Sunday, December 23, 2012

Ini cinta, bukan kita


Cinta memberiku ruang untuk sebuah kesempatan, mengenalmu
Cinta mengenalkanku pada keinginan untuk mengertimu
Cinta membuatku mengerti arti bersabar dalam menunggu
Menunggu pengertianmu akan hadirku
Hadirku yang hanya hinggap sekejap dalam hatimu
Hatimu yang tak benar-benar mengenalku
Mengenalku dengan hati yang tulus mencintaimu

Cinta, 
adakah aku salah dalam mengartikannya?

Kurasa cinta tak pernah salah.
Kurasa hatiku tak salah memilihmu. Dan kau pun tak salah dengan
memaksa masuk dalam hidupku.
Cinta kita hanya istilah. Cinta kita hanya intermezzo bagi hidup yang kadang membosankan. 
Cinta kita hanya sepotong kisah
yang memang tak bertakdir  dengan akhir yang indah.
Cinta kita hanya teori untuk saling memahami.
dan ketika kau dan aku gagal untuk saling mengerti,
cukup balikkan badan, dan biarkan punggung kita saling berucap selamat tinggal.

Saturday, December 22, 2012

3 tahun

Inginku duduk berlama-lama ditepi pembaringanmu. Sekedar menamanimu mengobrol dan mendengarkanmu. Cukup dalam diam aku mendengar ceritamu. Cukup dalam sepi aku tau kau sedang duduk menemaniku. Disisi gundukan tanah ini, disisi nisan yang menancap diatas wajah dan kakimu, aku tau kau selalu bersamaku.

Ayah, 3 tahun sudah kau tertidur disini. Tiap hujan datang aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku takut istanamu menjadi becek dan membuatmu menggigil kedinginan. Aku takut banjir menghanyutkan sisa-sisa gundukan tanah merah yang selalu basah oleh do’a-do’aku ini. Namun yang dapat kulakukan hanya berbicara denganmu lewat air mata, berusaha sekuat tenaga meyakinkan diri bahwa kau disana baik-baik saja.

Ayah, mungkin aku hanya terlalu merindukanmu. Mungkin aku hanya terlalu ingin melihat sosokmu, memelukmu, bermanja-manja dipangkuanmu. Seseorang mengingatkanku sebuah lagu yang selalu kudengarkan saat aku merindukanmu. Ingat penggalan lyric ini? ” I don't want to let you down. I don't want to lead you on. I don't want to hold you back from where you might belong……” iya, itu lagunya Air Supply yang judulnya Goodbye. Entah kenapa setiap lagu yang berjudul selamat tinggal selalu mengingatkanku padamu. Mungkin karena saat kau pergi, kau tak pernah berkata sepatah katapun padaku? Sekedar berpesan agar aku selalu kuat saat tak bersamamu? Atau sekedar mengusap ubun-ubunku agar aku siap untuk kau tinggal selamanya?

Ayah.... aku merindukanmu dengan segenap udara yang hinggap didalam paru-paruku. aku merindukanmu sebanyak tetes hujan yang membasahi pipiku. aku merindukanmu sebesar mimpi yang tak sanggup dipikul oleh tubuh ringkihku... 

....maafkan aku. Aku menangis lagi ketika menulis ini. Aku hanya sangat merindukanmu. Sampaikan salamku pada abang. Kalian berdua adalah cinta yang akan selalu hidup dalam tiap do’a-do’aku.  Selamanya takkan pernah tua dimakan waktu. I love you...

Friday, December 21, 2012

sebotol gerimis


Perempuan itu
Menadah gerimis untuk diminumkan pada bayinya.
Gerimis dimasukkan kedalam botol
Diaduk sebentar sementara si bayi
berteriak-teriak tak sabar. Tangan perempuan itu gemetar
bergetar

”sabarlah nak, gerimis ini begitu tipis” serunya
sembari menatap lirih pada botol yang tak kunjung meluber isinya
si bayi kembali membentak ibunya yang mudah terkesiap
telinga tuanya begitu sensitif dengan suara-suara
tangan keriputnya kerepotan menutup botol
yang belum penuh sempurna
seperti titah si bayi

wajah bayi itupun merengut, cemberut
diraihnya dengan kasar botol dari tangan ibunya
”kenapa cuma segini? Aku maunya penuh!” rajuk bayi dengan manja
Tangan mungilnya mengepal jempol sang Ibu
Sambil menenggak gerimis demi gerimis dalam botol susunya
“rasanya pun sedikit asin!! Kau isi apa pada botol susuku, ibu??” bentaknya.

Perempuan tua yang ia panggil ibu itupun kembali terkesiap
nyala dalam matanya takut jika dustanya tersingkap
lewat rasa pada botol gerimis yang tak dapat berbohong itu
lewat botol yang separuhnya Ia isi dengan gerimis
yang turun sepotong demi sepotong
membawa kabar  duka bahwa suaminya telah tiada
perempuan yang takut bayinya murka itupun
memeras air matanya untuk separuh isi botol itu
untuk diminumkan pada bayinya yang lapar
untuk bayi satu-satunya yang selalu berteriak tak sabar                      


Tuesday, December 18, 2012

Telaga Bening


Sore begini aku biasa duduk-duduk santai
Ditepi kelopak mata ibuku
Mencelupkan kaki yang berkecipak
merasakan dingin air telaga beningnya merayap
lewat pori demi pori kulitku

kuteguk dua cangkir beningnya ketika telaga tumpah,
ruah
mata itu memejam amarah
membuncah
mata itu mengulum rindu
menderu
mata itu terlihat sakit
menggigit
mata itu merasakan perih
menindih
mataku melihat penat
merekat
erat
pada bening mata itu, pada
bening air dari kelopak mata ibuku

setengah terpejam rindu itu kembali menderu
rindu pada lelaki yang biasa mandi ditengah telaganya
lelaki yang pamit pergi takkan lama
nyatanya sirna sosoknya
ibu menangis,
aku meringis
menenggak dua cangkir lagi kerinduan ibu
kerinduan ibu pada ayahku.


(selamat hari ibu)

01.45 AM


Malam memudar, yang terdengar hanya jarum jam yang berlari mengejar waktu. Kemarin suaranya masih terdengar biasa, namun entah, kini sedikit berbeda. Detik yang berhamburan seperti menyeret-nyeret aku untuk segera beranjak dari diamku. Beranjak dari diam yang sepi, sepi yang sendiri. Diam yang tak dimengerti waktu, diam yang diciptakan oleh waktu. Waktu-waktu sepiku.

Friday, December 14, 2012

Kota-tuaku masuk angin


Gara-gara angin sibuk lalu-lalang sedari tadi, kotaku jadi masuk angin. Pohon-pohon berantakan rambutnya, beringin sampai terbuka terus roknya. Ayam-ayam bengong putus asa mengejar serangga yang lebih cepat terbangnya. Padi-padi yang menguning sampai pegal-pegal dihempas angin, sebentar kekanan sebentar kekiri. Tapi burung-burung kecil tak perduli, padi yang lemah dipatukinya sampai gundul setengah. Ayam pun tak mau kalah, segera ia dekati padi paling pinggir yang dapat diraihnya, namu petani keburu datang mengusirnya dengan marah. Ayam bengong lagi, putus asa lagi. Angin menari lagi. Padi pegal lagi. Dan aku sibuk mengoles minyak kayu putih pada punggung kota-tuaku yang gampang masuk angin. 

Mahakarya Sepi


Kulihat baliho-baliho ditepian jalan marak berpromosi tentang sebuah konser akbar. ”Mahakarya Sepi”, begitu judul yang hinggap pada mataku. Pada benakku. Gadis kecil dalam kepalaku langsung menari bak balerina, turut bergembira ingin menyaksikan mahakarya sepi petang nanti. Kusiapkan pakaian terbaik, wewangian termanis, riasan terindah, semuanya yang ter-sempurna untuk kesempurnaan sebuah mahakarya, katanya. Kata siapa? Kata siapapun yang memasang baliho tersebut di titian jalanku pulang.

Tibalah waktu yang dijanjikan baliho tersebut datang.

Aku sudah cantik, terlalu cantik untuk pergi ke konser seorang diri. Akh, lagipula ini konser sepi. Takkan masalah jika ku datang dengan hanya aku sendiri yang sudah sangat cantik malam ini.

Konser pun dimulai.

Sepi menggelegar memecah udara yang bergerak pelan-pelan. Sepi berteriak nyalang membakar ilalang. Sepi merayap dari jempol kaki ke ubun-ubunku. Sepi mencabik-cabik pakaian balerina yang terpaku dalam benakku. Sepi menampar pipiku yang t’lah luntur bedaknya. Sepi memeras air-mata kelopak-mataku yang terkatup cantik dengan goresan eye-liner, maskara-ku luntur karenanya. Sepi mengulum bibirku dengan buasnya, pudar merah gincu dan segala warna padanya. Sepi menelanjangiku dalam ke-papa-an sendiri. Balerinaku menangis sendu. Konser mahakarya sepi berakhir merampas ceriaku, wangiku, gairahku, cantikku.  

