Skip to main content

Posts

Ini cinta, bukan kita

Cinta memberiku ruang untuk sebuah kesempatan, mengenalmu Cinta mengenalkanku pada keinginan untuk mengertimu Cinta membuatku mengerti arti bersabar dalam menunggu Menunggu pengertianmu akan hadirku Hadirku yang hanya hinggap sekejap dalam hatimu Hatimu yang tak benar-benar mengenalku Mengenalku dengan hati yang tulus mencintaimu Cinta,  adakah aku salah dalam mengartikannya? Kurasa cinta tak pernah salah. Kurasa hatiku tak salah memilihmu. Dan kau pun tak salah dengan memaksa masuk dalam hidupku. Cinta kita hanya istilah. Cinta kita hanya intermezzo bagi hidup yang kadang membosankan.  Cinta kita hanya sepotong kisah yang memang tak bertakdir   dengan akhir yang indah. Cinta kita hanya teori untuk saling memahami. dan ketika kau dan aku gagal untuk saling mengerti, cukup balikkan badan, dan biarkan punggung kita saling berucap selamat tinggal.

3 tahun

Inginku duduk berlama-lama ditepi pembaringanmu. Sekedar menamanimu mengobrol dan mendengarkanmu. Cukup dalam diam aku mendengar ceritamu. Cukup dalam sepi aku tau kau sedang duduk menemaniku. Disisi gundukan tanah ini, disisi nisan yang menancap diatas wajah dan kakimu, aku tau kau selalu bersamaku. Ayah, 3 tahun sudah kau tertidur disini. Tiap hujan datang aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku takut istanamu menjadi becek dan membuatmu menggigil kedinginan. Aku takut banjir menghanyutkan sisa-sisa gundukan tanah merah yang selalu basah oleh do’a-do’aku ini. Namun yang dapat kulakukan hanya berbicara denganmu lewat air mata, berusaha sekuat tenaga meyakinkan diri bahwa kau disana baik-baik saja. Ayah, mungkin aku hanya terlalu merindukanmu. Mungkin aku hanya terlalu ingin melihat sosokmu, memelukmu, bermanja-manja dipangkuanmu. Seseorang mengingatkanku sebuah lagu yang selalu kudengarkan saat aku merindukanmu. Ingat penggalan lyric ini? ” I don't want to let you down. I don...

sebotol gerimis

Perempuan itu Menadah gerimis untuk diminumkan pada bayinya. Gerimis dimasukkan kedalam botol Diaduk sebentar sementara si bayi berteriak-teriak tak sabar. Tangan perempuan itu gemetar bergetar ”sabarlah nak, gerimis ini begitu tipis” serunya sembari menatap lirih pada botol yang tak kunjung meluber isinya si bayi kembali membentak ibunya yang mudah terkesiap telinga tuanya begitu sensitif dengan suara-suara tangan keriputnya kerepotan menutup botol yang belum penuh sempurna seperti titah si bayi wajah bayi itupun merengut, cemberut diraihnya dengan kasar botol dari tangan ibunya ”kenapa cuma segini? Aku maunya penuh!” rajuk bayi dengan manja Tangan mungilnya mengepal jempol sang Ibu Sambil menenggak gerimis demi gerimis dalam botol susunya “rasanya pun sedikit asin!! Kau isi apa pada botol susuku, ibu??” bentaknya. Perempuan tua yang ia panggil ibu itupun kembali terkesiap nyala dalam matanya takut jika dustanya tersingkap lewat rasa p...

Telaga Bening

Sore begini aku biasa duduk-duduk santai Ditepi kelopak mata ibuku Mencelupkan kaki yang berkecipak merasakan dingin air telaga beningnya merayap lewat pori demi pori kulitku kuteguk dua cangkir beningnya ketika telaga tumpah, ruah mata itu memejam amarah membuncah mata itu mengulum rindu menderu mata itu terlihat sakit menggigit mata itu merasakan perih menindih mataku melihat penat merekat erat pada bening mata itu, pada bening air dari kelopak mata ibuku setengah terpejam rindu itu kembali menderu rindu pada lelaki yang biasa mandi ditengah telaganya lelaki yang pamit pergi takkan lama nyatanya sirna sosoknya ibu menangis, aku meringis menenggak dua cangkir lagi kerinduan ibu kerinduan ibu pada ayahku. (selamat hari ibu)

01.45 AM

Malam memudar, yang terdengar hanya jarum jam yang berlari mengejar waktu. Kemarin suaranya masih terdengar biasa, namun entah, kini sedikit berbeda. Detik yang berhamburan seperti menyeret-nyeret aku untuk segera beranjak dari diamku. Beranjak dari diam yang sepi, sepi yang sendiri. Diam yang tak dimengerti waktu, diam yang diciptakan oleh waktu. Waktu-waktu sepiku.

Kota-tuaku masuk angin

Gara-gara angin sibuk lalu-lalang sedari tadi, kotaku jadi masuk angin. Pohon-pohon berantakan rambutnya, beringin sampai terbuka terus roknya. Ayam-ayam bengong putus asa mengejar serangga yang lebih cepat terbangnya. Padi-padi yang menguning sampai pegal-pegal dihempas angin, sebentar kekanan sebentar kekiri. Tapi burung-burung kecil tak perduli, padi yang lemah dipatukinya sampai gundul setengah. Ayam pun tak mau kalah, segera ia dekati padi paling pinggir yang dapat diraihnya, namu petani keburu datang mengusirnya dengan marah. Ayam bengong lagi, putus asa lagi. Angin menari lagi. Padi pegal lagi. Dan aku sibuk mengoles minyak kayu putih pada punggung kota-tuaku yang gampang masuk angin. 

Mahakarya Sepi

Kulihat baliho-baliho ditepian jalan marak berpromosi tentang sebuah konser akbar. ”Mahakarya Sepi”, begitu judul yang hinggap pada mataku. Pada benakku. Gadis kecil dalam kepalaku langsung menari bak balerina, turut bergembira ingin menyaksikan mahakarya sepi petang nanti. Kusiapkan pakaian terbaik, wewangian termanis, riasan terindah, semuanya yang ter-sempurna untuk kesempurnaan sebuah mahakarya, katanya. Kata siapa? Kata siapapun yang memasang baliho tersebut di titian jalanku pulang. Tibalah waktu yang dijanjikan baliho tersebut datang. Aku sudah cantik, terlalu cantik untuk pergi ke konser seorang diri. Akh, lagipula ini konser sepi. Takkan masalah jika ku datang dengan hanya aku sendiri yang sudah sangat cantik malam ini. Konser pun dimulai. Sepi menggelegar memecah udara yang bergerak pelan-pelan. Sepi berteriak nyalang membakar ilalang. Sepi merayap dari jempol kaki ke ubun-ubunku. Sepi mencabik-cabik pakaian balerina yang terpaku dalam benakku. Sepi menampar...