Skip to main content

Posts

Showing posts from 2012

Ini cinta, bukan kita

Cinta memberiku ruang untuk sebuah kesempatan, mengenalmu Cinta mengenalkanku pada keinginan untuk mengertimu Cinta membuatku mengerti arti bersabar dalam menunggu Menunggu pengertianmu akan hadirku Hadirku yang hanya hinggap sekejap dalam hatimu Hatimu yang tak benar-benar mengenalku Mengenalku dengan hati yang tulus mencintaimu
Cinta, 
adakah aku salah dalam mengartikannya?
Kurasa cinta tak pernah salah. Kurasa hatiku tak salah memilihmu. Dan kau pun tak salah dengan memaksa masuk dalam hidupku. Cinta kita hanya istilah. Cinta kita hanya intermezzo bagi hidup yang kadang membosankan.  Cinta kita hanya sepotong kisah yang memang tak bertakdir dengan akhir yang indah. Cinta kita hanya teori untuk saling memahami. dan ketika kau dan aku gagal untuk saling mengerti, cukup balikkan badan, dan biarkan punggung kita saling berucap selamat tinggal.

3 tahun

Inginku duduk berlama-lama ditepi pembaringanmu. Sekedar menamanimu mengobrol dan mendengarkanmu. Cukup dalam diam aku mendengar ceritamu. Cukup dalam sepi aku tau kau sedang duduk menemaniku. Disisi gundukan tanah ini, disisi nisan yang menancap diatas wajah dan kakimu, aku tau kau selalu bersamaku.
Ayah, 3 tahun sudah kau tertidur disini. Tiap hujan datang aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku takut istanamu menjadi becek dan membuatmu menggigil kedinginan. Aku takut banjir menghanyutkan sisa-sisa gundukan tanah merah yang selalu basah oleh do’a-do’aku ini. Namun yang dapat kulakukan hanya berbicara denganmu lewat air mata, berusaha sekuat tenaga meyakinkan diri bahwa kau disana baik-baik saja.
Ayah, mungkin aku hanya terlalu merindukanmu. Mungkin aku hanya terlalu ingin melihat sosokmu, memelukmu, bermanja-manja dipangkuanmu. Seseorang mengingatkanku sebuah lagu yang selalu kudengarkan saat aku merindukanmu. Ingat penggalan lyric ini? ” I don't want to let you down. I don't want …

sebotol gerimis

Perempuan itu Menadah gerimis untuk diminumkan pada bayinya. Gerimis dimasukkan kedalam botol Diaduk sebentar sementara si bayi berteriak-teriak tak sabar. Tangan perempuan itu gemetar bergetar
”sabarlah nak, gerimis ini begitu tipis” serunya sembari menatap lirih pada botol yang tak kunjung meluber isinya si bayi kembali membentak ibunya yang mudah terkesiap telinga tuanya begitu sensitif dengan suara-suara tangan keriputnya kerepotan menutup botol yang belum penuh sempurna seperti titah si bayi
wajah bayi itupun merengut, cemberut diraihnya dengan kasar botol dari tangan ibunya ”kenapa cuma segini? Aku maunya penuh!” rajuk bayi dengan manja Tangan mungilnya mengepal jempol sang Ibu Sambil menenggak gerimis demi gerimis dalam botol susunya “rasanya pun sedikit asin!! Kau isi apa pada botol susuku, ibu??” bentaknya.
Perempuan tua yang ia panggil ibu itupun kembali terkesiap nyala dalam matanya takut jika dustanya tersingkap lewat rasa pada botol gerimis yang tak dapat berbohong itu lewat botol yang …

Telaga Bening

Sore begini aku biasa duduk-duduk santai Ditepi kelopak mata ibuku Mencelupkan kaki yang berkecipak merasakan dingin air telaga beningnya merayap lewat pori demi pori kulitku
kuteguk dua cangkir beningnya ketika telaga tumpah, ruah mata itu memejam amarah membuncah mata itu mengulum rindu menderu mata itu terlihat sakit menggigit mata itu merasakan perih menindih mataku melihat penat merekat erat pada bening mata itu, pada bening air dari kelopak mata ibuku
setengah terpejam rindu itu kembali menderu rindu pada lelaki yang biasa mandi ditengah telaganya lelaki yang pamit pergi takkan lama nyatanya sirna sosoknya ibu menangis, aku meringis menenggak dua cangkir lagi kerinduan ibu kerinduan ibu pada ayahku.