Konser ini begitu dahsyatnya. Balerina dalam benakku tak lagi menari karenanya. Aku terpaku. Dia terpaku. Mereka kelu. Gadis kecil dalam diriku diam-diam mengupas pergelangan tangannya. Darah bersimbah pada titian jalan yang tadinya ada baliho laknat itu, tapi kini tiada. Darah ini pun pindah dimataku. Dimatanya. Dimata mereka yang tersihir Mahakarya Sang Sepi dan segala kesempurnaannya.

Rupa-rupanya kesendirian dalam aku telah begitu terpesona dengan sepi.
Aku pulang, telanjang. Nanar kedua mata sembab-ku mencari-cari baliho serupa. Aku menanti konser sepi lainnya, yang sama dhasyatnya. Yang sama sepinya.

dada dan kotaku kehujanan


Jarum jam sudah jauh langkahnya dan matahari belum mekar sinarnya. Kota ini tengah dicintai hujan. Hujan yang hinggap pada ranting-ranting kering. Ranting yang dihinggapi hujan, hujan di dadaku. Adakah hujan ini sama dinginnya dengan hujanmu? Tidak. Dadaku dan dadamu punya cerita yang berbeda tentang hujannya. Dan kota ini pun kisahnya tak sama, masih tentang hujan pula. Jarum jam kian jauh berlari dan kamarku masih temaram. Jendela yang ku tutup rapat tak membuat badai diluar sana ramah bertamu, duduk mengobrol lama-lama bersama lamunanku. Namun celah jendela ini terlalu baik mengizinkan udaramu hinggap pada hidungku, memaksa masuk kedalam rongga pernafasanku, mencabik-cabik dadaku yang t’lah basah kuyup karena hujan. Hujan, berulang kusebut namanya namun kian gembira ia menari dalam dadaku. Adakah hujan ini sama dengan hujan di dadamu? Tidak. Jarum jam sudah akan pulang lagi, dan aku masih kehujanan. Dada ini, ranting-ranting ini, kota ini. Kota hujan, dada kehujanan, aku hujan. 

corat-coret


Aku terlalu menuruti semua perintah hatiku. Seperti ada dibawah pengaruh mantra, jari-jariku otomatis mengetik bahasa kerinduan yang membuancah dalam benakku, lalu mengirimnya setelah memastikan benar namamu yang ku tuju, dan lalu menyesalinya sedetik setelah kupastikan pesan itu terkirim padamu. Mungkin kau belum selesai membacanya ketika rasa sesal ini semakin membuatku nelangsa. 

Akh, tapi masa bodoh. Kau bebas merdeka hendak berpikir apa tentangku, seperti halnya aku yang bebas merdeka berimaji apa-saja tentangmu.

Jika dapat ku tahan tubuh ini dari gerak-gerik yang membahasakan cintaku padamu, tentu kau takkan pernah tau bagaimana hatiku. Aku tak semudah itu untuk kau baca. Tapi tunggu, selama ini, pernahkah kau benar-benar mencoba untuk meraba huruf-hurufku? Aku hanya terlalu jujur berceloteh tentang semua warna rasa dalam dadaku jauh sebelum kau benar-benar mempertanyakannya.

Aku adalah buku yang jarang terbuka, sampai berdebu. Isiku terlalu rumit untuk dapat digapai nalar kekanakanmu yang meminta kesempurnaan yang tak ku punyai. Namun aku hanya membuka padamu, membiarkanmu membolak-balik halamanku, melipat beberapa nomor halamanku, mencorat-coret beberapa sudutku. Tapi kau tak pernah pahami aku! Kemudian kau tinggalkan aku terbuka begitu saja. Menurutmu bagaimana rasanya setelah tau ternyata aku hanya buku yang tak kau suka? 

Aku berakhir dengan kepercayaan yang mulai kubenci sebagai kesalahan dilangkah pertama saat mengenalmu. Kau kejam! Bolehkah aku memakimu? kau jahat karena tak berusaha lebih gigih untuk mengertiku. Nyatanya kau mudah jenuh, dan pergi dengan buku dongeng omong-kosong yang mudah kau terka akhir ceritanya.

Saat kau pergi, kini, jariku terbiasa mengetik kalimat-kalimat duka pada tiap pesan, tembok, pasir, tissue, sudut-sudut kertas, bungkus nasi, sampai dedaunan kering tak luput dari coretanku tentang kerinduan yang kurasa semakin sakit ini.

Kelak ketika datang hari dimana aku tersadar dari segala omong-kosong ini, kuharap jemari ini akan lebih bisa diajak berkompromi soal bahasa yang tak patut kujabarkan pada siapa yang berhak dan siapa yang tak berhak mengetahuinya. Ingat, aku adalah buku yang tak mudah dibaca semua orang. Maka setelah ini, takkan mudah bagiku untuk membuka pada sembarang orang sampai tiba saatnya seseorang brilliant yang mampu memahamiku diluar kepalanya, 

......dialah cinta yang sebenarnya.

Wednesday, December 5, 2012

air..air..air...


Kadang terasa ngilu, luruh seluruh tulang-belulang dalam tubuh. Kadang seperti dipeluk dengan sangat-sangat erat, hingga untuk bernafas pun terasa berat. Kadang terasa seperti dibenturkan ke dinding, nyatanya dinding diam tak bergeming. Kadang kulihat langit berputar-putar, mengaburkan jangkau pandangku pada sekitar. Kadang terasa nyeri, sangat nyeri membuatku ngeri. Kadang seperti terbakar, aku ingin air...air...air...
Kadang hatiku mati rasa dari rasa-rasa. Lalu tiba-tiba sakit yang menggigit sirna seketika. Ketika do’a, dengan do’a aku percaya Tuhan menitipkan obatnya pada setiap helai do’a yang kukirim padanya. Lewat sakit, lewat perih, lewat sesak, lewat pandangan yang mengabur, lewat air...air...air...

Tuesday, December 4, 2012

Langit Pagi


Pagi t’lah lelah mendongakkan kepalanya menatap langit yang tak kunjung basah. Merasa kering dan terasing, sendiri separuh mati, pagi tetap berulang dengan asa yang sama.
Harusnya kau tau diri, langit!
Menunggumu t’lah membuat pagi sekarat dalam kalimat-kalimat berkarat, berakhir hanya pada sajak yang tak pernah tuntas.
Jika saja kau gunakan kedua bola matamu untuk sejenak meraba kata-kata pagi yang merenda asa hanya untukmu, dapatlah kau jumpai cinta pada bulir air mata yang hanya jatuh ke dasar hatinya, yang sepi, yang sendiri, yang nyaris mati.
-langit masih diam-
-pagi semakin muram-

Jingga


Diam adalah sajak yang pecah lewat rona jingga ketika senja menetas di kaki langit yang setengah muram, temaram.
Berserak satu dua kepingan hati yang bergetar ingin menggoreskan pena hanya tentang sebongkah rasa yang tak pernah habis dijabarkan oleh kata demi kata.
Huruf demi huruf pun layu. 
Kata-kataku kelu tertahan di kerongkongan yang kering tanpa pernah mengucap kerinduan yang dulu ku elu-elukan bersama namamu, selalu.
Senja tak lagi cerah ronanya. Langit tak lagi ceria karenanya. Huruf-huruf enggan mewakili hati yang tak mau bicara.
Bagaimana aku bisa berpuisi, jika namamu dihatiku t’lah lama mati?

Monday, December 3, 2012

Lelaki dibalik ketiak nyali


Kau lelaki linglung. Limbung dengan satu hantam keragu-raguan yang merajam hati dan isi kepalamu. Sebegitu tinggikah benteng ketakutanmu itu sehingga kau harus merasa pasrah jauh sebelum kau coba satu kali saja tuk menerjangnya? Ataukah kau merasa lebih nyaman untuk berlindung dibalik ketiak nyalimu yang penakut itu? Akh, lelaki… hidupmu tak jauh dari kubangan bimbang dan kegamangan. Kau yang ciptakan, seharusnya kau tak turut tenggelam! Kelak jika yang tersisa hanyalah ruang demi ruang, adakah pintu ‘kan terbuka ketika kau mengetuk? Lalu apakah puas ego lelakimu dengan hanya mengikhlaskan apa yang tak pernah kau perjuangkan berada ditangan siapa saja selain KAU, lelaki-ku!!! 

Perempuan


Dia perempuan, 
Diam adalah senjata untuknya bertahan.
Senyum adalah perisai diri tanpa perlu banyak beralasan
Air mata laksana hujan yang menghapus wajah kusam kehidupan

Karena dia perempuan,
Dunia tak perlu melihat pedih dibalik tatap matanya
Dunia tak perlu tau betapa Ia memendam luka

Karena aku perempuan

Sunday, December 2, 2012

Pergilah


Masih saja ada ruang untuk sebuah kesempatan bagimu untuk kembali, membulatkan hatimu untukku. Ataukah hanya angan-anganku? Ataukah hanya cintaku yang bicara tentang sebuah kemungkinan yang kurasa mustahil itu?
Rupa-rupanya jeda ini tak hanya untukmu, pun dihatiku masih ada sebongkah rasa yang patut ku pertanyakan.
29 hari lagi aku memutuskan untuk menelan bulat-bulat jeda yang kuberikan untukmu itu. Jika memang Tuhan tak jua menggerakkan hatimu untukku, maka sejak awal Tuhan memang tak berencana demikian. Akan tiba hari dimana takkan ada satupun pintu yang dapat kau ketuk dalam diriku. Akan ada hari dimana cinta ini akan menjadi terlalu besar dan kemudian meledak, pecah menjadi serpih yang ’kan berakhir dihempas  angin.
Bukan berarti aku menyerah, aku hanya berusaha untuk lebih adil pada diriku sendiri. Aku berusaha untuk menepikanmu demi sebuah cinta untuk diriku sendiri yang telah sekian lama aku abaikan. Sudah saatnya aku menjadi lebih realistis tentangmu, sayang. Jika sebegitu besarnya keinginanmu untuk pergi dariku, maka pergilah. Jika kebahagianmu adalah segala sesuatu selain aku, maka bahagialah dengan kepergianku.

