Skip to main content

Posts

biarkan kertas itu tetap kosong

Entahlah, berhadapan dengan kertas kosong selama lebih dari satu jam selalu membuatku frustasi. Ada begitu banyak hal yang ingin segera ku pahat diatas sebidang kertas ini. Kata demi kata tumpang tindih berusaha mencuri perhatianku, tampil menawarkan diri untuk menjadi yang terpilih sebagai awal dari segala rasa yang sedari tadi mendesak, melesak dalam hatiku, mencipta debar yang tak asing.. debar yang sangat ku kenali tiap saat berhadapan dengan kertas kosong, seperti saat ini. Namun aku tetap merasa hampa. Hampa yang tak biasa. Hampa yang sering ku hadapi namun kini terasa berbeda. Lebih sakit, lebih membuatku luka. Tak ada satu hal pun yang lebih membuatku putus asa selain dihadapkan pada kehampaan putihnya kertas dihadapanku ini. Tak ada keinginan untuk membuka suara dengan lawan bicara, tak ada keinginan untuk berbagi cerita pada siapa saja. Aku memilih sendiri, menepi sejenak dari keramaian yang kian membuat dadaku sesak. Menyepi dari pekik hari-hari yang kian mencekik tubuh ...

Resep: udang pedas manis

Yang namanya udang itu yaa.. masih idup aja kelihataannya enak, apalagi yang udah dimasak :) Nah, ini salahsatu cara mengolah udang yang lumayan praktis, nggak ribet, tapi rasanya enak. Bisa dicoba buat para pecinta udang olahan seperti saya hahaaha :D UDANG PEDAS MANIS  ala  Inaz :) Bahan-bahan: Udang segar 1/4kg –kupas kulitnya 3 siung bawang putih 3 siung bawang merah 2 buah cabai merah besar 2 buah cabai rawit asam jawa secukupnya –larutkan dalam 5 sendok air 1cm laos , memarkan Gula merah secukupnya garam + penyedap secukupnya Cara membuat: panaskan wajan dengan api sedang, kemudian goreng udang yang telah dikupas dengan sedikit minyak. Angkat setelah berwarna sedikit kemerahan. haluskan semua bahan (selain udang) kemudian goreng sampai harum. Tambahkan larutan asam jawa dan garam serta penyedap secukupnya. terakhir masukkan udang yang telah digoreng setengah matang. aduk sampai merata dan tunggu sampai bum...

Insomnia

Aku t’lah terbiasa babak belur dihantam sepinya hari-hari  Dan yang dapat mengobati sakitnya hanya dengan tidur sejenak, walaupun saat bangun nyeri disekujur hatiku kambuh lagi. Mungkin hatiku sekarang telah biru dan membusuk karena terlalu lama menahan sakit. Sudah sekian hari aku lupa caranya tidur, aku lupa bagaimana memejamkan mata. Aku lupa caranya mengantuk.. Atau malah rasa kantuk itu yang telah melupakanku? Entah. Insomnia mulai ku persalahkan sebagai akar kegamanganku. Malam kian pudar, sepi kian samar, dan aku tetap menatap langit-langit putih kamarku yang penuh dengan aneka gambar ingatan yang perlahan usang oleh waktu. Ku buka catatan harianku. Baru beberapa jam tadi aku menulis betapa sakitnya hatiku, dan kini semakin sakit rasanya saat ku baca lagi. Seperti memutar kembali detik-detik saat hati ini benar2 tengah kambuh sakitnya. Aku ingin minum obat. Tapi obat yang mana lagi yang dapat membuatku lupa akan sakitku? ...

Yang Tertinggal

Atas nama ketidakcocokan kau memilih pergi Meninggalkan separuh ruang yang tak lagi berpenghuni Sebelah cintaku kau bawa lari, Sebelahnya lagi beranjak menuju mati Dan yang tinggal hanyalah debar ini, Debar ini amarah yang membuncah bersama bayangmu yang pecah di ambang kelopak mataku Aku memejam dan tarianmu kian nyalang meliuk-liuk jalang. Debar ini benci yang mengunci tiap aksara cinta yang pernah terpatri dalam tiap catatan demi ingatan. Debar ini tak lagi rindu yang dulu seperti saat waktu-waktu bersamamu selalu berwarna ungu, kini tinggal abu-abu Atas nama rasa yang t’lah hilang kau memilih pergi Tinggalkan anak cintamu yang beranjak dewasa dalam dadaku Dan yang tersisa tinggalah hujan, Hujan ini terasa hangat ketika malam-malam ku terbangun, dan kau tiada. Hujan ini mengalir deras dari hulu mataku Menuju hilir ingatan yg kian usang sejak kepergianmu Debar ini kian menuju mati hujan ini kian terasa tajam bak belati dan k...

