Friday, May 23, 2014

Hiding My Heart (Adele) #np



Angin mengetuk jendelaku lagi malam ini. Harus ku apakan serpih ingatan ini? Merangkainya lagi untuk kesekian-ribu kalinya kian membuatku nyaris menepi pada batas asaku.

Ada satu hal yang kerap menggangguku tiap malam. Hal yang pelan tapi pasti membuatku melewatkan hangatnya selimutku beberapa malam ini hanya untuk merenung dan duduk berlama-lama didepan laptop tua ini dan mencoba menyusun serpih ingatan kedalam sebuah catatan sederhana.

Ah, bagaimana bisa kusebut sederhana jika sebenarnya Ia begitu kusut di kepala?

Malam ini angin mengetuk jendelaku lagi.
Laptop tua, lampu belajar yang bersinar terang dan sebuah lagu cinta dari Adele mengiringi jariku menari diatas tuts keyboard ini. Apa yang membuatku begitu risau? Hingga tak ku hirau kantuk yang sedari tadi menggelayut dikedua kelopakku yang mulai menghitam ini?

Aku merindukannya. Dia.

Malam ini angin benar-benar terasa dingin ketika aku begitu ingin Ia berada di dekatku.

Maaf. aku masih belum tau harus bagaimana menuliskannya. Perasaanku ini, begitu sederhana untuknya…namun entah mengapa begitu sulitnya ku temukan kata-kata untuk menjabarkannya.

Ku rasa angin malam ini lebih mengerti. Tentang rindu yang tak harus diungkapkan selalu. Tentang beberapa ingatan yangseharusnya kubiarkan berlalu. Atau bahagia yang Ia bawa, ya, seharusnya kubiarkan Ia terbang ditiup angin dan terdampar disebuah hati  yang telah siap menumbuhkannya.

Mungkin dihatimu bahagiaku akan tumbuh lebih subur. 
Mungkin saat ini? Nanti? Entahlah.




Wednesday, May 14, 2014

And it kills me..



Aku menulis catatan dalam beberapa paragraph segala yang ada di kepalaku, ku baca sekilas lalu ku tekan Ctrl+A kemudian..delete.

Berpikir sebentar.. kemudian aku mulai menulis lagi. Tak lebih banyak dari yang sebelumnya, namun kali ini sedikit lebih lugas. Ku tulis semuanya kata-kata yang benar-benar berteriak dikepalaku selama beberapa waktu. Dan sesaat kemudian, entah mengapa..kembali ku tekan Ctrl+A kemudian delete.

Kembali kosong.

Menghadapi halaman kosong didepanku, sama menyakitkan seperti saat berhadapan dengan orang yang mendiamkanku. Tentu ada rasa sedih dan bersalah, entah karena apa. Dan itu benar-benar membuatku frustasi setengah mati.

Kekosongan selalu terasa menyakitkan.

Aku kini paham, bahkan blank page ini pun tak mau mendengarkanku. Siapa lagi yang akan?

Ku harap Tuhan tak berpikir demikian.

Thursday, May 8, 2014

Do'a Lainnya..

Tuhan, sekali waktu aku pernah terjebak dihati manusia-MU.
Aku meminta perlindungan kepada hati yang sama lemahnya seperti hatiku. Dan ketika dengan beraninya kami saling menitipkan hati dan menyebutnya sebagai cinta, bukanlah perlindungan yang kami dapat. Hati kami malah semakin mudah risau. Cinta yang pada mulanya lemah lembut berubah menjadi egois dan banyak menuntut. Apa yang kami sebut sebagai cinta  t'lah membuat kami saling membunuh hati kami, satu sama lain. Perlindungan yang kami percayakan seolah hilang maknanya. Cinta menjadi berubah arti. Cinta mematikan hati.

Apa yang salah dari cinta kami Ya Tuhan?

Apakah KAU cemburu padanya? Maafkan aku Tuhan.. ku habiskan waktuku untuk memikirkan dia, hanya dia. Aku lupa bahwa cinta ini hanya media.. untuk membuat kami bersama-sama hanya mencintaimu melebihi kecintaan kami satu sama lain. Aku lupa bahwa pada akhirnya KAU akan mempersatukan kami untuk berdua dalam mahligai yang jauh lebih indah, dijalan-MU. Jika itu mau-MU, aku tak berkeberatan untuk saat ini berpisah sejenak dengannya. Jika itu bisa meredam kemarahan-MU pada kami, jika itu memang untuk mempersatukan kami lagi, nanti.

Engkau yang Maha Pengasih & Maha Penyayang, aku mohon sembuhkan luka kami, cintai kami lagi..Berikan padaku kekuatan untuk berdiri sendiri Ya Tuhan.. berikan kami kekuatan untuk bisa menguatkan hati kami sendiri, agar kami lebih siap untuk berjalan bersama dengan masing-masing hati yang kuat dijalan-MU, tanpa harus saling bergantung satu sama lain... Amin :)

Wednesday, May 7, 2014



"saat aku dibuat sedih oleh harapan yang digantungkan, sesungguhnya aku merasa bersyukur. Bersyukur karena mereka telah menarikku dari ruang lupa, bahwa sesungguhnya hanya IA yang pantas menjadi tempat untuk menggantungkan segala harap, karena hanya Dia lah satu-satunya yang takkan membuatku kecewa"

delapan mei




Seharusnya aku telah mengerti sejak hari saat langkahnya benar-benar jauh meninggalkanku untuk pertama kali, bahwa tak akan ada lagi dia di hari-hari setelahnya. Seharusnya aku pun telah paham bahwa hari itu benar-benar menjadi yang terakhir kali aku melihatnya. Tak akan ku temui dia yang tersenyum lagi setelah hari itu, takkan ada lagi dia yang marah-marah setelah sore yang sendu itu.

Seharusnya aku t’lah benar-benar menyadari bahwa perginya benar-benar untuk selamanya. Yang berarti bahwa takkan ada lagi dia dihari-hari specialku selanjutnya. Takkan ada lagi sosoknya yang kulihat dipagi hari tertanggal delapan Mei setelah hari itu. Tak akan ada lagi lelaki dengan peci putih itu yang memintaku memanaskan air untuk menyeduh kopi. Atau, lelaki yang suaranya saat adzan mengiris-iris hatiku.

Dua ribu sembilan, pada subuh di penghujung bulan desember. Itulah kali terakhir aku melihatnya. Lelaki pendiam itu. Lelaki yang menggendongku untuk pertama kalinya pada delapan Mei bertahun-tahun silam. Lelaki yang membisikkan Adzan ditelinga kecilku. Lelaki yang pertama kalinya memperkenalkan iman kepadaku.


Tuhan, besok  adalah delapan-Meiku yang kesekian tanpanya. Kau tau kan kalau  rinduku masih (selalu) sama besarnya untuk dia? Tapi entah mengapa aku menangis. Aku bukan menangis untuk waktu yang begitu cepat larinya hingga membawaku menginjak usia dua puluh empat dalam sekejap mata, bukan. Hanya saja aku merasa seperti terjebak. Aku masih terjebak dalam usia lima saat aku masih nyaman berada dalam gendongannya.

Aku harap dia datang padaku sekali lagi, dalam mimpi pun tak mengapa. Aku hanya ingin mendengar Ia berkata "Selamat ulangtahun, Puteriku.."