Kelak, suatu saat hati kecilmu akan bertanya-tanya tentang segala janjiku dulu yang akan mencintaimu selamanya. Maafkan aku, karena saat itu aku tengah dikuasai oleh cinta yang begitu besar padamu. Nyatanya hati ini sama seperti hatimu, mudah berubah-ubah ketetapannya... Nyatanya cinta ini sudah tak lagi sama besarnya. Maafkan aku..

Friday, November 30, 2012

Rindu adalah..

Rindu adalah jendela tempat tanganku menopang dagu, melamunkanmu

Rindu adalah segenggam rasa ngilu yang dijembatani jarak dan waktu

Rindu adalah jeda waktu yang membimbing hati untuk melangkah dari ragu ke ragu

Rindu adalah untaian nama yang kurapal dalam tiap helai do'a-do'aku

Rindu adalah kamu.



1 Desember 2012

Thursday, November 29, 2012

it's ok not to be okay


Merdeka suaraku dengan diam, jika deru hatiku yang menyeru tak mereka hiraukan.
Lega jiwaku dengan bungkam, jika raut muram wajahku tak membuat mereka paham.
Aku nyaman dengan diam, karena sebagian dari mereka tak berhak menjadikanku bahan obrolan belaka tanpa penghiburan yang menentramkan.
Tak pantas ku perlihatkan kebodohanku dengan berbagi suara yang hanya akan menjadi angin lalu dalam ingatan mereka...

Biar kesedihan ini memelukku, mungkin Ia cemburu dengan bahagia yang sekian lama menjadi teman sepermainanku. Sedih mengenalkanku pada sepi, namun tak kesepian. Sedih menjadikanku sendiri, namun tak selaluu sendirian.

Tapi toh, tak ada bahagia yang ada dalam rengkuh kata ’selamanya’. Begitupun dengan kemuraman yang sifatnya hanya sementara. Aku hanya butuh waktu untuk terbiasa, dan belajar membagi cerita dengannya jua.

Lama-lama aku pun akrab dengan sepi dan mulai terbiasa bersamanya. Aku lupa caranya tertawa, aku kehilangan gairah untuk merdeka. Duka yang bertubi-tubi mengunciku dalam ruang kemuraman. Aku lebih banyak diam. Aku pendam segalanya dalam diam. Ketika dunia memalingkan wajahnya dengan sejuta penolakan, mataku tak lagi basah karenanya. Aku mungkin telah terbiasa, benar-benar telah terbiasa dengannya.

Namun bagiku tak mengapa, aku harus adil membagi diri untuk bahagia dan sedihku. Keduanya adalah satu yang membentuk aku. Bagiku tak mengapa, sungguh tak mengapa.....

Senja berkabar duka


Hari itu senjaku tak sejingga biasanya. Genang air dalam kelopak mataku yang basah mengaburkan pendar-pendar cerahnya. Tepat saat Azan Maghrib mengumandang syahdu, angin datang membawa kabar itu lagi. Terbata-bata ia bisikkan ditelingaku bahwa kakak terkasihku telah berpulang ke pangkuan-Nya. Luruh segala tulang dalam tubuhku. Runtuh jua kesadaranku. Sesaat waktu seakan berhenti diwaktu itu, memberikan jeda untukku mencerna kabar duka yang baru saja kudengar.  Aku membatu, kelu, namun tak sampai hilang kesadaranku. Raung tangis ibu menyadarkanku bahwa saat itu bukanlah waktuku untuk turut menangis. Gemetar kedua lengan kurusku memeluknya, semakin kuat Ia meronta semakin tubuhku bergoncang hebat menahan sesak yang hendak meledak. Putramu,bu.. putra kesayanganmu telah pergi... putramu yang didera sakit sekian tahun telah tiada...” bisikku dalam hati tanpa mampu berkata-kata, kupeluk saja ibuku dengan sisa-sisa kekuatanku. .. Sampai magrib berlalu dengan lebih lama dari biasanya, dengan sendu penuh air mata. Dalam sujud di rakaat terakhirku tubuhku berguncang hebat, tepat saat otakku t’lah sadar sepenuhnya bahwa sekali lagi, takdir menamparku dengan kehilangan, lagi. Sesaat aku protes kepada Tuhan Sang Maha Pencipta... mengapa harus dia,Tuhan? Mengapa bukan aku saja yang Kau ambil................................................................................................

Lihat Aku


Aku adalah pantulan dari ketelanjanganmu.
Kamu, dari ujung rambut sampai jejari-kakimu.
Aku seutuhnya kamu dengan tatapan mata liarmu.
Marahi aku!!
Remukkan aku dengan caci! hinakan aku dengan maki!
Aku tetaplah bayangmu.
Ludahi aku! dustakan aku dengan egomu yang tengah dinistakan oleh waktu!
Jika yang dapat kau lakukan adalah mencari pembenaran sana-sini, akulah orang pertama yang harus kau adili..
Aku bayanganmu.
Aku pantulan seutuhnya dirimu.
Aku adalah sebagian kamu yang terlihat sama persis denganmu.
Maka lihat aku...
Dan lihat aku...
Lihat saja aku.. ..

Wednesday, November 7, 2012

thanks eve

Satu malam tentang beberapa tahun silam
Tentang cerita yang tak terduga tajam likunya
Tentang hati yang jatuh, luruh, kemudian kembali utuh
Segalanya dikemas dalam satu bingkis manis, yaitu waktu.

Thanks Eve.. :)

Wednesday, October 31, 2012

Ini ceritaku, apa ceritamu?


Berawal dari kebencian saya terhadap sayur pare, saya jadi sensitive mendengar segala sesuatu tentang jenis sayuran tersebut. Entah apa dosa pare terhadap saya, kebencian saya terhadap sayur imut tersebut seolah sudah mendarah daging dalam diri saya sejak kecil.
Tidak ada alasan mengkhusus mengapa saya begitu menaruh sikap antipati terhadap pare. Mungkin hanya karena rasanya yang sangat pahit dan penampilannya yang kurang menarik minat saya. Lagipula tidak banyak makanan olahan yang dihasilkan dari sayur pare, tidak seperti kebanyakan sayur lain seperti bayam yang juga tidak begitu menarik minat saya, tapi kemudian menjadi cemilan favorit saya ketika penampakannya berubah menjadi keripik, yang lebih tenar dengan nama ’keripik bayam’.
Terlepas dari kebencian saya yang mendalam terhadap pare, ternyata diam-diam saya merasa penasaran terhadap sayur tersebut. Apalagi melihat kakak saya sendiri yang sangat menggemari sayur tersebut. Apakah rasa pare yang begitu pahit tersebut sangat wajar jika digambarkan dengan perilaku ’menyimpang’ kakak saya yang selalu menambah porsi makannya ketika ibu saya menyediakan sayur pare tumis sebagai menu utama. Sekali saya beranikan diri mencobanya sedikit, dan ternyata.... rasanya memang pahit. Saya langsung muntah pemirsa!
Beberapa waktu berlalu, saya pun jatuh sakit. Dokter memvonis sebuah penyakit yang berkaitan dengan rahim saya. Memang, sebagai seorang wanita yang memiliki rahim jelaslah vonis tersebut membuat saya agak stress dalam beberapa waktu. Semangat hidup saya menurun, dan saya jadi melupakan sedikit kisah kebencian saya terhadap si Pare.
Obat-obatan dari dokter menjadi cemilan saya sehari-hari sejak vonis tersebut ditimpakan pada saya. Beberapa kali melakukan pengobatan alternatif pun sudah saya coba, namun hasilnya tetap sama. Saya masih kehilangan sedikit semangat hidup saya.
Untuk sedikit memperjelas kisah nyata ini, vonis yang diberikan pada dokter kepada saya sebenarnya bukanlah penyakit yang begitu serius untuk membuat seorang seperti saya jatuh stress. Pada rahim saya dinyatakan positif terdapat kista mungil yang akan segera tumbuh menjadi tumor jika tidak segera diambil tindakan. Bukan tidak mungkin jika saya terlambat memeriksakan diri, bibit kista tersebut lama-kelamaan akan menjadi kanker yang dapat membuat kondisi saya semakin memburuk.
Akhirnya, setelah berbagai cara dilakukan oleh keluarga untuk menghibur duka-lara saya, suatu hari ibu saya berinisiatif untuk membuatkan ramuan yang konon katanya dapat meningkatkan kesehatan saya.
Tanpa bertanya tentang komposisi ramuan tersebut, saya minum saja dengan cuek seperti berbagai ramuan lain yang telah ’dicobakan’ pada saya. Namun ramuan yang satu ini ternyata terasa pahit luar biasa. Segelas ramuan tersebut saya habiskan dengan dua-tiga kali tegukan dan sedikit bujukan ibu saya yang sangat memaksa. Seminggu tiga kali saya mengkonsumsi ramuan tersebut, lama-lama akhirnya saya terbiasa dan mulai suka. Entah kenapa saya menjadi suka, padahal saya sangat membenci segala sesuatu yang terasa pahit.
Minggu ke dua tanpa sengaja saya melihat ibu saya sedang meracik ramuan yang biasa diberikan pada saya tersebut. Dan ternyata, ramuan pahit yang selama ini saya gemari tidak lain berasal dari air perasan pare yang hanya dicampur dengan satu sendok teh madu. Hanya pare dan madu.
Saat itu saya merasa dibohongi sekaligus merasa senang. Dan ada perasaan terharu yang seketika merasuk dalam ruang pikir saya, ternyata sebuah pare yang selama ini selalu saya jauhi ternyata bermanfaat banyak bagi kesehatan saya. Hal ini terbukti dari rasa sakit pada bagian perut saya yang sedikit demi sedikit berkurang dari hari-kehari.
Sejak saat itu, hati saya pun menjatuhkan pilihan pada jenis sayuran berasa pahit tersebut, beserta segala olahan yang dibuat darinya. Dan sejak saat itu pula, saya mengkonsumsi obat saya dengan cara yang lebih menyenangkan yang malah membuat saya ketagihan. Terimakasih pare, terimakasih ibu, terimakasih klinik tong fang.. #eeh :P