(selamat hari ibu)

01.45 AM

Malam memudar, yang terdengar hanya jarum jam yang berlari mengejar waktu. Kemarin suaranya masih terdengar biasa, namun entah, kini sedikit berbeda. Detik yang berhamburan seperti menyeret-nyeret aku untuk segera beranjak dari diamku. Beranjak dari diam yang sepi, sepi yang sendiri. Diam yang tak dimengerti waktu, diam yang diciptakan oleh waktu. Waktu-waktu sepiku.

Kota-tuaku masuk angin

Gara-gara angin sibuk lalu-lalang sedari tadi, kotaku jadi masuk angin. Pohon-pohon berantakan rambutnya, beringin sampai terbuka terus roknya. Ayam-ayam bengong putus asa mengejar serangga yang lebih cepat terbangnya. Padi-padi yang menguning sampai pegal-pegal dihempas angin, sebentar kekanan sebentar kekiri. Tapi burung-burung kecil tak perduli, padi yang lemah dipatukinya sampai gundul setengah. Ayam pun tak mau kalah, segera ia dekati padi paling pinggir yang dapat diraihnya, namu petani keburu datang mengusirnya dengan marah. Ayam bengong lagi, putus asa lagi. Angin menari lagi. Padi pegal lagi. Dan aku sibuk mengoles minyak kayu putih pada punggung kota-tuaku yang gampang masuk angin.

Mahakarya Sepi

Kulihat baliho-baliho ditepian jalan marak berpromosi tentang sebuah konser akbar. ”Mahakarya Sepi”, begitu judul yang hinggap pada mataku. Pada benakku. Gadis kecil dalam kepalaku langsung menari bak balerina, turut bergembira ingin menyaksikan mahakarya sepi petang nanti. Kusiapkan pakaian terbaik, wewangian termanis, riasan terindah, semuanya yang ter-sempurna untuk kesempurnaan sebuah mahakarya, katanya. Kata siapa? Kata siapapun yang memasang baliho tersebut di titian jalanku pulang.
Tibalah waktu yang dijanjikan baliho tersebut datang.
Aku sudah cantik, terlalu cantik untuk pergi ke konser seorang diri. Akh, lagipula ini konser sepi. Takkan masalah jika ku datang dengan hanya aku sendiri yang sudah sangat cantik malam ini.
Konser pun dimulai.
Sepi menggelegar memecah udara yang bergerak pelan-pelan. Sepi berteriak nyalang membakar ilalang. Sepi merayap dari jempol kaki ke ubun-ubunku. Sepi mencabik-cabik pakaian balerina yang terpaku dalam benakku. Sepi menampar pipiku yang t’la…

dada dan kotaku kehujanan

Jarum jam sudah jauh langkahnya dan matahari belum mekar sinarnya. Kota ini tengah dicintai hujan. Hujan yang hinggap pada ranting-ranting kering. Ranting yang dihinggapi hujan, hujan di dadaku. Adakah hujan ini sama dinginnya dengan hujanmu? Tidak. Dadaku dan dadamu punya cerita yang berbeda tentang hujannya. Dan kota ini pun kisahnya tak sama, masih tentang hujan pula. Jarum jam kian jauh berlari dan kamarku masih temaram. Jendela yang ku tutup rapat tak membuat badai diluar sana ramah bertamu, duduk mengobrol lama-lama bersama lamunanku. Namun celah jendela ini terlalu baik mengizinkan udaramu hinggap pada hidungku, memaksa masuk kedalam rongga pernafasanku, mencabik-cabik dadaku yang t’lah basah kuyup karena hujan. Hujan, berulang kusebut namanya namun kian gembira ia menari dalam dadaku. Adakah hujan ini sama dengan hujan di dadamu? Tidak. Jarum jam sudah akan pulang lagi, dan aku masih kehujanan. Dada ini, ranting-ranting ini, kota ini. Kota hujan, dada kehujanan, aku hujan.

