Skip to main content

Posts

Showing posts with the label inazdogent

Later better than Never..

Dengarkan dia saat kalimat yang keluar dari mulutnya hanya diam. Ulurkan tangan padanya saat Ia tak mampu lagi berjalan dengan kedua kakinya. Peluk tubuhnya saat Ia minta padamu sebuah ruang untuk sendirian. Dan hapus air matanya saat tak seorangpun mau meluangkan waktu mereka untuk melihatnya bersedih. Karena tak ada yang dapat kamu percayai melainkan hanya waktu. Suatu saat Ia tak akan ada lagi. Ia mungkin pergi dengan semua kesedihan yang Ia pendam dalam diamnya. Suatu saat kamu dan dia akan terpisah oleh sekat yang takkan memungkinkan lagi untuk kalian saling bersentuhan, tak lagi saling mendengarkan, dan tak pula saling berucap kata-kata penghiburan. Bisa jadi ini hari-hari terakhirnya.. atau hari-hari terakhirmu.. Bukankah dia, kamu, dan aku terlahir menjadi makhluk yang begitu rindu akan kematian namun terlalu takut untuk membayangkan kedatangannya? Dia pun sama sepertimu, memiliki ketakutan yang sama. Sama-sama takut menjemput mati. Namun bukan hal itu yang sekara...

Bermain Dengan Waktu

Aku masih disini, terjebak diantara jarum jam yang beku. Lama sekali saat terakhir kulihat ketiga jarum jam itu melaju dengan kecepatan peluru. Memutar waktu, menjadikan detik beranjak ke menit, menit ke hitungan jam, jam berlari menuju hari, dan tiba-tiba hari telah berganti tahun. Dan segalanya terjadi begitu saja, serupa peluru yang meletus dari moncong pistol, waktuku pun melesat dengan terlalu tergesa. Jarum jam itu kembali ketempatnya semula, namun dengan hitungan yang tak lagi sama. Membuat segala yang terjadi ’dulu’ kini kusebut sebagai kenangan lama. Ya, kini semua tak lagi sama. Waktu begitu kejam meninggalkanku tanpa aba-aba. Waktu selalu pergi tanpa pertanda. Tiba-tiba aku teringat akan permainan Tuhan. Permainan roda kehidupan, begitu Ia namakan. Permainan ini adalah tentang ’melaju dan bertahan’, berbatas waktu, dan dengan hitungan tak ada kalah menang. Bagaimana mungkin ada permainan yang meniadakan kalah dan menang? Entahlah, pada bagian itu Tuhan diam s...

home sweet home

Sore hari selalu menjadi waktu terfavorit saya setiap harinya. Sepulang dari beraktifitas diluar rumah seharian, saya selalu meluangkan waktu setengah jam sambil menanti datangnya maghrib sekedar duduk-duduk didepan rumah sembari mencecap cangkir yang sarat akan teh beraroma melati yang dicampur dengan gula dan sesendok madu. Kadang sesekali sambil mengobrol dengan tetangga yang baru pulang dari sawah dan kebetulan lewat didepan rumah saya. Membahas hal yang tak begitu penting, namun terasa hangat, sehangat teh yang sangat saya sukai ini. Saya tinggal disebuah Kabupaten bernama Karangasem yang terletak di bagian timur pulau Bali. Diapit oleh pantai dan pegunungan membuat udara dirumah saya menjadi sangat dingin dipagi dan malam hari, namun panas terik disiang hari. Tepat di depan rumah saya, terdapat sawah yang terangkai petak demi petak sampai di kaki gunung. Ohya, Gunung yang terlihat jelas dari depan rumah saya bernama gunung Agung. Mungkin karena ia menjadi satu-satunya Gunun...

Untuk Yang Sudah Dewasa

Dewasa itu pilihan. Kita bebas memilih untuk menjadi dewasa atau tidak. Dewasa itu kebutuhan. Kita bisa menjadi dewasa ketika kita membutuhkannya. Dewasa itu HARUS. Kita diharuskan menjadi dewasa pada saat-saat yang memang membutuhkan kedewasaan kita. Dewasa itu adalah komitmen antara aku kecil, dan aku sekarang ini....  *** Bocah kecil berambut ikal itu masih duduk dengan setia, menanti hujan menuntaskan sisa tetes terakhir airnya. Bibirnya sedikit biru, seharian mengulum manisnya dingin dengan selembar baju lusuh yang melekat ditubuh mungilnya. Bersama detik jarum jam dinding dan sepi yang menari-nari, angannya melengkungkan sebias pelangi dilangit muram sore itu. Kau bocah, bermimpi menjadi dewasa ketika masih terlalu banyak sisa waktu untukmu menikmati manisnya masa kanak-kanak. Soremu yang mendung seketika cerah ketika kau bayangkan sosok dewasa dalam benakmu melengang anggun, cantik tak bercela. Imajinasi mengantarkanmu pada janji-janji kedewasaan semu dalam perseps...