Sunday, July 28, 2013

cc: .......


Senin pagi yang cerah. Terjaga semalaman suntuk hingga sahur membuat separuh nyawaku masih belum lengkap terkumpul. Tidur selepas subuh tadi pun terasa masih kurang, terlebih mengingat keributan semalam.. akh, rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur ini. Aku butuh setidaknya 3 jam ekstra untuk menyusun kembali serpih kesadaranku agar mampu mencerna kembali inti dari huru-hara malam tadi.
Bukan hal besar yang patut ku besar-besarkan dalam tulisan, hanya saja benakku tergelitik untuk bercerita pada kalian tentang kejadian singkat yang membuatku memetik banyak buah pelajaran semalam tadi.
Adalah dua keponakanku yang baru beranjak dewasa yang menjadi topik utama disini. Nama tidak terlalu penting untuk ku sebutkan, cukup kalian tahu kalau usia mereka baru menginjak angka 17 dan 16. Usia yang memiliki darah semangat yang menyala-nyala. Usia rentan bagi rasa penasaran yang haus akan kelegaan jawaban. Dan usia yang menjadi pijakan pertama dalam proses pencarian jati diri. Segala sesuatu ditentukan pada usia ini.
Begitulah kurang lebih, huru-hara yang ku maksud disini adalah konflik kecil antara orang tua dan anak, dimana mis-komunikasi menjadi sumbu utama pemicu meledaknya keributan dirumah ini. Antara keinginan orang tua dan keinginan anak-anak yang tak sejalan, dan sedikit salah dalam hal penyampaian bisa dengan mudahnya menjadi musabab keributan-keributan kecil semacam ini. Bukan tidak mungkin, jika keributan seperti ini dibiarkan terus menerus akan menyebabkan renggangnya hubungan antara anak dan orangtua mereka sendiri.
Aku disini dalam porsi sebagai tante yang berusaha menengahi keributan tersebut, sekaligus berusaha sebisa mungkin tidak condong pada pihak manapun. Berkali-kali ku coba memposisikan diri diatas kaki masing-masing dari mereka. Sebagai seorang yang pernah remaja, aku tahu betul pada usia tersebut aku sangat membutuhkan ’kebebasan’, dalam arti lepas dari simpul-simpul peraturan yang diciptakan orangtuaku yang memang difungsikan untuk membatasi ruang gerakku dalam berekspresi. Sedangkan, disisi lain aku merasa sudah cukup ’matang’ untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Rasa penasaran terhadap segala sesuatu kerap mendorongku untuk mencoba hal-hal baru, dan memikirkan resikonya belakangan. Aku paham betul itu.
Namun disisi lain, terlepas dari minimnya –bahkan nol besar-- pengalamanku sebagai orangtua, aku berusaha memposisikan diri pada sudut pandang orang dewasa yang pernah mengalami masa-masa remaja seperti itu. Sebagai orang tua, aku mengerti mereka hanya ingin yang terbaik untuk buah hati mereka. Pengalaman yang mengajarkan mereka banyak hal membawa berbagai ketakutan akan hal buruk yang mungkin menimpa anak-anak mereka dalam perjalanan mencari jati diri tersebut. Mereka hanya ingin membekali buah hati mereka dengan berbagai pesan –yang menurut anak-anak—adalah sebuah ceramah klise untuk didengar.
Aku memandang hal ini dari posisiku berdiri dipertengahan. Komunikasi adalah hal yang mutlak menjadi satu-satunya solusi untuk memperbaiki simpul yang merenggang. Aku sangat menyayangi kedua keponakan itu, namun aku juga kerap merasa kasihan pada orang tua mereka yang nyaris putus asa dalam mengahdapi kenakalan mereka. Pulang larut malam, bertingkah semaunya, emosi yang meledak-ledak bila diingatkan sesuatu. Begitulah mereka.
