Gara-gara
angin sibuk lalu-lalang sedari tadi, kotaku jadi masuk angin. Pohon-pohon
berantakan rambutnya, beringin sampai terbuka terus roknya. Ayam-ayam bengong
putus asa mengejar serangga yang lebih cepat terbangnya. Padi-padi yang
menguning sampai pegal-pegal dihempas angin, sebentar kekanan sebentar kekiri. Tapi
burung-burung kecil tak perduli, padi yang lemah dipatukinya sampai gundul
setengah. Ayam pun tak mau kalah, segera ia dekati padi paling pinggir yang
dapat diraihnya, namu petani keburu datang mengusirnya dengan marah. Ayam bengong
lagi, putus asa lagi. Angin menari lagi. Padi pegal lagi. Dan aku sibuk
mengoles minyak kayu putih pada punggung kota-tuaku yang gampang masuk angin.
Seorang sahabat bertanya padaku, ”kamu mau lulus kapan sih Naz?” dengan nada bercanda dan disambut tawa lepas oleh sahabat-sahabat lainnya yang kebetulan berada ditempat yang sama denganku saat itu. Sejenak aku biarkan mereka saling melempar canda yang tak jauh-jauh dari topik soal kapan kelulusanku sebenarnya. Aku tau, aku sangat mengerti, pertanyaan itu dilontarkan dengan niat bercanda. Tak lebih. Namun sungguh, aku sungguh berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Sekalimat tanya yang benar-benar melontarkanku pada beberapa masa dibelakangku. Tapi tatapan mereka yang menunggu setengah memaksa mulutku untuk menjawab pertanyaan mereka dengan bercanda juga, ”Mei. Meibi yess meibi no”, dan mereka pun tertawa lagi. Begitulah waktu mengalirkan pembicaraan kami kemana-mana. Syukurlah topik kelulusanku segera berganti dengan topik lainya. Dan sementara mereka asik bertukar opini, aku diam. Sesekali kulempar senyum agar tak seorang pun dari mereka yang menyadari betapa ...
Comments
Post a Comment