Jarum jam sudah jauh langkahnya dan
matahari belum mekar sinarnya. Kota
ini tengah dicintai hujan. Hujan yang hinggap pada ranting-ranting kering. Ranting
yang dihinggapi hujan, hujan di dadaku. Adakah hujan ini sama dinginnya dengan
hujanmu? Tidak. Dadaku dan dadamu punya cerita yang berbeda tentang hujannya. Dan kota ini pun kisahnya tak
sama, masih tentang hujan pula. Jarum jam kian jauh berlari dan kamarku masih
temaram. Jendela yang ku tutup rapat tak membuat badai diluar sana ramah
bertamu, duduk mengobrol lama-lama bersama lamunanku. Namun celah jendela ini
terlalu baik mengizinkan udaramu hinggap pada hidungku, memaksa masuk kedalam
rongga pernafasanku, mencabik-cabik dadaku yang t’lah basah kuyup karena hujan.
Hujan, berulang kusebut namanya namun kian gembira ia menari dalam dadaku. Adakah
hujan ini sama dengan hujan di dadamu? Tidak. Jarum jam sudah akan pulang lagi,
dan aku masih kehujanan. Dada ini, ranting-ranting ini, kota ini. Kota hujan,
dada kehujanan, aku hujan.
Seorang sahabat bertanya padaku, ”kamu mau lulus kapan sih Naz?” dengan nada bercanda dan disambut tawa lepas oleh sahabat-sahabat lainnya yang kebetulan berada ditempat yang sama denganku saat itu. Sejenak aku biarkan mereka saling melempar canda yang tak jauh-jauh dari topik soal kapan kelulusanku sebenarnya. Aku tau, aku sangat mengerti, pertanyaan itu dilontarkan dengan niat bercanda. Tak lebih. Namun sungguh, aku sungguh berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Sekalimat tanya yang benar-benar melontarkanku pada beberapa masa dibelakangku. Tapi tatapan mereka yang menunggu setengah memaksa mulutku untuk menjawab pertanyaan mereka dengan bercanda juga, ”Mei. Meibi yess meibi no”, dan mereka pun tertawa lagi. Begitulah waktu mengalirkan pembicaraan kami kemana-mana. Syukurlah topik kelulusanku segera berganti dengan topik lainya. Dan sementara mereka asik bertukar opini, aku diam. Sesekali kulempar senyum agar tak seorang pun dari mereka yang menyadari betapa ...
Comments
Post a Comment