............................................ ada kalanya sinar mentari
tak sehangat musim semi. Pun hujan, tak lagi sejuk seperti saat rintik
pertama membasahi ilalang. Saat angin tak berhembus sepoi-sepoi, namun
menghempasmu seolah kau tak lebih berharga dari sekedar debu tak
terlihat, yang terbang untuk kemudian lenyap entah kemana.. akankah kau
katakan padaku untuk tidak bersedih..!!" ? tidak! tidak akan pernah ku
katakan lagi tentang sedihku. tidak dihadapanmu, pun dihadapan pantulan
diriku di cermin. karena kesedihanku t'lah pupus dihapus musim. bersama
tawaku, bersama rinduku. aku kini tak merasakan apa-apa. hampa. bahkan
rasa t'lah jauh meninggalkanku. biarlah waktu menempaku seperti ini.
biarlah musim berganti aku akan tetap seperti ini. sampai saat waktu
menyerah untuk melihat air mataku lagi. lihat saja kawan, keluh kesah
ini hanya akan jadi debu. biar waktu yang membawanya, biar angin
menjemputnya. aku hanya akan menunggu saat itu.
Seorang sahabat bertanya padaku, ”kamu mau lulus kapan sih Naz?” dengan nada bercanda dan disambut tawa lepas oleh sahabat-sahabat lainnya yang kebetulan berada ditempat yang sama denganku saat itu. Sejenak aku biarkan mereka saling melempar canda yang tak jauh-jauh dari topik soal kapan kelulusanku sebenarnya. Aku tau, aku sangat mengerti, pertanyaan itu dilontarkan dengan niat bercanda. Tak lebih. Namun sungguh, aku sungguh berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Sekalimat tanya yang benar-benar melontarkanku pada beberapa masa dibelakangku. Tapi tatapan mereka yang menunggu setengah memaksa mulutku untuk menjawab pertanyaan mereka dengan bercanda juga, ”Mei. Meibi yess meibi no”, dan mereka pun tertawa lagi. Begitulah waktu mengalirkan pembicaraan kami kemana-mana. Syukurlah topik kelulusanku segera berganti dengan topik lainya. Dan sementara mereka asik bertukar opini, aku diam. Sesekali kulempar senyum agar tak seorang pun dari mereka yang menyadari betapa ...
Comments
Post a Comment