Kau lelaki linglung. Limbung dengan satu hantam
keragu-raguan yang merajam hati dan isi kepalamu. Sebegitu tinggikah benteng
ketakutanmu itu sehingga kau harus merasa pasrah jauh sebelum kau coba satu
kali saja tuk menerjangnya? Ataukah kau merasa lebih nyaman untuk berlindung
dibalik ketiak nyalimu yang penakut itu? Akh, lelaki… hidupmu tak jauh dari
kubangan bimbang dan kegamangan. Kau yang ciptakan, seharusnya kau tak turut
tenggelam! Kelak jika yang
tersisa hanyalah ruang demi ruang, adakah pintu ‘kan terbuka ketika kau
mengetuk? Lalu apakah puas ego lelakimu dengan hanya mengikhlaskan apa yang tak
pernah kau perjuangkan berada ditangan siapa saja selain KAU, lelaki-ku!!!
Seorang sahabat bertanya padaku, ”kamu mau lulus kapan sih Naz?” dengan nada bercanda dan disambut tawa lepas oleh sahabat-sahabat lainnya yang kebetulan berada ditempat yang sama denganku saat itu. Sejenak aku biarkan mereka saling melempar canda yang tak jauh-jauh dari topik soal kapan kelulusanku sebenarnya. Aku tau, aku sangat mengerti, pertanyaan itu dilontarkan dengan niat bercanda. Tak lebih. Namun sungguh, aku sungguh berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Sekalimat tanya yang benar-benar melontarkanku pada beberapa masa dibelakangku. Tapi tatapan mereka yang menunggu setengah memaksa mulutku untuk menjawab pertanyaan mereka dengan bercanda juga, ”Mei. Meibi yess meibi no”, dan mereka pun tertawa lagi. Begitulah waktu mengalirkan pembicaraan kami kemana-mana. Syukurlah topik kelulusanku segera berganti dengan topik lainya. Dan sementara mereka asik bertukar opini, aku diam. Sesekali kulempar senyum agar tak seorang pun dari mereka yang menyadari betapa ...
Comments
Post a Comment