Begitulah saudara-saudara. Mungkin sedikit hikmah yang dapat kita petik dari tumbuhan merambat jenis pare tersebut adalah agar kita tidak terlampau jauh menilai segala sesuatu hanya dari penampakan luar dan perkenalan singkat saja. Ada kalanya sesuatu yang terlihat buruk diluar, ternyata mampu memberikan kebaikan yang berpengaruh luar biasa bagi diri kita yang selalu merasa lebih baik.
Kenali diri kita dulu, maka alam dan sekeliling kita akan mengenalkan diri mereka dengan cara yang baik kepada kita.
Yang sakit semoga cepat diberi kesembuhan, dan semoga budi-daya pare di Indonesia ini semakin berkembang pesat menginagt manfaatnya yang luar biasa bagi kesehatan. Aaaaamiiinnnnnnn J


Sedikit bocoran tentang khasiat Pare dan cara pengolahannya sebagai obat yang diambil dari berbagai sumber yang saya baca:

v     Diabetes atau kencing manis
Siapkan 200 gram buah pare yang telah dicuci dan diiris tipis-tipis.Rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas.Minum air rebusan tersebut tiap hari.
Cacingan Seduh 7 gram daun pare dengan air panas,dinginkan lalu saring air rebusannya.Tambahkan satu sendok the madu,minum sebelum sarapan.
v     Demam
Ambil 3 lembar daun pare segar,cuci bersih,dan lumatkan.tambahkan segelas air dan sedikit garam lalu seduh.Peras dan saring lalu minum 2 kali sehari sebanyak setengah gelas.
v     Bisul
Ambil segenggam daun pare,cuci lalu rebus bersama 3 gelas air hingga tersisa satu gelas.Dinginkan,minum hingga sembuh.
v     Disentri Amuba
Rebus 300 gram akar pare yang telah dicuci bersih dan dipotong-potong .Rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa satu gelas.lalu minum.Tambahkan sedikit gula bila perlu.
v     Wasir
Lumatkan akar pare yang telah dicuci bersih sampai halus.oleskan ramuan ini pada wasir.
v     Bronkhitis
Sediakan dua buah pare, lalu ambil sarinya.Tambahkan satu sendok makan madu.minum sekali sehari.lakukan selama tiga bulan.Ramuan ini juga baik untuk menyembuhkan anemia,radang perut,sakit pada hati,nyeri haid,reumatik dan melangsingkan tubuh.

Meskipun pare begizi tinggi dan  dapat mengobati berbagai macam penyakit, namun bagi wanita hamil,tidak dianjurkan mengkonsumsi pare. Pasalnya pare,mengandung senyawa yang dapat menggugurkan kandungan. Selain itu, batasi juga konsumsi pare pada anak-anak, karena pare dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Dikawatirkan kadar gula anak akan anjlok atau menurun,padahal gula berperan dalam penting dalam pertumbuhan anak. 


Semoga bermanfaat :)

Monday, October 29, 2012

Sebuah batu untukmu


Aku tak pernah baik, dan takkan pernah ‘terlihat’ baik dimatamu. Bukannya aku suka membantah ucapanmu, hanya kadang otak bebalku tak sejalan dengan argumenmu. Maka yang terjadi adalah penyangkalan ini itu dariku, dan jelas kau tak pernah suka akan hal itu.

Sering kau katakan kepalaku ini terbuat dari batu, bukan? Yah..memang benar aku begitu keras kepala dalam beberapa hal. Terutama dengan ketidak-legaaan hati yang selalu kau biarkan mengambang. Ada hal yang tak cukup diendapkan dengan kata ’nanti’, atau ’lihat saja’. 
Bukankah segalanya bisa berubah secepat kedipan mata kita? 
Lantas kenapa kau selalu begitu percaya diri dengan keyakinanmu yang masih sering goyah diombang-ambing beberapa masalah? Karenanya aku selalu membantah, dan terlihat berkepala batu.

Semua kelembutan-wanitaku seolah sirna dimatamu. Tidakkah kau berpikir bagaimana perasaanku ketika kau ucapkan itu dihadapanku?

Aku tak ingin menghakimi dirimu seperti ini. Hanya saja  sudah tak ada satupun bahasa kebaikanku yang bisa merubah persepsimu tentangku kini. Tak satupun. 
Puluhan kali aku berusaha meyakinkanmu, namun selalu penolakan yang ku dapat. Mereka bilang sebaiknya aku harus bersabar... namun nyatanya reaksiku selalu barbar.

Ketahuilah, sayang, keinginan terbesarku adalah membahagiakanmu. Namun nyatanya cinta tak selamanya membahagiakan.
Seperti potongan puzzle yang dipasangkan tidak pada tempatnya, tak akan pernah selaras gambar pada puzzle tersebut. Cintaku pun mungkin salah tempat. Aku memasangkan potongan cinta pada susunan yang tak tepat. Perbedaan demi perbedaan yang selalu kau besar-besarkan membuat segalanya menjadi semakin rumit.

Akh, kalau saja kau mau sedikit berlelah bersamaku dalam usaha untuk memperbaiki keadaan ini, mungkin tak akan begini jadinya.

Tapi yasudahlah. Aku dan kamu memang berbeda. Aku batu dan kau selalu menjadi air untuk dirimu sendiri. Aku hanyalah sepotong tulang rusuk entah milik siapa. Aku akan terus bengkok jika kau tak berusaha meluruskanku. Namun jika kau terlalu memaksaku untuk menjadi lurus sesuai dengan keinginanmu, aku akan patah dan tersakiti juga.

Tulisan ini takkan pernah kau baca... sampai kapanpun kau takkan pernah tau isi hatiku yang sebenarnya. Jika kebahagianmu yang selalu aku usahakan adalah dengan ketiadaanku dalam hidupmu, aku akan pergi walau sakitku bukan main hebatnya. Kalau saja kau tau bagaimana aku menyayangimu, ..namun kau takkan pernah tau.

Nanti, pada saat aku bahagia dengan hati yang lain, aku hanya akan mengenangmu sebagai sebuah pelajaran tentang bagaimana menjadi batu berharga untuk pasanganku nanti. ...................... 

Sunday, October 28, 2012

Syukurlah....


Pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang selalu bersyukur dalam setiap peristiwa yang dialaminya... Coba deh perhatikan cerita orang-orang disekitar kita:

“Eh, kemarin si Anu kecelakaan ya.. tangan sama kakinya patah, sukur gak sampe meninggal”
”Rumah Pak Anu habis kemalingan, sukur yang ilang cuma mobilnya, bukan anak gadisnya”
”Nilai UTS gue semester kemaren rata-rata C, semester ini juga..yah sukurlah daripada rata-rata D ”
”Si Anu diputusin pacarnya.. sukur aja belum sampai nikah, kasian kalo nikah dicerai statusnya jadi janda deh..”

Dan masih banyak cerita lainnya yang biasa kita dengar sehari-hari dari orang-orang disekeliling kita. Sadar atau tidak, kebiasaan berkata SUKUR itu sendiri sebenarnya sudah terpeta dalam mindset masing-masing orang, sebagai bentuk kehambaan hakiki seorang manusia yang selalu percaya akan adanya pertolongan Tuhan mereka dalam setiap peristiwa.

Minimal, ’celoteh iseng’ yang selalu menyertakan kata sukur itu tadi adalah bukti bahwa tak perduli seberapa kuatnya manusia, disaat-saat paling kritis dalam hidup mereka masih percaya akan adanya pertolongan Tuhan yang tidak menjadikan peristiwa yang tengah mereka alami terjadi lebih buruk dari yang menimpa mereka.