Piring-Piring Kaca

Ibarat sebuah piring kaca yang retak, aku kini tengah berada diantara setumpukan piring-piring kaca lain yang nyaris sempurna. Kehadiranku tenyata melukai piring diatasku, dibawahku. Dan piring diatasku melukai kedua sisi diatas dan dibawahnya, dan begitu seterusnya. Semua luka itu berawal dariku bukan? Aku tak berdaya untuk memisahkan diri dari tumpukan kesempurnaan itu. Apakah mereka pikir luka ditubuh mereka yang ku beri tak juga melukaiku? Aku tak pernah tau luka siapa yang lebih dalam. Aku tak pernah bisa menerka luka siapa yang lebih sakit dari luka siapa, namun yang ku rasakan jauh melebihi kesakitan dari batas yang mampu kurasakan. Ingin pergi, tapi kemana? Ingin menghilang, memangnya bisa? Pada akhirnya yang dapat ku lakukan hanyalah pasrah. Diam ditempat, tepat diantara tumpukan piring kaca yang nyaris sempurna di atas dan di bawahku. Aku hanya sebuah piring kaca yang retak. Kehadiranku hanya memberi luka. Hanya menggores kesempurnaan piring lainnya. Kepada Sang...

Gagal Itu Indah

Kata siapa aku seorang yang gagal? Aku ini adalah seorang yang benar-benar berhasil, berhasil menjadi seorang yang gagal dimata orang lain. Tak apalah, toh mereka yang mematok pencapaian sebagai tolak ukur sebuah keberhasilan, maka   sah-sah saja jika ku sebut diriku ini telah berhasil dalam sebuah pencapaian. Pencapaianku yang masih gagal. Bukankah aku telah berhasil mencapai tahap gagal dalam hidupku? Tak banyak orang berhasil yang tau bahwa dirinya t’lah gagal, dan mereka menjadi lebih gagal karena telah melewatkan kesempatan untuk belajar dari kegagalan mereka tersebut. Kasihan kan? Positive thinking, aku selalu berhasil dalam hal ini. Seperti halnya mereka yang berhasil memberi cap ’gagal’ pada price tag ku, aku dihargai setinggi batasan antara gagal dan berhasil. Dan aku, saat ini tengah berada pada tarif gagal. Tak apalah, aku sudah terbiasa berhasil dengan kegagalan. Lagi-lagi aku menghibur diri dengan sebuah pelajaran. Akh, seperti sedang membodohi diri dengan puji...

Mencari AKU

Dear, Lita.. Kamu adalah seorang yang sangat ku kenal, sebaik aku mengenal diriku sendiri. Namun kadang, kamu bisa menjadi seseorang yang sangat sulit dimengerti, sesulit aku berusaha mengerti diriku sendiri. Bolehkah aku sedikit menulis tokoh ’kita’ disini? Tiap pagi ketika mata kita baru saja terbuka, satu pertanyaan yang kita hafal diluar kepala selalu jadi hidangan pembuka bagi hari-hari panjang kita, hari-hari lelah kita: ” Tuhan, untuk apa aku diciptakan ?” Itu kan yang selalu kita pertanyakan? Tentang eksistensi kita. Tentang kepentingan kita didunia ini. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah kita ketahui jawabannya, namun kita masih belum dan tak pernah puas dengannya. Sebuah pertanyaan paling naif sebagai bentuk halus dari cara kita menyalahkan Tuhan karena beberapa ketidak-adilan-Nya pada kita. Iya kan?   Kadang, ah tidak, sering kita merasa Tuhan begitu tak adil dengan bolak-balik memberi kita cobaan. Seolah DIA sangat suka melihat betapa susahnya kita memera...