Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Celoteh

The (best) Book I never Wrote

Tiap saat berhadapan dengan kertas kosong yang masih putih bersih, saya sadar kalau membangun dunia itu tidak semudah meludah. Bukan dunia beserta isinya, tapi dunia khayal saya sendiri. Kalau kata pepatah China, perjalanan sejauh 1000 mil harus dimulai dengan langkah pertama. Nah, masalahnya disini saya selalu kesulitan untuk memulai langkah pertama tersebut. Saat ini saya dalam proses menulis sebuah novel. Dan jujur saja, selama hampir dua bulan ini proses tersebut masih saja stuck di prosentase terkecil, yaitu sebanyak 2% saja. Ide sudah ada, tema pun sudah terpikirkan sejak jauh-jauh hari. Tokoh? Tentu saja itu hal pertama yang terpikir sejak awal saya berniat untuk menulis novel ini. Begitupun dengan syarat-syarat penulisan novel lainnya, hampir semuanya sudah saya lengkapi, kecuali satu hal saja: saya bingung mau mulai bercerita dari mana! Tapi biar bagaimanapun juga, saya sangat menikmati setiap proses ini. Keinginan untuk merealisasikan khayalan saya dalam sebuah n...

sepotong rindu yang tertinggal dirumah

Rumah bagi saya adalah sumber kerinduan. Sebuah titik untuk pulang dari perjalanan yang melelahkan. Satu-satunya tempat yang membebaskan saya untuk menjadi diri saya sendiri yang apa adanya. Dan juga satu-satunya tempat dimana saya merasa benar-benar ‘diterima’.  Di rumah itu masih ada Ibu yang saat ini mungkin sedang duduk seorang diri di bale sembari mendengarkan radio tuanya, sebuah kegiatan yang mestinya kami lakukan berdua. Saya dengan sebuah buku bacaan ditangan, dan Ibu dengan Radio tua disisinya, serta secangir kopi untuk kami nikmati berdua. Tanpa cemilan, namun setiap sore kami selalu hangat seperti itu. Ya, sesederhana itu. Di setiap jengkal rumah itu ada kenangan yang tak akan cukup jika saya ceritakan diatas lembar kertas ini. kenangan bersama almarhum bapak, abang, keponakan, saat suka maupun saat lara begitu ngilu terasa dalam dada. Rumah itu seakan memiliki lorong waktu disetiap sudutnya yang menawarkan diri untuk menjadi tempat persinggahan jika sewakt...

Bu,

Aku ingat hari itu, ibu mengenakan baju berwarna biru memandangku dengan matanya yang sayu, namun saat ku balas tatapannya Ia memalingkan muka, menepis butir air yang mengintip disudut matanya. Aku tau Ia menangis, namun Ia tak mampu membedakan apakah itu tangis sedih atau bahagianya. Begitupun aku. Kami berdua pun menangis tanpa alasan yang pasti. Apakah untuk menangis kami butuh alasan? Tidak. Atau,. alasan itu sebenarnya ada namun kami tak tau harus menamainya apa. Mungkin kelak aku akan dapat menjabarkan tangisan itu dalam tulisan. Nanti, saat puteri kesayanganku hendak dinikahi orang. Nanti, saat jurang perpisahan dengan puteriku menganga curam diantara kami. Dan nanti, saat aku harus ikhlas melepas puteriku kedalam pelukan lelaki yang berjanji untuk menjaganya sampai mati dalam suka maupun duka, walaupun aku masih merasa tak akan ada yang dapat mencintai puteriku dengan segala kelebihan dan kekurangannya sedalam aku mencintainya. Nanti aku akan merasakan itu ...

rumah adalah

Rumah adalah, Ibu dan hangat peluknya. Dan manis tes hangat buatannya Serta rasa masakannya Juga sorot mata lembutnya Kadang saat rindu ini terasa begitu ngilu, Aku ingin pulang.

kangen si kucrit 😤

Nggak ada yang namanya istilah "hanya teman biasa" di dunia ini. Walaupun itu seseorang yang cuma ketemu dijalan dan saling bertukar senyum, atau teman yang kebetulan kenal selama diperjalanan.. semuanya istimewa, semuanya special karena pelajaran yang mereka bawa. Diantara semua teman itu tentu saja ada yang membawa pengaruh baik dan buruk bagi kehidupan kita. Namun rupanya Tuhan memilihkan satu diantara beberapa sahabat-sahabat terbaik untuk datang dalam hidupku dan mengajariku banyak hal. Dia yang aku panggil dengan sebutan kucrit. Aku beruntung karena dia bukan tipe sahabat yang ikut membenci siapapun yang tak ku sukai, karna katanya persahabatan kami tidak sedangkal itu.. karena sahabat yg baik tidak akan membiarkan sahabatnya terjerumus dalam kebencian yg berlarut-larut.  Bukankah setiap cerita selalu memiliki dua sisi yg berbeda? Dan dia yang selalu menarikku dari lupa saat aku dengan tak-tau-dirinya buru2 memberi satu penilaian dari sudut pandangku saja terhadap...

Untuk seorang teman yang sedang bersedih ;)

Akan ada saat dimana kamu merasa begitu rapuh, bahkan terlalu rapuh untuk sekedar membohongi diri bahwa kamu sedang baik-baik saja. Air mata itu tak dapat lagi kamu tahan dengan seulas senyum yang dipaksakan, hingga pada akhirnya wajahmu akan membentuk ekspresi bodoh dengan mata yang berulang-kali mengerjap demi menahan bulir-bulir air yang hendak membanjir dipipi, lalu mengalir kedasar hati. Itulah saatnya kamu untuk berhenti berlagak kuat. Akui saja kalau kamu sedang kalah, kalah pada penguasaan diri yang biasanya selalu kau lakukan dengan baik. Kadang, terus-menerus menipu diri dengan berkata bahwa kamu baik-baik saja -padahal kamu remuk-redam didalam- malah akan semakin membuatmu terluka. Lepaskan… tak perlu lagi kau tahan, Suarakan, untuk apa kau bungkam? Tunjukkan! Tak perlu lagi dipendam… Jujur pada diri sendiri adalah wujud penghargaan paling tinggi pada diri sendiri. Kamu tau? Walaupun seluruh dunia memalingkan wajahnya darimu, ketika kamu   jujur ...