Namun mereka tak sepenuhnya salah. Entahlah, aku bingung bagaimana menjelaskannya, namun aku mengerti dan paham betul apa yang hendak mereka sampaikan.
Menjadi orang tua bukanlah perkara mudah, lebih-lebih saat anak tengah menginjak usia-usia rawan seperti ini. Orang tua hanya ingin mengarahkan anak-anak mereka kejalan yang menurut mereka benar. Karena bagaimanapun juga, orang tua telah lebih dahulu melalui jalan yang sama. Mereka pernah terjatuh dijalan yang sama, pernah berkali terluka dan menangis darah untuk kemudian belajar bangkit dan kembali berjalan, meneruskan pemenuhan  rasa haus penasaran mereka akan berbagai hal. Ingatlah, mereka pernah muda seperti kalian. Itulah poin yang harus kita garis bawahi. Pengalaman itulah yang membuat mereka menjadi selalu ‘bawel’ dalam mengingatkan anak-anaknya. Rasa cinta mereka yang begitu besar yang mendorong keinginan mereka untuk melindungi buah hati mereka dari kegagalan yang sama yang pernah mereka alami sebelumnya. Orang tua memang hanya manusia biasa, yang juga bisa berbuat salah layaknya manusia lainnya, layaknya kita, layaknya aku, kalian, mereka..
Untuk keponakanku tersayang, aku tak ingin memaksa kalian menelan mentah-mentah apa yang aku tuliskan ini. Bukan maksudku pula membuat kalian marah, apalagi merasa dikekang. Sebagai orang yang sangat menyayangi kalian, aku hanya ingin kalian menjadi seorang yang selalu mencintai orang tua kalian sepenuh hati. Lihatlah, kadang aku iri pada kalian yang masih dapat mendengar ada seorang yang walaupaun mengomel sepanjang hari karena kalian pulang telat, namun dengan setianya menunggu semalam suntuk diruang tamu hingga kalian benar-benar pulang, dan aman tertidur didalam pelukan selimut kalian.
Tapi terimakasih, kalian telah mengingatkanku akan masa remajaku yang juga bergejolak sama panasnya seperti kalian. Seperti roll film yang diputar, aku seperti melihat kembali berbagai pembangkangan-pembangkanag yang kerap kulakukan. Merasa sebal karena dimarahi, mengumpat dalam hati, mengehntakkan kaki, membanting pintu... begitulah, aku dulu juga sama seperti kalian. Hanya saja, saat ini aku diberi kesempatan melalui kalian untuk mengingat seberapa menyedihkannya aku dulu pada orangtuaku. Kalau saja ayahku masih ada, ingin ku cium berulang kali kakinya, dan memohon ampun atas segala kekasaran sikapku dulu padanya..
Waktu akan mendewasakan kalian dengan sendirinya, nanti. Tidak usah takut akan jawaban yang tak kalian temukan, nanti waktu akan menjawab semua rasa penasaran kalian itu. Kalau boleh aku meminta, lunakkan sedikit hati kalian.. beri ruang dan kesempatan pada orangtua kalian agar dapat menikmati masa tuanya dengan mencintai anak-anak mereka. Tidakkah kalian ingin melihat raut bangga diwajah keriput mereka nanti?
Semoga Allah sellau membimbing langkah kalian sayang... terjatuh dan terluka adalah bagian dari belajar, jangan pernah takut akan hal itu. Namun takutlah pada kemungkinan menciptakan luka dihati orang tua kalian, karena bukan pelajaran yang akan kalian dapatkan nantinya, melainkan penyesalan yang hanya akan menjadi duri yang semakin melukai langkah kalian nanti.
I love you two.