corat-coret

Aku terlalu menuruti semua perintah hatiku. Seperti ada dibawah pengaruh mantra, jari-jariku otomatis mengetik bahasa kerinduan yang membuancah dalam benakku, lalu mengirimnya setelah memastikan benar namamu yang ku tuju, dan lalu menyesalinya sedetik setelah kupastikan pesan itu terkirim padamu. Mungkin kau belum selesai membacanya ketika rasa sesal ini semakin membuatku nelangsa. 
Akh, tapi masa bodoh. Kau bebas merdeka hendak berpikir apa tentangku, seperti halnya aku yang bebas merdeka berimaji apa-saja tentangmu.
Jika dapat ku tahan tubuh ini dari gerak-gerik yang membahasakan cintaku padamu, tentu kau takkan pernah tau bagaimana hatiku. Aku tak semudah itu untuk kau baca. Tapi tunggu, selama ini, pernahkah kau benar-benar mencoba untuk meraba huruf-hurufku? Aku hanya terlalu jujur berceloteh tentang semua warna rasa dalam dadaku jauh sebelum kau benar-benar mempertanyakannya.
Aku adalah buku yang jarang terbuka, sampai berdebu. Isiku terlalu rumit untuk dapat digapai nalar kekana…

air..air..air...

Kadang terasa ngilu, luruh seluruh tulang-belulang dalam tubuh. Kadang seperti dipeluk dengan sangat-sangat erat, hingga untuk bernafas pun terasa berat. Kadang terasa seperti dibenturkan ke dinding, nyatanya dinding diam tak bergeming. Kadang kulihat langit berputar-putar, mengaburkan jangkau pandangku pada sekitar. Kadang terasa nyeri, sangat nyeri membuatku ngeri. Kadang seperti terbakar, aku ingin air...air...air... Kadang hatiku mati rasa dari rasa-rasa. Lalu tiba-tiba sakit yang menggigit sirna seketika. Ketika do’a, dengan do’a aku percaya Tuhan menitipkan obatnya pada setiap helai do’a yang kukirim padanya. Lewat sakit, lewat perih, lewat sesak, lewat pandangan yang mengabur, lewat air...air...air...

Langit Pagi

Pagi t’lah lelah mendongakkan kepalanya menatap langit yang tak kunjung basah. Merasa kering dan terasing, sendiri separuh mati, pagi tetap berulang dengan asa yang sama. Harusnya kau tau diri, langit! Menunggumu t’lah membuat pagi sekarat dalam kalimat-kalimat berkarat, berakhir hanya pada sajak yang tak pernah tuntas. Jika saja kau gunakan kedua bola matamu untuk sejenak meraba kata-kata pagi yang merenda asa hanya untukmu, dapatlah kau jumpai cinta pada bulir air mata yang hanya jatuh ke dasar hatinya, yang sepi, yang sendiri, yang nyaris mati. -langit masih diam- -pagi semakin muram-

Jingga

Diam adalah sajak yang pecah lewat rona jingga ketika senja menetas di kaki langit yang setengah muram, temaram. Berserak satu dua kepingan hati yang bergetar ingin menggoreskan pena hanya tentang sebongkah rasa yang tak pernah habis dijabarkan oleh kata demi kata. Huruf demi huruf pun layu. Kata-kataku kelu tertahan di kerongkongan yang kering tanpa pernah mengucap kerinduan yang dulu ku elu-elukan bersama namamu, selalu. Senja tak lagi cerah ronanya. Langit tak lagi ceria karenanya. Huruf-huruf enggan mewakili hati yang tak mau bicara. Bagaimana aku bisa berpuisi, jika namamu dihatiku t’lah lama mati?

