Saturday, December 6, 2014

La Tahzan!



Duhai gaduh suara-suara di kepala, tenanglah sejenak
Biarkan tenang mendekap hati yang sedari tadi meledak-ledak
 Aku ingin mendengar hening do’aku sendiri
Meski ku tau Tuhan pastilah tidak tuli, tapi biarkan hening ini kian bening
Untuk ku perdengarkan do’aku yang paling do’a pada-Nya

Duhai diri yang kerap dirasuk amarah
Wajahmu memerah, darah
Tak terlihat lagi senyummu itu, yang ramah
Duduklah disampingku dan mari kita bicara
Pejamkan mata, dan biarkan detak jantungmu seirama tarikan nafasmu yang memburu
Pejamkan matamu dalam-dalam dan jumpai kegelapan itu begitu terangnya
Lihat, kemarahanmu itu bukanlah apa-apa melainkan kerugian yang maha rugi

Duhai diri, ladang segala ilmu yang Ia tanam
Tumbuhkanlah keyakinan bahwa aku tak pernah sendirian
Buat ia merimbun rindang hingga tak lagi ada kesepian dalam diri ini bersemayam
Buahkan keyakinan yang manis rasanya, hingga tak kurasakan lagi pahitnya keragu-raguan
Lapangkan dada seluas samudera dan angkasa raya,
Hingga dapat ku kepakkan sayapku dan bebas berkelana dalam semesta yang menyajikan berjuta alasan untukku semakin dan semakin jatuh cinta pada-Nya,

Duhai diri,
Mencintai adalah perkara mempercayakan hati
Pada sesuatu yang semestinya melebihi kemampuanmu dalam menjaganya
Maka kamulah satu-satunya yang mengetahui, diatas tangan siapa hatimu akan baik-baik saja.

La Tahzan, Robbuna ma’ana~

Saturday, November 29, 2014

Time Machine



Hujan sore ini membuatku lupa. Pada suara-suara lain selain bingar suaranya yang berkerumun ditelinga; pada ingatan-ingatan selain ingatan tentangnya yang memasung diri sekian lama; dan pada segala keinginan selain keinginan untuk bertemu dengannya sekali lagi, menyentuh wajahnya dan merasakan hangat genggamnya mengalir dari telapak tangan menuju sekujur raga.

Sepertinya memang benar adanya bahwa mesin waktu dapat ku buat sendiri. Lewat bulir demi bulir yang berjatuhan, hujan.. selembar foto tua nan usang, pun rindu yang menusuk tajam, Tuhan meminjamkan padaku selajur jalan untuk pulang sejenak ke masa silam..

Dan saat aku sampai diujung jalan itu, ku harap bayangnya ada diujung sana telah bersiap memeluk puteri kecilnya ini, 

ayah.

Thursday, November 27, 2014

wake up!



Sometimes I feel like I’m not ready. And that’s a bad thought to have. Because once you get that thought into your brain, it goes into your body and your whole body shuts down.



Ini tentang bagaimana cara aku menghipnotis diri sendiri. Memanipulasi ketakutan menjadi keberanian, atau sebaliknya..memberikan kesempatan pada sekecil apapun ketakutan untuk merusak puing-puing kepercayaan diri yang telah susah payah ku bangun setelah runtuh berkali-kali.

Ini tentang bagaimana aku meyakinkan diri sendiri. Dan inilah bagian tersulit dari sebuah proses pencapaian sebuah mimpi.

Bukankah mimpi selamanya akan menjadi mimpi saat aku tetap memilih berlindung pada selimut hangatku daripada beranjak pergi untuk mewujudkannya?

maka Tuhan, ku mohon kabulkan do’aku ini: …………………………………………………………. Aamiin  :) 


Saturday, November 15, 2014

Distance



Hujan deras sejak kemarin malam telah menggenangi pekarangan rumahku, pun kelopak mataku. Apakah juga dihatimu rinduku tercurah? Sedikit saja.. tidakkah ia membuat ingatanmu kembali basah? Tentang satu dua kali kita yang pernah berdua membelah senja dengan tangan yang saling menggenggam. Atau, kita yang pernah menyusuri pantai sembari  mendengar ombak yang bersorak atas kemesraan kita yang bergejolak? 


Jarak. Ia  terkadang begitu jahat pada dua hati yang ingin tetap dekat dan saling mengaitkan lengan dalam hangatnya dekap.