Jarum jam sudah jauh langkahnya dan
matahari belum mekar sinarnya. Kota
ini tengah dicintai hujan. Hujan yang hinggap pada ranting-ranting kering. Ranting
yang dihinggapi hujan, hujan di dadaku. Adakah hujan ini sama dinginnya dengan
hujanmu? Tidak. Dadaku dan dadamu punya cerita yang berbeda tentang hujannya. Dan kota ini pun kisahnya tak
sama, masih tentang hujan pula. Jarum jam kian jauh berlari dan kamarku masih
temaram. Jendela yang ku tutup rapat tak membuat badai diluar sana ramah
bertamu, duduk mengobrol lama-lama bersama lamunanku. Namun celah jendela ini
terlalu baik mengizinkan udaramu hinggap pada hidungku, memaksa masuk kedalam
rongga pernafasanku, mencabik-cabik dadaku yang t’lah basah kuyup karena hujan.
Hujan, berulang kusebut namanya namun kian gembira ia menari dalam dadaku. Adakah
hujan ini sama dengan hujan di dadamu? Tidak. Jarum jam sudah akan pulang lagi,
dan aku masih kehujanan. Dada ini, ranting-ranting ini, kota ini. Kota hujan,
dada kehujanan, aku hujan.
Malam itu saya nyaris tidak bisa tidur memikirkan sebuah benda kecil yang saya beli beberapa jam sebelumnya. Pikiran saya nyaris tidak teralihkan dari benda kecil itu.. memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi, kejutan apa yang sedang menanti saya, dan perubahan apa yang akan dia bawa nantinya. Berjam-jam sibuk memikirkan itu hingga tanpa sadar saya pun jatuh tertidur, dengan mimpi tentang benda kecil tersebut. Subuh mengetuk jendela, dan seketika saya membuka mata. Inilah saatnya! Kata saya dalam hati. Ini saat yang saya tunggu-tunggu sejak kemarin. Saya pun beranjak dari kamar dan meraih benda kecil yang kemarin saya beli kemudian masuk ke kamarmandi tanpa pertimbangan apapun lagi. Dan benar saja, benda kecil itu memunculkan dunia garis merah yang sangat saya nantikan. Dan astaga, kalau saja saya tidak sedang berada di kamarmandi, mungkin saya sudah berteriak sejadi-jadinya! Dengan senyum mengembang lebar saya tunjukkan benda kecil itu pada suami, dan Ia terseny...
Comments
Post a Comment