With love,
Aunty.

Sunday, July 21, 2013

Pada Satu Jeda


Baiklah, pada titik ini aku akan berhenti sejenak menyalahkan diri sendiri. Bagaimanapun juga segala kekalutan ini bukan sepenuhnya salahku. Tuhan berperan besar dan aku tau benar siapa yang paling mungkin menciptakan situasi rumit ini. KAU ingin aku belajar lagi kan, Tuhan? Tenang saja, aku belum lupa yang Kau katakan padaku beberapa masa yang lalu, bahwa "hidup ini merupakan suatu proses belajar untuk terus belajar".
Aku berusaha memahami betul makna dari Firman-Mu itu dalam tiap hela nafasku. Bahwa tiap detik dari sisa kehidupan yang bersarang dalam tubuh ini adalah sebuah proses pembelajaran, proses belajar untuk menuju perbaikan yang Kau kehendaki.
Lalu kemudian Kau ciptakan masalah, membuatku kalut dan kerap tergoda untuk meninggalkan-Mu demi segala kemudahan yang setan tawarkan padaku. Kemudian aku berdusta dengan berkata imanku masih pada-Mu, padahal hatiku enggan berkata iya..
Pada titik itu, mau tak mau aku harus menabuh genderang perang kepada diriku sendiri. Sisi gelap dan terangku saling menghunuskan pedang, keributan dalam otakku pun tak terelakkan. Satu hal yang sedang ku perjuangkan: siapakah yang harus ku persalahkan dari keadaan yang kian menghimpit ini? Aku merasa Tuhan tak adil padaku, namun sisi lain dariku berkata dengan kerumitan inilah aku malah semakin mencintai-Nya dengan segenap kepasrahan yang sepenuhnya percaya, bahwa tak ada kesulitan yang takkan membawa perubahan kearah yang lebih baik: kalau aku mau sedikit bersabar.
Pada titik itu, aku merasa lelah pada diriku sendiri. Ku pejam kedua mata namun lelahku tak kunjung reda. Yang terdengar hanya nafas yang terengah berusaha setengah mati untuk tetap mengeja asma-Nya dalam tiap hela nafasku.
Pada titik itu, Tuhan. Aku merasa lengan-Mu kembali merengkuhku dalam kedamaian yang padu.
Lalu pada titik itu, sirna segala ragu ku
cahaya keyakinan kembali terbit, dan gelapnya malam dalam rengkuhan bisik setan pun  terhapuskan.
Dan pada titik itu pula, aku berhenti menyalahkan diri lagi. Karena segala yang Kau beri, adalah kesempatan untuk berproses dalam kerumitan-kerumitan, dewasa melalui kesulitan-kesulitan, dan segala bentuk ketidakberdayaan yang tak lantas membuatku lalai dari fitrah lahirku untuk selalu dan selalu mencintai-Mu dalam tiap denyut nadiku..  

Friday, July 12, 2013

Semesta Bertasbih


Aku bertanya pada burung tentang apa yang Ia kicaukan diatas dahan pepohonan setiap pagi, 'aku sedang berdendang'  katanya. ‘Adapun lyric yang paling indah yang paling ku sukai adalah asma-Nya’ demikian lanjutnya.

Sesaat kemudian sayup ku dengar angin berbisik padaku, 'semesta bertasbih setiap waktu, hanya saja kau tak tahu..'

Lebih tepatnya, aku tak mau tahu! Bathinku berkata.

Seketika aku merasa malu pada diriku. Burung kecil yang baru saja menetas itu telah fasih melafadzkan segala puja dan puji bagi pencipta-Nya, sedang aku malah sibuk dengan mengeluhkan siang yang begitu terik membakar kulitku.

Saat tiap helai daun berucap hamdalah atas tetes hujan yang tercurah dari langit-Nya, aku malah kerepotan mengumpat hujan yang membatalkan rencanaku.

Semesta bersujud, menyatukan hati pada satu kepasrahan.. pasrah pada takdir-Nya.
Sungai yang mengalir, mengalir dengan bertasbih dan senantiasa mengiba agar bermuara pada cinta-Nya.
Samudera yang tak pernah surut airnya, melarutkan diri pada keihlasan akan segala bentuk karunia-Nya.
Sedangkan aku? waktuku tersita untuk berbagai keluhan. Nafasku mengeluh. Detak jantungku hanya terdengar suara keluh. Bahkan relung hatiku berkelabang keluh. Setiap saat hanya mengeluh. Kapan aku bertasbih? Kapan aku berpasrah? Kapan aku berubah.........

Kemudian aku bertanya-tanya, siapakah aku yang berada dalam aku? Tubuhku tunduk pada-Nya, namun hatiku bertolak menjauhi-Nya..dan bahkan tanpa kenal lelah selalu bersyair rangkaian maki untuk-Nya yang seolah tak memihak kenyamanan hidupku, di dunia.