Dalam Islam, terlepas orang tersebut selalu menegakkan Shalat lima waktu atau tidak, diucapkan atau tidak, keyakinan kecil itu selalu ada dalam benak mereka. Bedanya adalah cara pengungkapan mereka yang hanya lewat ’celoteh’ yang kemudian berlalu begitu saja. Padahal, tanpa mereka dan kita sadari, peristiwa-peristiwa kecil ataupun yang hampir mengantar kita pada saat paling kritis adalah cara Tuhan ’berbicara’ pada kita tentang cara bersukur yang lebih pantas.

Jangankan pada Tuhan, pada sesama manusia kita rela berusaha melakukan apapun yang terbaik untuk mengambil hati mereka, demi sedikit pertolongan yang kita minta. Kenapa kepada Tuhan yang Maha Pencipta kita bisa begitu kurang-ajarnya? Mari kita renungkan bersama... Bersukurlah dengan menyenangkan-Nya juga.

Thursday, October 25, 2012

saat hujan


Hujan dan sepi adalah harmony. Aku dan bayangmu menjadi melody. Bisik kerinduan ini adalah lagu, dan jarak menjelma ragu. Jarang bertemu menjadikan langit sendu, hujan dimataku tak kalah pilu. Aku merindukanmu, saat hujan..saat hujan...tiap saat ada hujan....




Karangasem, 25 10 2012

Tuesday, October 23, 2012

#kata hati 2

Wangi tanah saat turun hujan pertama, seperti bayangnya, yang menggoda...namun hanya sementara.

#kata hati

Hujan, terimakasih telah datang disaat yang tepat. Hanya kebetulan saja, hatiku tengah penuh bercak kerinduan yang mengakarat, lekat. Aku butuh kalian untuk sedikit meluruhkannya...

Bertemu Tuhan


Ku temukan Tuhan dalam sujudku. Sujud dipenghujung malam nan lengang.
Kiri kanan kudengar dengkur bersahutan dan air mataku meleleh.
Kiri kanan kulihat tak ada seorangpun melainkan sepasang malaikat yang mencatat segala gerak yang nampak pada tubuh gemetar dan hati yang bergetar.
Malam ini terlalu sunyi.. Malam ini teramat sepi.
Tapi Tuhan dengan penuh kasih sayang menemaniku dalam sujud, ruku’, takbir sampai salam.
Kemudian mengusap air mataku ketika do’a yang ku rapal mengucur deras dari bibir yang terkatup rapat, mata yang terpejam erat, hatiku yang berkarat.

.....
Dunia boleh memelukku dengan sejuta luka, selama Tuhan masih mengusap lembut hatiku dengan cinta-Nya, aku rasa aku akan baik saja.

Tuhanku, lindungi aku dari rasa yang tak mampu ku pikul sendiri..


Monday, October 8, 2012

Separuh Mati


Pagi tak pernah meninggalkanku sendiri.
Hanya saja hati masih bernafsu melumat tubuh sepi, separuh mati.

Harapanku bukanlah embun yang hanya mampir sesaat pada pucuk-pucuk daun, untuk kemudian lenyap menguap ketika matahari kian tinggi.
Tidak. Akulah pohon jati!
Yang takkan kering meski kemarau mampir terlalu sering.
Aku ilalang dan tak liar seperti binatang jalang.
Aku langit yang selalu tenang meski mendung selalu membayang.

Sedangkan kau?
Kau hanyalah bagian dari rencana Tuhan.. yang mungkin sewaktu-waktu akan dihapus dari skenario hidup singkatku.
Aku mencitaimu dengan separuh nafasku saja, karena aku masih merasa mampu bertahan dengan separuh nafas yang tersisa (kalau-kalau kau tak lagi ada)

Kau hanyalah malam yang datang ketika cakrawala tua tak lagi mampu menelan senja dengan kobar jingganya.
Aku mencintai malam, begitupun kecintaanku saat pagi lahir dari rahim ufuk keemasan. Aku membutuhkanmu sama halnya dengan kebutuhanku akan kebebasan. –Aku tengah bicara soal hati-
Aku merindukanmu sedalam kerinduanku pada diriku sendiri –aku bicara soal harga diri- Aku membutuhkanmu sama seperti aku membutuhkan udara untuk menyambung nyawa –kupikir aku takkan mampu hidup tanpamu-
aku mendoakanmu dengan setulus do’a –seperti aku akan mati esok hari saja-


Pagi tak pernah meninggalkanku sendiri.

tak seperti aku dihatimu,

yang separuh mati.

Itu Aku

seperti gerimis tipis-tipis
Pelan namun pasti membuat tanah kebasahan
itu rinduku padamu

seperti rintik yang ikhlas menghempas dalam kepasrahan
itu cintaku padamu

seperti detik yang tak pernah bosan berputar,
singkat namun terus berulang
itu doaku untukmu

seperti langit biru ketika pagi, jingga saat senja, dan kelam saat malam
yang selalu lebih dari cukup luas untukmu bersandar
itu aku.

Tuesday, September 18, 2012

Ketika Kau Mati


Bagaimana rasanya berada pada liang sempit seukuran tubuhmu itu saja?

Dengan sehelai kafan sebagai selimut
Tanah lembab sebagai alas tidur
Bunga rampai mengering yang berantakan dihempas angin dingin sebagai atap, 
begitu rapuh....

Dinginkah yang kau rasa?
Saat tak ada teman untuk bicara melainkan hanya sepi yang tersisa

Bagaimana kau lalui hidup tanpa tawa?
Bahkan menangis pun kau tak tau bagaimana memulainya..

Entah dosa entah pahala yang kau bawa
Anggap saja itu kunci untuk membuka rumah abadimu nantinya
Liang sempit ini hanya sementara, bersabarlah sedikit lagi
Peluk dingin itu, hangatkan dengan ragamu yang beku
Ramaikan malam-malammu dengan sisa gelak tawa mereka yang belum merasakan yang kau rasa, 
toh, pada saatnya nanti mereka akan tau bagaimana rasanya

Dalam liang itu kau berbaring, tak bergerak lagi
Kau mati namun tak mati
Kau hidup namun tak hidup
Kau hanya tengah sekarat diantara dua dunia akan kau datangi dan tinggalkan

Kenanglah! 
Kenanglah segala yang t’lau kau torehkan semasa nyawa titipan-Nya masih bertengger pada tubuhmu yang rapuh

Ingatlah! 
Ingat-ingat segala janji yang sempat terucap namun hidupmu terlalu singkat untuk memenuhinya satu-persatu. Mungkin sekali waktu kau terlupa, alpa. Mungkin diwaktu lain sengaja kau buat dirimu lupa akan janji-janji yang pada akhirnya berujung  penantian pada orang yang kau janjikan. 
Apa lagi yang dapat kau lakukan? Kau sudah mati, teronggok dalam liang sempit, kau tak lagi kau jika kau hanyalah seonggok bangkai
Takkan mungkin kau kembali, mengakhiri penantian mereka akan janji-janjimu

Liang sempit itu tak senyaman kamarmu
Tanpa MP3, tanpa televisi
Tanpa kipas yang kau miliki hanya kapas. Menyumbat lubang demi lubang disana-sini

Tak ada cahaya apalagi sinar mentari. Kau akan kehilangan pagi, siang, sore, malam yang dulu kau sia-siakan. Waktu hanya akan mengejekmu yang terdiam. Dan detik itu pula yang dapat kau lakukan hanya diam, menyesali waktu-waktumu yang berlalu tanpa sesuatu yang dapat menyelamatkanmu dari liang sempit yang kian terasa sempit itu

Dosa-dosamu mengetuk dari detik ke detik, sedang pahalamu tak cukup banyak untuk menjadi pembelamu. Sesalkah yang kau rapal dalam mulutmu yang mengatup rapat itu? Sudah biru warnanya... satu dua cacing ingin mengulum ranumnya bibirmu, namun kau bahkan tak dapat berteriak jijik untuk mengusirnya pergi.

Suara,
Sedih,
Bahagia,
Kekasih,
Ayah,
Ibu,
Rasa,
Dunia,
Tega membiarkanmu sendiri. Terpuruk dalam keterasingan
Hening mengejekmu lirih
Sepi memelukmu erat, menjerat
Mereka yang semasa hidup begitu kau agung-agungkan, kau perjuangkan, ternyata tak turut terkubur dalam liang sempit ini. Bersamamu. Tidak.

Dulu kau bagi makanan kesukaanmu pada mereka
Kini mereka pergi meninggalkanmu sendiri

Dulu kau tertawa bersama mereka
Kini untuk kau bagi sedikit air mata pun mereka tak lagi ada

Salah siapa liang ini dibuat begini sempit?
Salah siapa?
Salah siapa?

Salah siapa...?


Salah siapa.............?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tanya hatimu saja.