Lelaki dibalik ketiak nyali

Kau lelaki linglung. Limbung dengan satu hantam keragu-raguan yang merajam hati dan isi kepalamu. Sebegitu tinggikah benteng ketakutanmu itu sehingga kau harus merasa pasrah jauh sebelum kau coba satu kali saja tuk menerjangnya? Ataukah kau merasa lebih nyaman untuk berlindung dibalik ketiak nyalimu yang penakut itu? Akh, lelaki… hidupmu tak jauh dari kubangan bimbang dan kegamangan. Kau yang ciptakan, seharusnya kau tak turut tenggelam! Kelak jika yang tersisa hanyalah ruang demi ruang, adakah pintu ‘kan terbuka ketika kau mengetuk? Lalu apakah puas ego lelakimu dengan hanya mengikhlaskan apa yang tak pernah kau perjuangkan berada ditangan siapa saja selain KAU, lelaki-ku!!!

Perempuan

Dia perempuan,  Diam adalah senjata untuknya bertahan. Senyum adalah perisai diri tanpa perlu banyak beralasan Air mata laksana hujan yang menghapus wajah kusam kehidupan
Karena dia perempuan, Dunia tak perlu melihat pedih dibalik tatap matanya Dunia tak perlu tau betapa Ia memendam luka
Karena aku perempuan

Pergilah

Masih saja ada ruang untuk sebuah kesempatan bagimu untuk kembali, membulatkan hatimu untukku. Ataukah hanya angan-anganku? Ataukah hanya cintaku yang bicara tentang sebuah kemungkinan yang kurasa mustahil itu? Rupa-rupanya jeda ini tak hanya untukmu, pun dihatiku masih ada sebongkah rasa yang patut ku pertanyakan. 29 hari lagi aku memutuskan untuk menelan bulat-bulat jeda yang kuberikan untukmu itu. Jika memang Tuhan tak jua menggerakkan hatimu untukku, maka sejak awal Tuhan memang tak berencana demikian. Akan tiba hari dimana takkan ada satupun pintu yang dapat kau ketuk dalam diriku. Akan ada hari dimana cinta ini akan menjadi terlalu besar dan kemudian meledak, pecah menjadi serpih yang ’kan berakhir dihempasangin. Bukan berarti aku menyerah, aku hanya berusaha untuk lebih adil pada diriku sendiri. Aku berusaha untuk menepikanmu demi sebuah cinta untuk diriku sendiri yang telah sekian lama aku abaikan. Sudah saatnya aku menjadi lebih realistis tentangmu, sayang. Jika sebegitu besa…

Rindu adalah..

Rindu adalah jendela tempat tanganku menopang dagu, melamunkanmu
Rindu adalah segenggam rasa ngilu yang dijembatani jarak dan waktu
Rindu adalah jeda waktu yang membimbing hati untuk melangkah dari ragu ke ragu
Rindu adalah untaian nama yang kurapal dalam tiap helai do'a-do'aku
Rindu adalah kamu.


1 Desember 2012

it's ok not to be okay

Merdeka suaraku dengan diam, jika deru hatiku yang menyeru tak mereka hiraukan. Lega jiwaku dengan bungkam, jika raut muram wajahku tak membuat mereka paham. Aku nyaman dengan diam, karena sebagian dari mereka tak berhak menjadikanku bahan obrolan belaka tanpa penghiburan yang menentramkan. Tak pantas ku perlihatkan kebodohanku dengan berbagi suara yang hanya akan menjadi angin lalu dalam ingatan mereka...
Biar kesedihan ini memelukku, mungkin Ia cemburu dengan bahagia yang sekian lama menjadi teman sepermainanku. Sedih mengenalkanku pada sepi, namun tak kesepian. Sedih menjadikanku sendiri, namun tak selaluu sendirian.
Tapi toh, tak ada bahagia yang ada dalam rengkuh kata ’selamanya’. Begitupun dengan kemuraman yang sifatnya hanya sementara. Aku hanya butuh waktu untuk terbiasa, dan belajar membagi cerita dengannya jua.
Lama-lama aku pun akrab dengan sepi dan mulai terbiasa bersamanya. Aku lupa caranya tertawa, aku kehilangan gairah untuk merdeka. Duka yang bertubi-tubi mengunciku dalam …