Tuhan... Ya Rabb, hati dan tubuh ini adalah milik-Mu.. Dengan segala kerendahan hati yang menghamba dan hanya mengharap ridha pada-Mu saja, ampunilah aku.. Ampuni tiap detik yang luput dari mengingat-Mu. Ampuni kaki yang tak melangkah menuju rumah-Mu untuk menegakkan panji-panji kebesaran-Mu.. Ampuni aku tuhan.. Ampuni hidup yang ku isi dengan kesia-siaan karena menduakan-Mu. Lindungi aku Ya Allah.... lindungi aku dari sisa kehidupan yang merugi dan dari ancaman panas siksa api neraka-Mu..

Izinkan aku melarut, bersenyawa dengan semesta pada shaf terdepan dalam menghamba pada-Mu Ya Rabb..
Izinkan anganku mengangkasa vertikal pada tujuh lapis langit yang hanya memuja pada Engkau, Yaa Rahmaan..
Tiada kekuatan yang Maha sempurna untuk melindungi kami dari kenistaan tipu daya dunia melainkan hanya Ridha-Mu, Allah-ku..
Hasbunallah wani’malwakiil.. ni’malmaula wani’mannashir..
Wa, laa hawlawalaa quwwata illa billah..
Aamiin Yaa Rabbal’alamiin J

Pada Fragmen Pagi


Aku disini, berdiri menyaksikan bumi berotasi. Berputar pada poros kecintaannya yang hakiki, pada sang Maha Pencipta: ialah Ilahi..
Mentari yang sembunyi perlahan mulai menampakkan diri. Malu-malu pada mulanya, Kemudian diam-diam menebar pesona pada tiap fragmen sinarnya
Layaknya harapan yang baru saja menetas dari induk keresahan, cercah cerahnya menghangatkan tiap inci tubuh-tubuh yang bergetar oleh gigil selimut malam, yang senantiasa menciutkan balon-balon mimpi yang semestinya terbang mengangkasa kelangit luas..
Hanya saja malam tak sejahat itu, gelapnya mungkin membutakan mata untuk sekejap. Membutakannya dari kemerlap semu yang dunia tawarkan. Namun sesungguhnya diam-diam Ia memberi ruang untuk kita membasahi kedua mata dengan derasnya penyesalan hidup atas kesia-siaan yang telah kita pertahankan..
Ada celah diantara malam dan fajar yang belum lahir dari rahim ufuk timur, Rabbul Izzati menjadi lebih dekat dari jarak temu kedua alis kita. Dan dengan kedua lengan-Nya IA sambut hangat tiap untai do’a yang aku dan kau panjatkan.
Dapatkah kita merasakan hadir-Nya dalam tiap tarikan nafas kita?
Dapatkah kita benar-benar mengikhlaskan seluruhnya yang melekat dalam identitas kenamaan kita untuk-Nya saja?  
Seperti malam yang ikhlas menenggelamkan diri pada kemilau pagi, layaknya api yang melalap kayu bakar hingga berwujud abu..
Layakkah kita menjadi kekasih-Nya dan berhak duduk pada kursi-kursi kebesaran-Nya di syurga sana pada masanya nanti?

Yaa Rahmaan.. Matahari senantiasa bersujud pada-Mu jua, pun sungai yang arusnya hanya menyeru keindahan-Mu, dan angin yang menari dengan gemulai memuja asma-Mu.. izinkan hamba pun larut serta membasahi kening ini hanya untuk-Mu saja..
Alhamdulillah.. Subhanallah.. Laa ilaahaillallah, Allahuakbar..