Saturday, September 15, 2012

sudut dalam lingkaran


Seorang sahabat bertanya padaku, ”kamu mau lulus kapan sih Naz?” dengan nada bercanda dan disambut tawa lepas oleh sahabat-sahabat lainnya yang kebetulan berada ditempat yang sama denganku saat itu.
Sejenak aku biarkan mereka saling melempar canda yang tak jauh-jauh dari topik soal kapan kelulusanku sebenarnya. Aku tau, aku sangat mengerti, pertanyaan itu dilontarkan dengan niat bercanda. Tak lebih.
Namun sungguh, aku sungguh berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Sekalimat tanya yang benar-benar melontarkanku pada beberapa masa dibelakangku. Tapi tatapan mereka yang menunggu setengah memaksa mulutku untuk menjawab pertanyaan mereka dengan bercanda juga, ”Mei. Meibi yess meibi no”, dan mereka pun tertawa lagi.
Begitulah waktu mengalirkan pembicaraan kami kemana-mana. Syukurlah topik kelulusanku segera berganti dengan topik lainya. Dan sementara mereka asik bertukar opini, aku diam. Sesekali kulempar senyum agar tak seorang pun dari mereka yang menyadari betapa hatiku hancur oleh hantaman pertanyaan mereka tadi.
Ingatanku kembali pada saat pertama kali aku mengenal mereka. Dalam hatiku yang egois aku selalu berkata, meyakinkan diri sendiri bahwa kelak aku akan menjadi orang sukses bersama-sama dengan mereka.
Namun siapa sangka Tuhan menginginkan jalan lain untuk aku lalui. Tuhan memaksaku berbelok membiarkan teman-temanku berlalu, menjauh meninggalkanku. Menyesalkah aku? Jujur..iya, aku sangat menyesalkan takdir ini, pada awalnya. Tiada hari kulewati tanpa menangis. Pagi aku berangkat dengan wajah segar, berusaha keras mengukir senyum dihadapan teman-temanku. Namun basah juga pipi ini sekembaliku pulang.
Tak sanggup rasanya menerima kenyataan bahwa jalan yang kulalui harus berbeda dengan teman-temanku. Semakin banyak aku menangis, semakin jauh aku terpuruk dalam lembah kemuraman. Aku tau tangisku sia-sia karena aku masih enggan melakukan perubahan. Yang dapat ku lakukaan tiap hari hanyalah mempertanyakan kuasa Tuhan yang ku paksa-paksa agar segera menolongku keluar dari segala keputus-asaan ini.
Belum sempat aku berdiri, Tuhan kembali mengusap lembut hatiku dengan sedikit ujian lagi. Mungkin Ia agak kesal dengan macam-macam pertanyaanku tentang rencana-Nya yang tak seharusnya ku pertanyakan. Aku sakit, tepat disaat aku ingin memulai lagi menyusun prestasiku yang sempat runtuh sejak patah hati ditinggal Ayah pergi. Tuhan masih ingin melihat kesanggupanku. Tuhan begitu menyayangiku.
Lagi, ku telan bulat-bulat hasrat untuk kembali berjalan beriringan dengan teman-temanku. Beberapa yang mengerti selalu setia memelukku. Sampai terkadang aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku sebegitu terlihat menyedihkannya, sehingga mereka merasa selalu ingin melindungiku dari rasa sedih yang terpahat jelas dalam sorot mataku? Aktingku selalu berhasil, namun tidak jika didepan mereka. Mereka selalu tau saat yang tepat untuk mengulurkan tangan padaku.
Lama aku terdiam. Ah, tidak. Sebenarnya hatiku menjerit lewat diamku itu. Aku merasa dipecundangi oleh hidup, lewat tatapan mereka yang memandangku dengan sebelah mata. Aku merasa diludahi tepat diwajahku ketika pertanyaan-pertanyaan semacam itu dilontarkan tidak dengan nada bercanda, namun untuk mengejekku. Perih dada ini ketika aku tak tau harus menjawab apa ketika prestasiku mulai dipertanyakan.
Aku benci mereka. Namun disisi lain aku pun tak boleh menyalahkan mereka. Setidaknya, mereka tak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dan aku pun merasa tak harus membagi ceritaku pada semua orang. Aku harus pintar membedakan, mana orang yang akan hanya mengasihaniku, atau benar-benar membantuku membuka pikiran-pikiran sempitku tentang takdir-Nya.
Ah, tapi sudahlah. Itu cerita lama. Aku tak menaruh dendam pada siapapun. Malah aku bersukur pada Tuhanku. Diantara segala ujian ini, Dia hanya meminta sedikit perhatianku untuk-Nya. Tidak Tuhan.. masih Kau satu-satunya temaptku berpasrah, mengadukan lelah dan segala rupa resah dalam dadaku.
Pada titik paling bawah, aku pernah merasa aku takkan sanggup berdiri lagi setelah sekian kali terjatuh oleh berbagai hal yang mematahkan hatiku. Namun tidak, pada saat itulah sebenarnya aku hampir sampai pada titik balik menuju kekuatanku yang sebenarnya.
Pada sudut tergelap dalam hatiku, aku sellau percaya akan ada cahaya yang menuntun jalanku. Seperti malam yang selalu mengajariku untuk bersabar menanti pagi yang selalu datang setelah sepertiga gelapnya yang paling pekat.
Aku percaya, aku dan semua orang terlahir dengan kekuatan yang sama. Namun ada beberapa hati yang tak percaya pada Tuhan mereka, itulah kenapa seolah tiada daya yang tersisa. Jika saja segala pelajaran ini tak menjadikanku lebih baik, maka pantaslah aku menangisi setiap pertanyaan yang menyerempet pada kehancuran perjalananku.
Pada lingkaran hidup ini selalu ku temukan sudut untuk berhenti, berfikir dan merenung. Sudut maya yang terlihat hanya pada saat-saat nestapa terpahit dalam hidupku. Begitulah cara Tuhan menyayangiku.

Terimakasih Tuhan,
Terimakasih hidup,
Terimakasih Ibu, Ayah..
Terimakasih untuk segala kepahitan ini. Darinya aku belajar banyak tentang kepasrahan. Dan benar adanya, segalanya terasa lebih mudah sekarang. Semoga ini benar-benar menjadi titik balik menuju kebahagianku. Dan jika pun nanti aku terjatuh lagi, aku sudah tau bagaimana caranya berdiri lagi. Dengan uluran tangan-Mu tentunya.


J

Friday, September 14, 2012

pada hidup aku belajar tentang kehidupan


Hidup mengajariku bagaimana mencintai dengan penuh keikhlasan lewat seekor penyu yang rela meninggalkan telur-telurnya agar kelak mereka dapat berjuang sendiri, untuk hidup yang lebih baik, hidup mereka sendiri. Karenan keterbatasan sang penyu yang merasa takkan sanggup menjaga buah hatinya seorang diri.

Hidup juga mengajariku kesederhanaan lewat padi yang kian merunduk saat bulir-bulirnya padat berisi.

Hidup mengajariku bagaimana mencintai sekedarnya saja, lewat gerimis yang selalu romantis dan menyejukkan, namun menjadi dingin ketika gerimis menjelma hujan yang berlebihan.

Hidup pula yang mengajariku tentang bagaimana menjadi seorang yang kuat, lewat sebatang pohon yang terlihat rapuh dan keropos, namun sebenarnya memiliki akar yang kuat. Tak perduli seberapa kuat angin berusaha merobohkannya, ia tetap berdiri, walaupun sesekali ia merasa takkan lama lagi ia sanggup bertahan dengan angin yang terus-menerus mengusiknya. Dengan sedikit air, pohon tersebut akan tumbuh kembali. Menyejukkan mereka yang berteduh, menyenangkan hati mereka dengan buahnya yang rimbun. Aku dan pohon kering itu mungkin sama. Akan ada saat yang tepat air menyirami seluruh jiwaku yang kerontang. Hidup masih menungguku dengan sejuta pelajaran darinya untuk kuresapi, untuk ku mengerti.

Hidup mengajariku untuk menjadi seorang pendengar yang baik bagi siapapun yang ingin berbagi cerita padaku, lewat tanah yang menyerap air untuk kemudian menyimpannya dalam-dalam. Kelak, akan ada saat sebatang pohon kering yang membutuhkan air simpanan tanah tersebut. Itulah saat aku belajar untuk mengambil hikmah dari segala yang terlihat, terdengar, dan yang kurasakan disekelilingku.

Lewat hidup juga, aku belajar untuk selalu bersukur. Terkadang Tuhan mengujiku dengan banyak air mata pedih yang harus ku seka ditiap malam-malam saat mereka tertidur pulas dengan senyum mengukir ditiap bibir mereka.
Itulah saat aku merasa tiada penolongku selain Tuhan saja. Aku mendekat pada-Nya, berpasrah dan menyerah, seolah tiada lagi daya yang tersisa untuk sekedar menghirp udara kehidupan agar aku mampu berdiri lagi.
Tapi sebenarnya tidak. Aku salah persepsi dengan ujian yang Tuhan berikan padaku. Memang, sisi baiknya adalah aku menjadi kian dekat dengan Tuhanku. Namun bukan itu yang Ia mau sebenarnya. Ketika Tuhan mengujiku dengan bahagia tiada tara, saat itulah Tuhan ingin tau, siapakah nama yang pertama kali akan kusebut ketika hati ini bersuka cita dengan sesuatu yang Tuhan berikan. Namun aku terlalu jahat, terimakasihku bukan untuk Dia pertama kali, melainkan kepada manusia perantara-Nya yang sama lemahnya denganku. Begitu sering aku khianati Tuhanku, namun Ia masih ingin aku belajar lewat kehidupan yang masih Ia titipkan padaku.

