan namamu ditelingaku
Saat tak ada suara lain yang kudengar,
hanya namamu.
Dan kubiarkan sepi kian menjadi
Agar bingar namamu
satu-satunya yang dapat kudengar
ditelingaku

Sunday, November 10, 2013

Later better than Never..


Dengarkan dia saat kalimat yang keluar dari mulutnya hanya diam. Ulurkan tangan padanya saat Ia tak mampu lagi berjalan dengan kedua kakinya. Peluk tubuhnya saat Ia minta padamu sebuah ruang untuk sendirian. Dan hapus air matanya saat tak seorangpun mau meluangkan waktu mereka untuk melihatnya bersedih.
Karena tak ada yang dapat kamu percayai melainkan hanya waktu.
Suatu saat Ia tak akan ada lagi. Ia mungkin pergi dengan semua kesedihan yang Ia pendam dalam diamnya.
Suatu saat kamu dan dia akan terpisah oleh sekat yang takkan memungkinkan lagi untuk kalian saling bersentuhan, tak lagi saling mendengarkan, dan tak pula saling berucap kata-kata penghiburan.
Bisa jadi ini hari-hari terakhirnya.. atau hari-hari terakhirmu..
Bukankah dia, kamu, dan aku terlahir menjadi makhluk yang begitu rindu akan kematian namun terlalu takut untuk membayangkan kedatangannya?
Dia pun sama sepertimu, memiliki ketakutan yang sama. Sama-sama takut menjemput mati. Namun bukan hal itu yang sekarang Ia takutkan. Ia takut sendirian. Ia takut tak seorangpun akan mendengarkannya. Tak seorangpun mengulurkan tangan padanya. Ia benar-benar tengah takut. Takut mati dipeluk kesedihan tanpa seorangpun tau apa yang membuatnya begitu bersedih.
Kalau besok benar-benar hari terakhirnya, akankah kamu bersedia menjadi orang terakhir yang akan melakukan semua seperti inginnya? Dia butuh kamu......