Anak Layang - Layang


Anak Layang-Layang

Terik panas yang menjerit diatas ubun-ubun memaksaku untuk rehat sejenak dibawah pohon mangga yang belum nampak buahnya. Gerombol daun-daunnya memberi kesejukan tersendiri diantara gersangnya ladang persawahan yang baru saja habis dipanen padinya. Beberapa daun yang setengah kuning, terpaksa harus merelakan diri untuk gugur dihempas angin, dan beberapa lainnya yang masih hijau belia hanya mampu menunggu waktu yang menuakannya, merubah hijaunya menjadi kuning untuk kemudian berguguran seperti dedaunan lain yang telah gugur sebelumnya. Dibawah pohon mangga ini, kulihat jari tuhan bermain pada usia dedaunan yang dikehendaki-Nya untuk bertahan dan gugur pada waktunya.
Di kejauhan, tampak olehku tiga orang bocah bertelanjang dada tengah asik menarik-ulur layangan yang berada jauh diatas ubun-ubun kecil mereka, merajai birunya angkasa raya. Kulit yang membungkus tubuh-tubuh kurus itu legam kecoklatan terbakar matahari. Rambutnya pun berwarna matahari. Tidak hitam, tidak juga berwarna pirang. Terlihat gersang.
Namun apa perduli mereka? Akan terlihat seperti apa rupa mereka dihadapanku tak sedikitpun mengusik keasikan fokus mereka pada layang-layang yang terbang menerjang gumpalan-gumpalan kapas diatas sana. Terik matahari yang menggeliat diatas ubun-ubun mereka seakan tak menyurutkan kesenangan mereka menyaksikan layangan kecil diatas sana meliuk-liuk terbawa angin. Menarikan mimpi-mimpi besar yang bahkan tak sanggup ditopang oleh tubuh-tubuh kecil itu. Membawa angan dan cita-cita mereka sejenak mengangkasa vertikal, meninggi, melampaui tingginya asa yang sekian lama terpendam jauh dilubuk hati kecil mereka.
Mungkin lewat layang-layang itu mereka berusaha melihat dunia yang tak terjamah langkah-langkah kecil mereka. Mungkin memang belum saatnya, tunggulah beberapa waktu lagi, takdir mereka tengah dirancang oleh Sang Pemilik Langit. Akan kemana arah angin itu bertiup membawa layangan dan takdir mereka, hanya Dialah yang Maha Tahu.
Lewat mata pada ujung ekor layang-layang itu mereka melihat dunia. Menjelajah ruang mimpi yang selama ini hanya jadi penghias tidur lelap mereka. Bukankah Tuhan pernah berkata, bahwa seumur hidup, sebaiknya kita pergunakan untuk selalu berkeliling, melakukan perjalanan untuk menyaksikan sendiri keindahan lukisan alam ciptaan-Nya. Bukankah kita harus melihat sendiri bagaimana wajah dunia yang kadang ternyata jauh dari ekspektasi bayangan kita?
Anak layang-layang itu tau kapan harus menghentakkan benang agar angin merubah arah terbang layang-layang mereka.
Telah mereka lihat sebelah bumi dibawah layang-layang merka terbang, hanya terdapat kemelaratan. Angin yang berhembus disana bahkan hanya mampu bertiup pilu, mengabarkan seorang anak tengah duduk termenung memegang piring kosong, dan ibunya hanya bisa terdiam.. berharap anaknya itu akan kenyang seiring waktu yang begitu lambat ini berjalan. Diam-diam hatinya berdo’a, mengiba belas kasih Tuhan-Nya atas segenggam beras untuk dimasaknya hari ini, esok dan esoknya lagi.
Disebelah rumah itu, seorang anak lain tengah asik menggambar mimpi-mimpinya diatas langit-langit kamarnya yang terbuat dari anyaman bambu. Bocor disana-sini, membuat sinar matahari begitu leluasa memeluk tubuh anak itu. Ia tak memiliki kedua tangannya sejak lahir, pun kedua kaki untuknya berjalan. Hanya tempat tidur lusuh itu, yang mampu membawa angannya mengangkasa melewati labirin-labirin mimpi yang begitu rumit untuk dilaluinya sendiri.
Seharusnya Ia bersedih atas takdirnya itu, namun anak malang itu sungguh membuatku iri dengan ketabahannya. Senyum itu, tak pernah lepas dari raut wajahnya. Dengan keyakinan tunggal Ia mampu bertahan melewati hari-hari diatas tempat tidur beralas tikar, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa tak pernah meninggalkannya sendirian. Ia mendapatkan cinta lebih banyak dari apa yang aku dapatkan. Ia memiliki lebih banyak waktu untuk bercakap dengan Tuhan-Nya, jauh lebih banyak dari waktu-waktu yang aku habiskan dengan kesia-siaan.