Senja berkabar duka

Hari itu senjaku tak sejingga biasanya. Genang air dalam kelopak mataku yang basah mengaburkan pendar-pendar cerahnya. Tepat saat Azan Maghrib mengumandang syahdu, angin datang membawa kabar itu lagi. Terbata-bata ia bisikkan ditelingaku bahwa kakak terkasihku telah berpulang ke pangkuan-Nya. Luruh segala tulang dalam tubuhku. Runtuh jua kesadaranku. Sesaat waktu seakan berhenti diwaktu itu, memberikan jeda untukku mencerna kabar duka yang baru saja kudengar. Aku membatu, kelu, namun tak sampai hilang kesadaranku. Raung tangis ibu menyadarkanku bahwa saat itu bukanlah waktuku untuk turut menangis. Gemetar kedua lengan kurusku memeluknya, semakin kuat Ia meronta semakin tubuhku bergoncang hebat menahan sesak yang hendak meledak. Putramu,bu.. putra kesayanganmu telah pergi... putramu yang didera sakit sekian tahun telah tiada...” bisikku dalam hati tanpa mampu berkata-kata, kupeluk saja ibuku dengan sisa-sisa kekuatanku. .. Sampai magrib berlalu dengan lebih lama dari biasanya, dengan s…

Lihat Aku

Aku adalah pantulan dari ketelanjanganmu. Kamu, dari ujung rambut sampai jejari-kakimu. Aku seutuhnya kamu dengan tatapan mata liarmu. Marahi aku!! Remukkan aku dengan caci! hinakan aku dengan maki! Aku tetaplah bayangmu. Ludahi aku! dustakan aku dengan egomu yang tengah dinistakan oleh waktu! Jika yang dapat kau lakukan adalah mencari pembenaran sana-sini, akulah orang pertama yang harus kau adili.. Aku bayanganmu. Aku pantulan seutuhnya dirimu. Aku adalah sebagian kamu yang terlihat sama persis denganmu. Maka lihat aku... Dan lihat aku... Lihat saja aku.. ..

thanks eve

Satu malam tentang beberapa tahun silam
Tentang cerita yang tak terduga tajam likunya
Tentang hati yang jatuh, luruh, kemudian kembali utuh
Segalanya dikemas dalam satu bingkis manis, yaitu waktu.

Thanks Eve.. :)

Ini ceritaku, apa ceritamu?

Berawal dari kebencian saya terhadap sayur pare, saya jadi sensitive mendengar segala sesuatu tentang jenis sayuran tersebut. Entah apa dosa pare terhadap saya, kebencian saya terhadap sayur imut tersebut seolah sudah mendarah daging dalam diri saya sejak kecil. Tidak ada alasan mengkhusus mengapa saya begitu menaruh sikap antipati terhadap pare. Mungkin hanya karena rasanya yang sangat pahit dan penampilannya yang kurang menarik minat saya. Lagipula tidak banyak makanan olahan yang dihasilkan dari sayur pare, tidak seperti kebanyakan sayur lain seperti bayam yang juga tidak begitu menarik minat saya, tapi kemudian menjadi cemilan favorit saya ketika penampakannya berubah menjadi keripik, yang lebih tenar dengan nama ’keripik bayam’. Terlepas dari kebencian saya yang mendalam terhadap pare, ternyata diam-diam saya merasa penasaran terhadap sayur tersebut. Apalagi melihat kakak saya sendiri yang sangat menggemari sayur tersebut. Apakah rasa pare yang begitu pahit tersebut sangat wajar …

Sebuah batu untukmu

Aku tak pernah baik, dan takkan pernah ‘terlihat’ baik dimatamu. Bukannya aku suka membantah ucapanmu, hanya kadang otak bebalku tak sejalan dengan argumenmu. Maka yang terjadi adalah penyangkalan ini itu dariku, dan jelas kau tak pernah suka akan hal itu.
Sering kau katakan kepalaku ini terbuat dari batu, bukan? Yah..memang benar aku begitu keras kepala dalam beberapa hal. Terutama dengan ketidak-legaaan hati yang selalu kau biarkan mengambang. Ada hal yang tak cukup diendapkan dengan kata ’nanti’, atau ’lihat saja’. 
Bukankah segalanya bisa berubah secepat kedipan mata kita? 
Lantas kenapa kau selalu begitu percaya diri dengan keyakinanmu yang masih sering goyah diombang-ambing beberapa masalah? Karenanya aku selalu membantah, dan terlihat berkepala batu.
Semua kelembutan-wanitaku seolah sirna dimatamu. Tidakkah kau berpikir bagaimana perasaanku ketika kau ucapkan itu dihadapanku?
Aku tak ingin menghakimi dirimu seperti ini. Hanya saja  sudah tak ada satupun bahasa kebaikanku yang bi…

Syukurlah....