Hidup punya banyak cerita lewat kediamannya.
Tuhan memberi kita mata untuk membaca isyarat yang tak terlihat.
Tuhan memberi kita telinga untuk dapat mendengar desah nafas alam yang tak terdengar oleh kepala-kepala yang sibuk memikirkan dunia saja.
Tuhan memberi kita tangan untuk dapat merasakan ilmu-Nya lewat sentuhan jiwa-jiwa yang percaya pada segala pemberian-Nya.
Begitu banyak yang Tuhan berikan. Takkan dapat dibandingkan dengan sedikit permintaan Tuhan padaku untuk selalu berserah pada-Nya.


Lalu nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan? 

Wednesday, September 12, 2012

Cinta Semusim


Cintamu tak ubahnya seperti musim semi yang menghangatkan jiwa yang kala itu tengah terpuruk dalam ketidakpastian cinta anak manusia. Kau rubah abu-abuku menjadi ungu. Kau rubah pekatnya duka kembali merah muda, merona. Pelangi seakan membias lagi tiap saat embun mengerling manja pada pagi-pagi saat kau sapa aku yang menahan rindu semalaman tadi.
Aku terbuai oleh kehangatan yang musim semi tawarkan padaku. Hingga tanpa terasa musim ’kan berganti lagi ketika kau pergi meninggalkanku sendiri. Tak lagi ku dapati kupu-kupu disekeliling hatiku, tak ada lagi kamu. Musim dingin ini begitu sakit menggigit hatiku yang kehilanganmu. Namun kau tak mau tau.
Ternyata cinta kita tak sepanjang pergantian musim selanjutnya. Adapun kutemukan sisa-sisa dedaunan berguguran dihempas angin saat musim gugur tiba, menyisakan duka yang tak lagi berair-mata. Dengan hati yang dingin, hampir membeku, ku peluk hangat musim dengan kedua lenganku tanpamu. Biarlah, tak mengapa. Dan, toh, musim gugur ini pun akan segera berlalu, sesingkat musim semi yang pernah kurasakan saat aku mengenalmu dulu...

Sunday, September 9, 2012

nyanyian desember (part II)


#2

Akupun menuruti perintah mama tanpa berkata-kata. Segera ku balikkan badanku menuju ke kamar. Namun tiba-tiba ku dengar mama menjerit. Segalanya terjadi begitu cepat. Aku tak mempercayai mataku sendiri.
Tubuh mama melorot ke lantai dengan pisau menancap di dadanya. Ayah mengambil pisau lainnya diatas meja dan menusukkannnya berkali-kali ke tubuh mama yang tergeletak di lantai. Semua terjadi di depan mataku. Mama, aku tak mengerti semua ini. Aku bingung. Aku takut. Aku tak ingin melihatnya lagi. Aku... ”TIDAAAAAKKKKKKKKK....!!” aku tak melihat apa-apa lagi. Semuanya gelap.
Mataku mengerjap perlahan. Dan ketika aku dapat membuka mataku seluruhnya, aku merasa asing. Tiba-tiba aku teringat mimpiku semalam. Akh, benar-benar mimpi yang menyeramkan. Aku tak dapat membayangkan jika mimpi semalam benar-benar menjadi kenyataan. Tapi, ini bukan kamarku, dan bukan ranjangku pula. Dimana aku? Dengan tubuh lemas aku turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mencari mama. Tapi sampai diluar kamar yang kulihat hanya tante Audi bersama seorang dokter.

”Mau kemana sayang?” tante Audi menghampiriku. Dokter disampingnya mengerutkan kening melihatku.
”Ima mau ketemu mama , tante”

”Ima...sayang..,” tiba-tiba tante audi memelukku, sangat erat, ”..ima, mama kamu..”

”Mama kenapa tante???” nafasku memburu tak sabar.

”Mama kamu sudah meninggal......” dan tangis tante Audi meledak dibahuku. Mama meninggal? Apa lagi ini sekarang?

”Tante jangan bercanda dong. Semalam Ima memang mimpi buruk. Mama meninggal, tapi itu kan cuma mimpi..” aku seperti sedang menghibur diri sendiri. Meyakinkan diri bahwa ini semua hanyalah bagian dari mimpi buruk semalam tadi. Tapi tidak, air mataku meleleh tanpa henti. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Mama benar-benar meninggal. ”Mamaaaaaaaaaaaaaaa.....”

Aku berlari dan terus berlari. Menembus keramaian kota, berlari di trotoar tanpa alas kaki. Aku tak perduli pada puluhan pasang mata yang menatapku keheranan. Dan kakiku baru berhenti berlari ketika aku sampai didepan rumah. Garis polisi melintang disekeliling rumahku. Tak seorang pun kulihat disana. Hanya seorang pria, duduk sambil memeluk kedua lututnya. Tangannya menggenggam pisau berlumuran darah. Darah mama.
”Pembunuh..” hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Pria itu menatapku. Wajahnya terlihat sangat kacau. Baju yang Ia kenakan pun tak lagi rapi. Pria itu tertawa terbahak-bahak, dan sesaat kemudian kembali menangis sambil menggumamkan kalimat yang tak dapat kumengerti. Dia gila. Pria itu menjadi gila. Dan hatiku semakin hancur dibuatnya.
Sejak saat itu aku hanyalah gadis sebatang kara. Tanpa mama, aku bukanlah siapa-siapa. Dan pria itu, dia bukan ayahku lagi. Ku anggap ayah t’lah mati. Dan sejak saat itu pula, aku tinggal bersama pria paruh baya gila yang tiap harinya hanya diam memandang foto kami bertiga. Sampai hari ini.

* * *

Hujan masih menyisakan rintik-rintik, sedang malam kian larut dalam gelapnya. Ku putuskan untuk kembali kerumah dan bertekad tidak akan menghiraukan pria itu lagi.
Dalam perjalanan pulang, otakku yang benar-benar t’lah letih kembali emmutar memori masa lalu. Namun kali ini bukan tragedi itu lagi yang kuingat, meainkan kenangan-kenangan manis tentang mama dan ayah ketika kami masih sangat bahagia dulu.
Teringat kembali saat ulang tahunku yang ke-13 ayah mengajakku dan mama berlibur diluar kota dan menyewa sebuah villa. Atau kenangan ketika kami piknik ditepi danau. Dan berjuta kenangan manis lainnya tentang ayah, tentang mama, tentang kami bertiga.
Tuhan, salahkah bila ku maafkan pria itu? berdosakah jika kupanggil Ia dengan sebutan ayah lagi? Tuhan, aku harus bagaimana..

Aku t'lah sampai didepan rumah. Dengan tangan gemetar karena kedinginan ku buka pintu rumah perlahan. langkahku terhenti ketika kulihat pria itu masih duudk di kursi goyang tuanya, seperti biasanya. namun sepertinya ada yang berbeda kali ini. Dia seperti tengah tertidur, sangat lelap.
Perlahan ku hampiri pria itu. Rasa benci dan cintaku berpacu dalam dadaku. Aku berdiri didepannya, kaku tak bersuara. Aku sama sekali tak ingin mimpi buruk empat tahun silam terulang lagi sekarang. tidak, jangan sekarang.
Namun pria itu tak membalas tatapanku. Matanya tertututp rapat. Tangan kirinya memeluk foto kami bertiga, dan ditangan kanannya ada sepucuk surat yang Ia biarkan terbuka.
Entah mendapat keberanian dari mana, ku raih surat itu. Dan perlahan ku coba meraba kata demi kata yang tertulis disana.

31 Desember 2012
"Ima, puteri kecilku tersayang...
Empat tahun ayah merindukan senyumanmu, empat tahun tak ada yang memanggilku dengan sebutan ayah lagi. Empat tahun ayah memendam penyesalan ini. Dan selama empat tahun pula ayah tersiksa karena menahan diri untuk tidak memelukmu, sayang. Karena ayah tau, kau tak akan mengizinkan ayah untuk menyentuh puteri kecil ayah dengan tangan kotor ini.
Ima, anakku sayang,
Ayah tau, ayah samasekali tak pantas untuk meminta maafmu. Ayah tak berhak memintamu tersenyum pada ayah. Karena ayah tau, kau pastinya sangat membenci ayah. Ayah sangat mengerti, sayang.
Tapi, Ima, buah hatiku, ayah tak dapat membohongi hati kecil ayah yang selama empat tahun ini begitu merindukanmu. Tapi ayah tak punya cukup keberanian walau untuk sekedar tersenyum padamu. Segalanya yang terjadi empat tahun lalu adalah murni kesalahan ayah. Ayah khilaf. Tapi ayah rasa hukuman yang ayah dapatkan sudah cukup setimpal, karena selama empat tahun ini kau menganggap ayah tak ada.
Ayah begitu menyayangimu, nak. Ayah mencintaimu dengan segenap rasa penyesalan yang takkan cukup ditebus dengan kepergian ayah. Maafkan Ayah, sayang. Selamat tinggal..."