Layang-layang itu meliuk lagi. Kali ini matanya melihat kearahku.
Aku masih duduk dibawah pohon mangga ini, menunggu cerita lain tentang apa yang dilihatnya dari atas sana. Namun dengan tatapan sedih Ia enggan bercerita tentang apa yang baru saja ia lihat. Ada begitu banyak kemelaratan diatas bumi ini. Air mata seakan telah mengering karena tiap saat kesedihan itu merenggut wajah ceria anak-anak itu, mereka menangis dalam diam hingga nafas mereka tersengal, tercekat ditenggorokan kering mereka.
Kelaparan, kehausan dan hidup yang keras ini telah mendewasakan mereka jauh sebelum umur mereka menginjak angka 12. Pada usia itu mereka telah banyak melihat kemelaratan lain, mendengar isak tangis lain dan merasakan sendiri mirisnya kehidupan anak-anak lain dibelahan bumi yang lain nun jauh disana.
Dan bahkan jauh sebelum menginjak usia itu, mereka terpaksa harus kehilangan keluarga oleh wabah malaria yang tak mampu mereka beli penawarnya. Berapa Rupiah yang mampu mereka kumpulkan dari hasil mengais sampah-sampah yang dibuang orang-orang kaya itu? Jumlahnya hanya mampu mengganjal perut mereka dengan sebungkus nasi berlauk seadanya saja. Beruntung jika sesekali ibu penjual berbelas kasih menghadiahi mereka sepotong daging sisa untuk menunjang masa pertumbuhan mereka.  Selain itu, tak ada lagi sisa penghasilan yang layak untuk mereka sisihkan demi mengobati penyakit yang datang tanpa permisi, dan dengan terpaksa membiarkan takdir biacara diatas kematian ayah, ibu, kakak, dan adik mereka satu-persatu.
Namun kesedihan itu telah lama berlalu. Mereka terlalu sibuk memikirkan cara untuk bertahan hidup esok hari sehingga tak banyak waktu mereka tersisa untuk tenggelam dalam kesedihan.
Mereka pun tak cukup beruntung untuk duduk mengenyam bangku pendidikan yang layak untuk usia mereka. Selain bekerja dan bermain setelahnya, pada waktu maghrib datang dan saat senja pecah kemerah-merahan mereka berbondong-bondong meramaikan surau dengan lincah gerakan sholat mereka. Memasrahkan takdir pada satu-satunya Sutradara yang menggenggam jalan kehidupan mereka. Apapun keadaannya, seolah tak sedikitpun mengusik kecintaan tunggal mereka pada Tuhan yang tengah menguji ketabahan mereka itu.
Begitulah layang-layang bercerita padaku. Begitulah layang-layang itu membuka lebar mataku akan kekuasaan Tuhan yang menancapkan panji-panji kebesaran-Nya dibelahan bumi yang tak mampu kujamah dengan kakiku sendiri. Tiga anak layang-layang itu menarik kembali layang-layang mereka. Lelah sudah mereka menjelajah ruang demi ruang mimpi yang terhampar dilangit diatas sana. lelah sudah mereka membelah langit dengan cerita-cerita pilu yang tak jauh berbeda dengan apa yang tengah mereka alami kini.
Matahari pun telah menua kini, teriknya tak lagi membakar kulit kami. Semburat senja kemerahan merona pada pipi-pipi kami. Satu persatu kupandangi tiga anak layang-layang itu dengan penuh kasih. Aku berterimakasih untuk cerita yang telah mereka bagi padaku hari ini. Dari dalam tasku, ku keluarkan segenggam permen beraneka rasa. Manis, mint, coklat, bahkan kecut kubagi rata untuk mereka bertiga. Sebagai rasa terimakasihku, aku ingin mereka mencoba semua rasa permen-permen itu. Aku tak ingin hidup mereka yang begitu berharga ini habis hanya dengan mengecap pahitnya rasa kehidupan yang telah mereka lalui.
Dengan tangan yang melambai dan tersenyum lebar memamerkan gigi mereka yang ompong disana-sini pun kami berpisah. Mereka bersiap pergi ke surau, dan aku kembali kerumah dengan perasaan bahagia, haru, sedih yang seketika menjadi kacau balau.