............................................ ada kalanya sinar mentari
tak sehangat musim semi. Pun hujan, tak lagi sejuk seperti saat rintik
pertama membasahi ilalang. Saat angin tak berhembus sepoi-sepoi, namun
menghempasmu seolah kau tak lebih berharga dari sekedar debu tak
terlihat, yang terbang untuk kemudian lenyap entah kemana.. akankah kau
katakan padaku untuk tidak bersedih..!!" ? tidak! tidak akan pernah ku
katakan lagi tentang sedihku. tidak dihadapanmu, pun dihadapan pantulan
diriku di cermin. karena kesedihanku t'lah pupus dihapus musim. bersama
tawaku, bersama rinduku. aku kini tak merasakan apa-apa. hampa. bahkan
rasa t'lah jauh meninggalkanku. biarlah waktu menempaku seperti ini.
biarlah musim berganti aku akan tetap seperti ini. sampai saat waktu
menyerah untuk melihat air mataku lagi. lihat saja kawan, keluh kesah
ini hanya akan jadi debu. biar waktu yang membawanya, biar angin
menjemputnya. aku hanya akan menunggu saat itu.
Malam itu saya nyaris tidak bisa tidur memikirkan sebuah benda kecil yang saya beli beberapa jam sebelumnya. Pikiran saya nyaris tidak teralihkan dari benda kecil itu.. memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi, kejutan apa yang sedang menanti saya, dan perubahan apa yang akan dia bawa nantinya. Berjam-jam sibuk memikirkan itu hingga tanpa sadar saya pun jatuh tertidur, dengan mimpi tentang benda kecil tersebut. Subuh mengetuk jendela, dan seketika saya membuka mata. Inilah saatnya! Kata saya dalam hati. Ini saat yang saya tunggu-tunggu sejak kemarin. Saya pun beranjak dari kamar dan meraih benda kecil yang kemarin saya beli kemudian masuk ke kamarmandi tanpa pertimbangan apapun lagi. Dan benar saja, benda kecil itu memunculkan dunia garis merah yang sangat saya nantikan. Dan astaga, kalau saja saya tidak sedang berada di kamarmandi, mungkin saya sudah berteriak sejadi-jadinya! Dengan senyum mengembang lebar saya tunjukkan benda kecil itu pada suami, dan Ia terseny...
Comments
Post a Comment