Butir-butir obat tidur berserakan dilantai. Inikah jalan yang ayah pilih untuk menebus kesalahannya? Inikah cara ayah untuk mengakhiri hidupnya? Kenapa.... kenapa disaat aku mulai belajar untuk mencintainya lagi ayah malah pergi? Tuhan..apa lagi inii....
Aku tak tau lagi harus bagaimana. Selain air mata, aku tak punya apa-apa lagi. Keberanianku t'lah menguap bersama rasa benciku pada ayah. Kenyataan ini terlalu pahit untuk ku telan sendiri. Aku hanya berharap ayah tidak mati, ayah hanya sedang tertidur pulas karena kelelahan. Ayah akan segera membuka matanya dan tersenyum padaku, kemudian aku akan memeluknya. Ayah, bicaralah! Katakan sesuatu padaku! Buka matamu ayah.....
Lonceng jam berdentang dua belas kali. 1 Januari, ulang tahun ayah. aku berlutut dihadapannya, menggenggam tangannya yang tak lagi hangat.
"Selamat ulang tahun, Ayah.." lirih kuucapkan selamat ini pada ayah. Ucapan pertama sejak empat tahun lalu.. Namun ayah tetap diam tak bersuara, matanya terpejam.
Aku berdiri dan kemudian memeluk tubuh ayah. Aku duduk dipangkuannya seperti tahun-tahun lalu saat aku masih kanak-kanak. Ku lingkarkan kedua tanganku pada lehernya yang tertunduk lemas. "Selamat ulang tahun, Ayah.." kuucapkan lagi, dan ku kecup keningnya perlahan. Ayah tak membalasnya seperti yang Ia lakukan empat tahun lalu. Ayah bahkan tak membuka matanya. Tak akan pernah membuka matanya lagi.

Desember akan segera berakhir lagi. Ada yang berbeda dari Desemberku pada tahun-tahun sebelumnya. Pria paruh baya itu tak pernah menatapku lagi. Kursi goyang tua itu kini kosong, dan seterusnya akan selalu kosong tanpanya.
Hembusan angin yang menampar dedaunan kudengar sebagai nyanyian perpisahan untuk bulan Desember. Mengalun, membuai diriku yang sebatang kara. Selamat tinggal Desember, Selamat jalan Ayah.

*TAMAT*

Nyanyian Desember (part I)



#1

Sebentar lagi Desember akan berakhir. Beberapa Desember t’lah kulewati bersama sepi dan tanpa Ayah disisiku. Beberapa Desember t’lah berlalu namun ayah tak pernah memberikan senyumnya untukku. Dan entah berapa Desember t’lah kulalui dengan derai air mata yang seolah tak pernah kering dari lubuk hatiku. Mama, aku percaya tangamu erat memelukku, walau dunia kita tak lagi sama.
Tahun ini tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pria paruh baya yang tinggal bersamaku masih sama seperti hari-hari sebelumnya, dingin dan tak bersahabat. Aku hanya bisa bersabar menghadapi tingkahnya yang kadang membuatku sangat sulit untuk mencintainya.
Benci, marah, menyatu menjelma dendam tiap kali teringat ketika desember beberapa tahun silam yang kulalui bersamanya, pria paruh baya yang selalu memandangku dengan tatapan yang tak ku mengerti, tak pernah ku mengertinya. Terlalu sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku harus tinggal satu atap dengannya. Ayah, ku mohon jauhkan pria ini dariku!

* * *
Mega berarak jingga keemasan ketika aku sampai di rumah. Tanpa melirik sedikitpun kearah pria itu aku masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuh lelahku diatas ranjang. Kegiatanku hari ini sudah cukup menguras seluruh tenagaku. Aku tak ingin mempersulit diriku dengan mengingat pria itu lagi hari ini. Pria yang tak pernah tersenyum, yang tiap harinya dihabiskan diatas kursi goyang tua memandang fotoku, mama, dan ayah yang tergantung di dinding ruang tamu kami. Akh, semakin hari aku semakin membencinya saja. Ayah, katakan aku harus bagaimana lagi?
Baru sebentar mataku terpejam, tiba-tiba aku teringat bahwa sejak siang tadi perutku belum juga diisi. Dengan langkah gontai aku keluar kamar menuju dapur untuk mengambil makanan. Barangkali masih ada sisa-sisa makanan yang kutinggalkan dilemari es semalam.
Namun langkahku terhenti ketika kulihat pria itu tidak seperti biasanya. Dia menangis. Kulihat tangannya memeluk foto yang selalu dipandanginya tiap hari. Isaknya memancing emosi yang selalu ku pendam dalam-dalam selama ini. Dengan amarah yang teramat sangat ku hampiri pria itu dan merebut foto yang dipeluknya erat.

”untuk apa air mata itu, hah?? Kamu bahkan nggak berhak menangisi foto ini! Seharusnya kamu nggak  pernah menyentuh foto ini...”. Suaraku bergetar emnahan amarah dan pedih yang menari-nari didadaku. Sesak dan sakit merasuk diam-diam.

”Ayah hanya teringat kenangan kita dulu, Ima...” Ujar pria itu lirik disela-sela tangisnya.

”Apa? Kenangan apa? Kenangan ketika dengan tanpa belas kasihan kamu bunuh mama didepan mataku? Itu yang kamu sebut kenangan?” Aku tak dapat menahan emosiku lebih lama lagi, semua tumpah bersama air mataku.

”Maafkan Ayah...semua itu terjadi diluar kendali ayah....”

”Kamu bukan ayahku lagi! Bagiku kamu tak lebih dari seorang pembunuh!” Tanpa mampu berkata-kata lagi aku menghambur keluar rumah, berlari menerobos malam yang seakan mengerti kesedihanku. Tak kuhiraukan seberapa dingin malam memelukku diluar sana. Aku tak perduli. Aku hanya ingin pergi.

”Ima.. jangan pergi nak... maafkan ayah..” sayup-sayup ku dengar pria itu memanggil –manggil namaku. Aku tak tahan lagi. Aku hanya tak ingin mendengar suaranya. Aku terus berlari dan terus berlari.
Dadaku seperti mau meledak. Detak jantungku berpacu bersama marah dan kepedihan yang bergejolak semakin membuatku frustasi. Aku berteriak mengoyak keheningan malam yang t’lah terlelap dalam tidurnya, berharap benciku pada pria itu terbang bersama gema suaraku.

Beberapa saat kemudian aku sadar aku telah berada ditepi danau. Danau yang sering ku kunjungi bersama mama dan ayah dulu. Danau yang menjadi saksi bahwa kami pernah menjadi keluarga yang benar-benar bahagia seutuhnya, dulu.
Tiba-tiba lidahku kelu, tak mampu berkata-kata. Air mataku baur bersama air hujan yang mengguyur tubuhku yang bersimpuh tanpa daya ditepi danau ini. Otakku memutar kembali memori beberapa tahun lalu. Desember terakhir yang kulalui bersama mama dan ayah.
                                           * * *

Saat itu aku dan mama t’lah merencanakan akan menghabiskan malam tahun baru ditepi danau ini. Sengaja rencana ini kami rahasiakan dari ayah, karena ini semua merupakan bagian dari surprise party yang kami siapkan untuk ulang tahun ayah yang bertepatan dengan malam pergantian tahun baru.
Masih dapat kuingat dengan jelas, malam itu tanggal 31 Desember. Mama duduk seorang diri di depan televisi yang menyala, namun matanya memandang hampa entah kemana. Ku hampiri mama perlahan.

”Mama..” dengan lembut ku sentuh bahu mama, berusaha agar tak membuatnya terkejut.

”Ima.. kok belum tidur sayang? Udah larut lo” Mama membelai lembut kepala yang kurebahkan dipangkuannya.

”Belum ngantuk ma. Mama sendiri kok belum tidur?”

”Mama nunggu ayah dulu, sayang”

Emangnya ayah kemana ma? Kok jam segini ayah belum pulang? Nggak biasanya..”

“Ayah masih ada urusan……,” Belum sempat mama meneruskan kalimatnya, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak didepan pintu. Mama segera menghampiri pintu dan membukanya. Rupanya ayah yang datang. Dan, oh Tuhan…ayah mabuk? Ayah bicara seperti orang mengigau. Aku tak mengerti apa yang ayah katakana. Judi? Kalah? Apa maksud semua ini.....

”Ima, masuk kedalam kamar dan kunci pintu ya sayang!” Kata mama setengah memerintah. Sepertinya mama tak ingin aku melihat ayah seperti itu. Tidak seperti biasanya ayah pulang dalam keadaan sekacau itu.
Akupun menuruti perintah mama tanpa berkata-kata. Segera ku balikkan badanku menuju ke kamar. Namun tiba-tiba ku dengar mama menjerit. Segalanya terjadi begitu cepat. Aku tak mempercayai mataku sendiri.
Tubuh mama melorot ke lantai dengan pisau menancap di dadanya. Ayah mengambil pisau lainnya diatas meja dan menusukkannnya berkali-kali ke tubuh mama yang tergeletak di lantai. Semua terjadi di depan mataku. Mama, aku tak mengerti semua ini. Aku bingung. Aku takut. Aku tak ingin melihatnya lagi. Aku... ”TIDAAAAAKKKKKKKKK....!!” aku tak melihat apa-apa lagi. Semuanya gelap.

*bersambung*