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang selalu bersyukur dalam setiap peristiwa yang dialaminya... Coba deh perhatikan cerita orang-orang disekitar kita:
“Eh, kemarin si Anu kecelakaan ya.. tangan sama kakinya patah, sukur gak sampe meninggal” ”Rumah Pak Anu habis kemalingan, sukur yang ilang cuma mobilnya, bukan anak gadisnya” ”Nilai UTS gue semester kemaren rata-rata C, semester ini juga..yah sukurlah daripada rata-rata D ” ”Si Anu diputusin pacarnya.. sukur aja belum sampai nikah, kasian kalo nikah dicerai statusnya jadi janda deh..”
Dan masih banyak cerita lainnya yang biasa kita dengar sehari-hari dari orang-orang disekeliling kita. Sadar atau tidak, kebiasaan berkata SUKUR itu sendiri sebenarnya sudah terpeta dalam mindset masing-masing orang, sebagai bentuk kehambaan hakiki seorang manusia yang selalu percaya akan adanya pertolongan Tuhan mereka dalam setiap peristiwa.
Minimal, ’celoteh iseng’ yang selalu menyertakan kata sukur itu tadi adalah bukti bahwa tak perd…

saat hujan

Hujan dan sepi adalah harmony. Aku dan bayangmu menjadi melody. Bisik kerinduan ini adalah lagu, dan jarak menjelma ragu. Jarang bertemu menjadikan langit sendu, hujan dimataku tak kalah pilu. Aku merindukanmu, saat hujan..saat hujan...tiap saat ada hujan....



Karangasem, 25 10 2012

#kata hati

Hujan, terimakasih telah datang disaat yang tepat. Hanya kebetulan saja, hatiku tengah penuh bercak kerinduan yang mengakarat, lekat. Aku butuh kalian untuk sedikit meluruhkannya...

Bertemu Tuhan

Ku temukan Tuhan dalam sujudku. Sujud dipenghujung malam nan lengang. Kiri kanan kudengar dengkur bersahutan dan air mataku meleleh. Kiri kanan kulihat tak ada seorangpun melainkan sepasang malaikat yang mencatat segala gerak yang nampak pada tubuh gemetar dan hati yang bergetar. Malam ini terlalu sunyi.. Malam ini teramat sepi. Tapi Tuhan dengan penuh kasih sayang menemaniku dalam sujud, ruku’, takbir sampai salam. Kemudian mengusap air mataku ketika do’a yang ku rapal mengucur deras dari bibir yang terkatup rapat, mata yang terpejam erat, hatiku yang berkarat.
..... Dunia boleh memelukku dengan sejuta luka, selama Tuhan masih mengusap lembut hatiku dengan cinta-Nya, aku rasa aku akan baik saja.
Tuhanku, lindungi aku dari rasa yang tak mampu ku pikul sendiri..

Separuh Mati

Pagi tak pernah meninggalkanku sendiri. Hanya saja hati masih bernafsu melumat tubuh sepi, separuh mati.
Harapanku bukanlah embun yang hanya mampir sesaat pada pucuk-pucuk daun, untuk kemudian lenyap menguap ketika matahari kian tinggi. Tidak. Akulah pohon jati! Yang takkan kering meski kemarau mampir terlalu sering. Aku ilalang dan tak liar seperti binatang jalang. Aku langit yang selalu tenang meski mendung selalu membayang.
Sedangkan kau? Kau hanyalah bagian dari rencana Tuhan.. yang mungkin sewaktu-waktu akan dihapus dari skenario hidup singkatku. Aku mencitaimu dengan separuh nafasku saja, karena aku masih merasa mampu bertahan dengan separuh nafas yang tersisa (kalau-kalau kau tak lagi ada)
Kau hanyalah malam yang datang ketika cakrawala tua tak lagi mampu menelan senja dengan kobar jingganya. Aku mencintai malam, begitupun kecintaanku saat pagi lahir dari rahim ufuk keemasan. Aku membutuhkanmu sama halnya dengan kebutuhanku akan kebebasan. –Aku tengah bicara soal hati- Aku merin…

Itu Aku

seperti gerimis tipis-tipis
Pelan namun pasti membuat tanah kebasahan
itu rinduku padamu

seperti rintik yang ikhlas menghempas dalam kepasrahan
itu cintaku padamu

seperti detik yang tak pernah bosan berputar,
singkat namun terus berulang
itu doaku untukmu

seperti langit biru ketika pagi, jingga saat senja, dan kelam saat malam
yang selalu lebih dari cukup luas untukmu bersandar
itu aku.

Ketika Kau Mati

Bagaimana rasanya berada pada liang sempit seukuran tubuhmu itu saja?
Dengan sehelai kafan sebagai selimut Tanah lembab sebagai alas tidur Bunga rampai mengering yang berantakan dihempas angin dingin sebagai atap, 
begitu rapuh....
Dinginkah yang kau rasa? Saat tak ada teman untuk bicara melainkan hanya sepi yang tersisa
Bagaimana kau lalui hidup tanpa tawa? Bahkan menangis pun kau tak tau bagaimana memulainya..
Entah dosa entah pahala yang kau bawa Anggap saja itu kunci untuk membuka rumah abadimu nantinya Liang sempit ini hanya sementara, bersabarlah sedikit lagi Peluk dingin itu, hangatkan dengan ragamu yang beku Ramaikan malam-malammu dengan sisa gelak tawa mereka yang belum merasakan yang kau rasa, 
toh, pada saatnya nanti mereka akan tau bagaimana rasanya
Dalam liang itu kau berbaring, tak bergerak lagi Kau mati namun tak mati Kau hidup namun tak hidup Kau hanya tengah sekarat diantara dua dunia akan kau datangi dan tinggalkan
Kenanglah! 
Kenanglah segala yang t’lau kau torehkan semasa nya…

sudut dalam lingkaran

Seorang sahabat bertanya padaku, ”kamu mau lulus kapan sih Naz?” dengan nada bercanda dan disambut tawa lepas oleh sahabat-sahabat lainnya yang kebetulan berada ditempat yang sama denganku saat itu. Sejenak aku biarkan mereka saling melempar canda yang tak jauh-jauh dari topik soal kapan kelulusanku sebenarnya. Aku tau, aku sangat mengerti, pertanyaan itu dilontarkan dengan niat bercanda. Tak lebih. Namun sungguh, aku sungguh berpikir keras untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Sekalimat tanya yang benar-benar melontarkanku pada beberapa masa dibelakangku. Tapi tatapan mereka yang menunggu setengah memaksa mulutku untuk menjawab pertanyaan mereka dengan bercanda juga, ”Mei. Meibi yess meibi no”, dan mereka pun tertawa lagi. Begitulah waktu mengalirkan pembicaraan kami kemana-mana. Syukurlah topik kelulusanku segera berganti dengan topik lainya. Dan sementara mereka asik bertukar opini, aku diam. Sesekali kulempar senyum agar tak seorang pun dari mereka yang menyadari betapa hatiku …

pada hidup aku belajar tentang kehidupan

Hidup mengajariku bagaimana mencintai dengan penuh keikhlasan lewat seekor penyu yang rela meninggalkan telur-telurnya agar kelak mereka dapat berjuang sendiri, untuk hidup yang lebih baik, hidup mereka sendiri. Karenan keterbatasan sang penyu yang merasa takkan sanggup menjaga buah hatinya seorang diri.
Hidup juga mengajariku kesederhanaan lewat padi yang kian merunduk saat bulir-bulirnya padat berisi.
Hidup mengajariku bagaimana mencintai sekedarnya saja, lewat gerimis yang selalu romantis dan menyejukkan, namun menjadi dingin ketika gerimis menjelma hujan yang berlebihan.
Hidup pula yang mengajariku tentang bagaimana menjadi seorang yang kuat, lewat sebatang pohon yang terlihat rapuh dan keropos, namun sebenarnya memiliki akar yang kuat. Tak perduli seberapa kuat angin berusaha merobohkannya, ia tetap berdiri, walaupun sesekali ia merasa takkan lama lagi ia sanggup bertahan dengan angin yang terus-menerus mengusiknya. Dengan sedikit air, pohon tersebut akan tumbuh kembali. Menyejukka…

Cinta Semusim

Cintamu tak ubahnya seperti musim semi yang menghangatkan jiwa yang kala itu tengah terpuruk dalam ketidakpastian cinta anak manusia. Kau rubah abu-abuku menjadi ungu. Kau rubah pekatnya duka kembali merah muda, merona. Pelangi seakan membias lagi tiap saat embun mengerling manja pada pagi-pagi saat kau sapa aku yang menahan rindu semalaman tadi. Aku terbuai oleh kehangatan yang musim semi tawarkan padaku. Hingga tanpa terasa musim ’kan berganti lagi ketika kau pergi meninggalkanku sendiri. Tak lagi ku dapati kupu-kupu disekeliling hatiku, tak ada lagi kamu. Musim dingin ini begitu sakit menggigit hatiku yang kehilanganmu. Namun kau tak mau tau. Ternyata cinta kita tak sepanjang pergantian musim selanjutnya. Adapun kutemukan sisa-sisa dedaunan berguguran dihempas angin saat musim gugur tiba, menyisakan duka yang tak lagi berair-mata. Dengan hati yang dingin, hampir membeku, ku peluk hangat musim dengan kedua lenganku tanpamu. Biarlah, tak mengapa. Dan, toh, musim gugur ini pun akan s…

nyanyian desember (part II)

#2
Akupun menuruti perintah mama tanpa berkata-kata. Segera ku balikkan badanku menuju ke kamar. Namun tiba-tiba ku dengar mama menjerit. Segalanya terjadi begitu cepat. Aku tak mempercayai mataku sendiri. Tubuh mama melorot ke lantai dengan pisau menancap di dadanya. Ayah mengambil pisau lainnya diatas meja dan menusukkannnya berkali-kali ke tubuh mama yang tergeletak di lantai. Semua terjadi di depan mataku. Mama, aku tak mengerti semua ini. Aku bingung. Aku takut. Aku tak ingin melihatnya lagi. Aku... ”TIDAAAAAKKKKKKKKK....!!” aku tak melihat apa-apa lagi. Semuanya gelap. Mataku mengerjap perlahan. Dan ketika aku dapat membuka mataku seluruhnya, aku merasa asing. Tiba-tiba aku teringat mimpiku semalam. Akh, benar-benar mimpi yang menyeramkan. Aku tak dapat membayangkan jika mimpi semalam benar-benar menjadi kenyataan. Tapi, ini bukan kamarku, dan bukan ranjangku pula. Dimana aku? Dengan tubuh lemas aku turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mencari mama. Tapi sampai diluar kamar ya…

Nyanyian Desember (part I)

#1
Sebentar lagi Desember akan berakhir. Beberapa Desember t’lah kulewati bersama sepi dan tanpa Ayah disisiku. Beberapa Desember t’lah berlalu namun ayah tak pernah memberikan senyumnya untukku. Dan entah berapa Desember t’lah kulalui dengan derai air mata yang seolah tak pernah kering dari lubuk hatiku. Mama, aku percaya tangamu erat memelukku, walau dunia kita tak lagi sama. Tahun ini tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pria paruh baya yang tinggal bersamaku masih sama seperti hari-hari sebelumnya, dingin dan tak bersahabat. Aku hanya bisa bersabar menghadapi tingkahnya yang kadang membuatku sangat sulit untuk mencintainya. Benci, marah, menyatu menjelma dendam tiap kali teringat ketika desember beberapa tahun silam yang kulalui bersamanya, pria paruh baya yang selalu memandangku dengan tatapan yang tak ku mengerti, tak pernah ku mengertinya. Terlalu sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku harus tinggal satu atap dengannya. Ayah, ku mohon jauhkan pria ini dariku!

* * …